Menulis adalah lentera di tengah badai kehidupan
Posted by Unknown 02.08.00 in

Ranti duduk terpekur di ujung ranjang. Ada genangan dibening matanya yang perlahan jatuh bergulir di kedua pipi putihnya. Suara isakan pelan terdengar, membuat sosok yang terbaring di depannya membuka mata. Seorang lelaki berbadan tegap, berkulit coklat muda dan bemata sipit. Rambutnya hitam lurus, di potong rapi. Lelaki itu bertelanjang dada. Hanya selimut yang menutupi tubuh bagian bawah. Mata sipitnya merah. Dengusan kesal terdengar dari helaan nafas yang mirip seekor kerbau. Sementara Ranti masih duduk di tempat yang sama. Kristal bening tak henti meleleh. Isak tangisnya tertahan. Lelaki itu bangun dan duduk di dekat Ranti, lalu merangkul pundaknya. Gadis itu mencoba menepis tangan sang lelaki lalu menggeser posisi duduknya.
“Mo pan ye keh lei!” Kata lelaki itu sambil berdiri. Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai kamar dan mengenakannya. Lalu berjalan ke arah pintu, menoleh ke arah Ranti yang masih terisak. Ia mengeluarkan selembar uang seratus dolar Hong Kong lalu mengangsurkan kepada gadis itu. Ranti bergeming. Ia tidak sudi menerima uang itu.
“Keijui a, mo wa pei thai-thai theng, liti jin ngo pei lei, haji ngo wui pe lei to tik keh, tanhai lei yiu keijui hah, mo wapei ngo keh lobo ci!” Lelaki itu menaruh uang yang dipegangnya di atas meja, di sebelah ranjang. Lalu bergegas keluar kamar. Ia tak mempedulikan Ranti yang masih terisak. Beberapa saat kemudian terdengar pintu utama tertutup, pertanda lelaki itu telah pergi.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Ranti mencoba berdiri dan membenahi pakaiannya yang carut marut. Kemudian melepas sprei, sarung bantal juga selimut. Secepat kilat menggantinya dengan yang bersih. Air matanya tak henti menetes. Hatinya hancur. Harga dirinya terinjak-injak. Kehormatannya telah direnggut oleh lelaki yang tak lain adalah majikannya sendiri. Ini adalah kali kedua lelaki bejat itu menggagahinya. Saat kejadian pertama kali, ia berniat melaporkannya ke polisi. Namun ia urungkan karena tak punya cukup bukti. Dan ia baru dua bulan bekerja. Ranti ingat hutang yang masih ditanggungnya. Lima bulan masa potongan gaji, mengharuskannya menguatkan diri untuk bertahan bekerja dengan majikan laknat itu. Ia hanya ingin kebahagiaan untuk keluarganya di kampung. Kedua telaga bening itu kembali mengalir deras. Ingin rasanya ia bunuh diri untuk melepaskan semua beban yang menghimpit. Tetapi tiap kali rasa putus asa itu menyergap, wajah orang-orang terkasih yang saat ini menunggu hasil keringat dan jerih payahnya, terbayang di pelupuk mata. Senyum dan harapan mereka akan kepulangan Ranti adalah semangat dan kekuatan yang membuatnya tetap bertahan. Dengan tergesa dan menahan gemuruh di dada, gadis berkulit sawo matang itu bergegas merapikan kamar majikannya. Lalu membersihkan diri agar nyonya tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Setelahnya, Ranti  melakukan tugas dan aktivitas seperti biasa.
Satu jam berlalu. Lelaki tadi kembali ke rumah sudah dalam keadaan bersih. Ia pasti ke rumah ibunya di blok sebelah, pikir Ranti. Keduanya diam tak bertegur sapa. Ranti tak mempedulikannya dan pura-pura menyetrika. Ia tak ingin melihat wajah laki-laki itu. Di saat Ranti sedang bergumul dengan pikirannya, terdengar dering telpon di ruang keluarga. Tak lama berselang, lelaki itu terlihat menghampirinya. Jantung Ranti berdetak. Was-was mengantisipasi apa yang akan ia lakukan. “Istriku pulang awal hari ini. Ia memintamu untuk memasak bubur kesukaannya,” katanya retorikal. “Dan ingat, bersikaplah sewajarnya.” Nada suaranya mengancam. Kemudian berbalik, melangkah masuk ke kamar. Ranti tak bereaksi. Ia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Sore, sekira pukul enam, majikan perempuan pulang. Ranti yang masih berkutat dengan masakan di dapur, berlari kecil membukakan pintu untuknya. Perempuan yang masih nampak muda di usia paruh baya itu tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. Ranti membalasnya dengan anggukan kecil, lalu kembali ke dapur. Di ruang keluarga, terdengar kedua majikannya berbincang ringan. Tak berapa lama, Ranti telah selesai memasak. Lalu dengan sigap menyiapkan hidangan makan malam untuk tuan dan nyonya yang masih asik masyuk bercengkerama sembari menonton berita di televisi. Ranti melirik kepada majikan laki-laki dengan ekor matanya. Lelaki itu bersikap wajar. Ia nampak sangat baik di depan istrinya. Berusaha menepis rasa geram, Ranti menghampiri keduanya dan menyilahkan mereka untuk menikmati hidangan makan malam. “Emkoi,” jawab nyonya seraya beranjak menuju meja makan yang diikuti oleh suaminya. Ranti tersenyum. Sebuah senyum yang dipaksakan. Ia kembali ke dapur untuk menyantap jatah makan malamnya. Namun hanya beberapa sendok nasi dan sedikit lauk yang masuk ke mulutnya. Dan tiba-tiba rasa mual tak terkira menyergap. Secepat kilat Ranti berlari menuju kamar mandi. Beruntung ia memiliki kamar mandi sendiri yang berada didekat kamarnya. Rumah majikannya memang berbeda dari rumah warga Hong kong pada umumnya. Di mana biasanya dapur terletak di depan, dekat dengan pintu masuk. Desain rumah majikan Ranti lebih mirip dengan rumah di Indonesia. Dari depan, berurutan ruang tamu dan ruang keluarga yang dipisahkan oleh sekat pembatas. Kemudian terdapat lorong kecil menjorok kedalam yang di kedua sisinya terletak dua kamar dan satu kamar mandi. Lalu di sebelah kiri kamar mandi terdapat lorong menuju dapur. Di belakang dapur itulah kamar tidur dan kamar mandi Ranti.
