Menulis adalah lentera di tengah badai kehidupan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Posted by Unknown 18.17.00 in


         Angin di sepertiga musim gugur terasa dingin menampar lembut kedua pipiku. Dengan tergesa kupercepat langkah menuju kantor sebuah agen perjalanan, tempatku memesan tiket penerbangan dua hari sebelumnya. Aku tak peduli dengan rintik hujan yang semakin deras. Di benakku hanya ada satu tujuan, mendapatkan tiket penerbangan secepatnya.

Kulirik jarum jam di pergelangan tangan kiriku. Pukul empat lebih sedikit. Pasti belum tutup, gumamku menenangkan diri. Sepuluh menit berselang, sampai juga di tempat yang kutuju. Seorang perempuan muda bermata sipit menyambut kedatanganku dan menyerahkan sebuah amplop berwarna putih.
“Maaf, kami sudah merepotkan Anda,” ucapnya seraya tersenyum.
“Tidak sama sekali,” jawabku datar. Kuterima amplop itu dan bergegas keluar. Aku berjalan menerobos hujan yang masih setia bercumbu dengan bumi, kekasih abadinya.

Harum kopi semerbak menyambut saat kubuka pintu apartemen. Terdengar sebuah suara yang sangat kukenal sedang bersenandung. Anya, karibku itu keluar dari dapur. Di tangan kanannya, tampak cangkir yang mengepulkan asap dengan aroma khasnya. Ia berikan cangkir itu padaku. Aku menerima lalu meneguknya perlahan. Rongga dadaku yang terasa sesak dan beku, mulai menghangat.
“Gimana Sin, dapat tiketnya?” Ia bertanya.
Kuambil amplop putih dari dalam tas lalu kuberikan padanya.
“Malam ini, pukul sepuluh aku harus sampai di Airport. Aku tak ingin terlambat, karena penerbanganku pukul setengah dua belas.”

Kuletakkan cangkir yang masih terasa panas di meja. Lalu beranjak menuju kamar. Anya tidak banyak bicara. Ia mengikuti langkahku dan membantu untuk berkemas. Aku berangkat ke bandara dengan menumpang sebuah taksi. Setiba di bandara, segera kuselesaikan segala keperluan yang berkaitan dengan jadwal penerbanganku. Pukul setengah dua belas waktu setempat, pesawat yang kutumpangi mengudara.
   ***

Adili Soeharto dan kroni-kroninya! Hapuskan Dwi Fungsi ABRI! Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN! Suara demonstran bersahutan membelah langit kota Jakarta. Massa dan mahasiswa yang berjumlah ribuan tumpah ruah di jalan-jalan utama, tepatnya di dekat bundaran Hotel Indonesia dan bergerak menuju ke gedung Parlemen, Gedung Nusantara.

Aku yang bekerja paruh waktu sebagai kontributor di sebuah surat kabar nasional, ikut turun ke jalan untuk meliput aksi unjuk rasa. Suasana yang semula masih terkendali, tiba-tiba berubah menjadi kisruh. Menghadapi ulah para demonstran, aparat keamanan mulai melakukan aksi untuk menghalau barisan pengunjuk rasa. Baton-baton pun ikut terayun. Dalam sekejab situasi berubah menjadi tak terkendali.

Suasana semakin memanas. Karena bukan hanya baton yang digunakan oleh pasukan anti huru-hara untuk menghalau demonstran, tetapi mulai terdengar rentetan tembakan entah darimana asalnya. Dalam kondisi kacau itu, kacamataku terjatuh. Tanpanya, hilanglah duniaku. Aku tak mampu melihat dengan jelas. Lalu kurasakan tarikan dan dorongan amat keras menghantam punggungku. Setelahnya, gelap.

Yang kutahu, saat sadar aku telah berada di bangsal rumah sakit. Kepala dan kakiku diperban. Punggung dan tanganku terasa ngilu. Kucoba mengingat apa yang terjadi, namun, hanya sepotong demi sepotong kejadian yang mampu kuingat. Disaat aku sibuk dengan rasa sakit, sosok lelaki bercambang itu menghampiriku. Matanya tajam seolah ingin mengulitiku. Tak ada kata yang terucap dari bibir legamnya. Hanya dengusan, seolah aku adalah sebuah beban yang selalu menyusahkannya.

Ia memberikan telpon genggam padaku. “Telpon ibumu! Agar ia tahu kau masih hidup,” katanya dengan nada kesal. Aku tak menghiraukannya. Rasa nyeri bertubi-tubi menyerang hampir seluruh persendianku. Ia tahu aku kesakitan. Lalu memanggil perawat. Aku melihatnya sekilas, sebelum obat penenang mengambil kesadaranku.


Hampir dua minggu aku terkapar di ruangan putih ini. Lelaki itu tak pernah lagi menjengukku. Hanya kedua adik dan ibuku serta beberapa kawan dekat yang datang. Dari mereka aku tahu apa yang menimpaku. Saat aksi unjuk rasa punggungku terkena ayunan baton seorang aparat keamanan. Lalu aku terjatuh dan terseret arus massa. Beruntung ada seorang mahasiswa yang menolongku. Kalau tidak, mungkin aku hanya tinggal nama.

Setelah keadaanku membaik, dokter mengizinkanku untuk pulang. Kali ini hanya ibu yang datang. Kemana lelaki bercambang itu? Ah, ia pasti sedang bermasyuk ria dengan wanita mudanya. Atau sibuk dengan pekerjaan dan jamuan makan dengan para koleganya. Uang, jabatan, reputasi di hadapan teman dan rekan bisnis adalah Tuhan baginya. Keluarga tak pernah ada dalam bingkai hatinya.

Ibu menuntunku menuju taksi yang terparkir di halaman rumah sakit. Tak banyak yang ia ucapkan. Hanya senyumnya menyiratkan rasa lega, karena aku, si sulung, anak perempuan satu-satunya, masih bernafas.

Setiba di rumah, ibu meminta bi Inah, perempuan berumur yang telah mengabdi di keluarga kami semenjak ibu menikah, untuk menyiapkan makan siang. Aku beranjak menuju ke kamar saat tanpa sengaja kutatap rangkaian foto yang terpajang di setiap bingkai kayu, di dinding ruang keluarga. Ada tawa, kegembiraan dan kehangatan di sana. Aku rindu semua itu.

Aku merindukan belaian lelaki bercambang itu. Seperti dulu, ketika aku masih kecil dan selalu tertidur di pangkuannya. Kristal bening merebak di kedua pelupuk mataku. Sosok lelaki itu tak lagi sehangat dan selembut dulu. Hari-harinya dihabiskan bersama istri mudanya. Wanita itulah sumber kehancuran keluarga kami. Ia pulang ke rumah layaknya seorang pejabat melakukan kunjungan dinas saja. Sekali dalam sebulan. Itupun hanya beberapa jam.

Ia memang ayahku. Tapi apa yang telah ia lakukan dengan menyakiti perasaan ibu, membagi hati dan kehidupannya dengan perempuan lain, membuatku muak melihat tampangnya. Jika aku sangat membenci kelakuan lelaki itu, sikap ibu berbalik tiga ratus enam puluh derajat denganku. Ibu begitu sabar dan selalu melayani ayah. Seolah ia sosok malaikat tanpa dosa. Pernah kutanyakan hal itu kepadanya, ibu hanya tersenyum sekilas dengan tatapan bening kedua matanya. Aku tahu ia menyimpan luka itu. Sendiri berusaha menerima asa dan takdir hidupnya.

Kuhela nafas perlahan lalu berjalan pelan memasuki kamarku. Kucoba memejamkan mata, saat terdengar derum mobil berhenti di halaman depan. Langkah berat sepatu kulitnya nyaring beradu dengan lantai berubin putih rumah kami. Lelaki itu datang untuk meminta ibu menandatangani surat perceraian mereka. Ibu menolak. Ibu tak ingin hak kami, ketiga anaknya terampas.


“Aku rela dimadu! Tapi aku tak sudi untuk bercerai. Aku tak akan membiarkan wanita itu memiliki rumah ini. Ini milik anak-anak. Tak akan kubiarkan seorangpun menjamahnya,” tolak ibu tegas. “Bukankah sudah kubilang, kau bisa membeli rumah lain dengan pembagian harta gono-gini kita. Cukup kau tanda tangani surat ini dan kau bisa bebas menikah dengan lelaki lain,” kata lelaki itu tanpa perasaan. Namun, ibu bergeming. Dan kali ini, lelaki itu benar-benar ingin mendapatkan tanda tangan ibu. “Jangan memaksaku untuk bertindak kasar. Kau tanda tangani surat ini sekarang juga, atau…,” hardiknya.

“Atau apa? Apa yang akan kau lakukan? Menamparku? Memukulku? Ayo lakukan! Sampai berkalang tanah pun aku tak akan menandatanganinya,” tantang ibu dengan lantang. Lalu terdengar suara plak, disertai rintihan tertahan ibu. Dengan tertatih aku keluar kamar menuju ruang tamu. Nampak ibu terduduk di lantai dengan memegangi pipinya. Sudut bibirnya berdarah. Kutatap nyalang lelaki bercambang itu. Ia dengan pongah berdiri berkacak pinggang seraya melambaikan selembar kertas putih terlaknat itu di depan muka kami.


Aku tak mampu lagi menahan amarah. Kurebut kertas itu dan merobeknya. Ia meradang. Matanya merah. Nanar menatapku. Tanpa kuduga ia menyambar lenganku dan menjambak rambutku. Ia menamparku berkali-kali. Aku terhuyung kemudian jatuh terjerembab di sisi ibu. Darah segar menetes dari hidung dan mulutku. Seperti orang kesetanan, lelaki itu melempar vas bunga ke arahku disertai sumpah serapahnya. Untung aku beringsut. Jika tidak, pasti kepalaku sudah bocor.

 Lalu dengan kasar ia menyeretku keluar dari rumah. “Dasar anak pungut, tak tahu diri. Ini balasanmu pada orang yang telah membesarkanmu. Memungutmu dari jalanan, heh! Kata-katanya meluncur bagai belati membelah kesadaranku. Diantara nyeri dan rasa sakit yang mendera, aku menatap kearah ibu yang tertatih berusaha menghentikan tarikan kasar suaminya kepadaku.
 “Hentikan mas, jangan kau sakiti Sinta, aku mohon! Akan kulakukan apapun kemauanmu. Lepaskan Sinta!” mohon ibu padanya. “Keluar kau dari rumah ini. Dasar anak tak tahu balas budi! Keluar!” Makinya semakin tak terbendung. Lalu sebuah tendangan ia daratkan di perutku. Rasa sakit tak tertahan terasa menyerang ulu hati. Pandanganku mengabur.


“Sinta, kamu sudah sadar nak?” suara ibu terdengar lemah di telingaku. Saat kubuka mata, wajah pucat wanita penyabar itu terlihat sedikit lega. Kedua adikku dan bi Inah berdiri di sampingnya. Mataku menatap sekeliling, mencari sosok lelaki itu. Ia tak ada.
“Ayah sudah pergi mbak. Untung kami datang tepat waktu,” kata Dani, si bungsu.
“Jangan khawatir. Kami tidak akan membiarkannya menyentuh mbak dan ibu meski hanya seujung kuku,” Danu, adikku yang satunya menimpali. Aku mengangguk dan tersenyum. Pandanganku kini beralih ke arah ibu. Aku butuh jawaban. Benarkah aku anak pungut? Apakah aku nyata bukan darah daging mereka?

 Ibu paham akan maksud tatapanku. Bulir airmata mengalir dari kedua telaga beningnya. Dengan terbata mulai menceritakan tentang hal yang selama ini, ia dan lelaki itu sembunyikan. Mereka menemukanku di taman kota. Di sebuah kardus berbungkus handuk lusuh. Ibu yang saat itu begitu menginginkan momongan, tetapi belum juga mendapatkan, meminta pada ayah agar mengizinkannya merawat bayi malang itu. Aku, yang kini dianggap sebagai putri sulung mereka adalah bayi di dalam kardus tersebut. Aku terdiam. Tanggul airmataku runtuh. Luruh bersama isakan ibu.
“Kamu anak ibu Sin. Selamanya kamu adalah putri sulung keluarga ini,” ucapnya terisak. Aku tak mampu bersuara. Ia memelukku begitu erat. Danu, Dani dan bi Inah ikut berkaca-kaca.

Setelah kejadian itu, ia tak pernah datang ke rumah. Lelaki itu tak lagi memberi nafkah batin dan lahir kepada ibu. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, ibu menerima order katering dan membuka warung kecil-kecilan. Aku pun tak mau berpangku tangan. Dengan kerja paruh waktu selepas kuliah dan membantu mengedit naskah majalah di kampus, aku mampu membiayai kuliah hingga lulus.

Kemudian bekerja di sebuah media berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong. Setahun, dua tahun, kulewati waktuku dengan menjadi kuli tinta di negeri seberang. Dengan gaji lebih dari cukup, aku bisa membantu membiayai kuliah Dani dan Danu.

Setiap lebaran tiba, aku selalu menyempatkan diri untuk mudik, bersua dengan ibu dan kedua adikku. Namun, kini hampir tiga kali hari raya aku tidak cuti. Dengan berbagai alasan, aku sengaja tidak pulang. Karena tiga tahun yang lalu, lelaki bercambang itu kembali ke rumah kami. Ia terkena stroke dan istri mudanya tak sudi untuk merawatnya. Semua uang dan harta miliknya, telah menjadi hak milik perempuan itu. Hanya rumah yang ditempati ibu dan kedua adikku yang selamat dari jarahan keserakahannya.

