Menulis adalah lentera di tengah badai kehidupan
Posted by Unknown 18.17.00 in


         Angin di sepertiga musim gugur terasa dingin menampar lembut kedua pipiku. Dengan tergesa kupercepat langkah menuju kantor sebuah agen perjalanan, tempatku memesan tiket penerbangan dua hari sebelumnya. Aku tak peduli dengan rintik hujan yang semakin deras. Di benakku hanya ada satu tujuan, mendapatkan tiket penerbangan secepatnya.

Kulirik jarum jam di pergelangan tangan kiriku. Pukul empat lebih sedikit. Pasti belum tutup, gumamku menenangkan diri. Sepuluh menit berselang, sampai juga di tempat yang kutuju. Seorang perempuan muda bermata sipit menyambut kedatanganku dan menyerahkan sebuah amplop berwarna putih.
“Maaf, kami sudah merepotkan Anda,” ucapnya seraya tersenyum.
“Tidak sama sekali,” jawabku datar. Kuterima amplop itu dan bergegas keluar. Aku berjalan menerobos hujan yang masih setia bercumbu dengan bumi, kekasih abadinya.

Harum kopi semerbak menyambut saat kubuka pintu apartemen. Terdengar sebuah suara yang sangat kukenal sedang bersenandung. Anya, karibku itu keluar dari dapur. Di tangan kanannya, tampak cangkir yang mengepulkan asap dengan aroma khasnya. Ia berikan cangkir itu padaku. Aku menerima lalu meneguknya perlahan. Rongga dadaku yang terasa sesak dan beku, mulai menghangat.
“Gimana Sin, dapat tiketnya?” Ia bertanya.
Kuambil amplop putih dari dalam tas lalu kuberikan padanya.
“Malam ini, pukul sepuluh aku harus sampai di Airport. Aku tak ingin terlambat, karena penerbanganku pukul setengah dua belas.”

Kuletakkan cangkir yang masih terasa panas di meja. Lalu beranjak menuju kamar. Anya tidak banyak bicara. Ia mengikuti langkahku dan membantu untuk berkemas. Aku berangkat ke bandara dengan menumpang sebuah taksi. Setiba di bandara, segera kuselesaikan segala keperluan yang berkaitan dengan jadwal penerbanganku. Pukul setengah dua belas waktu setempat, pesawat yang kutumpangi mengudara.
   ***

Adili Soeharto dan kroni-kroninya! Hapuskan Dwi Fungsi ABRI! Ciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN! Suara demonstran bersahutan membelah langit kota Jakarta. Massa dan mahasiswa yang berjumlah ribuan tumpah ruah di jalan-jalan utama, tepatnya di dekat bundaran Hotel Indonesia dan bergerak menuju ke gedung Parlemen, Gedung Nusantara.

Aku yang bekerja paruh waktu sebagai kontributor di sebuah surat kabar nasional, ikut turun ke jalan untuk meliput aksi unjuk rasa. Suasana yang semula masih terkendali, tiba-tiba berubah menjadi kisruh. Menghadapi ulah para demonstran, aparat keamanan mulai melakukan aksi untuk menghalau barisan pengunjuk rasa. Baton-baton pun ikut terayun. Dalam sekejab situasi berubah menjadi tak terkendali.

Suasana semakin memanas. Karena bukan hanya baton yang digunakan oleh pasukan anti huru-hara untuk menghalau demonstran, tetapi mulai terdengar rentetan tembakan entah darimana asalnya. Dalam kondisi kacau itu, kacamataku terjatuh. Tanpanya, hilanglah duniaku. Aku tak mampu melihat dengan jelas. Lalu kurasakan tarikan dan dorongan amat keras menghantam punggungku. Setelahnya, gelap.

Yang kutahu, saat sadar aku telah berada di bangsal rumah sakit. Kepala dan kakiku diperban. Punggung dan tanganku terasa ngilu. Kucoba mengingat apa yang terjadi, namun, hanya sepotong demi sepotong kejadian yang mampu kuingat. Disaat aku sibuk dengan rasa sakit, sosok lelaki bercambang itu menghampiriku. Matanya tajam seolah ingin mengulitiku. Tak ada kata yang terucap dari bibir legamnya. Hanya dengusan, seolah aku adalah sebuah beban yang selalu menyusahkannya.

Ia memberikan telpon genggam padaku. “Telpon ibumu! Agar ia tahu kau masih hidup,” katanya dengan nada kesal. Aku tak menghiraukannya. Rasa nyeri bertubi-tubi menyerang hampir seluruh persendianku. Ia tahu aku kesakitan. Lalu memanggil perawat. Aku melihatnya sekilas, sebelum obat penenang mengambil kesadaranku.