Wajah Ranti pias. Tangannya erat mencengkeram kedua sisi toilet. Perutnya seolah naik memuntahkan seluruh isinya. Sekuat tenaga ia menahan agar tak mengeluarkan suara. Tetapi, kiranya sang nyonya yang masuk ke dapur untuk mengambil sup, mendengar suara Ranti.
“Ranti, lei hamai em sifuk a?” tanya nyonya, dari luar kamar mandi.
Ranti yang masih merasa mual dan pusing, segera bangkit, membasuh tangan dan wajahnya.
“Ngo mo si, thai-thai. Siu-siu thau wan. Mo si keh, emsai tamsam,” jawabnya tatkala keluar dari kamar mandi. Nyonya yang baik itu menyuruh Ranti untuk segera beristirahat. Ia bergegas ke ruang tamu, hanya untuk kembali ke dapur dan memberikan sebotol minyak kayu putih kepada Ranti.
“Kau mandilah dulu. Lalu balurkan minyak kayu putih di perut, dada, punggung dan lehermu. Jangan lupa, usapkan juga di bawah lubang hidung dan pelipis kanan kiri. Lalu minum air putih hangat dan beristirahatlah. Malam ini, biar tuan yang mencuci piring dan perabot lainnya,” kata perempuan itu seraya memberikan minyak kayu putih. Ranti tak membantah. Diterimanya botol minyak kayu putih itu, lalu mengucap terima kasih. Meski merasa tidak enak hati, tetapi ia tak punya pilihan lain. Kepalanya seolah ditekan oleh batu berukuran raksasa. Rasa mual kembali menyerang. Ia bergegas membasuh tubuh, ganti baju dan melakukan apa yang disarankan majikan perempuannya.
Tiga minggu berlalu. Rasa mual masih sering dirasakan Ranti. Ia hanya meminum ramuan herbal penolak masuk angin yang dibelinya di pasar. Ranti mengira, ia hanya kelelahan dan masuk angin. Tetapi rasa mual bahkan pusing seringkali muncul tanpa mengenal waktu. Dengan berbekal uang pemberian nyonya, ia pergi ke klinik. Di sana ia diminta melakukan tes urine oleh dokter. Setelah menunggu beberapa saat, seorang perawat memanggilnya untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Betapa terkejutnya Ranti, saat dokter yang tadi memeriksanya menyatakan kalau dirinya hamil. Ia kembali ke rumah majikan dengan pikiran kalut. Masih terngiang jelas kata-kata dokter di klinik. “Hasil tes menunjukkan jika Anda positif hamil.” Ranti menumpahkan tangisnya sesaat setelah masuk ke kamarnya. Hari itu, seperti biasa hanya ada majikan laki-laki di rumah. Ranti tak menghiraukannya. Hatinya gundah. Nestapa merajai bilik hati. Apa yang akan ia lakukan? Bagaimana jika nyonya mengetahui tentang kehamilannya? Apakah ia akan mengadukan tentang kebejatan laki-laki itu kepada istrinya? Akankah perempuan itu mempercayai Ranti? Ataukah ia akan diputus kontrak lalu dikembalikan ke agen? Bagaimana dengan hutang-hutangnya? Lalu siapa yang akan mengirimkan uang untuk biaya hidup keluarganya di kampung? Berbagai pertanyaan berseliweran dalam otaknya.
Ranti masih tergugu, tatkala terdengar langkah kaki mendekat. Dan sebuah suara yang begitu ia benci memanggil namanya. “Ranti, keluarlah dari kamarmu. Jangan berpura-pura sakit lagi. Kami membayarmu untuk bekerja. Bukan untuk berada di dalam kamar dan tidak melakukan apapun.” Ranti diam. Ia tidak menjawab. Dengan wajah sembab dan langkah gontai, ia keluar kamar. Lelaki itu memandang kearahnya dengan tatapan dingin. “Badanku pegal-pegal. Aku butuh dipijat. Kau ikut ke kamarku sekarang,” perintahnya. Ranti berjalan mengikutinya. Sesampai di kamar, lelaki itu seperti biasa menanggalkan semua pakaiannya. Ia selalu meminta Ranti memijatnya, sebelum melakukan hal tak senonoh kepada pembantunya. Saat lelaki itu telah menelungkupkan badan, Ranti meminta ijin untuk ke belakang. Sebentar katanya. Ketika melewati dapur, mata gadis itu menatap sebilah pisau yang sering ia gunakan untuk memotong daging babi. Pisau lebar dan besar itu mengkilat di sisinya yang memipih. Sehari sebelumnya, ia telah mengasah pisau tersebut. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Secepat kilat Ranti mengambil pisau dan membawanya ke kamar, dimana majikan berada. Sedetik kemudian, terdengar teriakan menyayat. Sprei biru muda yang menutupi ranjang di kamar itu berubah warna. Menjadi merah marun. Bau anyir darah menyeruak memenuhi udara di dalam kamar. Ranti keluar dari kamar menenteng pisau yang berlumuran darah. Rambutnya kusut masai. Wajah, tangan bahkan kaki dan pakaiannya belepotan darah. Ia masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah syal berwarna biru. Ia menciuminya. Terbayang wajah sang ibu saat memberikan syal itu, waktu kunjungan terakhir di balai latihan kerja seminggu sebelum keberangkatannya ke Negeri Beton. Perlahan Ranti melilitkannya di leher. Menyelipkan salah satu ujungnya di pintu, kemudian menutupnya. Ia melangkah menjauh dari pintu sambil menarik ujung yang satunya sekuat tenaga. Nampak nafasnya megap-megap. Tubuhnya meregang. Lalu diam, tak bergerak.