Aku belum bisa memaafkan lelaki itu. Tetapi ibu, ia dengan tangan terbuka menerima kehadirannya. Itulah yang membuatku tidak mudik sama sekali. Hingga seminggu yang lalu, sebuah pesan dari Danu, membuatku mampu melawan rasa sakit hati. Dan, kuputuskan untuk pulang.
***

Pesawat yang kutumpangi mendarat di bandara Juanda keesokan paginya. Aku menyewa taksi menuju kota kelahiranku, Malang. Dibutuhkan waktu kurang dari dua jam, sebelum akhirnya aku sampai di pelataran rumah ibu. Rumah itu masih tampak sama. Semerbak bunga melati dan mawar seolah berebut menyambut kedatanganku. Kupercepat langkah menuju pintu utama rumah. Belum sempat aku mengetuk pintu, seraut wajah dengan senyum yang selama ini aku rindukan, membukanya.

Ibu, dengan gamis ungu muda dan jilbab warna senada, terpaku melihatku. “Sinta? Masya Allah nak, kok tidak memberi kabar sama sekali?” ujarnya. Segera kugapai tangannya, kucium lalu memeluknya. “Maafkan Sinta bu, karena tidak berkirim kabar pulang hari ini,” kataku. Ibu tersenyum. Kemudian ia menggamit lenganku. “Kedua adikmu ada kegiatan di kampus. Nanti sore mereka baru pulang,” ibu berkata sembari membantuku membawa tas dan menaruhnya di kamarku.

 “Ia dimana bu?” Tanyaku. Ibu tahu siapa yang kumaksud. Lalu melangkah menuju kamar yang berdekatan dengan ruang keluarga. “Masuklah. Ayahmu ada di dalam.”

Dengan hati bimbang, kubuka pintu kamar bercat coklat tanah. Di sana, di tengah ruangan bercahaya redup, kulihat sosoknya terbaring di atas ranjang. Ia menoleh dan seulas senyum tersungging di bibir pucatnya. “Sinta, kamu pulang nak?” ucapnya terbata.

Aku beranjak mendekat ke arahnya. Cambang itu tak selegam dan selebat dulu. Tubuhnya ringkih. Hanya tulang berbalut kulit. Rambutnya berseling antara warna hitam dan putih. Senyum yang tersembunyi dibalik cambangnya, kini kulihat kembali. Aku menghambur ke arahnya. Kurengkuh tangan ringkihnya. Pandanganku kabur terhalang airmata.

Bibir lelaki itu bergerak perlahan. “Maafkan ayah, nak. Maafkan semua perlakuan ayah padamu,” ucapnya lirih diiringi airmata yang kini deras mengalir membasahi keriput pipi dan cambang kusutnya.

Kuusap lembut tangannya. Tangan yang dulu pernah menamparku. Juga yang mengusap halus kepalaku, saat aku lena dalam dekapannya. Kuletakkan tangannya di pipiku. Terasa hangat. Aku tak mampu berkata. Hanya sebuah anggukan kepala dan isakan tertahan yang mampu kuberikan. Lalu, tatapan matanya meredup. Nafasnya pelan dan teratur.


Kiranya, hanya tiga hari Tuhan memberiku kesempatan untuk merawatnya. Kamis, 5 Juli 2005, bertepatan dengan tahun ke-27 pernikahannya dengan ibu, lelaki bercambang itu menghembuskan nafas terakhirnya. Ia pergi dengan menggenggam erat tanganku.

Di sampingku, ibu menangis dalam diam. Terisak dalam senyap. Tangannya gemetar menyentuh wajah lelaki yang dicintainya. Lelaki yang memberinya begitu banyak luka. Lelaki yang telah membuatnya mengerti makna hakiki dari mencintai. Samar nampak senyum tipis di wajah teduh ibu, bersama lantunan doa yang lamat terdengar dari bibirnya.

Susana Nisa
Cerpen ini termuat di Tabloid Apakabar Plus
Edisi 9 September 2017

Posted by Unknown 20.20.00 in



Ada merah di pertengahan almanak September. Ketika tiap kali hujan datang. Sejenak menapak tilas jejak musim sebelumnya. Sepoi angin membawa rinai hujan membelai wajah telanjangku. Mengusik kedamaian hati yang tak jengah menyimpan sekeping rindu. Aku dan sebongkah asa yang selalu mengenang senyum abadimu.

Sebuah senyum yang kini terbingkai pelangi di ujung senja. Kulangkahkan kaki keluar dari rumah peristirahatan terakhirmu. Berat rasanya kedua kaki ini melangkah, seolah ada kekuatan magis menahan keduanya. Aku menoleh sesaat. Hanya untuk melihat kembali wajah dan senyummu dalam bingkai kaca. Tapi tak mengapa, karena garis lengkung di kedua bibir mungilmu, telah mampu memberiku kekuatan untuk menyongsong hari esok.

Kupercepat langkah meninggalkan tempat itu. Bukan karena aku takut tentang hal-hal berbau mistis. Namun, karena tak ada penerangan di sekitar area pemakaman ini. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan angka enam lebih sedikit. Itu berarti, hampir satu jam aku berada di sini. A Shan, waktu terasa berhenti ketika aku bersamamu. Meskipun kini semua tinggal kenangan, gumamku perlahan.

Sepuluh menit waktu yang kubutuhkan untuk tiba di halte bus terdekat. Tampak beberapa orang di sana. Tiga wanita dan dua lelaki paruh baya. Aku segera berdiri mengantri di belakang mereka. Lima belas menit berlalu. Tak ada satu pun bus yang lewat. Bosan menunggu, beberapa orang di depanku melambaikan tangan setiap ada taksi melintas.

 Tinggal aku dan seorang bapak,  kira-kira berumur 65 tahun lebih. Capek berdiri, aku beranjak ke dekat pagar pembatas di halte itu. Hanya untuk bersandar. Tak berapa lama, dari kejauhan terlihat bus dengan nomer 269X melaju ke arah kami. Aku menarik nafas lega saat menghempaskan diriku duduk di kursi penumpang deretan paling belakang. Tampak beberapa penumpang terlena dalam mimpi. Dibutuhkan waktu satu jam lebih untuk sampai di boarding houseku, di distrik Yuen Long.

Kubuka tas punggung bututku. Lalu kuambil sebuah buku yang berjudul Walk to Remember, hadiah terakhir darimu. Harum bunga lavender menyeruak saat kubuka lembar halaman pertama. Aku ingat betapa kau sangat menyukai bunga berwarna ungu itu.

 The distinguished and lovely flower, itu yang selalu kau ucapkan untuk mengekspresikan kekagumanmu pada bunga lavender. Aku rindu padamu Shan, sangat merindukanmu, gumamku pelan disela tarikan nafas. Perlahan kupejamkan mata. Kucoba mengurai satu persatu jalinan tali nasib yang telah mempertemukan kita.

***

Rinai hujan seakan enggan berhenti mengguyur bumi. Aku berjalan cepat-cepat menyusuri trotoar berpaving menuju rumah keluarga Leung, majikanku. Jalanan begitu sepi dan lengang. Hanya ada satu dua buah mobil pribadi yang melintas. Tatkala tanpa sengaja mataku menangkap sosok wanita berbusana serba ungu sedang berteduh di halte bus, di seberang jalan. Ia tak melihatku. Pandangannya sibuk menatap kearah berlawanan. Perempuan yang cantik, pikirku. Lalu kembali mempercepat langkah.

 Kecipak ayunan kakiku berhenti tepat di depan rumah berpagar besi berwarna hitam mengkilat. Kukeluarkan kunci perak dari dalam saku jaket. Lalu membuka pintu kecil di sebelah kiri pagar besi itu. Salakan nyaring GeGe, anjing labrador coklat kesayangan Tuan Leung, menyambut kedatanganku. Kulirik saja binatang berkaki empat itu. Tak kusapa. Aku bergegas menuju garasi. Di sana tampak si jantan Elgrand, hitam berkilat seolah  menunggu sentuhanku.

Dua puluh menit berselang, telah kujamah seluruh permukaan tubuh si hitam. Menghangatkan mesinnya lalu mengembalikan kunci mobil mewah itu kepada tuan Leung. Aku mengambil cuti selama seminggu dari kerja rutinku, menjadi sopir pribadi keluarga kaya raya itu.

Dengan tergesa aku berjalan menuju ke arah halte di seberang jalan. Diam-diam senyumku terkembang karena kulihat wanita berbusana ungu masih berada di sana. Tak ada orang di sana. Hanya kami berdua. Dua orang asing yang begitu berbeda. Wanita itu berkulit kuning langsat, bermata sipit dengan postur tubuh ideal. Sedangkan tak jauh di sebelahnya, berdiri lelaki berkulit coklat, berambut kriwil cepak dengan celana jeans dan jaket biru navynya, tampak canggung dan salah tingkah. Lelaki itu, aku. Hujan masih deras mengguyur.

Awan putih merata menandakan bahwa hujan takkan berhenti menyapa kekasih abadinya, bumi. Aku masih blingsatan berdiri kaku di tempat yang sama. Ingin aku menyapa, memperkenalkan diri. Namun, lidahku kelu. Pesona wanita bermata sipit ini seolah menyihirku. Hingga tiba-tiba ia menoleh seraya berkata, “Excuse me, do you have tissue? I used all mine just now.” Aku tak berkata. Secepat kilat kuambil tisu dari dalam tas. Ia tersenyum menerima tisu yang kuangsurkan kepadanya. Ucapan terima kasih dari bibir mungilnya menjadi penerus perbincangan akrab kami.


Ia bermarga Ong. Layaknya orang Hong Kong, ia memiliki dua nama. “My chinese name is Shanny. And my International name is Eugene. Everyone used to call me A Shan.” ujarnya kembali tersenyum. Dengan ragu aku memperkenalkan diri. “Ehm… my name’s Raditya. You may call me Radit.” Ia tertawa saat mengulang namaku. Karena lidahnya tak mampu mengucapkan huruf ‘r’. Mata sipit itu seolah menghilang terapit kedua pipi tembamnya yang terangkat. Rintik air  menemani setiap kata yang terurai hingga bus yang kami tunggu tiba.

Pertemuan singkat di bawah rinai hujan itu adalah sebuah rangkaian kisah yang kiranya telah tertulis di Lauhul Mahfudz, sebelum kami lahir ke dunia. Tali takdir secara kasat mata telah mengikat hati kami. A Shan yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus, tidak pernah mempermasalahkan tentang statusku yang hanya seorang sopir.

Hubungan kami semakin dekat. Pihak keluarganya juga memberikan lampu hijau atas kedekatan kami. Hari berganti minggu dan bulan. Semakin lama perasaan sayangku padanya bertambah dalam. Kesabaran A Shan dalam mendidik murid-muridnya, sifatnya yang begitu penyayang dan lemah lembut kepada setiap orang, membuatku mantab untuk meminangnya.

Malam itu, tepatnya di awal September. Betapa pipi putihnya bersemu merah. Mata sipitnya berbinar saat aku memintanya untuk menjadi ibu dari anak-anak kami. Hatiku serasa mengembang ketika ia menganggukkan kepala, tanda bersedia. Kusematkan sebuah cincin bermata biru di jari manisnya. Disaksikan keluarga dan beberapa teman dekat A Shan.


 Lalu rencana untuk pesta pernikahan yang sederhana kami rancang. Sebuah pesta yang berhias lampion dalam berbagai bentuk dan warna. Dan berjumlah empat belas lampion. A Shan menginginkan baju pengantin berwarna ungu. Bukan merah layaknya warna gaun pengantin untuk orang cina. Ia pun ingin semua anak didiknya hadir di hari bahagia itu. Aku menyetujui semua permintaannya. Tak sedikitpun terucap kata tidak dari bibirku. Bagiku, ia bersedia menjadi bagian dari perjalanan hidupku, itu sudah cukup.

Selama dua minggu kami sibuk mempersiapkan segala hal untuk melangsungkan hari bahagia itu. 14 september adalah tanggal yang dipilih oleh A Shan. Ia ingin agar hari lahirnya menjadi simbol bertautnya dua hati dalam ikatan suci.

Pesta pernikahan dilangsungkan di halaman rumah keluarganya, di distrik Fanling. Halaman luas itu nampak indah dengan berbagai hiasan yang terpasang. Empat belas lampion tergantung rapi berjajar sore itu bersama temaram senja di ufuk barat. Pesta pernikahan kami dilangsungkan. Dengan mengenakan gaun pengantin berwarna ungu muda, A Shan terlihat begitu anggun. Di tangannya tergenggam rangkaian bunga lavender yang diikat dengan pita berwarna senada. Ia berjalan sambil menggamit lenganku.


Nampak sanak kerabat dan tamu undangan duduk rapi di kursi-kursi berwarna putih yang berjajar hampir memenuhi halaman rumah. Keluargaku tak datang. Hanya tuan Leung dan keluarganya yang datang. Majikanku itu bersedia menjadi wakil dari pihak mempelai pria, aku.

Langkahku dan A Shan perlahan melewati barisan kursi di mana murid-murid spesialnya duduk. Senyum tersungging di setiap wajah yang kulihat. Anak-anak itu, mereka yang tidak mengenal arti kata kepedihan. Yang mereka tahu hanya berbahagia dan tersenyum menjalani setiap detik yang mereka punya. Berbahagia dalam dunianya. Disampingku, A Shan tersenyum membalas mereka.

Langkah kaki kami semakin dekat dengan altar pemberkatan. Saat tiba-tiba seorang lelaki bercaping berjalan dari arah samping altar. Di tangannya terhunus sebuah pisau.
Matanya nanar menatap kami. Hanya dalam hitungan detik, tragedi berdarah terjadi. Lelaki itu membabi buta mengarahkan serangan pisaunya ke arahku.