Hampir dua minggu aku terkapar di ruangan putih ini. Lelaki itu tak pernah lagi menjengukku. Hanya kedua adik dan ibuku serta beberapa kawan dekat yang datang. Dari mereka aku tahu apa yang menimpaku. Saat aksi unjuk rasa punggungku terkena ayunan baton seorang aparat keamanan. Lalu aku terjatuh dan terseret arus massa. Beruntung ada seorang mahasiswa yang menolongku. Kalau tidak, mungkin aku hanya tinggal nama.

Setelah keadaanku membaik, dokter mengizinkanku untuk pulang. Kali ini hanya ibu yang datang. Kemana lelaki bercambang itu? Ah, ia pasti sedang bermasyuk ria dengan wanita mudanya. Atau sibuk dengan pekerjaan dan jamuan makan dengan para koleganya. Uang, jabatan, reputasi di hadapan teman dan rekan bisnis adalah Tuhan baginya. Keluarga tak pernah ada dalam bingkai hatinya.

Ibu menuntunku menuju taksi yang terparkir di halaman rumah sakit. Tak banyak yang ia ucapkan. Hanya senyumnya menyiratkan rasa lega, karena aku, si sulung, anak perempuan satu-satunya, masih bernafas.

Setiba di rumah, ibu meminta bi Inah, perempuan berumur yang telah mengabdi di keluarga kami semenjak ibu menikah, untuk menyiapkan makan siang. Aku beranjak menuju ke kamar saat tanpa sengaja kutatap rangkaian foto yang terpajang di setiap bingkai kayu, di dinding ruang keluarga. Ada tawa, kegembiraan dan kehangatan di sana. Aku rindu semua itu.

Aku merindukan belaian lelaki bercambang itu. Seperti dulu, ketika aku masih kecil dan selalu tertidur di pangkuannya. Kristal bening merebak di kedua pelupuk mataku. Sosok lelaki itu tak lagi sehangat dan selembut dulu. Hari-harinya dihabiskan bersama istri mudanya. Wanita itulah sumber kehancuran keluarga kami. Ia pulang ke rumah layaknya seorang pejabat melakukan kunjungan dinas saja. Sekali dalam sebulan. Itupun hanya beberapa jam.

Ia memang ayahku. Tapi apa yang telah ia lakukan dengan menyakiti perasaan ibu, membagi hati dan kehidupannya dengan perempuan lain, membuatku muak melihat tampangnya. Jika aku sangat membenci kelakuan lelaki itu, sikap ibu berbalik tiga ratus enam puluh derajat denganku. Ibu begitu sabar dan selalu melayani ayah. Seolah ia sosok malaikat tanpa dosa. Pernah kutanyakan hal itu kepadanya, ibu hanya tersenyum sekilas dengan tatapan bening kedua matanya. Aku tahu ia menyimpan luka itu. Sendiri berusaha menerima asa dan takdir hidupnya.

Kuhela nafas perlahan lalu berjalan pelan memasuki kamarku. Kucoba memejamkan mata, saat terdengar derum mobil berhenti di halaman depan. Langkah berat sepatu kulitnya nyaring beradu dengan lantai berubin putih rumah kami. Lelaki itu datang untuk meminta ibu menandatangani surat perceraian mereka. Ibu menolak. Ibu tak ingin hak kami, ketiga anaknya terampas.


“Aku rela dimadu! Tapi aku tak sudi untuk bercerai. Aku tak akan membiarkan wanita itu memiliki rumah ini. Ini milik anak-anak. Tak akan kubiarkan seorangpun menjamahnya,” tolak ibu tegas. “Bukankah sudah kubilang, kau bisa membeli rumah lain dengan pembagian harta gono-gini kita. Cukup kau tanda tangani surat ini dan kau bisa bebas menikah dengan lelaki lain,” kata lelaki itu tanpa perasaan. Namun, ibu bergeming. Dan kali ini, lelaki itu benar-benar ingin mendapatkan tanda tangan ibu. “Jangan memaksaku untuk bertindak kasar. Kau tanda tangani surat ini sekarang juga, atau…,” hardiknya.

“Atau apa? Apa yang akan kau lakukan? Menamparku? Memukulku? Ayo lakukan! Sampai berkalang tanah pun aku tak akan menandatanganinya,” tantang ibu dengan lantang. Lalu terdengar suara plak, disertai rintihan tertahan ibu. Dengan tertatih aku keluar kamar menuju ruang tamu. Nampak ibu terduduk di lantai dengan memegangi pipinya. Sudut bibirnya berdarah. Kutatap nyalang lelaki bercambang itu. Ia dengan pongah berdiri berkacak pinggang seraya melambaikan selembar kertas putih terlaknat itu di depan muka kami.