Catatan kaki :

Mo pan ye keh lei = Kau jangan berpura-pura
Keijui a                     = Ingat ya
Mo wa pei thai-thai theng     = Jangan beritahu nyonya
Liti jin ngo pei lei = Aku beri kau uang ini
Haji ngo wui pe lei to tik keh = Lain kali aku akan memberimu lebih banyak
Tanhai lei yiu keijui          = Tapi kamu harus ingat
Mo wapei ngo keh lobo ci    = Jangan memberitahu istriku
Emkoi = Terima kasih
Lei hamai em sifuk a = Apa kamu tidak enak badan
Ngo mo si = Saya tidak apa-apa
Thai-thai = Nyonya
Siu-siu thau wan = Sedikit pusing
Mo si keh = Tidak apa-apa
Emsai tamsam = Jangan khawatir


Susana Nisa
Cerpen ini termuat di Tabloid Apakabar
OKtober 2016
Posted by Unknown 21.39.00 in
Cinta yang agung adalah ketika kita masih setia menunggunya dengan menitikkan airmata, meski kita sadar bahwa ia takkan pernah kembali untuk selamanya.

Setiap senja aku selalu melihatnya duduk di sana. Dengan baju yang sama dan setangkai bunga tulip putih di tangannya. Perempuan itu selalu memandang jauh ke tengah laut lepas, seolah menanti seseorang yang tak jua kunjung tiba. Ia tak peduli deburan ombak yang berkejaran di pantai dan sisa-sisa riak kecil menjilati kaki telanjangnya. Zubaida, itulah namanya. Seorang perempuan yang tak pernah tergerus nilai-nilai modernisasi zaman. Tubuhnya masih sintal dan berisi di usia lebih dari separuh abad. Gurat-gurat kecantikan masa muda, masih tampak di wajahnya yang kini terlihat muram dan kusut. Ia selalu mengenakan kebaya dan jarik sidomukti, lengkap dengan sanggul yang dihias cucuk mentul. Khas, tipikal wanita jawa tulen yang tak mungkin ditemui di abad serba komputer ini. Aku tak seberapa paham dengan kehidupannya dan mengapa ia selalu datang ke pantai ini setiap menjelang senja.

Yang aku tahu, saat pertama kali melihatnya duduk di atas batang pohon tumbang di pantai itu sebulan yang lalu, aku merasa ada sebuah tarikan hebat yang membuatku ingin mengetahui siapa gerangan perempuan itu. Naluriku berkata, ada kisah istimewa di balik kebisuannya memandang kosong ke tengah samudera. Adalah pak Syarif, induk semang di mana rumah beliau menjadi tempatku menginap, selama kurun waktu 2 bulan terakhir pengerjaan skripsiku, yang menceritakan kisah itu.
***

Kesunyian berlalu beriringan dengan hembusan angin. Melewati lorong waktu, bersama sejarah yang tak mungkin diputar kembali. Langkahnya terus mengalun, menyenandungkan kidung-kidung penantian. Perih, menyayat kalbu laksana balada yang menguak luka tanpa ujung bagi perempuan itu. Hampir tiga dasawarsa lamanya, ia menunggu dan menepikan sejumput harapannya pada pasir yang basah. Menggantungkan impian seraya menghirup aroma laut. Setia menemani camar-camar yang datang dan pergi mencari rezeki. Setia seperti cara ia menunggu Rahmadi, sang belahan jiwa yang kini entah di mana rimbanya. Namun, keyakinannya begitu kuat. Suatu saat, entah kapan, lelaki itu akan datang dan membawakan seikat bunga tulip untuknya.

Seperti janji Rahmadi di malam terakhir, saat nasib membawanya pergi entah ke mana. Dan semenjak itu, Zubaida selalu pergi ke tepi pantai melabuhkan harapannya pada langit biru. Pada karang yang berdiri kokoh menghadang gulungan ombak. Namun, malam mulai merambat dan kegelapan memaksanya untuk pulang. Mengumpulkan sisa-sisa asa yang masih terpendam, untuk terus menanti separuh hatinya yang terampas oleh takdir.


Kerlip malam lampu mercusuar mengiringi langkah tertatihnya menembus pekat. Di atas sana, sepotong bulan menyembul malu-malu, tersapu awan tipis yang menutupinya. Di perempatan jalan, ia membeli pisang goreng dan ubi rebus pada seorang pedagang gorengan langganannya.
"Habis dari mana, bu?" tanya penjual itu.
"Dari pantai pak Syarif," jawabnya seraya tersenyum.
Pak Syarif, penjual gorengan itu mahfum karena mengerti kebiasaan Zubaida. Setelah membayar, perempuan itu bergegas menuju ke rumahnya. Sebuah rumah tua beradat joglo dengan halaman tertata rapi. Taman bunga tak seberapa luas menghampar. Tampak pagar apotik hidup berjejer teratur. Zubaida membuka pintu rumah. Terlihat seorang anak lelaki remaja tergolek pulas di ranjang kayu yang hanya beralaskan tikar. Ia melangkah ke dapur, kemudian menaruh gorengan yang dibelinya di atas piring dan meletakkannya di meja bundar dari kayu yang terlihat sudah lapuk. 

Perlahan ia melangkah dan mulai membangunkan anak lelaki itu. "Wan, bangun nak. Emak membeli pisang goreng dan ubi rebus, bangun dan makanlah dulu," ujarnya perlahan. Anak lelaki itu mengerjapkan kedua matanya. Ia memandang ke arah perempuan di tepi ranjang. Sebentar menguap. Sejurus kemudian ia telah berdiri lalu melangkah menuju ke meja kayu itu, untuk menyantap gorengan yang dibawa ibunya. Zubaida, perempuan itu tidak pernah menikah karena kesetiaannya pada janji suci dengan sang kekasih hati. 


Dan Wandi, bocah lelaki itu bukanlah darah dagingnya. Lima belas tahun lalu, Zubaida menemukan bayi mungil yang masih berlumuran darah teronggok di tempat sampah terbungkus handuk lusuh. Naluri keibuan dan rasa belas kasihan telah menggerakkan tangannya untuk mengambil sang bayi, kemudian merawat dan membesarkannya seperti anaknya sendiri. Toh, ia tak memiliki sanak keluarga. Kedua orang tuanya telah meninggal tatkala Zubaida masih belia. Ia adalah anak tunggal. Sedangkan keluarga dari ibu serta bapaknya tak ia ketahui sama sekali. Peristiwa kelam bangsa ini pada tahun 1965, telah merenggut masa lalu dan semua anggota keluarganya. 


Terkadang hatinya menjerit. Kenapa Tuhan selalu mengambil orang-orang terkasihnya. Ia selalu beranggapan, jika ini jalan takdir yang telah tertulis untuknya. Namun, ia merasakan arti kehidupan setelah menemukan anak lelaki itu. Setidaknya ia memiliki tumpuan dan harapan untuk melanjutkan kehidupan.
"Mak, tadi siang ada beberapa orang laki-laki berseragam kemari dan mereka meninggalkan surat untuk emak," anak lelaki itu berbicara sambil mulutnya mengunyah pisang goreng. Ia beranjak ke ranjang dan mengambil sebuah surat dari bawah bantal kumalnya. Lalu memberikan kepada perempuan yang dipanggilnya emak. Wajah Zubaida menjadi pias. Nafasnya memburu tatkala membacanya. Pandangannya beralih dari surat lalu ke wajah anak asuhnya. Wandi tampak bingung dengan perilaku sang ibu. Bulir-bulir bening menetes membasahi kedua pipi Zubaida.
"Ada apa mak? Kenapa menangis? Apa isi surat itu?" Tanya Wandi seraya memegang tangan emaknya.
"Kita harus pergi dari sini sekarang juga nak, sebelum mereka datang dan menangkap kita." Zubaida seperti tersadar. Lalu bergegas mengambil kain jarik untuk kemudian mengemas beberapa helai kebaya dan bajunya. Sedangkan Wandi ia suruh membawa tas ransel butut untuk tempat baju juga keperluan lainnya. Tanpa berkata apapun, ibu beranak itu segera berkemas. Kemudian pergi meninggalkan rumah mereka dengan bekal seadanya.