 Tanpa kuduga, A Shan mendorong tubuhku ke samping. Dan pisau ditangan lelaki itu menghujam tepat ke dadanya. Darah membasahi gaun ungu yang dikenakannya. Lalu tubuhnya rebah ke tanah. Semua orang, termasuk aku, terperangah tak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata kami. Terdengar umpatan dari mulut lelaki bercaping itu dalam bahasa yang tak kupahami.

Teriakan orang-orang untuk menangkap lelaki itu, menyadarkanku dari rasa syok yang melanda. Tak kuhiraukan lagi apa yang dilakukan oleh orang-orang kepada lelaki itu. Perhatianku terpusat pada A Shan. Kugapai tubuhnya yang bersimbah darah. Kurengkuh jasad wanita yang akan kunikahi itu dalam pelukan. Bunga lavender masih tergenggam di tangan kirinya. Tangisku pecah bersama semburat jingga yang memerah.

Beberapa hari setelah tragedi berdarah itu, pihak kepolisian yang menanganinya memberitahukan kepada kami, jika lelaki bercaping yang telah merenggut nyawa A Shan mengidap kelainan jiwa. Ia mengalami depresi karena kekasihnya menikah dengan lelaki lain. Dan ia membenci setiap pasangan mempelai yang akan menikah.

Hari itu, dimana pesta pernikahanku dengan A Shan dilangsungkan, ia yang bekerja paruh waktu di wedding organizer yang kami sewa, merasa marah saat melihat kami berjalan menuju altar pemberkatan. Halusinasi dan ingatannya akan pengkhianatan sang kekasih, membuatnya gelap mata.

Dan terjadilah tragedi yang mengakhiri kebahagianku dan A Shan. Aku dan keluarga menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib. Kami menginginkan hukuman setimpal bagi lelaki itu.

***

Bus yang kutumpangi perlahan memasuki terminal pemberhentian terakhir. Hanya ada tiga orang penumpang yang tersisa. Malam merayap turun. Lampu-lampu jalanan menyala redup membingkai gelapnya.

Kumasukkan buku pemberian A Shan ke dalam tas. Saat beranjak dari tempat duduk, kurasakan tepukan halus di pundak. Dan harum bunga lavender menyeruak memenuhi indera penciumanku. Aku tersenyum seraya bergumam, “Aku selalu merindukanmu, kau tahu itu.”


Susana Nisa (mrs Hu)
Cerpen ini termuat di tabloid Apakabar plus edisi Juli 2017








Posted by Unknown 21.27.00 in


Bunga flamboyan berguguran di sepanjang jalan menuju taman kecil di belakang kampus. Sebuah taman tua yang tak terawat. Terkesan sedikit angker dengan pagar pembatas setinggi dua meter mengelilinginya. Wajar jika taman ini selalu sepi. Terkadang, hanya satu dua orang mahasiswa yang terlihat duduk di bangku-bangku taman berwarna coklat tua. 

Salah satunya adalah aku. Bagiku, menikmati warna merah dengan degradasi oranye yang indah menjuntai dari dahan-dahannya, adalah obat paling mujarab untuk melepas lelah. Apalagi saat minggu pertama kemunculan bunganya di bulan Oktober. Ketika cuaca cerah dan langit berwarna biru tanpa awan, bunga flamboyan yang berwarna merah jingga seolah menyala. Bak lukisan yang sempurna dengan latar belakang langit biru lazuardi. Namun, keindahan itu tak bertahan lama. Karena minggu berikutnya, warna bunga flamboyan mulai memudar. Dari merah jingga perlahan ke merah tua yang redup. Kemudian layu dan gugur menutupi tanah di sekitarnya. 

Langkahku berhenti tepat di bangku kayu, di bawah pohon flamboyan yang terletak di ujung taman. Tempat duduk kesukaan kami. Dulu, sebelum kepergiannya. Setiap sore, kami selalu bertemu di taman ini. Menghabiskan waktu berdua, sambil memandangi kelopak-kelopak merah yang perlahan luruh diterpa kesiur angin. Kami bercakap tentang apa saja. Tentang kuliah, keluarga dan impian kami. Suatu saat nanti, ketika musim telah berganti, kala kami sudah mampu untuk membalas budi kedua orang tua masing-masing, kami akan berikrar untuk mengikat janji sehidup semati. 
Di sini, di bawah ranting-ranting pohon flamboyan dengan kelopak merahnya yang berguguran menutupi tanah. Terbayang di pelupuk mata, aku mengenakan gaun pengantin putih. Dan ia dengan stelan jas hitam. Sekilas senyum tersungging di bibirku.

Hanya sesaat. Lalu hampa dan keheningan seolah merengkuhku. Disaat seperti ini, aku akan kesulitan bernafas lalu jatuh terduduk di bangku kayu itu. Tangan ringkihku memegang lengan coklatnya yang semakin rapuh. Aku megap-megap, berusaha menghirup oksigen untuk mengisi rongga dadaku. Beberapa saat berlalu, aku hanya terdiam. Membiarkan setiap inci hatiku membuka lembaran kenangan bersamanya. Perih menyayat kalbu. Tapi aku bergeming. Menikmati rintihan jiwaku yang berdarah mengenang setiap jengkal kisah kami. Aku tak punya pilihan lain. Hanya dengan ini aku mampu bertahan. Mungkin aku sakit. Tapi biarlah. Asalkan kepingan kenanganku tentangnya tetap utuh, tak berubah. 

Petang itu aku terlambat datang ke taman. Tugas kuliah yang menumpuk membuatku harus berada di kampus hingga sore. Hatiku cemas, khawatir kalau ia telah pulang. Namun, ia di sana. Duduk di bangku di ujung taman. Tak ada seorang pun bersamanya. Perhatiannya seolah terpusat pada buku di tangannya. Ia menoleh saat mendengar kecipak langkah kakiku. Seperti biasa, senyumnya terkembang menyambut kehadiranku.

“Kukira kau takkan datang, Dew,” ujarnya pelan.
“Maafkan aku karena membuatmu menunggu. Kau tidak marah, kan?” kataku sambil duduk disebelahnya.
Ia menggeleng. Meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Kutatap kedua mata elangnya. Ada mendung menggelayut di sana. Ia Mendesah. Kemudian bibirnya bergetar menceritakan beban yang ada di dalam hatinya. Genggamannya semakin erat. Seakan ingin menyatukan jemari kami. 

Ia berbicara dengan tatapan kosong. Aku pun hanya mampu termangu mendengar setiap kata yang meluncur dari bibirnya. Ia mengatakan, setelah prosesi wisuda kelulusan kami, ia harus segera kembali ke kampung halamannya di Sumatera. Kembali untuk menunaikan janji dan amanah mendiang sang ayah. Menikah dengan perempuan yang telah dijodohkan oleh keluarganya. Ia adalah satu-satunya anak lelaki yang akan meneruskan nama besar dan marga keluarga. Karena itu, untuk pemilihan pendamping hidup, mendiang ayahnya telah memilihkan seorang perempuan dari keluarga terpandang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Penolakan tak pernah ada dalam tradisi perjodohan semacam ini, meski ia seorang lelaki. Tanggung jawab moral kepada kedua orang tua dan keluarga besar, harus ia junjung tinggi. Walaupun kebahagiaannya yang menjadi taruhan.

“Maafkan aku Dew. Seharusnya aku berterus terang padamu sejak dulu tentang hal ini,” ucapnya dengan nada berat. 
Aku ingin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Kenapa? Mengapa? Tapi tak satupun kata terucap. Lidahku kelu. Bulir-bulir airmata luruh menggelincir dari kedua mataku. 
“Kau tidak akan membenciku, kan?” Nadanya semakin berat. 

Jemarinya perlahan mengusap pipiku yang basah oleh air mata. Aku menggeleng. Kucoba melawan desakan amarah, kesedihan dan sakit yang teramat sangat. Tiga tahun hubungan kami harus berakhir seperti ini. Hampir setengah windu, dan baru sekarang aku mengetahui jika lelaki yang kucintai, lelaki yang selalu mengisi hari-hariku, lelaki yang berbagi mimpi dan harapan tentang masa depan denganku, telah terikat janji dengan seorang perempuan di tanah kelahirannya. Seharusnya aku mengumpat, memaki atau bahkan menampar dan menendangnya. Namun, aku tak mampu. 

Pandang mata kami beradu. Kurasakan hawa hangat mengalir bersama desiran darahku. Entah siapa yang memulai. Yang kutahu, bibir kami bertemu. Saling memagut. Setelahnya kurasakan sensasi luar biasa. Nafas kami memburu. Ia semakin erat memelukku. Tubuh kami menyatu di keremangan senja di bawah naungan pohon flamboyan. Ia masih mendekapku, sesaat setelah momen berbagi kasih yang barusan terlewati. 

“Terima kasih Dew. Akan aku bawa kenangan ini sampai kapanpun.” Ia tersenyum. Sekilas, nampak ada kilatan merah di kedua matanya. Ia melempar pandangan ke depan, sehingga aku tak bisa menatap matanya. Ah, mungkin hanya refleksi dari bunga flamboyan, batinku. Aku membalas senyumnya. Menggamit lengannya yang menggandengku keluar dari taman. Kami menyusuri jalan kecil menuju halaman kampus. Ia tak banyak bercakap. Aku pun hanya diam. Mendekatkan kepalaku ke sisi lengannya. Gelisir angin menerbangkan daun-daun kering yang luruh di tanah.

Ia mengantarkanku sampai ke tempat kos yang terletak tak jauh dari kampus. Ia tersenyum, mengecup keningku dan membisikkan sesuatu di telingaku. Lalu ia berbalik arah, berjalan menyusuri jalan yang barusan kami lewati. Aku masih berdiri di depan pagar rumah kos. Berat rasanya kakiku melangkah. Entahlah, rasa sepi itu kian menjadi, manakala kulihat ia berjalan semakin menjauh. Seolah perpisahan ini untuk selamanya.

Dua hari setelah pertemuan kami di taman itu, ia sama sekali tak bisa dihubungi. Ponselnya tidak aktif. Ia juga tidak ke kampus. Saat kutanyakan kepada teman-temannya, tak seorang pun yang mengetahui. Salah seorang teman kosnya mengatakan, sejak dua hari yang lalu ia tidak kembali ke tempat kos. Otakku berputar mencerna informasi itu. Aku bertemu dengannya tepat di sore hari, dua hari yang lalu. Setelah kejadian di taman dan mengantar aku ke tempat kos, ia berjalan kembali menyusuri jalan kecil menuju ke taman. Tapi apa mungkin ia berada di taman selama dua hari ini? Untuk apa? Kenapa ia tak menjawab telpon dan membalas pesanku? Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalaku. 

Dengan seribu rasa penasaran dan harap cemas, aku bergegas menuju taman di belakang kampus. Sunyi. Tak ada siapapun di sana. Kakiku terus melangkah di atas luruhan bunga flamboyan yang semakin memerah. Semburat matahari senja menyusup diantara rimbun daun dan bunganya. Langkahku terhenti saat mataku menangkap pendar sinar berwarna jingga, di bawah pohon flamboyan terbesar yang ada di ujung taman. Ada rasa takut menyusup. Tapi rasa penasaran membuat kakiku bergerak maju. Mataku terbelalak saat aku berada dua meter dari pohon kokoh berkulit hitam mengkilat itu.

Di depanku, nampak seorang perempuan duduk bersimpuh di tanah. Rambut panjang jingganya terurai menutupi wajah seorang lelaki di pangkuannya. Ia menunduk. Jari jemari berkuku panjang dengan warna senada rambutnya, mengusap dada telanjang lelaki itu. Lalu, dengan satu hentakan kuat, kuku perempuan itu menembus dada lelaki di pangkuannya. Dan saat ia mengeluarkan tangan dari dada lelaki itu, terlihat segumpal daging berwarna merah pekat dalam genggamannya. Ia mendekatkan gumpalan daging itu ke mulutnya. Kemudian dengan rakus ia melahap gumpalan daging itu. Aku terbelalak melihat pemandangan mengerikan di hadapanku. Ketakutan melandaku. 

Rupanya perempuan itu mengetahui kehadiranku. Wajahnya terangkat dan melihat lurus kearahku. Rambut jingganya tersibak. Di saat yang sama aku bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu. Aku terkesiap. Mataku membelalak tak percaya dengan apa yang kulihat. Lelaki itu adalah Prasetyo, kekasihku. Tubuhku luruh, jatuh terduduk. Aku syok. Kakiku seolah menancap ke tanah. Sementara perempuan itu nyalang menatapku. Perlahan ia bangkit dan berjalan menghampiriku. Aku ingin berteriak, namun suaraku tercekat di tenggorokan. 

Ia semakin mendekat. Aku menggigil ketakutan melihat seringai liarnya. Tiba-tiba ia berhenti, tangannya terangkat dan menunjuk kearah perutku. Aku seolah membeku. Tak mampu bergerak sedikitpun. Dapat kurasakan angin berhembus di sekelilingku. Nampak perempuan itu mengibaskan rambutnya. Dan bunga-bunga yang berguguran di tanah berputar mengelilinginya. Lalu ia lenyap. Di kejauhan, samar terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Aku sempoyongan mencoba melangkah kearah tubuh Prasetyo yang tergeletak bersimbah darah. Kedua kakiku seolah tak bertulang. Tubuhku limbung jatuh terduduk di dekat jasadnya. Kurasakan pandanganku berkunang-kunang. Lalu gelap pekat menyelimuti.