Aku tak mampu lagi menahan amarah. Kurebut kertas itu dan merobeknya. Ia meradang. Matanya merah. Nanar menatapku. Tanpa kuduga ia menyambar lenganku dan menjambak rambutku. Ia menamparku berkali-kali. Aku terhuyung kemudian jatuh terjerembab di sisi ibu. Darah segar menetes dari hidung dan mulutku. Seperti orang kesetanan, lelaki itu melempar vas bunga ke arahku disertai sumpah serapahnya. Untung aku beringsut. Jika tidak, pasti kepalaku sudah bocor.

 Lalu dengan kasar ia menyeretku keluar dari rumah. “Dasar anak pungut, tak tahu diri. Ini balasanmu pada orang yang telah membesarkanmu. Memungutmu dari jalanan, heh! Kata-katanya meluncur bagai belati membelah kesadaranku. Diantara nyeri dan rasa sakit yang mendera, aku menatap kearah ibu yang tertatih berusaha menghentikan tarikan kasar suaminya kepadaku.
 “Hentikan mas, jangan kau sakiti Sinta, aku mohon! Akan kulakukan apapun kemauanmu. Lepaskan Sinta!” mohon ibu padanya. “Keluar kau dari rumah ini. Dasar anak tak tahu balas budi! Keluar!” Makinya semakin tak terbendung. Lalu sebuah tendangan ia daratkan di perutku. Rasa sakit tak tertahan terasa menyerang ulu hati. Pandanganku mengabur.


“Sinta, kamu sudah sadar nak?” suara ibu terdengar lemah di telingaku. Saat kubuka mata, wajah pucat wanita penyabar itu terlihat sedikit lega. Kedua adikku dan bi Inah berdiri di sampingnya. Mataku menatap sekeliling, mencari sosok lelaki itu. Ia tak ada.
“Ayah sudah pergi mbak. Untung kami datang tepat waktu,” kata Dani, si bungsu.
“Jangan khawatir. Kami tidak akan membiarkannya menyentuh mbak dan ibu meski hanya seujung kuku,” Danu, adikku yang satunya menimpali. Aku mengangguk dan tersenyum. Pandanganku kini beralih ke arah ibu. Aku butuh jawaban. Benarkah aku anak pungut? Apakah aku nyata bukan darah daging mereka?

 Ibu paham akan maksud tatapanku. Bulir airmata mengalir dari kedua telaga beningnya. Dengan terbata mulai menceritakan tentang hal yang selama ini, ia dan lelaki itu sembunyikan. Mereka menemukanku di taman kota. Di sebuah kardus berbungkus handuk lusuh. Ibu yang saat itu begitu menginginkan momongan, tetapi belum juga mendapatkan, meminta pada ayah agar mengizinkannya merawat bayi malang itu. Aku, yang kini dianggap sebagai putri sulung mereka adalah bayi di dalam kardus tersebut. Aku terdiam. Tanggul airmataku runtuh. Luruh bersama isakan ibu.
“Kamu anak ibu Sin. Selamanya kamu adalah putri sulung keluarga ini,” ucapnya terisak. Aku tak mampu bersuara. Ia memelukku begitu erat. Danu, Dani dan bi Inah ikut berkaca-kaca.

Setelah kejadian itu, ia tak pernah datang ke rumah. Lelaki itu tak lagi memberi nafkah batin dan lahir kepada ibu. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, ibu menerima order katering dan membuka warung kecil-kecilan. Aku pun tak mau berpangku tangan. Dengan kerja paruh waktu selepas kuliah dan membantu mengedit naskah majalah di kampus, aku mampu membiayai kuliah hingga lulus.

Kemudian bekerja di sebuah media berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong. Setahun, dua tahun, kulewati waktuku dengan menjadi kuli tinta di negeri seberang. Dengan gaji lebih dari cukup, aku bisa membantu membiayai kuliah Dani dan Danu.

Setiap lebaran tiba, aku selalu menyempatkan diri untuk mudik, bersua dengan ibu dan kedua adikku. Namun, kini hampir tiga kali hari raya aku tidak cuti. Dengan berbagai alasan, aku sengaja tidak pulang. Karena tiga tahun yang lalu, lelaki bercambang itu kembali ke rumah kami. Ia terkena stroke dan istri mudanya tak sudi untuk merawatnya. Semua uang dan harta miliknya, telah menjadi hak milik perempuan itu. Hanya rumah yang ditempati ibu dan kedua adikku yang selamat dari jarahan keserakahannya.