Malam semakin beranjak. Dingin dan pekat menemani langkah mereka. Di ujung jalan dekat perempatan, Zubaida menghentikan langkah. Ia mengajak sang anak untuk masuk ke halaman sebuah rumah. Perlahan sekali ia mengetuk pintu rumah itu.
"Siapa?" terdengar suara lelaki dari dalam.
"Pak Syarif, ini saya, Zubaida," dengan memegang erat bundelan kain jarik yang berisi bajunya, perempuan paruh baya itu melihat ke kanan-kiri, seolah-olah takut ada yang melihatnya. Pintu berderit. Tampak seorang lelaki paruh baya keluar sambil membawa lampu kecil di tangannya.
"Ada apa gerangan tengah malam begini bu Zubaida dan nak Wandi datang ke sini?" pak Syarif menatap keheranan ke arah mereka. Zubaida dengan gemetar menyerahkan surat di tangannya. Wajah pak Syarif terlihat pucat. Sekilas ia menatap perempuan di depannya.
"Kami harus pergi malam ini juga Pak Syarif. Kalau tidak, mereka pasti akan datang menangkap kami, seperti apa yang akan mereka lakukan dulu kepada Rahmadi," suara Zubaida tercekat. 

"Tapi saya tidak tahu kemana harus membawa Wandi di tengah malam buta begini. Saya tak punya satu pun saudara yang tinggal di kota ini," ia memandang ke arah anak asuhnya yang berdiri mematung, tak mengerti apa yang akan terjadi jika mereka tidak segera pergi. Pak Syarif terlihat berpikir. Lalu berkata, "pergilah ke rumah adikku di Kudus. Ceritakan semua padanya. Ia pasti bisa membantumu karena adikku juga seorang aktivis seperti Rahmadi."

Setelah memberikan alamat adiknya dan beberapa lembar uang ribuan untuk Zubaida, lelaki itu segera meminta mereka untuk bergegas meningggalkan kampung. Keesokan harinya, apa yang ditakutkan oleh Zubaida benar-benar terjadi. Beberapa orang berseragam, mendatangi dan mengobrak-abrik rumahnya. Beberapa tetangga dekat begitu ketakutan. Mereka hanya berdiam diri di dalam rumah. Begitu pun dengan pak Syarif yang hari itu sengaja tidak berjualan, agar terhindar dari interogasi orang-orang itu. 

***
Setahun berlalu. Tatkala terdengar kabar di koran dan televisi, rezim orde baru tumbang. Era reformasi telah tiba. Mereka yang dulu terberangus kebebasannya untuk melawan rezim itu, kini bangkit dan bersatu padu dengan para mahasiswa menuntut keadilan. Dan pada suatu siang yang terik, disela gegap gempita euforia reformasi, sesosok wanita paruh baya melangkah menenteng bungkusan kumal kain jarik. Di punggungnya tergantung sebuah tas ransel. Ia melangkah memasuki halaman rumah joglo yang dulu ditinggalkannya. Ia baringkan tubuh lelahnya di atas dipan kayu usang. Tak dipedulikannya keadaan rumah yang berantakan. 

Sinar mentari menerobos masuk lewat genteng yang kini silang menyilang tak beraturan. Mata tuanya terpejam. Namun, hati dan pikirannya melayang ke masa-masa yang telah dilaluinya. Malam di mana sang kekasih hati harus pergi meninggalkannya, karena kegiatan Rahmadi di sebuah organisasi buruh yang dicurigai pemerintah pada saat itu. Ia termasuk dalam daftar orang yang dicari karena memimpin pergerakan massa melakukan unjuk rasa yang mengancam kedudukan rezim orde baru. 

Sehari sebelum tertangkap, Rahmadi berpamitan akan berlayar dan mencari perlindungan di negeri seberang. Serta mengikrarkan sebuah janji untuk kembali dan membawakannya seikat bunga tulip putih. Namun, tak berbilang hari, minggu, bulan bahkan tahun, Rahmadi tak pernah kembali. Dan setahun yang lalu, sebuah surat dari orang-orang berseragam diterimanya. Mereka mencurigai Zubaida masih berhubungan dengan Rahmadi. Orang-orang itu meminta Zubaida untuk menyerahkan diri secara baik-baik. Karenanya, ia pun harus pergi meninggalkan kampung di tengah malam buta, bersama Wandi anak asuhnya. 


Namun malang, di tengah perjalanan ke rumah adik pak Syarif di Kudus, sebuah kereta telah merenggut nyawa remaja itu. Putus asa dan hilang harapan, Zubaida hidup menggelandang dari satu kota ke kota yang lain. Hingga tangan takdir membawanya kembali ke kampung halamannya. Mata perempuan itu mengerjab dan kristal bening mengalir membasahi pipinya. Nestapa merajai bilik hati. Di saat seperti itu, hanya satu yang bisa ia lakukan. Pergi ke pantai dan memandang ke laut lepas. Tetap berharap Rahmadi akan datang menepati janjinya.


Putaran kehidupan yang penuh liku dan asa tanpa ujung, seolah telah menjadi tali takdir yang harus ia jalani. Namun, Zubaida tetap dalam penantiannya. Jauh di lubuk hatinya telah terpatri sebuah nama yang membuatnya tegak bergeming laksana karang. Dari mulai perahu nelayan yang berlalu lalang, hingga kapal-kapal dagang yang perkasa di lautan, Zubaida menghitung tiap senja. Dan pantai pun tak pernah jengah dengan kesetiaan perempuan itu, yang masih menggantungkan harapannya bersama sampah yang berserakan. 
   ***
Mentari terus bergulir. Kutatap kembali sosok Zubaida. Ia masih duduk di tempat yang sama. Aku beranjak untuk menyapanya, namun kuurungkan niat dan berbalik arah menjauhinya. Kutinggalkan ia bersama siluet senja yang kian temaram menyambut malam.