Yang kutahu saat membuka mata, aku telah berada di bangsal rumah sakit. Sekujur tubuhku terasa ngilu. Ayesa, sahabatku, nampak tertidur di kursi sebelah ranjang tempatku terbaring. 
“Sa,” kucoba membangunkannya. Ia tergeragap dan membuka mata.
“Masya Allah, Alhamdulillah Dew, kamu sudah sadar.” Senyum yang menyiratkan rasa lega  terpancar di wajahnya. Tanpa aku minta, ia menceritakan kenapa aku sampai dirawat di rumah sakit. Karena hampir tengah malam aku belum kembali ke tempat kos, Ayesa meminta bantuan beberapa kawan untuk mencariku. Mereka menemukanku tergeletak tak sadarkan diri di bawah pohon flamboyan, di taman belakang kampus. Pakaianku dipenuhi bercak darah yang telah mengental. Panik dan khawatir dengan keadaanku, mereka segera membawaku ke rumah sakit. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Perlahan kesadaranku kembali utuh. 

“Lalu, bagaimana dengan Pras? Apa ia masih hidup? Ia tertolong? Di mana ia sekarang?” berondongku pada Ayesa. Sahabatku itu menatapku. Ia menghela nafas. 
“Kami tidak menemukan Pras di taman itu Dew. Di sana hanya ada kau yang terkapar pingsan. Sendirian, tak ada seorangpun. Dan sampai detik ini, tak ada kabar di mana ia berada.” Aku termangu. Sketsa kejadian di taman tergambar nyata. Wanita berambut jingga yang merobek dada Prasetyo. Lalu mengambil gumpalan hitam dari dalam dadanya kemudian memakan gumpalan itu. Tatapan liar dan seringai wanita itu, sebelum ia lenyap bersama luruhan bunga-bunga flamboyan. Aku ingat semuanya. Tapi kemana tubuh Pras? Apa ia masih hidup? Kepalaku serasa pecah mencoba menerka apa yang terjadi dengannya.

“Istirahatlah Dew. Dokter menyarankan agar selama dua sampai tiga hari ke depan, kau tinggal di rumah sakit. Tak usah kau pikirkan Prasetyo lagi. Pihak keluarga dan teman-temannya sudah melaporkan ke polisi jika ia menghilang sejak dua hari yang lalu. Kau istirahat saja untuk memulihkan kondisi tubuhmu,” kata Ayesa menenangkanku. 
Aku hanya mengangguk. Ingin kuceritakan tentang apa yang aku lihat di taman, namun, kuurungkan. Tak akan ada yang mempercayai ceritaku, batinku.  

Setelah kejadian di taman itu, tak ada lagi kabar tentang bagaimana dan di mana Prasetyo berada. Ia menghilang bagai di telan bumi. Sedangkan aku harus berjuang sendiri menghadapi kenyataan, jika kini aku mengandung benih dari lelaki yang kucintai. Tujuh bulan sudah usia janin dalam rahimku. Aku tetap mempertahankannya, meski pihak keluarga menentang dan menyuruhku untuk menggugurkannya. Beruntung pihak universitas tetap mengijinkanku untuk melanjutkan kuliah. Aku bergeming dan tidak peduli dengan anggapan teman ataupun beberapa dosen yang sering kali menyindirku. Menganggapku wanita murahan karena hamil di luar nikah. Walau terkadang, begitu lelah jiwa dan raga ini menjalani hari-hari tanpa kepastian. 

Hanya taman di belakang kampus inilah tempatku menenangkan diri. Mengenang setiap jumput kenangan tentangnya. Tentang mimpi kami. Kuusap perlahan perutku yang semakin membuncit. Kurasakan kehangatan di sana. Kucoba menutup mata, menghirup aroma bunga flamboyan yang diterbangkan angin senja. Tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan mengusap lembut pipiku. Dingin. Refleks mataku terbuka. 

Nampak seorang lelaki yang selama tujuh bulan ini menghilang, berdiri tepat di depanku. Wajahnya pucat. Matanya semerah darah. Tajam menatapku. Aku mengerjap. Tak percaya dengan apa yang kulihat. “Pras,” bibirku bergetar menyebut namanya. Ia mengalihkan pandangannya kearah perutku. Perlahan tangannya bergerak turun dan berhenti di sana. Kembali ia menatapku. Aku mengangguk, seolah menjawabnya. Ujung bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian. Seringai yang kukenal. Sebelum aku sempat mengumpulkan ceceran ingatanku tentang kejadian tujuh bulan lalu di taman ini, kurasakan tangannya yang sedingin balok es mencengkeram perutku. Aku terkesiap. Karena wajah Prasetyo perlahan berubah menjadi wajah perempuan berambut jingga.   

Choi Hung, 7 Februari 2017

Susana Nisa
Cerrpen ini termuat di Tabloid Apakabar plus
4 Maret 2017

Posted by Unknown 16.57.00 in

Entah bagaimana aku menarasikan kenangan tentang Rieka, sahabatku saat kami sama-sama menuntut ilmu disebuah sekolah kejuruan di kota kelahiran kami, Malang, Jawa Timur. Apa yang kami alami membawaku pada satu kenyataan, bahwa inilah misteri  kehidupan. Setiap langkah mengantar kita pada tikungan yang tak terduga. Mei 2002, satu bulan sebelum kelulusan kami, Rieka telah menuntaskan takdirnya pada sebuah tikungan yang aku sendiri tak pernah menduganya. Setelah hampir tiga tahun ia berjuang melawan penyakit yang merongrong tubuh ringkihnya. Inilah hidup, dengan misteri yang berlapis-lapis yang acapkali tak terprediksi. Aku tak seberapa ingat bagaimana awal perkenalan kami. Sebagai sesama siswa baru yang harus melewati masa MOS (masa orientasi siswa), di mana setiap siswa baru akan di kerjai oleh para kakak kelasnya, saat itulah aku mengenalnya. Ia sosok yang unik diantara teman-teman wanita yang lain. Dengan tubuh kurus tinggi dan kulit berwarna coklat, ia selalu tersenyum saat pandang kami bertemu. Perkenalan tersamar, yang pada akhirnya mengikat kami menjadi sahabat.
Persahabatan yang kami jalani dengan ringan, tidak selalu kami terlibat obrolan panjang atau pun intensif. Tapi setiap kali perbincangan terjadi, akan menjadi sesuatu yang seolah memacu adrenalin kami untuk selalu tertawa melihat dunia. Hal yang paling menarik untuk kami perbincangkan adalah tentang sepak bola. Rieka tergila-gila dengan As Roma, salah satu klub liga serie A Italia. Aku juga menyukai klub itu. Rieka fans berat dari Montella, sedangkan aku penggemar fanatik Franscesco Totti. Saat tim kesayangan kami berlaga, maka pagi hari saat di sekolah, bukan mata pelajaran atau pekerjaan rumah yang kami perbincangkan. Namun, bagaimana hasil pertandingan, siapa pencetak gol dan aksi bintang-bintang idola kami. Juga tentang mimpi-mimpi kami untuk bisa menjejakkan kaki di Roma, Italia. Rieka menatap masa depan dengan optimis. Masa yang indah dan menantang. Meskipun ia tahu bahwa penyakit yang dideritanya, perlahan namun pasti semakin menggerogoti kekebalan tubuhnya.
Menjelang hari kelulusan, Rieka jatuh sakit. Ia yang setiap pagi aku temui tersenyum manis di deretan bangku paling ujung di kelas, tak nampak. Aku resah, bimbang, karena tahu pasti ada sesuatu yang terjadi padanya. Benar perkiraanku, siang hari, ibu Titik wali kelas kami memberitahukan, bahwa semalam kondisi Rieka ngedrop dan harus dirawat di rumah sakit. Sepulang sekolah, aku dan beberapa teman sekelas bergegas ke rumah sakit untuk menjenguknya. Siang itu terik mentari tak begitu menyengat, waktu menunjukkan pukul setengah tiga, jam besuk untuk para pengunjung di rumah sakit islam Gondanglegi, Malang. Aku, Titin dan Wiwiet bergegas masuk ke ruang perawatan dimana Rieka terbaring. Di depan pintu, kami berhenti sejenak, mencoba melongok ke dalam kamar. Lalu mengetuk pintu. Seorang perempuan paruh baya, menyambut kami dengan senyum yang sangat dipaksakan.
"Eh nak, mari masuk," beliau menyilahkan .
Bergegas kami masuk dan mendekat ke ranjang tempat Rieka dirawat. Ia nampak tak berdaya dengan jarum infus dan beberapa selang yang menggelayut disekujur tubuhnya. Aku raih tangannya dan kugenggam erat. Gurat wajahnya sayu. Matanya kuning. Namun ia tetap tersenyum menyambut kami.
"Sakit San. Sakit sekali. Aku tak mau pergi. Aku belum ke Roma. Aku masih ingin mengikuti wisuda kelulusan kita,” ucapnya sambil terisak menahan sakit.
Aku, Titin juga Wiwiet menunduk demi menahan airmata. Aku ingin terlihat kuat demi menjaga semangatnya. Tapi ternyata aku tak mampu. Tapi siapa gerangan yang sanggup menjaga ketegaran hati, demi melihat ketakberdayaan seorang sahabat yang didera kesakitan luar biasa. Perlahan air mata pun luruh, tak kuasa hatiku melihat keadaannya.
"Apa yang terjadi pada diriku? Aku lelah. Penyakit ini tak juga menyerah. Ia semakin mengganas. Kenapa aku yang harus menderita penyakit ini, kenapa?" tanyanya sambil terisak.
Aku tercekat. Tak berdaya pada saat yang sama. Aku paham betul kegalauan hatinya.
"Kau pasti dapat melalui semua ini. Kau harus melawannya. Semangat dan berpikirlah positif. Kau pasti akan baik-baik saja," aku berusaha menenangkannya.
Trenyuh hatiku melihat keadaan Rieka. Namun aku tidak ingin semangatnya runtuh. Ketegaran hati itu harus tetap dijaga. Selalu aku katakan, "Jangan takut. Sudah kau hadapi yang lebih dari ini. Kau pasti sanggup bertahan. Percayalah." Kembali mata kami beradu. Kutemukan setitik harap di sana. Dan ia pun tersenyum.
Satu jam lebih kami menjenguknya. Kami pamit undur diri saat Rieka tertidur sementara tanganku masih dalam genggamannya. Aku berdoa dengan hati yang patah. Bukan lagi airmata yang aku sembunyikan, melainkan isak tangis demi tak mengganggu tidurnya. Esoknya hari Sabtu sore, aku datang seorang diri dengan membawa kue terang bulan isi coklat, kesukaannya. Hari itu Rieka nampak tak terlalu kesakitan lagi. Ia terlihat tenang dalam penjagaan ibunya. Tapi aku tahu, ketenangan itu hanyalah sesuatu yang semu. Rasa tenang itu karena pengaruh obat pereda sakit dosis tinggi yang setiap 2 jam sekali disuntikkan ke tubuh ringkihnya. Di sisi lain, kesadarannya semakin menurun. Walaupun demikian, Rieka tetap selalu berusaha menunjukkan semangat hidup untuk berjuang melawan sakit yang dideritanya. Hari itu kami berbicara tentang banyak hal. Sekolah, hasil ujian akhir juga hasil pertandingan sepak bola antara AS Roma melawan AC Milan semalam. Ia tampak menyesal karena tak dapat menyaksikan keseluruhan pertandingan, dikarenakan obat tidur yang diberikan dokter. Dan seperti kemarin, aku menunggu hingga ia tertidur untuk pamit. Seolah aku berusaha mengingkari sebuah perpisahan. Karena sesungguhnya aku tak sanggup mengucapkan kata pamit kepadanya. Kesedihan dan kepedihan hatiku tak terjelaskan.
Senin 20 Mei 2002
Sore mendung ketika itu dengan gumpalan awan berwarna abu pekat. Aku sedang termenung di teras tatkala berita itu datang. Rieka telah pergi meninggalkan semua cita dan harapannya. Hatiku terasa kosong. Seumpama lorong gelap tanpa setitik cahaya. Perasaan hati seolah mengambang, melayang entah kemana. Ada sebuah labirin yang semakin menjauh. Aku tahu, itu adalah labirin kehidupannya.
***
Salam untukmu sahabatku. Bawalah doa kami bersamamu. Semoga cahaya surgawi menerangi dan menjadi pandu menuju ke haribaan-Nya. Akan kubawa mimpimu. Akan kuwujudkan harapanmu. Suatu saat, akan kuinjakkan kakiku di tanah yang telah dijanjikan mimpi-mimpi, Roma, Italia. Aku akan ke sana sahabatku. Akan kuukir nama kita di bawah langit De Fontana De trofi. Selamat jalan Rieka. Semoga Tuhan memelukmu dalam damai dan kasih-Nya.