Aku belum bisa memaafkan lelaki itu. Tetapi ibu, ia dengan tangan terbuka menerima kehadirannya. Itulah yang membuatku tidak mudik sama sekali. Hingga seminggu yang lalu, sebuah pesan dari Danu, membuatku mampu melawan rasa sakit hati. Dan, kuputuskan untuk pulang.
***

Pesawat yang kutumpangi mendarat di bandara Juanda keesokan paginya. Aku menyewa taksi menuju kota kelahiranku, Malang. Dibutuhkan waktu kurang dari dua jam, sebelum akhirnya aku sampai di pelataran rumah ibu. Rumah itu masih tampak sama. Semerbak bunga melati dan mawar seolah berebut menyambut kedatanganku. Kupercepat langkah menuju pintu utama rumah. Belum sempat aku mengetuk pintu, seraut wajah dengan senyum yang selama ini aku rindukan, membukanya.

Ibu, dengan gamis ungu muda dan jilbab warna senada, terpaku melihatku. “Sinta? Masya Allah nak, kok tidak memberi kabar sama sekali?” ujarnya. Segera kugapai tangannya, kucium lalu memeluknya. “Maafkan Sinta bu, karena tidak berkirim kabar pulang hari ini,” kataku. Ibu tersenyum. Kemudian ia menggamit lenganku. “Kedua adikmu ada kegiatan di kampus. Nanti sore mereka baru pulang,” ibu berkata sembari membantuku membawa tas dan menaruhnya di kamarku.

 “Ia dimana bu?” Tanyaku. Ibu tahu siapa yang kumaksud. Lalu melangkah menuju kamar yang berdekatan dengan ruang keluarga. “Masuklah. Ayahmu ada di dalam.”

Dengan hati bimbang, kubuka pintu kamar bercat coklat tanah. Di sana, di tengah ruangan bercahaya redup, kulihat sosoknya terbaring di atas ranjang. Ia menoleh dan seulas senyum tersungging di bibir pucatnya. “Sinta, kamu pulang nak?” ucapnya terbata.

Aku beranjak mendekat ke arahnya. Cambang itu tak selegam dan selebat dulu. Tubuhnya ringkih. Hanya tulang berbalut kulit. Rambutnya berseling antara warna hitam dan putih. Senyum yang tersembunyi dibalik cambangnya, kini kulihat kembali. Aku menghambur ke arahnya. Kurengkuh tangan ringkihnya. Pandanganku kabur terhalang airmata.

Bibir lelaki itu bergerak perlahan. “Maafkan ayah, nak. Maafkan semua perlakuan ayah padamu,” ucapnya lirih diiringi airmata yang kini deras mengalir membasahi keriput pipi dan cambang kusutnya.

Kuusap lembut tangannya. Tangan yang dulu pernah menamparku. Juga yang mengusap halus kepalaku, saat aku lena dalam dekapannya. Kuletakkan tangannya di pipiku. Terasa hangat. Aku tak mampu berkata. Hanya sebuah anggukan kepala dan isakan tertahan yang mampu kuberikan. Lalu, tatapan matanya meredup. Nafasnya pelan dan teratur.


Kiranya, hanya tiga hari Tuhan memberiku kesempatan untuk merawatnya. Kamis, 5 Juli 2005, bertepatan dengan tahun ke-27 pernikahannya dengan ibu, lelaki bercambang itu menghembuskan nafas terakhirnya. Ia pergi dengan menggenggam erat tanganku.

Di sampingku, ibu menangis dalam diam. Terisak dalam senyap. Tangannya gemetar menyentuh wajah lelaki yang dicintainya. Lelaki yang memberinya begitu banyak luka. Lelaki yang telah membuatnya mengerti makna hakiki dari mencintai. Samar nampak senyum tipis di wajah teduh ibu, bersama lantunan doa yang lamat terdengar dari bibirnya.

Susana Nisa
Cerpen ini termuat di Tabloid Apakabar Plus
Edisi 9 September 2017

Posted by Unknown 20.20.00 in



Ada merah di pertengahan almanak September. Ketika tiap kali hujan datang. Sejenak menapak tilas jejak musim sebelumnya. Sepoi angin membawa rinai hujan membelai wajah telanjangku. Mengusik kedamaian hati yang tak jengah menyimpan sekeping rindu. Aku dan sebongkah asa yang selalu mengenang senyum abadimu.

Sebuah senyum yang kini terbingkai pelangi di ujung senja. Kulangkahkan kaki keluar dari rumah peristirahatan terakhirmu. Berat rasanya kedua kaki ini melangkah, seolah ada kekuatan magis menahan keduanya. Aku menoleh sesaat. Hanya untuk melihat kembali wajah dan senyummu dalam bingkai kaca. Tapi tak mengapa, karena garis lengkung di kedua bibir mungilmu, telah mampu memberiku kekuatan untuk menyongsong hari esok.

Kupercepat langkah meninggalkan tempat itu. Bukan karena aku takut tentang hal-hal berbau mistis. Namun, karena tak ada penerangan di sekitar area pemakaman ini. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan angka enam lebih sedikit. Itu berarti, hampir satu jam aku berada di sini. A Shan, waktu terasa berhenti ketika aku bersamamu. Meskipun kini semua tinggal kenangan, gumamku perlahan.