Susana nisa
Cerpen ini terpilih sbg pemenang I Bilik Sastra Award, Voice of Indonesia 
RRI-Jakarta, 1 November 2015
Dan termuat di Harian Republika, 8 November 2015

Posted by Unknown 21.47.00 in

Sudah menjadi rahasia umum kalau para pembokat kelas kakap di negeri ‘Oem Andy Lau’ ini, selalu beronline ria selama 24 jam, full non stop (sambil nunjuk jidat sendiri, hahaha). Fasilitas internet yang lancar jaya dan kebutuhan informasi yang up to date, membuat para kungyan bergelar pahlawan devisa di Hong Kong selalu lengket dengan Hp mereka. Dari bangun tidur yang pertama kali di cari ya cell phone. Sampai jelang waktu istirahat di malam hari, si telpon genggam selalu ada di dekat mereka. Apalagi yang memiliki kekasih di dunia maya, waduh, cece jenis ini yang pastinya tak bisa berpisah meski hanya sedetik dengan sau da tinwa  mereka. Padahal jika mau sedikit saja berpikir secara jernih, cie…jernih? Air kali yah hehehe, sebenarnya yang diajak pacaran itu ya telpon genggam. Dengan beberapa aplikasi seperti wosep, line dan be be em, kata-kata mesra, flying kiss dan apalah lainnya, hanya sebatas tulisan dan imoji di layar HP. So, yang sejatinya diajak berkencan tiap hari selama bertahun-tahun, lagi-lagi ya si cell phone. Sebuah fenomena menyedihkan. Dan wabah seperti ini, sebenarnya adalah sebuah penyakit kronis yang menjangkiti setiap manusia di era membludaknya gajet-gajet canggih saat ini. Termasuk penulis dan kroni-kroninya hahaha.
Cerita kali ini berhubungan erat dengan hubungan simbiosis un-mutualisme antara seorang anak manusia yang merantau ke negeri seberang demi meraih mimpi dan harapannya dengan sebuah benda yang disebut sau da tinwa. Siapakah tokoh utama dalam cerita kali ini? Eng ing eng….tak lain dan tak bukan adalah salah satu sobit saya yang tahun depan memutuskan akan ber-good bye dan dha dha Hong kong selamanya. Sebut saja namanya Rani. Doski sudah mbalelo dan mbahureksa di Negeri Beton lebih dari satu dasawarsa. Selama rentang waktu tersebut, ia pun masih setia dengan sang arjuna yang selalu memberikan kehangatan dan semangat meski hanya lewat benda berwujud telpon genggam. Dari pagi, siang , sore, malam bahkan pagi lagi, Rani selalu memelototi telponnya. Jadilah kerja utamanya adalah bergingkai dan beronline ria. Untuk tugas negara seperti bersih-bersih rumah de el el, itu mah kerja sambilan hahaha.
Hari itu, 5 November 2015 pukul 9 pagi (yeileh kayak nulis diari saja ya pembaca hehehe), doski yang memiliki lopan super sibuk, sudah ongkang-ongkang kaki di dapur menikmati sarapan sembari wosep-an dengan arjuna wiwaha di jawa dwipa sana. Tuan, nyonyah dan momongannya telah berangkat menuju tempat tugas mereka. Jadilah Rani seorang diri di rumah majikannya. Tidak ada kamera pengawas atau cctv. Sehingga doski bebas untuk ber-apa saja semaunya. Lupakan dulu cucian yang menggunung. Piring, gelas dan peralatan makan yang  masih teronggok manis di meja makan. Baginya, hal utama adalah menyapa sang kekasih tercinta sambil sarapan. Rani nampak berhahaha hihihi sesekali bermuah-muah dengan wajah sumringah bersemu merah. Haduh alay banget yak? Padahal yang dimuahin juga telpon genggamnya buwahaha. Nah, disaat doski sedang asyik itulah, tanpa sadar tangan kirinya meraih sebuah gelas terlarang. Lalu tanpa melihat kearah gelas itu (ya iyalah.. kan matanya melototi Hp hihihi), ia segera saja meneguk minuman yang ada di dalamnya. Seteguk dua teguk, kok beda rasa dari kopi yang telah ia seduh digelasnya. Penasaran, ia pun mengalihkan pandangannya dari layar Hp ke gelas di tangan kirinya. Demi melihat apa yang ada di dalam gelas itu, Rani segera berhoek-hoek menuju wastafel dan membasuh mulutnya berkali kali. Ternyata oh ternyata saudara sekalian, gelas yang ia raih adalah milik Ndoro Putri dan masih ada sisa susu cair di dalamnya. Kalau sudah begini, namanya kuwalat atau karma ya? hahaha!

Susana Nisa
Artikel saya ini termuat di rubrik DKDC Koran Suara
Posted by Unknown 20.25.00 in

Setahun aku mengenalmu. Tepatnya di musim gugur tahun lalu. Seperti perkenalanku dengan kawan yang lain, begitupun denganmu. Tak ada yang beda. Semua mengalir apa adanya. Kita adalah sepasang hati retak yang dipertemukan keadaan untuk menjadi sebuah pelukan yang menguatkan. Mencipta tempat paling nyaman, ketika gejolak kehidupan bergelombang mengirim cobaan. Aku hanya seorang wanita dengan hati yang tertoreh luka. Mencoba mewujudkan harapan-harapan yang selama ini hanya bisa terangkum dalam doa-doa. Usiaku belum genap 23 tahun. Namun, di pasporku tertulis 26 tahun. Entah bagaimana para makelar tenaga kerja itu menyulapnya. Yang kutahu, pasti uang berbicara.

Kau juga seorang wanita biasa. Namun, keadaan yang merubahmu menjadi wanita setengah pria. Tomboy, itulah sebutan keren untuk kaummu. Ciri khasmu, jeans belel yang berlubang di sana-sini. Rantai panjang tergantung dari saku depan ke saku belakang. Dengan atasan kemeja putih lengan panjang khusus cowok, tak lupa rambut cepak klimis berbau minyak gatsby. Belum lagi sepatu merk nike warna merah dengan tali berbeda warna. Benar-benar menambah sempurna penampilanmu. Sekilas tak seorang pun mengira kau adalah wanita. Karena gerak dan langkahmu sepenuhnya nampak seperti lelaki tulen. Sejak pertama mengenalmu, ada sedikit rasa kagum dalam hatiku. Meski harus kuakui, hampir semua temanku kebanyakan anak tomboy, tapi belum pernah sekalipun aku jatuh cinta pada sesama jenis, seperti yang banyak terjadi dengan mereka. Sampai detik itu aku masih normal dalam makna harfiah. Aku masih tertarik pada  laki-laki tulen dan bukan lelaki jadian semacam dirimu.

Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Karena sebulan setelah perkenalan kita, kurasakan damai saat libur bersamamu. Satu perasaan yang hanya kurasakan saat aku bersama mantan kekasihku dulu. Sekuat tenaga kucoba melawan perasaan yang semakin lama menarikku untuk selalu melakukan komunikasi intens denganmu. Namun, aku tak kuasa. Kini, hari libur selalu aku lewatkan bersamamu. Hingga saat itu tiba. Kita sedang berdua di tepi pantai Stanley, kau ungkapkan rasamu.
“Kie, aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat. Aku ingin melewati setiap hariku dengan mu,” ucapmu bersungguh-sungguh.
Aku terkesiap dan merasa rikuh.
“Tapi Regha, aku belum yakin dengan perasaaanku padamu,” jawabku berterus terang.
“Aku tahu. Kau tak perlu menjawabnya sekarang.” Katamu lagi.
Lalu kau terdiam. Kulayangkan pandangan jauh ke tengah samudera. Hatiku bimbang.
“Haruskah aku menerimamu dan mengingkari kodratku sebagai seorang wanita yang harus menjadi pendamping pria?”
Usapan hangat dan lembut membuyarkan lamunanku, tatkala kusadari jemari Regha membelai punggung tanganku.
“Aku janji akan selalu ada saat kau membutuhkanku. Aku takkan pernah menyakitimu,” bisiknya mesra di telingaku.
“Beri aku waktu. Kau pasti mengerti ini tak mudah bagiku,” ucapku penuh keraguan.
Regha tidak menjawab. Hanya genggaman tangannya kurasakan semakin erat menggenggam jemariku. Desiran halus dan hangat perlahan menjalari kisi-kisi hati, yang hampir tiga tahun ini kubiarkan tertutup dan membeku. Temaram senja menemani kebersamaan kami, sebelum akhirnya  beranjak pergi ditelan gelap yang mulai merambat.

Selepas kejadian di pantai itu, kami menjadi sepasang kekasih. Panggilan kesayangan kami pun berubah. Bukan lagi Kie dan Gha, melainkan papa dan mama. Kami bagai remaja yang dimabuk cinta. Dunia seakan milik berdua. Tak lagi kupedulikan tatapan sinis teman-teman sesama pekerja migran, yang melihat kami mengumbar kemesraan di tempat umum. Dandananku berubah total. Aku yang tidak pernah mewarnai rambut, sekarang demi menyenangkan hati Regha, sengaja  memotong dan mewarnai rambut seperti para artis Hong Kong. Semua kulakukan untuk menyenangkan hati Regha.

Jatah bulanan untuk keluarga di kampung semakin berkurang. Karena hampir semua gaji, aku hambur-hamburkan untuk membeli baju, tas, dan sepatu. Parahnya, kini aku mulai keranjingan untuk selalu ke diskotik. Dengan Regha aku mulai mengenal dunianya. Tak ada sedih di sana. Hanya tawa dan hura-hura. Seperti minggu ini, kami nongkrong di sebuah diskotik di distrik Wan Chai. Di sinilah aku mengenal barang-barang haram yang perlahan mulai menggerogoti kekebalan tubuhku.
Cinta memang buta, bahkan terkadang gila. Tapi aku selalu menikmati saat bersama Regha. Bagiku, ia adalah pusat gravitasi gerak dan segala aktivitasku. Namun, layaknya sebuah kapal, ombak pun seringkali datang menghantam bahtera kami. Pertengkaran-pertengkaran kecil kerap kali mewarnai hubungan yang memang seharusnya tidak terjalin. Tetapi, kedewasaan Regha dan sifatku yang selalu mengalah, menjadi jembatan tanpa putus untuk melanjutkan hubungan ini. Hingga di satu Minggu pertengahan Juli, satu kejadian merubah arah hidupku.
***
“Kie, ini aku Okta. Kamu cepat ke sini. Regha...,” kata-kata Okta terputus.
“Regha kenapa?” Tanyaku gugup.
“Ia pingsan.” Dan telpon terputus.
Aku yang saat itu sedang mengantri untuk pengambilan paspor, tanpa pikir panjang dan menghiraukan petugas konsulat yang memanggil namaku, berlari menuruni tangga gedung. Tak kupedulikan umpatan mbak-mbak yang tanpa sengaja tertabrak olehku. Hanya Regha dalam pikiranku.

Kulambaikan tangan untuk menghentikan taksi yang lewat di depan gedung konsulat. Sebuah taksi berhenti. Dengan tergesa aku memasukinya. Lalu kutunjukan alamat yang tertera pada kartu undangan ulang tahun Okta. Tiba di tempat pesta ulang tahun Okta, segera kuangsurkan uang 50 dolar ke sopir taksi seraya membuka pintu. Setengah berlari aku menghambur masuk gedung. Dadaku sesak tak kuasa menahan air mata. Aku takut terjadi sesuatu pada Regha. Aku takut kehilangannya. Segera kutepis pikiran-pikiran itu. Kuyakinkan hati, bahwa Regha akan baik-baik saja.
Namun, apa yang  kulihat saat masuk ke tempat pesta Okta, telah meluluh lantakkan harapanku. Di depanku, Regha terkapar bersimbah darah di pangkuan Okta. Aku menjerit histeris dan menghambur ke arahnya.
“Pa, bangun, ini mama!” kata-kataku berhamburan disela isak tangis.
“Tenang Kie. Ambulan sedang menuju ke sini.” Okta mencoba menenangkanku.
“Apa sebenarnya yang terjadi, Ta?”
“Tadi setelah makan kue ultah, ia mengeluh pusing dan ingin muntah. Lalu tiba-tiba ia pingsan.” Okta menjelaskan.
“Tak berapa lama kemudian ia siuman dan beberapa kali muntah darah,” imbuhnya.
Selang beberapa saat terdengar suara sirine mendekat. Dalam waktu singkat, tiga petugas paramedis masuk ke ruangan dan segera bertindak untuk menolong Regha. Tubuh Regha direbahkan di atas tandu lalu dibawa masuk ke ambulan.
“We need 2 people to come with us!” salah satu petugas berkata kepada kami.
“We'll  come with you,” aku menjawab seraya menoleh ke arah Okta. Ia pun mengangguk.

Di dalam mobil bala penyelamat, beberapa kali Regha siuman. Ia kembali memuntahkan darah segar. Aku hanya terisak sambil menggenggam erat tangannya. Setiba di rumah sakit, mereka membawa Regha ke ruang gawat darurat. Kami dilarang masuk. Okta membimbingku menuju bangku di ruang tunggu. Dengan harap-harap cemas, kami menunggu hasil pemeriksaan dokter. Dua  puluh menit berlalu, seorang dokter keluar ruangan dan menghampiri kami. Ia mengabarkan, nyawa Regha tak dapat diselamatkan. Hatiku terasa kebas mendengarnya. Tubuhku luruh terkulai di lantai. Okta segera membopongku masuk ke ruangan tempat Regha menghembuskan nafas terakhirnya. Aku menjerit histeris seraya memeluk jasad Regha yang kini terbujur kaku. Okta berdiri mematung di sampingku. Terdengar samar-samar isak tangisnya.
“Kie, kamu harus tabah. Ikhlaskan Regha. Mungkin ini jalan yang terbaik baginya.” Suara Okta lirih di sela isak tangisku.
Aku tetap meratap. Air mataku tumpah tak  terbendung. Kurasakan dunia seolah runtuh. Apa arti hidupku tanpa Regha? Ia segalanya bagiku. Aku tak sanggup hidup tanpanya.
“Kie, kita pulang. Biarkan mereka yang mengurus jenazah Regha,” kembali Okta berbicara.
Di saat yang sama, kulihat beberapa petugas rumah sakit dan polisi masuk ke ruangan. Kami meninggalkan rumah sakit, setelah sebelumnya dimintai keterangan tentang identitas Regha dan apa yang telah terjadi. Setelah keterangan kami dianggap cukup, polisi membolehkan kami pulang serta mengembalikan semua barang-barang milik Regha, termasuk baju yang masih berlumuran darah.