In memoriam
Sahabat kami, RIEKA PUSPITASARI
Siswi SMKN 1 Turen Malang,
Klas AK 2 Angkatan 2002

Susana Nisa
Cerpen ini termuat di Majalah Iqro

















Posted by Unknown 02.08.00 in

Ranti duduk terpekur di ujung ranjang. Ada genangan dibening matanya yang perlahan jatuh bergulir di kedua pipi putihnya. Suara isakan pelan terdengar, membuat sosok yang terbaring di depannya membuka mata. Seorang lelaki berbadan tegap, berkulit coklat muda dan bemata sipit. Rambutnya hitam lurus, di potong rapi. Lelaki itu bertelanjang dada. Hanya selimut yang menutupi tubuh bagian bawah. Mata sipitnya merah. Dengusan kesal terdengar dari helaan nafas yang mirip seekor kerbau. Sementara Ranti masih duduk di tempat yang sama. Kristal bening tak henti meleleh. Isak tangisnya tertahan. Lelaki itu bangun dan duduk di dekat Ranti, lalu merangkul pundaknya. Gadis itu mencoba menepis tangan sang lelaki lalu menggeser posisi duduknya.
“Mo pan ye keh lei!” Kata lelaki itu sambil berdiri. Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai kamar dan mengenakannya. Lalu berjalan ke arah pintu, menoleh ke arah Ranti yang masih terisak. Ia mengeluarkan selembar uang seratus dolar Hong Kong lalu mengangsurkan kepada gadis itu. Ranti bergeming. Ia tidak sudi menerima uang itu.
“Keijui a, mo wa pei thai-thai theng, liti jin ngo pei lei, haji ngo wui pe lei to tik keh, tanhai lei yiu keijui hah, mo wapei ngo keh lobo ci!” Lelaki itu menaruh uang yang dipegangnya di atas meja, di sebelah ranjang. Lalu bergegas keluar kamar. Ia tak mempedulikan Ranti yang masih terisak. Beberapa saat kemudian terdengar pintu utama tertutup, pertanda lelaki itu telah pergi.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Ranti mencoba berdiri dan membenahi pakaiannya yang carut marut. Kemudian melepas sprei, sarung bantal juga selimut. Secepat kilat menggantinya dengan yang bersih. Air matanya tak henti menetes. Hatinya hancur. Harga dirinya terinjak-injak. Kehormatannya telah direnggut oleh lelaki yang tak lain adalah majikannya sendiri. Ini adalah kali kedua lelaki bejat itu menggagahinya. Saat kejadian pertama kali, ia berniat melaporkannya ke polisi. Namun ia urungkan karena tak punya cukup bukti. Dan ia baru dua bulan bekerja. Ranti ingat hutang yang masih ditanggungnya. Lima bulan masa potongan gaji, mengharuskannya menguatkan diri untuk bertahan bekerja dengan majikan laknat itu. Ia hanya ingin kebahagiaan untuk keluarganya di kampung. Kedua telaga bening itu kembali mengalir deras. Ingin rasanya ia bunuh diri untuk melepaskan semua beban yang menghimpit. Tetapi tiap kali rasa putus asa itu menyergap, wajah orang-orang terkasih yang saat ini menunggu hasil keringat dan jerih payahnya, terbayang di pelupuk mata. Senyum dan harapan mereka akan kepulangan Ranti adalah semangat dan kekuatan yang membuatnya tetap bertahan. Dengan tergesa dan menahan gemuruh di dada, gadis berkulit sawo matang itu bergegas merapikan kamar majikannya. Lalu membersihkan diri agar nyonya tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Setelahnya, Ranti  melakukan tugas dan aktivitas seperti biasa.
Satu jam berlalu. Lelaki tadi kembali ke rumah sudah dalam keadaan bersih. Ia pasti ke rumah ibunya di blok sebelah, pikir Ranti. Keduanya diam tak bertegur sapa. Ranti tak mempedulikannya dan pura-pura menyetrika. Ia tak ingin melihat wajah laki-laki itu. Di saat Ranti sedang bergumul dengan pikirannya, terdengar dering telpon di ruang keluarga. Tak lama berselang, lelaki itu terlihat menghampirinya. Jantung Ranti berdetak. Was-was mengantisipasi apa yang akan ia lakukan. “Istriku pulang awal hari ini. Ia memintamu untuk memasak bubur kesukaannya,” katanya retorikal. “Dan ingat, bersikaplah sewajarnya.” Nada suaranya mengancam. Kemudian berbalik, melangkah masuk ke kamar. Ranti tak bereaksi. Ia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Sore, sekira pukul enam, majikan perempuan pulang. Ranti yang masih berkutat dengan masakan di dapur, berlari kecil membukakan pintu untuknya. Perempuan yang masih nampak muda di usia paruh baya itu tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. Ranti membalasnya dengan anggukan kecil, lalu kembali ke dapur. Di ruang keluarga, terdengar kedua majikannya berbincang ringan. Tak berapa lama, Ranti telah selesai memasak. Lalu dengan sigap menyiapkan hidangan makan malam untuk tuan dan nyonya yang masih asik masyuk bercengkerama sembari menonton berita di televisi. Ranti melirik kepada majikan laki-laki dengan ekor matanya. Lelaki itu bersikap wajar. Ia nampak sangat baik di depan istrinya. Berusaha menepis rasa geram, Ranti menghampiri keduanya dan menyilahkan mereka untuk menikmati hidangan makan malam. “Emkoi,” jawab nyonya seraya beranjak menuju meja makan yang diikuti oleh suaminya. Ranti tersenyum. Sebuah senyum yang dipaksakan. Ia kembali ke dapur untuk menyantap jatah makan malamnya. Namun hanya beberapa sendok nasi dan sedikit lauk yang masuk ke mulutnya. Dan tiba-tiba rasa mual tak terkira menyergap. Secepat kilat Ranti berlari menuju kamar mandi. Beruntung ia memiliki kamar mandi sendiri yang berada didekat kamarnya. Rumah majikannya memang berbeda dari rumah warga Hong kong pada umumnya. Di mana biasanya dapur terletak di depan, dekat dengan pintu masuk. Desain rumah majikan Ranti lebih mirip dengan rumah di Indonesia. Dari depan, berurutan ruang tamu dan ruang keluarga yang dipisahkan oleh sekat pembatas. Kemudian terdapat lorong kecil menjorok kedalam yang di kedua sisinya terletak dua kamar dan satu kamar mandi. Lalu di sebelah kiri kamar mandi terdapat lorong menuju dapur. Di belakang dapur itulah kamar tidur dan kamar mandi Ranti.
Wajah Ranti pias. Tangannya erat mencengkeram kedua sisi toilet. Perutnya seolah naik memuntahkan seluruh isinya. Sekuat tenaga ia menahan agar tak mengeluarkan suara. Tetapi, kiranya sang nyonya yang masuk ke dapur untuk mengambil sup, mendengar suara Ranti.
“Ranti, lei hamai em sifuk a?” tanya nyonya, dari luar kamar mandi.
Ranti yang masih merasa mual dan pusing, segera bangkit, membasuh tangan dan wajahnya.
“Ngo mo si, thai-thai. Siu-siu thau wan. Mo si keh, emsai tamsam,” jawabnya tatkala keluar dari kamar mandi. Nyonya yang baik itu menyuruh Ranti untuk segera beristirahat. Ia bergegas ke ruang tamu, hanya untuk kembali ke dapur dan memberikan sebotol minyak kayu putih kepada Ranti.
“Kau mandilah dulu. Lalu balurkan minyak kayu putih di perut, dada, punggung dan lehermu. Jangan lupa, usapkan juga di bawah lubang hidung dan pelipis kanan kiri. Lalu minum air putih hangat dan beristirahatlah. Malam ini, biar tuan yang mencuci piring dan perabot lainnya,” kata perempuan itu seraya memberikan minyak kayu putih. Ranti tak membantah. Diterimanya botol minyak kayu putih itu, lalu mengucap terima kasih. Meski merasa tidak enak hati, tetapi ia tak punya pilihan lain. Kepalanya seolah ditekan oleh batu berukuran raksasa. Rasa mual kembali menyerang. Ia bergegas membasuh tubuh, ganti baju dan melakukan apa yang disarankan majikan perempuannya.
Tiga minggu berlalu. Rasa mual masih sering dirasakan Ranti. Ia hanya meminum ramuan herbal penolak masuk angin yang dibelinya di pasar. Ranti mengira, ia hanya kelelahan dan masuk angin. Tetapi rasa mual bahkan pusing seringkali muncul tanpa mengenal waktu. Dengan berbekal uang pemberian nyonya, ia pergi ke klinik. Di sana ia diminta melakukan tes urine oleh dokter. Setelah menunggu beberapa saat, seorang perawat memanggilnya untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Betapa terkejutnya Ranti, saat dokter yang tadi memeriksanya menyatakan kalau dirinya hamil. Ia kembali ke rumah majikan dengan pikiran kalut. Masih terngiang jelas kata-kata dokter di klinik. “Hasil tes menunjukkan jika Anda positif hamil.” Ranti menumpahkan tangisnya sesaat setelah masuk ke kamarnya. Hari itu, seperti biasa hanya ada majikan laki-laki di rumah. Ranti tak menghiraukannya. Hatinya gundah. Nestapa merajai bilik hati. Apa yang akan ia lakukan? Bagaimana jika nyonya mengetahui tentang kehamilannya? Apakah ia akan mengadukan tentang kebejatan laki-laki itu kepada istrinya? Akankah perempuan itu mempercayai Ranti? Ataukah ia akan diputus kontrak lalu dikembalikan ke agen? Bagaimana dengan hutang-hutangnya? Lalu siapa yang akan mengirimkan uang untuk biaya hidup keluarganya di kampung? Berbagai pertanyaan berseliweran dalam otaknya.
Ranti masih tergugu, tatkala terdengar langkah kaki mendekat. Dan sebuah suara yang begitu ia benci memanggil namanya. “Ranti, keluarlah dari kamarmu. Jangan berpura-pura sakit lagi. Kami membayarmu untuk bekerja. Bukan untuk berada di dalam kamar dan tidak melakukan apapun.” Ranti diam. Ia tidak menjawab. Dengan wajah sembab dan langkah gontai, ia keluar kamar. Lelaki itu memandang kearahnya dengan tatapan dingin. “Badanku pegal-pegal. Aku butuh dipijat. Kau ikut ke kamarku sekarang,” perintahnya. Ranti berjalan mengikutinya. Sesampai di kamar, lelaki itu seperti biasa menanggalkan semua pakaiannya. Ia selalu meminta Ranti memijatnya, sebelum melakukan hal tak senonoh kepada pembantunya. Saat lelaki itu telah menelungkupkan badan, Ranti meminta ijin untuk ke belakang. Sebentar katanya. Ketika melewati dapur, mata gadis itu menatap sebilah pisau yang sering ia gunakan untuk memotong daging babi. Pisau lebar dan besar itu mengkilat di sisinya yang memipih. Sehari sebelumnya, ia telah mengasah pisau tersebut. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Secepat kilat Ranti mengambil pisau dan membawanya ke kamar, dimana majikan berada. Sedetik kemudian, terdengar teriakan menyayat. Sprei biru muda yang menutupi ranjang di kamar itu berubah warna. Menjadi merah marun. Bau anyir darah menyeruak memenuhi udara di dalam kamar. Ranti keluar dari kamar menenteng pisau yang berlumuran darah. Rambutnya kusut masai. Wajah, tangan bahkan kaki dan pakaiannya belepotan darah. Ia masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah syal berwarna biru. Ia menciuminya. Terbayang wajah sang ibu saat memberikan syal itu, waktu kunjungan terakhir di balai latihan kerja seminggu sebelum keberangkatannya ke Negeri Beton. Perlahan Ranti melilitkannya di leher. Menyelipkan salah satu ujungnya di pintu, kemudian menutupnya. Ia melangkah menjauh dari pintu sambil menarik ujung yang satunya sekuat tenaga. Nampak nafasnya megap-megap. Tubuhnya meregang. Lalu diam, tak bergerak.

Catatan kaki :

Mo pan ye keh lei = Kau jangan berpura-pura
Keijui a                     = Ingat ya
Mo wa pei thai-thai theng     = Jangan beritahu nyonya
Liti jin ngo pei lei = Aku beri kau uang ini
Haji ngo wui pe lei to tik keh = Lain kali aku akan memberimu lebih banyak
Tanhai lei yiu keijui          = Tapi kamu harus ingat
Mo wapei ngo keh lobo ci    = Jangan memberitahu istriku
Emkoi = Terima kasih
Lei hamai em sifuk a = Apa kamu tidak enak badan
Ngo mo si = Saya tidak apa-apa
Thai-thai = Nyonya
Siu-siu thau wan = Sedikit pusing
Mo si keh = Tidak apa-apa
Emsai tamsam = Jangan khawatir


Susana Nisa
Cerpen ini termuat di Tabloid Apakabar
OKtober 2016
Posted by Unknown 21.39.00 in
Cinta yang agung adalah ketika kita masih setia menunggunya dengan menitikkan airmata, meski kita sadar bahwa ia takkan pernah kembali untuk selamanya.

Setiap senja aku selalu melihatnya duduk di sana. Dengan baju yang sama dan setangkai bunga tulip putih di tangannya. Perempuan itu selalu memandang jauh ke tengah laut lepas, seolah menanti seseorang yang tak jua kunjung tiba. Ia tak peduli deburan ombak yang berkejaran di pantai dan sisa-sisa riak kecil menjilati kaki telanjangnya. Zubaida, itulah namanya. Seorang perempuan yang tak pernah tergerus nilai-nilai modernisasi zaman. Tubuhnya masih sintal dan berisi di usia lebih dari separuh abad. Gurat-gurat kecantikan masa muda, masih tampak di wajahnya yang kini terlihat muram dan kusut. Ia selalu mengenakan kebaya dan jarik sidomukti, lengkap dengan sanggul yang dihias cucuk mentul. Khas, tipikal wanita jawa tulen yang tak mungkin ditemui di abad serba komputer ini. Aku tak seberapa paham dengan kehidupannya dan mengapa ia selalu datang ke pantai ini setiap menjelang senja.