Sepuluh menit waktu yang kubutuhkan untuk tiba di halte bus terdekat. Tampak beberapa orang di sana. Tiga wanita dan dua lelaki paruh baya. Aku segera berdiri mengantri di belakang mereka. Lima belas menit berlalu. Tak ada satu pun bus yang lewat. Bosan menunggu, beberapa orang di depanku melambaikan tangan setiap ada taksi melintas.

 Tinggal aku dan seorang bapak,  kira-kira berumur 65 tahun lebih. Capek berdiri, aku beranjak ke dekat pagar pembatas di halte itu. Hanya untuk bersandar. Tak berapa lama, dari kejauhan terlihat bus dengan nomer 269X melaju ke arah kami. Aku menarik nafas lega saat menghempaskan diriku duduk di kursi penumpang deretan paling belakang. Tampak beberapa penumpang terlena dalam mimpi. Dibutuhkan waktu satu jam lebih untuk sampai di boarding houseku, di distrik Yuen Long.

Kubuka tas punggung bututku. Lalu kuambil sebuah buku yang berjudul Walk to Remember, hadiah terakhir darimu. Harum bunga lavender menyeruak saat kubuka lembar halaman pertama. Aku ingat betapa kau sangat menyukai bunga berwarna ungu itu.

 The distinguished and lovely flower, itu yang selalu kau ucapkan untuk mengekspresikan kekagumanmu pada bunga lavender. Aku rindu padamu Shan, sangat merindukanmu, gumamku pelan disela tarikan nafas. Perlahan kupejamkan mata. Kucoba mengurai satu persatu jalinan tali nasib yang telah mempertemukan kita.

***

Rinai hujan seakan enggan berhenti mengguyur bumi. Aku berjalan cepat-cepat menyusuri trotoar berpaving menuju rumah keluarga Leung, majikanku. Jalanan begitu sepi dan lengang. Hanya ada satu dua buah mobil pribadi yang melintas. Tatkala tanpa sengaja mataku menangkap sosok wanita berbusana serba ungu sedang berteduh di halte bus, di seberang jalan. Ia tak melihatku. Pandangannya sibuk menatap kearah berlawanan. Perempuan yang cantik, pikirku. Lalu kembali mempercepat langkah.

 Kecipak ayunan kakiku berhenti tepat di depan rumah berpagar besi berwarna hitam mengkilat. Kukeluarkan kunci perak dari dalam saku jaket. Lalu membuka pintu kecil di sebelah kiri pagar besi itu. Salakan nyaring GeGe, anjing labrador coklat kesayangan Tuan Leung, menyambut kedatanganku. Kulirik saja binatang berkaki empat itu. Tak kusapa. Aku bergegas menuju garasi. Di sana tampak si jantan Elgrand, hitam berkilat seolah  menunggu sentuhanku.

Dua puluh menit berselang, telah kujamah seluruh permukaan tubuh si hitam. Menghangatkan mesinnya lalu mengembalikan kunci mobil mewah itu kepada tuan Leung. Aku mengambil cuti selama seminggu dari kerja rutinku, menjadi sopir pribadi keluarga kaya raya itu.

Dengan tergesa aku berjalan menuju ke arah halte di seberang jalan. Diam-diam senyumku terkembang karena kulihat wanita berbusana ungu masih berada di sana. Tak ada orang di sana. Hanya kami berdua. Dua orang asing yang begitu berbeda. Wanita itu berkulit kuning langsat, bermata sipit dengan postur tubuh ideal. Sedangkan tak jauh di sebelahnya, berdiri lelaki berkulit coklat, berambut kriwil cepak dengan celana jeans dan jaket biru navynya, tampak canggung dan salah tingkah. Lelaki itu, aku. Hujan masih deras mengguyur.

Awan putih merata menandakan bahwa hujan takkan berhenti menyapa kekasih abadinya, bumi. Aku masih blingsatan berdiri kaku di tempat yang sama. Ingin aku menyapa, memperkenalkan diri. Namun, lidahku kelu. Pesona wanita bermata sipit ini seolah menyihirku. Hingga tiba-tiba ia menoleh seraya berkata, “Excuse me, do you have tissue? I used all mine just now.” Aku tak berkata. Secepat kilat kuambil tisu dari dalam tas. Ia tersenyum menerima tisu yang kuangsurkan kepadanya. Ucapan terima kasih dari bibir mungilnya menjadi penerus perbincangan akrab kami.