Tiba di rumah majikan, mataku masih merah dan sembab. Kucoba menghapus sisa air mata yang terus meleleh dengan tisu. Kukeluarkan kunci rumah. Perlahan kubuka pintu. Tak ada orang didalam. Untung mereka tidak di rumah, gumamku pada diri sendiri. Sesaat setelah masuk rumah, aku bergegas menuju kamar mandi. Setelahnya, aku kembali masuk kamar. Aku berniat merebahkan diri, ketika pandanganku tertuju ke arah tas plastik warna merah yang teronggok di bawah meja. Hatiku terkesiap. Air mataku kembali menetes. Perlahan kuambil celana jeans dan kemeja putih yang kini berwarna merah terkena muntahan Regha tadi siang. Aku berniat mencucinya, saat tanpa sengaja tanganku menyentuh sesuatu di saku celana belakang milik Regha. Sebuah amplop berwarna biru muda, warna favoritku. Segera kuambil dan kubuka. Ada selembar kertas putih terlipat rapi. Sebuah surat. Dengan perasaan tak menentu, aku membukanya.

Sudut Rindu, 14 juli 2011
Teruntuk belahan jiwaku di wisma kedamaian,
Kie, entah kenapa, beberapa hari ini perasaanku tak enak sama sekali. Berulang kali aku bermimpi didatangi oleh almarhum bapak. Beliau seperti marah dan ingin mengajakku pulang dengannya. Sengaja aku tak memberitahumu, karena tak ingin membuatmu khawatir.
Kie, ada satu hal yang ingin kukatakan padamu tentang jati diriku. Aku terlahir dengan nama Sulastri. Statusku janda dengan seorang anak laki-laki berusia 9 tahun. Sengaja  aku mengubah jati diriku dan sepenuhnya berlagak menjadi seorang pria, karena aku ingin melupakan sakit hati pada mantan suami yang minggat dengan tetanggaku. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa laki-laki. Bertahun-tahun aku terperosok ke dalam dunia ini.

Sudah beberapa kali aku berganti pasangan sejenis. Namun, tak pernah bertahan lama. Karena hampir semua mantanku, hanya mengambil keuntungan dariku. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Saat itu, entahlah, ada satu perasaan yang membuatku yakin bahwa kau adalah belahan jiwaku. Dan ternyata itu benar. Karena denganmu, kurasakan kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Tetapi, beberapa hari terakhir, hatiku bimbang akan masa depan hubungan ini. Apalagi setelah berulang kali aku bermimpi didatangi almarhum bapak. Perasaan bersalah itu semakin dalam. Bayang anakku selalu hadir seolah memintaku untuk pulang. Dan malam ini, kubulatkan tekad untuk memutuskan hubungan kita. Aku harap, kau sudi memaafkan semua kesalahanku. Aku benar-benar rindu menjadi sosok Sulastri.

Kembalilah menjadi Kienan yang dulu, sebelum kau mengenalku. Ingat Kie, tak ada masa depan bagi cinta sesama wanita seperti kita. Masa depanmu masih terbentang panjang. Lupakan Regha. Aku ingin kau mengingatku sebagai mbak Lastri. Semoga Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk pulang dan mengampuni kita, aamiin.
Salam sayang selalu...
Sulastri

Air mataku kembali menetes. Ada perasaan kehilangan yang sangat menyusup dalam hatiku. Kulipat kembali surat Regha. Hampa, kosong, tanpa harapan itulah aku kini. Kata-kata Regha membayang dalam benakku. “Kembalilah menjadi Kienan yang dulu, sebelum kau mengenalku.” Aku gamang dengan hatiku. Tapi satu yang pasti, malam ini aku hanya ingin menangis.
***
Dua minggu berlalu. Jenazah Regha telah dipulangkan ke tanah air. Aku masih dengan duniaku. Dugem dan selalu teler. Aku ingin melupakan semuanya. Namun, semakin jauh masuk ke dunia itu, bukan ketenangan yang kudapat. Malah sebaliknya, aku bagaikan kapal tanpa kemudi yang berlayar diterpa ombak. Oleng dan hampir karam. Hari itu Minggu. Seperti biasa aku libur dan jadwalku tetap sama. Nongkrong bersama teman-teman lalu dugem di Wan Chai. Di sana kutenggak minuman keras bersama beberapa butir pil setan. Pikiranku melayang. Aku sejenak lupa dengan kesedihan yang melanda.

Pukul tiga, aku pamit keluar pada Okta dan lainnya. Okta melarang aku pergi sendirian. Ia memintaku untuk menunggu setengah jam lagi. Tapi aku menolak dan segera ke luar dari tempat itu. Langkahku terseok-seok. Kepalaku pening dan ingin muntah. Tapi aku berusaha tetap berjalan. Ketika tiba di depan jalan menuju masjid Amar di Wan Chai, kakiku secara reflek berbelok arah seperti tertarik medan magnet yang sangat kuat. Aku terus melangkah.
Dan saat tiba di depan masjid, sayup terdengar suara adzan Ashar yang membuatku disergap perasaan sepi nan indah. Sebuah rasa yang menyelusup ke dalam kalbu, membuatku terpaku dan melelehkan air mata. Panggilan sholat itu menghembuskan rasa hampa, seolah menyuruhku merenung. Aku cemas. Serasa akan mati esok pagi. Aku terpaku. Dan, ketika muadzin mendengungkan lafadz Hayya la shalaaah...
Aku berputar bagai kincir angin. Perutku naik memuntahkan seluruh makanan dan minuman haram dari lipatan-lipatan ususku. Aku terjerembab, limbung tak berdaya. Seakan tulang dan persendianku hancur dihantam palu godam. Air mataku berlinang tak terbendung. Aku merangkak-rangkak memohon ampun. Lalu gelap menyelimuti. Kucoba bergerak, namun tak mampu. Aku pasrah apabila ini adalah akhir hidupku. Tapi jauh di lubuk hati, aku memohon pada Tuhan, kiranya memberiku kesempatan untuk bertobat. Beberapa detik berlalu. Kurasakan angin sepoi membelai wajahku. Kucoba membuka kedua kelopak mataku. Semua tampak putih.