Yang aku tahu, saat pertama kali melihatnya duduk di atas batang pohon tumbang di pantai itu sebulan yang lalu, aku merasa ada sebuah tarikan hebat yang membuatku ingin mengetahui siapa gerangan perempuan itu. Naluriku berkata, ada kisah istimewa di balik kebisuannya memandang kosong ke tengah samudera. Adalah pak Syarif, induk semang di mana rumah beliau menjadi tempatku menginap, selama kurun waktu 2 bulan terakhir pengerjaan skripsiku, yang menceritakan kisah itu.
***

Kesunyian berlalu beriringan dengan hembusan angin. Melewati lorong waktu, bersama sejarah yang tak mungkin diputar kembali. Langkahnya terus mengalun, menyenandungkan kidung-kidung penantian. Perih, menyayat kalbu laksana balada yang menguak luka tanpa ujung bagi perempuan itu. Hampir tiga dasawarsa lamanya, ia menunggu dan menepikan sejumput harapannya pada pasir yang basah. Menggantungkan impian seraya menghirup aroma laut. Setia menemani camar-camar yang datang dan pergi mencari rezeki. Setia seperti cara ia menunggu Rahmadi, sang belahan jiwa yang kini entah di mana rimbanya. Namun, keyakinannya begitu kuat. Suatu saat, entah kapan, lelaki itu akan datang dan membawakan seikat bunga tulip untuknya.

Seperti janji Rahmadi di malam terakhir, saat nasib membawanya pergi entah ke mana. Dan semenjak itu, Zubaida selalu pergi ke tepi pantai melabuhkan harapannya pada langit biru. Pada karang yang berdiri kokoh menghadang gulungan ombak. Namun, malam mulai merambat dan kegelapan memaksanya untuk pulang. Mengumpulkan sisa-sisa asa yang masih terpendam, untuk terus menanti separuh hatinya yang terampas oleh takdir.


Kerlip malam lampu mercusuar mengiringi langkah tertatihnya menembus pekat. Di atas sana, sepotong bulan menyembul malu-malu, tersapu awan tipis yang menutupinya. Di perempatan jalan, ia membeli pisang goreng dan ubi rebus pada seorang pedagang gorengan langganannya.
"Habis dari mana, bu?" tanya penjual itu.
"Dari pantai pak Syarif," jawabnya seraya tersenyum.
Pak Syarif, penjual gorengan itu mahfum karena mengerti kebiasaan Zubaida. Setelah membayar, perempuan itu bergegas menuju ke rumahnya. Sebuah rumah tua beradat joglo dengan halaman tertata rapi. Taman bunga tak seberapa luas menghampar. Tampak pagar apotik hidup berjejer teratur. Zubaida membuka pintu rumah. Terlihat seorang anak lelaki remaja tergolek pulas di ranjang kayu yang hanya beralaskan tikar. Ia melangkah ke dapur, kemudian menaruh gorengan yang dibelinya di atas piring dan meletakkannya di meja bundar dari kayu yang terlihat sudah lapuk. 

Perlahan ia melangkah dan mulai membangunkan anak lelaki itu. "Wan, bangun nak. Emak membeli pisang goreng dan ubi rebus, bangun dan makanlah dulu," ujarnya perlahan. Anak lelaki itu mengerjapkan kedua matanya. Ia memandang ke arah perempuan di tepi ranjang. Sebentar menguap. Sejurus kemudian ia telah berdiri lalu melangkah menuju ke meja kayu itu, untuk menyantap gorengan yang dibawa ibunya. Zubaida, perempuan itu tidak pernah menikah karena kesetiaannya pada janji suci dengan sang kekasih hati. 


Dan Wandi, bocah lelaki itu bukanlah darah dagingnya. Lima belas tahun lalu, Zubaida menemukan bayi mungil yang masih berlumuran darah teronggok di tempat sampah terbungkus handuk lusuh. Naluri keibuan dan rasa belas kasihan telah menggerakkan tangannya untuk mengambil sang bayi, kemudian merawat dan membesarkannya seperti anaknya sendiri. Toh, ia tak memiliki sanak keluarga. Kedua orang tuanya telah meninggal tatkala Zubaida masih belia. Ia adalah anak tunggal. Sedangkan keluarga dari ibu serta bapaknya tak ia ketahui sama sekali. Peristiwa kelam bangsa ini pada tahun 1965, telah merenggut masa lalu dan semua anggota keluarganya. 


Terkadang hatinya menjerit. Kenapa Tuhan selalu mengambil orang-orang terkasihnya. Ia selalu beranggapan, jika ini jalan takdir yang telah tertulis untuknya. Namun, ia merasakan arti kehidupan setelah menemukan anak lelaki itu. Setidaknya ia memiliki tumpuan dan harapan untuk melanjutkan kehidupan.
"Mak, tadi siang ada beberapa orang laki-laki berseragam kemari dan mereka meninggalkan surat untuk emak," anak lelaki itu berbicara sambil mulutnya mengunyah pisang goreng. Ia beranjak ke ranjang dan mengambil sebuah surat dari bawah bantal kumalnya. Lalu memberikan kepada perempuan yang dipanggilnya emak. Wajah Zubaida menjadi pias. Nafasnya memburu tatkala membacanya. Pandangannya beralih dari surat lalu ke wajah anak asuhnya. Wandi tampak bingung dengan perilaku sang ibu. Bulir-bulir bening menetes membasahi kedua pipi Zubaida.
"Ada apa mak? Kenapa menangis? Apa isi surat itu?" Tanya Wandi seraya memegang tangan emaknya.
"Kita harus pergi dari sini sekarang juga nak, sebelum mereka datang dan menangkap kita." Zubaida seperti tersadar. Lalu bergegas mengambil kain jarik untuk kemudian mengemas beberapa helai kebaya dan bajunya. Sedangkan Wandi ia suruh membawa tas ransel butut untuk tempat baju juga keperluan lainnya. Tanpa berkata apapun, ibu beranak itu segera berkemas. Kemudian pergi meninggalkan rumah mereka dengan bekal seadanya.

Malam semakin beranjak. Dingin dan pekat menemani langkah mereka. Di ujung jalan dekat perempatan, Zubaida menghentikan langkah. Ia mengajak sang anak untuk masuk ke halaman sebuah rumah. Perlahan sekali ia mengetuk pintu rumah itu.
"Siapa?" terdengar suara lelaki dari dalam.
"Pak Syarif, ini saya, Zubaida," dengan memegang erat bundelan kain jarik yang berisi bajunya, perempuan paruh baya itu melihat ke kanan-kiri, seolah-olah takut ada yang melihatnya. Pintu berderit. Tampak seorang lelaki paruh baya keluar sambil membawa lampu kecil di tangannya.
"Ada apa gerangan tengah malam begini bu Zubaida dan nak Wandi datang ke sini?" pak Syarif menatap keheranan ke arah mereka. Zubaida dengan gemetar menyerahkan surat di tangannya. Wajah pak Syarif terlihat pucat. Sekilas ia menatap perempuan di depannya.
"Kami harus pergi malam ini juga Pak Syarif. Kalau tidak, mereka pasti akan datang menangkap kami, seperti apa yang akan mereka lakukan dulu kepada Rahmadi," suara Zubaida tercekat. 

"Tapi saya tidak tahu kemana harus membawa Wandi di tengah malam buta begini. Saya tak punya satu pun saudara yang tinggal di kota ini," ia memandang ke arah anak asuhnya yang berdiri mematung, tak mengerti apa yang akan terjadi jika mereka tidak segera pergi. Pak Syarif terlihat berpikir. Lalu berkata, "pergilah ke rumah adikku di Kudus. Ceritakan semua padanya. Ia pasti bisa membantumu karena adikku juga seorang aktivis seperti Rahmadi."

Setelah memberikan alamat adiknya dan beberapa lembar uang ribuan untuk Zubaida, lelaki itu segera meminta mereka untuk bergegas meningggalkan kampung. Keesokan harinya, apa yang ditakutkan oleh Zubaida benar-benar terjadi. Beberapa orang berseragam, mendatangi dan mengobrak-abrik rumahnya. Beberapa tetangga dekat begitu ketakutan. Mereka hanya berdiam diri di dalam rumah. Begitu pun dengan pak Syarif yang hari itu sengaja tidak berjualan, agar terhindar dari interogasi orang-orang itu. 

***
Setahun berlalu. Tatkala terdengar kabar di koran dan televisi, rezim orde baru tumbang. Era reformasi telah tiba. Mereka yang dulu terberangus kebebasannya untuk melawan rezim itu, kini bangkit dan bersatu padu dengan para mahasiswa menuntut keadilan. Dan pada suatu siang yang terik, disela gegap gempita euforia reformasi, sesosok wanita paruh baya melangkah menenteng bungkusan kumal kain jarik. Di punggungnya tergantung sebuah tas ransel. Ia melangkah memasuki halaman rumah joglo yang dulu ditinggalkannya. Ia baringkan tubuh lelahnya di atas dipan kayu usang. Tak dipedulikannya keadaan rumah yang berantakan. 

Sinar mentari menerobos masuk lewat genteng yang kini silang menyilang tak beraturan. Mata tuanya terpejam. Namun, hati dan pikirannya melayang ke masa-masa yang telah dilaluinya. Malam di mana sang kekasih hati harus pergi meninggalkannya, karena kegiatan Rahmadi di sebuah organisasi buruh yang dicurigai pemerintah pada saat itu. Ia termasuk dalam daftar orang yang dicari karena memimpin pergerakan massa melakukan unjuk rasa yang mengancam kedudukan rezim orde baru. 

Sehari sebelum tertangkap, Rahmadi berpamitan akan berlayar dan mencari perlindungan di negeri seberang. Serta mengikrarkan sebuah janji untuk kembali dan membawakannya seikat bunga tulip putih. Namun, tak berbilang hari, minggu, bulan bahkan tahun, Rahmadi tak pernah kembali. Dan setahun yang lalu, sebuah surat dari orang-orang berseragam diterimanya. Mereka mencurigai Zubaida masih berhubungan dengan Rahmadi. Orang-orang itu meminta Zubaida untuk menyerahkan diri secara baik-baik. Karenanya, ia pun harus pergi meninggalkan kampung di tengah malam buta, bersama Wandi anak asuhnya. 


Namun malang, di tengah perjalanan ke rumah adik pak Syarif di Kudus, sebuah kereta telah merenggut nyawa remaja itu. Putus asa dan hilang harapan, Zubaida hidup menggelandang dari satu kota ke kota yang lain. Hingga tangan takdir membawanya kembali ke kampung halamannya. Mata perempuan itu mengerjab dan kristal bening mengalir membasahi pipinya. Nestapa merajai bilik hati. Di saat seperti itu, hanya satu yang bisa ia lakukan. Pergi ke pantai dan memandang ke laut lepas. Tetap berharap Rahmadi akan datang menepati janjinya.


Putaran kehidupan yang penuh liku dan asa tanpa ujung, seolah telah menjadi tali takdir yang harus ia jalani. Namun, Zubaida tetap dalam penantiannya. Jauh di lubuk hatinya telah terpatri sebuah nama yang membuatnya tegak bergeming laksana karang. Dari mulai perahu nelayan yang berlalu lalang, hingga kapal-kapal dagang yang perkasa di lautan, Zubaida menghitung tiap senja. Dan pantai pun tak pernah jengah dengan kesetiaan perempuan itu, yang masih menggantungkan harapannya bersama sampah yang berserakan. 
   ***
Mentari terus bergulir. Kutatap kembali sosok Zubaida. Ia masih duduk di tempat yang sama. Aku beranjak untuk menyapanya, namun kuurungkan niat dan berbalik arah menjauhinya. Kutinggalkan ia bersama siluet senja yang kian temaram menyambut malam.

Susana nisa
Cerpen ini terpilih sbg pemenang I Bilik Sastra Award, Voice of Indonesia 
RRI-Jakarta, 1 November 2015
Dan termuat di Harian Republika, 8 November 2015

Posted by Unknown 20.25.00 in

Setahun aku mengenalmu. Tepatnya di musim gugur tahun lalu. Seperti perkenalanku dengan kawan yang lain, begitupun denganmu. Tak ada yang beda. Semua mengalir apa adanya. Kita adalah sepasang hati retak yang dipertemukan keadaan untuk menjadi sebuah pelukan yang menguatkan. Mencipta tempat paling nyaman, ketika gejolak kehidupan bergelombang mengirim cobaan. Aku hanya seorang wanita dengan hati yang tertoreh luka. Mencoba mewujudkan harapan-harapan yang selama ini hanya bisa terangkum dalam doa-doa. Usiaku belum genap 23 tahun. Namun, di pasporku tertulis 26 tahun. Entah bagaimana para makelar tenaga kerja itu menyulapnya. Yang kutahu, pasti uang berbicara.

Kau juga seorang wanita biasa. Namun, keadaan yang merubahmu menjadi wanita setengah pria. Tomboy, itulah sebutan keren untuk kaummu. Ciri khasmu, jeans belel yang berlubang di sana-sini. Rantai panjang tergantung dari saku depan ke saku belakang. Dengan atasan kemeja putih lengan panjang khusus cowok, tak lupa rambut cepak klimis berbau minyak gatsby. Belum lagi sepatu merk nike warna merah dengan tali berbeda warna. Benar-benar menambah sempurna penampilanmu. Sekilas tak seorang pun mengira kau adalah wanita. Karena gerak dan langkahmu sepenuhnya nampak seperti lelaki tulen. Sejak pertama mengenalmu, ada sedikit rasa kagum dalam hatiku. Meski harus kuakui, hampir semua temanku kebanyakan anak tomboy, tapi belum pernah sekalipun aku jatuh cinta pada sesama jenis, seperti yang banyak terjadi dengan mereka. Sampai detik itu aku masih normal dalam makna harfiah. Aku masih tertarik pada  laki-laki tulen dan bukan lelaki jadian semacam dirimu.

Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Karena sebulan setelah perkenalan kita, kurasakan damai saat libur bersamamu. Satu perasaan yang hanya kurasakan saat aku bersama mantan kekasihku dulu. Sekuat tenaga kucoba melawan perasaan yang semakin lama menarikku untuk selalu melakukan komunikasi intens denganmu. Namun, aku tak kuasa. Kini, hari libur selalu aku lewatkan bersamamu. Hingga saat itu tiba. Kita sedang berdua di tepi pantai Stanley, kau ungkapkan rasamu.
“Kie, aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat. Aku ingin melewati setiap hariku dengan mu,” ucapmu bersungguh-sungguh.
Aku terkesiap dan merasa rikuh.
“Tapi Regha, aku belum yakin dengan perasaaanku padamu,” jawabku berterus terang.
“Aku tahu. Kau tak perlu menjawabnya sekarang.” Katamu lagi.
Lalu kau terdiam. Kulayangkan pandangan jauh ke tengah samudera. Hatiku bimbang.
“Haruskah aku menerimamu dan mengingkari kodratku sebagai seorang wanita yang harus menjadi pendamping pria?”
Usapan hangat dan lembut membuyarkan lamunanku, tatkala kusadari jemari Regha membelai punggung tanganku.
“Aku janji akan selalu ada saat kau membutuhkanku. Aku takkan pernah menyakitimu,” bisiknya mesra di telingaku.
“Beri aku waktu. Kau pasti mengerti ini tak mudah bagiku,” ucapku penuh keraguan.
Regha tidak menjawab. Hanya genggaman tangannya kurasakan semakin erat menggenggam jemariku. Desiran halus dan hangat perlahan menjalari kisi-kisi hati, yang hampir tiga tahun ini kubiarkan tertutup dan membeku. Temaram senja menemani kebersamaan kami, sebelum akhirnya  beranjak pergi ditelan gelap yang mulai merambat.

Selepas kejadian di pantai itu, kami menjadi sepasang kekasih. Panggilan kesayangan kami pun berubah. Bukan lagi Kie dan Gha, melainkan papa dan mama. Kami bagai remaja yang dimabuk cinta. Dunia seakan milik berdua. Tak lagi kupedulikan tatapan sinis teman-teman sesama pekerja migran, yang melihat kami mengumbar kemesraan di tempat umum. Dandananku berubah total. Aku yang tidak pernah mewarnai rambut, sekarang demi menyenangkan hati Regha, sengaja  memotong dan mewarnai rambut seperti para artis Hong Kong. Semua kulakukan untuk menyenangkan hati Regha.

Jatah bulanan untuk keluarga di kampung semakin berkurang. Karena hampir semua gaji, aku hambur-hamburkan untuk membeli baju, tas, dan sepatu. Parahnya, kini aku mulai keranjingan untuk selalu ke diskotik. Dengan Regha aku mulai mengenal dunianya. Tak ada sedih di sana. Hanya tawa dan hura-hura. Seperti minggu ini, kami nongkrong di sebuah diskotik di distrik Wan Chai. Di sinilah aku mengenal barang-barang haram yang perlahan mulai menggerogoti kekebalan tubuhku.
Cinta memang buta, bahkan terkadang gila. Tapi aku selalu menikmati saat bersama Regha. Bagiku, ia adalah pusat gravitasi gerak dan segala aktivitasku. Namun, layaknya sebuah kapal, ombak pun seringkali datang menghantam bahtera kami. Pertengkaran-pertengkaran kecil kerap kali mewarnai hubungan yang memang seharusnya tidak terjalin. Tetapi, kedewasaan Regha dan sifatku yang selalu mengalah, menjadi jembatan tanpa putus untuk melanjutkan hubungan ini. Hingga di satu Minggu pertengahan Juli, satu kejadian merubah arah hidupku.
***
“Kie, ini aku Okta. Kamu cepat ke sini. Regha...,” kata-kata Okta terputus.
“Regha kenapa?” Tanyaku gugup.
“Ia pingsan.” Dan telpon terputus.
Aku yang saat itu sedang mengantri untuk pengambilan paspor, tanpa pikir panjang dan menghiraukan petugas konsulat yang memanggil namaku, berlari menuruni tangga gedung. Tak kupedulikan umpatan mbak-mbak yang tanpa sengaja tertabrak olehku. Hanya Regha dalam pikiranku.

Kulambaikan tangan untuk menghentikan taksi yang lewat di depan gedung konsulat. Sebuah taksi berhenti. Dengan tergesa aku memasukinya. Lalu kutunjukan alamat yang tertera pada kartu undangan ulang tahun Okta. Tiba di tempat pesta ulang tahun Okta, segera kuangsurkan uang 50 dolar ke sopir taksi seraya membuka pintu. Setengah berlari aku menghambur masuk gedung. Dadaku sesak tak kuasa menahan air mata. Aku takut terjadi sesuatu pada Regha. Aku takut kehilangannya. Segera kutepis pikiran-pikiran itu. Kuyakinkan hati, bahwa Regha akan baik-baik saja.
Namun, apa yang  kulihat saat masuk ke tempat pesta Okta, telah meluluh lantakkan harapanku. Di depanku, Regha terkapar bersimbah darah di pangkuan Okta. Aku menjerit histeris dan menghambur ke arahnya.
“Pa, bangun, ini mama!” kata-kataku berhamburan disela isak tangis.
“Tenang Kie. Ambulan sedang menuju ke sini.” Okta mencoba menenangkanku.
“Apa sebenarnya yang terjadi, Ta?”
“Tadi setelah makan kue ultah, ia mengeluh pusing dan ingin muntah. Lalu tiba-tiba ia pingsan.” Okta menjelaskan.
“Tak berapa lama kemudian ia siuman dan beberapa kali muntah darah,” imbuhnya.
Selang beberapa saat terdengar suara sirine mendekat. Dalam waktu singkat, tiga petugas paramedis masuk ke ruangan dan segera bertindak untuk menolong Regha. Tubuh Regha direbahkan di atas tandu lalu dibawa masuk ke ambulan.
“We need 2 people to come with us!” salah satu petugas berkata kepada kami.
“We'll  come with you,” aku menjawab seraya menoleh ke arah Okta. Ia pun mengangguk.

Di dalam mobil bala penyelamat, beberapa kali Regha siuman. Ia kembali memuntahkan darah segar. Aku hanya terisak sambil menggenggam erat tangannya. Setiba di rumah sakit, mereka membawa Regha ke ruang gawat darurat. Kami dilarang masuk. Okta membimbingku menuju bangku di ruang tunggu. Dengan harap-harap cemas, kami menunggu hasil pemeriksaan dokter. Dua  puluh menit berlalu, seorang dokter keluar ruangan dan menghampiri kami. Ia mengabarkan, nyawa Regha tak dapat diselamatkan. Hatiku terasa kebas mendengarnya. Tubuhku luruh terkulai di lantai. Okta segera membopongku masuk ke ruangan tempat Regha menghembuskan nafas terakhirnya. Aku menjerit histeris seraya memeluk jasad Regha yang kini terbujur kaku. Okta berdiri mematung di sampingku. Terdengar samar-samar isak tangisnya.
“Kie, kamu harus tabah. Ikhlaskan Regha. Mungkin ini jalan yang terbaik baginya.” Suara Okta lirih di sela isak tangisku.
Aku tetap meratap. Air mataku tumpah tak  terbendung. Kurasakan dunia seolah runtuh. Apa arti hidupku tanpa Regha? Ia segalanya bagiku. Aku tak sanggup hidup tanpanya.
“Kie, kita pulang. Biarkan mereka yang mengurus jenazah Regha,” kembali Okta berbicara.
Di saat yang sama, kulihat beberapa petugas rumah sakit dan polisi masuk ke ruangan. Kami meninggalkan rumah sakit, setelah sebelumnya dimintai keterangan tentang identitas Regha dan apa yang telah terjadi. Setelah keterangan kami dianggap cukup, polisi membolehkan kami pulang serta mengembalikan semua barang-barang milik Regha, termasuk baju yang masih berlumuran darah.

Tiba di rumah majikan, mataku masih merah dan sembab. Kucoba menghapus sisa air mata yang terus meleleh dengan tisu. Kukeluarkan kunci rumah. Perlahan kubuka pintu. Tak ada orang didalam. Untung mereka tidak di rumah, gumamku pada diri sendiri. Sesaat setelah masuk rumah, aku bergegas menuju kamar mandi. Setelahnya, aku kembali masuk kamar. Aku berniat merebahkan diri, ketika pandanganku tertuju ke arah tas plastik warna merah yang teronggok di bawah meja. Hatiku terkesiap. Air mataku kembali menetes. Perlahan kuambil celana jeans dan kemeja putih yang kini berwarna merah terkena muntahan Regha tadi siang. Aku berniat mencucinya, saat tanpa sengaja tanganku menyentuh sesuatu di saku celana belakang milik Regha. Sebuah amplop berwarna biru muda, warna favoritku. Segera kuambil dan kubuka. Ada selembar kertas putih terlipat rapi. Sebuah surat. Dengan perasaan tak menentu, aku membukanya.

Sudut Rindu, 14 juli 2011
Teruntuk belahan jiwaku di wisma kedamaian,
Kie, entah kenapa, beberapa hari ini perasaanku tak enak sama sekali. Berulang kali aku bermimpi didatangi oleh almarhum bapak. Beliau seperti marah dan ingin mengajakku pulang dengannya. Sengaja aku tak memberitahumu, karena tak ingin membuatmu khawatir.
Kie, ada satu hal yang ingin kukatakan padamu tentang jati diriku. Aku terlahir dengan nama Sulastri. Statusku janda dengan seorang anak laki-laki berusia 9 tahun. Sengaja  aku mengubah jati diriku dan sepenuhnya berlagak menjadi seorang pria, karena aku ingin melupakan sakit hati pada mantan suami yang minggat dengan tetanggaku. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa laki-laki. Bertahun-tahun aku terperosok ke dalam dunia ini.

Sudah beberapa kali aku berganti pasangan sejenis. Namun, tak pernah bertahan lama. Karena hampir semua mantanku, hanya mengambil keuntungan dariku. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Saat itu, entahlah, ada satu perasaan yang membuatku yakin bahwa kau adalah belahan jiwaku. Dan ternyata itu benar. Karena denganmu, kurasakan kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Tetapi, beberapa hari terakhir, hatiku bimbang akan masa depan hubungan ini. Apalagi setelah berulang kali aku bermimpi didatangi almarhum bapak. Perasaan bersalah itu semakin dalam. Bayang anakku selalu hadir seolah memintaku untuk pulang. Dan malam ini, kubulatkan tekad untuk memutuskan hubungan kita. Aku harap, kau sudi memaafkan semua kesalahanku. Aku benar-benar rindu menjadi sosok Sulastri.

Kembalilah menjadi Kienan yang dulu, sebelum kau mengenalku. Ingat Kie, tak ada masa depan bagi cinta sesama wanita seperti kita. Masa depanmu masih terbentang panjang. Lupakan Regha. Aku ingin kau mengingatku sebagai mbak Lastri. Semoga Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk pulang dan mengampuni kita, aamiin.
Salam sayang selalu...
Sulastri

Air mataku kembali menetes. Ada perasaan kehilangan yang sangat menyusup dalam hatiku. Kulipat kembali surat Regha. Hampa, kosong, tanpa harapan itulah aku kini. Kata-kata Regha membayang dalam benakku. “Kembalilah menjadi Kienan yang dulu, sebelum kau mengenalku.” Aku gamang dengan hatiku. Tapi satu yang pasti, malam ini aku hanya ingin menangis.
***
Dua minggu berlalu. Jenazah Regha telah dipulangkan ke tanah air. Aku masih dengan duniaku. Dugem dan selalu teler. Aku ingin melupakan semuanya. Namun, semakin jauh masuk ke dunia itu, bukan ketenangan yang kudapat. Malah sebaliknya, aku bagaikan kapal tanpa kemudi yang berlayar diterpa ombak. Oleng dan hampir karam. Hari itu Minggu. Seperti biasa aku libur dan jadwalku tetap sama. Nongkrong bersama teman-teman lalu dugem di Wan Chai. Di sana kutenggak minuman keras bersama beberapa butir pil setan. Pikiranku melayang. Aku sejenak lupa dengan kesedihan yang melanda.

Pukul tiga, aku pamit keluar pada Okta dan lainnya. Okta melarang aku pergi sendirian. Ia memintaku untuk menunggu setengah jam lagi. Tapi aku menolak dan segera ke luar dari tempat itu. Langkahku terseok-seok. Kepalaku pening dan ingin muntah. Tapi aku berusaha tetap berjalan. Ketika tiba di depan jalan menuju masjid Amar di Wan Chai, kakiku secara reflek berbelok arah seperti tertarik medan magnet yang sangat kuat. Aku terus melangkah.
Dan saat tiba di depan masjid, sayup terdengar suara adzan Ashar yang membuatku disergap perasaan sepi nan indah. Sebuah rasa yang menyelusup ke dalam kalbu, membuatku terpaku dan melelehkan air mata. Panggilan sholat itu menghembuskan rasa hampa, seolah menyuruhku merenung. Aku cemas. Serasa akan mati esok pagi. Aku terpaku. Dan, ketika muadzin mendengungkan lafadz Hayya la shalaaah...
Aku berputar bagai kincir angin. Perutku naik memuntahkan seluruh makanan dan minuman haram dari lipatan-lipatan ususku. Aku terjerembab, limbung tak berdaya. Seakan tulang dan persendianku hancur dihantam palu godam. Air mataku berlinang tak terbendung. Aku merangkak-rangkak memohon ampun. Lalu gelap menyelimuti. Kucoba bergerak, namun tak mampu. Aku pasrah apabila ini adalah akhir hidupku. Tapi jauh di lubuk hati, aku memohon pada Tuhan, kiranya memberiku kesempatan untuk bertobat. Beberapa detik berlalu. Kurasakan angin sepoi membelai wajahku. Kucoba membuka kedua kelopak mataku. Semua tampak putih.