Ia bermarga Ong. Layaknya orang Hong Kong, ia memiliki dua nama. “My chinese name is Shanny. And my International name is Eugene. Everyone used to call me A Shan.” ujarnya kembali tersenyum. Dengan ragu aku memperkenalkan diri. “Ehm… my name’s Raditya. You may call me Radit.” Ia tertawa saat mengulang namaku. Karena lidahnya tak mampu mengucapkan huruf ‘r’. Mata sipit itu seolah menghilang terapit kedua pipi tembamnya yang terangkat. Rintik air  menemani setiap kata yang terurai hingga bus yang kami tunggu tiba.

Pertemuan singkat di bawah rinai hujan itu adalah sebuah rangkaian kisah yang kiranya telah tertulis di Lauhul Mahfudz, sebelum kami lahir ke dunia. Tali takdir secara kasat mata telah mengikat hati kami. A Shan yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus, tidak pernah mempermasalahkan tentang statusku yang hanya seorang sopir.

Hubungan kami semakin dekat. Pihak keluarganya juga memberikan lampu hijau atas kedekatan kami. Hari berganti minggu dan bulan. Semakin lama perasaan sayangku padanya bertambah dalam. Kesabaran A Shan dalam mendidik murid-muridnya, sifatnya yang begitu penyayang dan lemah lembut kepada setiap orang, membuatku mantab untuk meminangnya.

Malam itu, tepatnya di awal September. Betapa pipi putihnya bersemu merah. Mata sipitnya berbinar saat aku memintanya untuk menjadi ibu dari anak-anak kami. Hatiku serasa mengembang ketika ia menganggukkan kepala, tanda bersedia. Kusematkan sebuah cincin bermata biru di jari manisnya. Disaksikan keluarga dan beberapa teman dekat A Shan.


 Lalu rencana untuk pesta pernikahan yang sederhana kami rancang. Sebuah pesta yang berhias lampion dalam berbagai bentuk dan warna. Dan berjumlah empat belas lampion. A Shan menginginkan baju pengantin berwarna ungu. Bukan merah layaknya warna gaun pengantin untuk orang cina. Ia pun ingin semua anak didiknya hadir di hari bahagia itu. Aku menyetujui semua permintaannya. Tak sedikitpun terucap kata tidak dari bibirku. Bagiku, ia bersedia menjadi bagian dari perjalanan hidupku, itu sudah cukup.

Selama dua minggu kami sibuk mempersiapkan segala hal untuk melangsungkan hari bahagia itu. 14 september adalah tanggal yang dipilih oleh A Shan. Ia ingin agar hari lahirnya menjadi simbol bertautnya dua hati dalam ikatan suci.

Pesta pernikahan dilangsungkan di halaman rumah keluarganya, di distrik Fanling. Halaman luas itu nampak indah dengan berbagai hiasan yang terpasang. Empat belas lampion tergantung rapi berjajar sore itu bersama temaram senja di ufuk barat. Pesta pernikahan kami dilangsungkan. Dengan mengenakan gaun pengantin berwarna ungu muda, A Shan terlihat begitu anggun. Di tangannya tergenggam rangkaian bunga lavender yang diikat dengan pita berwarna senada. Ia berjalan sambil menggamit lenganku.


Nampak sanak kerabat dan tamu undangan duduk rapi di kursi-kursi berwarna putih yang berjajar hampir memenuhi halaman rumah. Keluargaku tak datang. Hanya tuan Leung dan keluarganya yang datang. Majikanku itu bersedia menjadi wakil dari pihak mempelai pria, aku.

Langkahku dan A Shan perlahan melewati barisan kursi di mana murid-murid spesialnya duduk. Senyum tersungging di setiap wajah yang kulihat. Anak-anak itu, mereka yang tidak mengenal arti kata kepedihan. Yang mereka tahu hanya berbahagia dan tersenyum menjalani setiap detik yang mereka punya. Berbahagia dalam dunianya. Disampingku, A Shan tersenyum membalas mereka.

Langkah kaki kami semakin dekat dengan altar pemberkatan. Saat tiba-tiba seorang lelaki bercaping berjalan dari arah samping altar. Di tangannya terhunus sebuah pisau.
Matanya nanar menatap kami. Hanya dalam hitungan detik, tragedi berdarah terjadi. Lelaki itu membabi buta mengarahkan serangan pisaunya ke arahku.

 Tanpa kuduga, A Shan mendorong tubuhku ke samping. Dan pisau ditangan lelaki itu menghujam tepat ke dadanya. Darah membasahi gaun ungu yang dikenakannya. Lalu tubuhnya rebah ke tanah. Semua orang, termasuk aku, terperangah tak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata kami. Terdengar umpatan dari mulut lelaki bercaping itu dalam bahasa yang tak kupahami.