Susana Nisa
Cerpen ini termuat di Apakabar Plus
Februari 2016
Posted by Unknown 21.16.00 in

Jakarta-Sydney masih tiga jam lagi. Tapi lebih baik aku menunggu di bandara dan menulis sebuah notes atau sekedar puisi tanpa judul, daripada menenggelamkan lambungku dengan kafein. Jariku lincah menari di atas tuts-tuts tombol ipad hadiah ulang tahun darinya. Saat tiba-tiba sebuah pesan masuk di BBM ku.
"Kartika, kumohon balas smsku ini secepatnya. Aku membutuhkanmu sayang. Kumohon jangan pergi, aku sangat mencintaimu." Sedetik kemudian sebuah telpon masuk. Nomor yang baru saja mengirimkan pesan singkat tersebut, terpampang di layar BBM ku. Untuk beberapa saat aku hanya memandanginya. Ingin menjawab. Namun, segera kuurungkan niatku. Aku harus belajar mengekang diri dan melupakannya. Meskipun sebagian hatiku tak rela melepaskan dan berat untuk melangkah. Keadilan harus ditegakkan. Aku yang harus pergi dari kehidupannya. Telpon masih berdering. Aku bergeming. Membiarkannya lelah dan berharap ia benar-benar sadar bahwa kami tak mungkin bersama lagi.
***
Beberapa bulan yang lalu kami bertemu di sebuah gala dinner di Bandung. Aku hadir di sana mewakili perusahaan tempatku bekerja. Di tempat itulah untuk pertama kalinya, setelah lima tahun berpisah kami dipertemukan oleh tangan takdir. Ia tampak gagah dan tampan. Dan senyum khas itu, masih setia tersungging di bibirnya. Aku terkesima, tatkala ia dengan hangat menjabat tanganku. Pertemuan sesaat tanpa di sengaja, membuat kami kembali merajut jalinan benang kasih yang telah lama terpisah. Meski ia kini tak lagi sendiri. Telah ada seorang wanita dan dua jagoan kecil yang senantiasa menunggu kepulangannya. Namun, cinta dan nafsu telah membutakan nurani kami. Dari sekedar bertukar nomer pin BBM, berlanjut dengan kencan di hotel kemudian memuaskan diri untuk menikmati dunia malam.

Lima tahun yang lalu, aku bisa menerima ciumannya secara gratis setiap kali bertemu di malam minggu. Menikmati setiap detik-detik bersamanya tanpa dibayar. Hanya berbekal kata cinta atau isyarat suka sama suka. Karena saat itu kami masih sama-sama mahasiswa yang sedang kasmaran. Namun kini, semuanya berbeda. Akbar telah menikah dan ia telah menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan bonafit di ibukota. Aku sendiri, seorang sekretaris sekaligus asisten pribadi dari seorang direktur utama perusahaan yang bergerak di bidang properti. Pergaulanku dengan kalangan atas, membuat sikap dan gaya hidupku sangat borjouis. Uang di pertuhankan. Sikut kanan sikut kiri untuk mendapatkan kenaikan jabatan adalah hal biasa. Terkesan mewah, glamor dan fashionable adalah gaya hidupku saat ini. Baju, sepatu dan tas harus bermerk. Tempat tinggal pun harus di apartemen mewah. Semua itu sangat mudah aku dapatkan, karena kelihaianku memuaskan keinginan sang Big Bos.
Nuraniku sebagai seorang wanita mungkin telah mati. Karena aku tak peduli, meski harus merangkap tugas sebagai sekretaris juga sebagai wanita simpanan. Apa salahnya menikmati kemewahan, dari hasil jerih payahku memanfaatkan kecantikan dan kemolekan tubuh. Toh, aku tidak meminta status sah dari pak direktur. Karena aku sudah bahagia dengan segala kemewahan yang kumiliki. Namun, saat bertemu dengan Akbar, cinta pertamaku ketika masih kuliah dulu, rasa aneh menyusup ke dalam labirin hati. Tak dapat kupungkiri, rasa sayang itu masih ada. Meskipun pagar pembatas di antara kami nyata terlihat, tapi hasrat yang membuncah telah mengalahkan akal sehat kami berdua. Akbar pun tak ambil pusing, saat ia mengetahui bahwa aku adalah wanita simpanan direktur perusahaan di mana aku bekerja. Baginya, aku tetaplah Kartika yang dulu. Sang primadona kampus yang telah membuatnya bertekuk lutut dan menyerah tanpa syarat.

Pertemuan kami terencana dengan sangat rapi dan rahasia. Aku harus pandai mengatur waktu untuk melayani pak direktur. Karena dialah sumber kemewahanku. Sedangkan kepada Akbar, aku tak pernah meminta apapun yang memberatkannya. Karena apa yang kulakukan dengannya, adalah murni karena rasa cinta. Hingga pada suatu minggu sore, saat hanya sendirian di apartemen, seorang tamu tak di undang datang dan merubah pendirianku. Seorang wanita berjilbab dengan menggendong bayi dan menuntun seorang anak laki-laki, mengetuk pintu apartemen. Ucapan salam menyapa saat perlahan kubukakan pintu untuknya. Dengan ragu kujawab salamnya, karena dalam keseharianku, ucapan 'hai', 'halo' dan sejenisnya yang lebih akrab dan selalu aku gunakan untuk menyapa siapa saja.
"Anda Kartika?" tanyanya dengan sopan.
"Iya benar, ada yang bisa saya bantu?" jawabku seramah mungkin.
"Perkenalkan, saya Aisyah, istrinya mas Akbar!" wanita itu tersenyum sambil mengulurkan tangan.
Aku tertegun. Kedua mataku menatap lekat wanita di depanku. Anggun dan cantik dengan jilbab panjang warna biru muda, senada dengan gamis yang dia kenakan. Sekilas aku menatap ke arah bayi dalam gendongannya. Kemudian memperhatikan anak lelaki yang berusia sekitar enam tahun, menggenggam erat tangan wanita itu.
"Boleh kami masuk?" pertanyaannya mengagetkanku. Tak ada kata terucap dari bibirku. Hanya anggukan kepala dan gestur tubuh yang mempersilahkannya untuk masuk. Ia duduk di sofa panjang bersama putranya. Aku sendiri memilih untuk duduk di kursi yang menghadap ke pintu. Entah mengapa, aku merasa membutuhkan asupan oksigen lebih banyak. Hening beberapa saat, hingga bayi dalam gendongannya menangis. Namun, hanya sebentar. Karena wanita itu dengan lembut menepuk-nepuk pantat bayinya. Dan makhluk mungil berwajah manis bak malaikat itu tidur kembali.
"Anda mau minum apa?" kucoba berbasa-basi.
"Tidak usah repot-repot, saya datang kemari hanya ingin membicarakan tentang mas Akbar," jawabnya pelan.
"Saya tidak mengerti apa maksud anda?" tanyaku berpura-pura.
"Kartika, kita sama-sama perempuan. Saya sudah tahu tentang hubungan anda dengan suami saya," ia berhenti berkata dan menghela nafas.
"Saya hanya ingin kebahagiaan untuknya dan juga kedua anak kami," lanjutnya sambil memandang kedua buah hatinya. Hening beberapa saat, hingga suara bocah kecil di sebelahnya memecah kebisuan.
"Mama, Andi haus ma, katanya tadi mau dibelikan es krim, mana sekarang es krimnya?" ia merajuk.
"Andi sayang, es krimnya nanti mama belikan, sabar ya!" ucap wanita itu lembut sambil mengelus kepala putranya. Tanpa menunggu lama, aku segera berdiri dan melangkah ke dapur mengambil dua gelas air putih dan sebungkus es krim rasa coklat. Lalu kuberikan kepada bocah laki-laki itu. Mata kecilnya berbinar dan senyumnya, ya Tuhan, senyumnya benar-benar mirip Akbar.
"Terima kasih tante, Andi suka sekali es krim rasa coklat, papa juga suka kan ma?" tanyanya seraya menoleh ke wanita berjilbab biru di hadapanku. Wanita itu hanya tersenyum. Sebuah senyum yang dipaksakan.
"Kartika, apa anda benar-benar mencintai mas Akbar?" tanyanya memecah kebisuan diantara kami.
"Kalau iya, maka saya rela mas Akbar menikah dengan anda. Saya ikhlas berbagi suami, asal mas Akbar tidak menceraikan saya." Kata-katanya meluncur tanpa jeda. Meski seulas senyum tersungging di bibir merah mudanya yang alami tanpa sapuan lipstik, tapi dapat kulihat ada genangan di bening matanya yang teduh.
Dadaku bergemuruh. Bukan emosi yang kini bergejolak. Namun, serbuan rasa bersalah mengguncang kisi-kisi hatiku. Kupandangi bayi dalam gendongannya. Lalu beralih pada bocah lelaki di sebelahnya yang kini sibuk menikmati es krim, tanpa sadar akan apa yang terjadi. Aku mencoba menguatkan hati untuk tersenyum dan berkata, "Aisyah, maafkan saya karena telah masuk dan mengganggu ketentraman rumah tangga kalian. Tapi percayalah, mulai hari ini saya berjanji tidak akan menemui Akbar lagi. Dan saya akan pergi dari kehidupannya. Semoga rumah tangga kalian kembali tentram seperti semula." Kuulurkan tangan untuk menjabatnya. Aisyah menyambut dan menggenggam erat tanganku. Genangan di telaga beningnya, kini jatuh menjelma menjadi buliran kristal jernih di kedua pipinya.
"Terima kasih Kartika, semoga Yang Kuasa memberikan anda pendamping seorang lelaki yang terbaik dari sisiNya," ucapnya seraya tersenyum. Genggaman tangannya semakin erat. Aku membalas senyumannya dan sekali lagi kuyakinkan ia, bahwa aku akan pergi dari kehidupan Akbar untuk selamanya. Setelah itu ia pamit. Sebuah ucapan terima kasih kembali terucap dari bibirnya. Aku mengantarnya sampai pintu lift. Kemudian kembali ke dalam rumah setelah pintu lift yang membawa Aisyah beserta kedua buah hatinya tertutup.

Malamnya, saat Akbar datang ke apartemen, kami bertengkar hebat. Sengaja aku tidak mengatakan tentang kedatangan istri dan kedua putranya. Aku hanya mengatakan ingin mengakhiri hubungan kami dan memutuskan menerima tawaran dari bosku, untuk menghandle cabang perusahaannya yang ada di Batam. Sebuah kebohongan yang aku rencanakan untuk meninggalkannya. Akbar memintaku untuk tetap tinggal Jakarta. Ia berjanji akan memenuhi segala keinginanku, juga menikahiku. Kutolak semua tawarannya dengan mengatakan, bahwa selama ini aku hanya menjadikannya sebagai pelampiasan rasa kesepianku. Bahwa aku berpura-pura mencintainya.
Mata Akbar nanar menatapku. Sejurus kemudian tangannya dengan keras menampar pipiku. Tak siap dengan reaksi spontan Akbar, aku terhuyung dan jatuh terjerembab. Darah segar mengalir dari bibir dan hidungku. Tak ingin sesuatu lebih buruk terjadi, aku berlari dan masuk kamar lalu menguncinya. Di ruang tengah Akbar berteriak-teriak dan segala sumpah serapah keluar dari mulutnya. Terdengar suara pecahan kaca dan entah barang apalagi yang menjadi sasaran kemarahannya. Lalu, senyap menyeruak. Sedetik kemudian terdengar suara pintu tertutup. Aku masih terduduk di belakang pintu kamar. Tak kuhiraukan bercak darah yang masih terlihat basah di kemeja putih yang kupakai. Aku duduk terpekur. Untuk beberapa saat hanya diam, mencoba mengatur nafas dan kesadaran diri. Hingga tanpa sadar aku tertidur di lantai.

Keesokan paginya, setelah membersihkan diri dan mengepak beberapa helai baju yang kubutuhkan, segera kutelpon bagian lobi untuk memanggilkan taksi. Sepuluh menit berselang, taksi yang kuminta tiba. Setelah menitipkan kunci apartemen ke petugas di lobi dan mengatakan bahwa nanti akan ada temanku yang mengambil kunci tersebut, aku bergegas keluar dari gedung dan memasuki taksi yang telah menungguku. Selang beberapa saat, taksi telah melaju dan membelah keramaian kota.
***
Jariku masih sibuk menari di atas tuts-tuts ipad. Tak kuhiraukan BBM ku yang terus bergetar. Kulirik sekali lagi nomer yang masuk. Masih nomer yang sama, milik Akbar. Kuhela nafas perlahan. Lalu berjalan menuju gerbang pemberangkatan saat terdengar panggilan untuk para penumpang penerbangan Jakarta-Sydney. Telah kumantapkan hati untuk mengubur semua kisahku dengan Akbar. Karena sejatinya cinta adalah melepaskan, bukan mengekang dan merampas kebahagiaan wanita lain.

Susana Nisa
Termuat di Majalah Iqro

Popular Posts

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Translate

Cari Blog ini

Search