Teriakan orang-orang untuk menangkap lelaki itu, menyadarkanku dari rasa syok yang melanda. Tak kuhiraukan lagi apa yang dilakukan oleh orang-orang kepada lelaki itu. Perhatianku terpusat pada A Shan. Kugapai tubuhnya yang bersimbah darah. Kurengkuh jasad wanita yang akan kunikahi itu dalam pelukan. Bunga lavender masih tergenggam di tangan kirinya. Tangisku pecah bersama semburat jingga yang memerah.

Beberapa hari setelah tragedi berdarah itu, pihak kepolisian yang menanganinya memberitahukan kepada kami, jika lelaki bercaping yang telah merenggut nyawa A Shan mengidap kelainan jiwa. Ia mengalami depresi karena kekasihnya menikah dengan lelaki lain. Dan ia membenci setiap pasangan mempelai yang akan menikah.

Hari itu, dimana pesta pernikahanku dengan A Shan dilangsungkan, ia yang bekerja paruh waktu di wedding organizer yang kami sewa, merasa marah saat melihat kami berjalan menuju altar pemberkatan. Halusinasi dan ingatannya akan pengkhianatan sang kekasih, membuatnya gelap mata.

Dan terjadilah tragedi yang mengakhiri kebahagianku dan A Shan. Aku dan keluarga menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib. Kami menginginkan hukuman setimpal bagi lelaki itu.

***

Bus yang kutumpangi perlahan memasuki terminal pemberhentian terakhir. Hanya ada tiga orang penumpang yang tersisa. Malam merayap turun. Lampu-lampu jalanan menyala redup membingkai gelapnya.

Kumasukkan buku pemberian A Shan ke dalam tas. Saat beranjak dari tempat duduk, kurasakan tepukan halus di pundak. Dan harum bunga lavender menyeruak memenuhi indera penciumanku. Aku tersenyum seraya bergumam, “Aku selalu merindukanmu, kau tahu itu.”


Susana Nisa (mrs Hu)
Cerpen ini termuat di tabloid Apakabar plus edisi Juli 2017








Posted by Unknown 15.22.00 in

Di tengah ramainya kehidupan metropolitan Hong Kong yang terkenal sebagai salah satu kota dengan julukan ‘the city that never sleeps’, Nan Lian Garden atau Chi Lin Nunnery, menjadi salah satu taman di tengah kota yang layak untuk dikunjungi. Tak ada tarif masuk alias gratis. Taman klasik yang terletak di Diamond Hill, Kowloon ini memiliki luas sekitar 3,5 hektar. Di desain seperti taman pada masa Dinasti Tang dengan bangunan berstruktur kayu, bukit-bukit buatan, kolam dan pagoda emas yang indah. 

Pembangunan taman ini adalah proyek bersama dari pemerintah Hong Kong dan Chi Lin Nunnery (biara Chi Lin). Dan dibuka untuk umum pada 14 November 2006. 










Dengan letak yang strategis, mudah dijangkau dan hanya sepelemparan batu saja dari areal pertokoan atau mall yaitu plaza Hollywood, Nan Lian Garden menjadi taman favorit untuk menyegarkan pikiran. Karena sejak kaki melangkah masuk melalui gerbang utama yang terbuat dari  kayu berukir arsitektur cina kuno, seketika itu pula pengunjung akan merasa berada di taman para kaisar dari Dinasti Tang. 








Saya yang sering mengajak nenek bermain ke sana, seringkali berharap akan berjumpa dengan kaisar Gao Zhong yang rupawan. Namun, semua hanya impian belaka. Karena yang kita jumpai mondar-mandir adalah para penjaga taman yang sudah berumur, hehehe.  Setelah melewati gerbang, kita akan disambut oleh deretan pohon-pohon cemara yang dibonsai. Meski ukuran pohonnya tidak terlalu mungil, namun dengan dahan pohon yang dibentuk sedemikian indah dan simetris, sulit rasanya untuk tidak berdecak kagum.











Tak hanya cemara, ada bougenville dan varietas pohon lain yang dibonsai dengan seni tingkat tinggi. Jika Anda pecinta bonsai, maka disinilah surga berada. Dijamin Anda akan betah berlama-lama mengunjungi taman ini. 









Beranjak memasuki taman, terdapat bangunan berarsitektur Cina yang merupakan tempat pameran berisi koleksi bangunan pagoda, istana raja dan rumah pada masa dinasti Tang. Saya sempat memfoto beberapa maket mini beberapa bangunan tersebut. 










Keluar dari rumah pameran, kita dapat melihat di berbagai sisi jalan berpaving beberapa varietas bonsai dan bunga bougenville. Juga lamat-lamat terdengar suara puji-pujian agama Budha, yang terdengar di seluruh bagian taman. Berada di dekat rumah pameran tadi, terdapat kolam yang di tengahnya berdiri megah sebuah pagoda emas (Golden Pavilion) dengan jembatan berwarna merah (Zi Wu bridge) yang menjorok ke taman.






Pengunjung hanya diperbolehkan berfoto di batas luar jembatan merah dan dilarang mendekati area pagoda emas. Lupakan saja keinginan  untuk nyelonong melewati pagar pembatas di depan jembatan merah demi berswa foto plus selfi ria, karena beberapa penjaga taman selalu hilir mudik mengawasi para pengunjung. Para pengunjung taman juga dilarang mengambil foto atau video menggunakan tongsis. Juga dilarang makan sembarangan dan duduk lesehan. Jadi, taatilah peraturan yang ada, demi kenyamanan bersama.

Agar bisa menikmati keindahan seluruh taman dengan nyaman, saya sarankan untuk berkunjung pada saat musim semi dan gugur. Karena udara sejuk dan semilir angin dipadu kicauan burung serta harum bunga sweet osmanthus, dapat menentramkan jiwa dan menyegarkan kembali pikiran kita. 









Dari area pagoda emas tadi, semakin jauh menyusuri jalan berpaving yang di kiri kanannya dipenuhi deretan beraneka jenis pohon yang dibonsai, akan sampailah kita pada kolam utama yang airnya berwarna biru kehijauan dengan habitat ikan koi berbagai warna dan ukuran hampir sama. Di bagian tepi kolam tersebut, kalau menurut penglihatan saya terapung di atas permukaan kolam, terdapat Song Cha Xie tea house yang menyajikan teh berkualitas tinggi, yaitu Wuyi Chan Ya dan Pu’er. Di Song Cha Xie tea house, pengunjung bisa menikmati dim sum, membeli oleh-oleh berupa paket teh juga perlengkapan untuk menyeduh teh yang terbuat dari porselen dan diimpor dari provinsi Jiangxi, Cina.












Dari area kolam utama, pengunjung dapat meneruskan perjalanan ke air terjun buatan yang disebelahnya terdapat kincir air dari kayu. 








Dan jika merasa lapar, bisa segera menuju ke restoran yang berada di balik air terjun buatan tersebut. Restoran di taman Nan Lian hanya menyajikan menu vegetarian. Dengan tarif per menu berkisar antara HKD 50 ke atas. Dari area air terjun dan restoran, akan dijumpai toko suvenir dan makanan ringan. 






Juga sebuah rumah yang berisi bebatuan berukuran besar (Rockery). Pengunjung diizinkan untuk duduk di atas bebatuan itu dan berfoto. 






Dari sini, maka sampailah kita pada area nunnery atau biara yang tenang dan nyaman. Area biara yang di desain sama persis dengan model bangunan di masa dinasti Tang, akan membuat kita merasa sedang berada di masa kekaisaran salah satu dinasti yang pernah membawa Tiongkok mencapai zaman keemasannya. 






Saat memasuki kawasan nunnery, di sebelah kanan dan kiri terdapat pilar-pilar berjajar dan di sepanjang lorong bangunan terdapat banyak pahatan batu, yang bertuliskan puisi dan pepatah bijak dari sastrawan juga cendikiawan yang hidup pada masa dinasti Tang. 










Pengunjung juga akan termanjakan oleh dua kolam teratai, yang masing-masing berhiaskan beberapa air mancur berkepala naga. Beberapa bunga teratai berwarna pink seolah menyambut siapa saja yang datang







Melewati kolam teratai, kita akan sampai pada altar persembahyangan. Terdapat patung Buddha besar yang bersepuhkan emas di bagian depan altar. Para pengunjung diperbolehkan untuk masuk dan melihat bagian dalam biara, tetapi dilarang untuk memotret apalagi memvideo. Karena bagian dalam biara adalah tempat pemeluk agama Buddha melakukan sembahyang atau pemujaan.


Untuk transportasi, karena kebetulan rumah lopan berada di dekat lokasi Chi Lin Nunnery, saya seringkali main ke taman Nan Lian sekaligus momong si mbah, hanya dengan berjalan kaki dari arah pasar Choi Hung melewati subway yang menuju langsung ke taman tersebut. 





Dapat juga dengan naik MTR jalur Kwun Thong (garis yang warnanya hijau dipeta MTR) dan turun di stasiun Diamond Hill. Ambil exit C2 (plaza Hollywood) di 60 Fung Tak Road, lalu ikuti penunjuk arah yang menuju ke taman Nan Lian. Atau naik bus nomor 11, 74X, 75X, 82X, 82P, 84M, 85C, 85M, 91, 91M, 92, 286M yang menuju stasiun bis umum Diamond Hill (berada di bawah MTR Diamond Hill).

Susana Nisa
Artikel saya ini termuat di rubrik Feature
KORAN SUARA, 7 April 2017

Disclaimer : All photos on this article are my own collection. 

Popular Posts

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Translate

Cari Blog ini

Search