Susana Nisa
Cerpen ini termuat di Apakabar Plus
Februari 2016
Posted by Unknown 21.16.00 in

Jakarta-Sydney masih tiga jam lagi. Tapi lebih baik aku menunggu di bandara dan menulis sebuah notes atau sekedar puisi tanpa judul, daripada menenggelamkan lambungku dengan kafein. Jariku lincah menari di atas tuts-tuts tombol ipad hadiah ulang tahun darinya. Saat tiba-tiba sebuah pesan masuk di BBM ku.
"Kartika, kumohon balas smsku ini secepatnya. Aku membutuhkanmu sayang. Kumohon jangan pergi, aku sangat mencintaimu." Sedetik kemudian sebuah telpon masuk. Nomor yang baru saja mengirimkan pesan singkat tersebut, terpampang di layar BBM ku. Untuk beberapa saat aku hanya memandanginya. Ingin menjawab. Namun, segera kuurungkan niatku. Aku harus belajar mengekang diri dan melupakannya. Meskipun sebagian hatiku tak rela melepaskan dan berat untuk melangkah. Keadilan harus ditegakkan. Aku yang harus pergi dari kehidupannya. Telpon masih berdering. Aku bergeming. Membiarkannya lelah dan berharap ia benar-benar sadar bahwa kami tak mungkin bersama lagi.
***
Beberapa bulan yang lalu kami bertemu di sebuah gala dinner di Bandung. Aku hadir di sana mewakili perusahaan tempatku bekerja. Di tempat itulah untuk pertama kalinya, setelah lima tahun berpisah kami dipertemukan oleh tangan takdir. Ia tampak gagah dan tampan. Dan senyum khas itu, masih setia tersungging di bibirnya. Aku terkesima, tatkala ia dengan hangat menjabat tanganku. Pertemuan sesaat tanpa di sengaja, membuat kami kembali merajut jalinan benang kasih yang telah lama terpisah. Meski ia kini tak lagi sendiri. Telah ada seorang wanita dan dua jagoan kecil yang senantiasa menunggu kepulangannya. Namun, cinta dan nafsu telah membutakan nurani kami. Dari sekedar bertukar nomer pin BBM, berlanjut dengan kencan di hotel kemudian memuaskan diri untuk menikmati dunia malam.

Lima tahun yang lalu, aku bisa menerima ciumannya secara gratis setiap kali bertemu di malam minggu. Menikmati setiap detik-detik bersamanya tanpa dibayar. Hanya berbekal kata cinta atau isyarat suka sama suka. Karena saat itu kami masih sama-sama mahasiswa yang sedang kasmaran. Namun kini, semuanya berbeda. Akbar telah menikah dan ia telah menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan bonafit di ibukota. Aku sendiri, seorang sekretaris sekaligus asisten pribadi dari seorang direktur utama perusahaan yang bergerak di bidang properti. Pergaulanku dengan kalangan atas, membuat sikap dan gaya hidupku sangat borjouis. Uang di pertuhankan. Sikut kanan sikut kiri untuk mendapatkan kenaikan jabatan adalah hal biasa. Terkesan mewah, glamor dan fashionable adalah gaya hidupku saat ini. Baju, sepatu dan tas harus bermerk. Tempat tinggal pun harus di apartemen mewah. Semua itu sangat mudah aku dapatkan, karena kelihaianku memuaskan keinginan sang Big Bos.
Nuraniku sebagai seorang wanita mungkin telah mati. Karena aku tak peduli, meski harus merangkap tugas sebagai sekretaris juga sebagai wanita simpanan. Apa salahnya menikmati kemewahan, dari hasil jerih payahku memanfaatkan kecantikan dan kemolekan tubuh. Toh, aku tidak meminta status sah dari pak direktur. Karena aku sudah bahagia dengan segala kemewahan yang kumiliki. Namun, saat bertemu dengan Akbar, cinta pertamaku ketika masih kuliah dulu, rasa aneh menyusup ke dalam labirin hati. Tak dapat kupungkiri, rasa sayang itu masih ada. Meskipun pagar pembatas di antara kami nyata terlihat, tapi hasrat yang membuncah telah mengalahkan akal sehat kami berdua. Akbar pun tak ambil pusing, saat ia mengetahui bahwa aku adalah wanita simpanan direktur perusahaan di mana aku bekerja. Baginya, aku tetaplah Kartika yang dulu. Sang primadona kampus yang telah membuatnya bertekuk lutut dan menyerah tanpa syarat.

Pertemuan kami terencana dengan sangat rapi dan rahasia. Aku harus pandai mengatur waktu untuk melayani pak direktur. Karena dialah sumber kemewahanku. Sedangkan kepada Akbar, aku tak pernah meminta apapun yang memberatkannya. Karena apa yang kulakukan dengannya, adalah murni karena rasa cinta. Hingga pada suatu minggu sore, saat hanya sendirian di apartemen, seorang tamu tak di undang datang dan merubah pendirianku. Seorang wanita berjilbab dengan menggendong bayi dan menuntun seorang anak laki-laki, mengetuk pintu apartemen. Ucapan salam menyapa saat perlahan kubukakan pintu untuknya. Dengan ragu kujawab salamnya, karena dalam keseharianku, ucapan 'hai', 'halo' dan sejenisnya yang lebih akrab dan selalu aku gunakan untuk menyapa siapa saja.
"Anda Kartika?" tanyanya dengan sopan.
"Iya benar, ada yang bisa saya bantu?" jawabku seramah mungkin.
"Perkenalkan, saya Aisyah, istrinya mas Akbar!" wanita itu tersenyum sambil mengulurkan tangan.
Aku tertegun. Kedua mataku menatap lekat wanita di depanku. Anggun dan cantik dengan jilbab panjang warna biru muda, senada dengan gamis yang dia kenakan. Sekilas aku menatap ke arah bayi dalam gendongannya. Kemudian memperhatikan anak lelaki yang berusia sekitar enam tahun, menggenggam erat tangan wanita itu.
"Boleh kami masuk?" pertanyaannya mengagetkanku. Tak ada kata terucap dari bibirku. Hanya anggukan kepala dan gestur tubuh yang mempersilahkannya untuk masuk. Ia duduk di sofa panjang bersama putranya. Aku sendiri memilih untuk duduk di kursi yang menghadap ke pintu. Entah mengapa, aku merasa membutuhkan asupan oksigen lebih banyak. Hening beberapa saat, hingga bayi dalam gendongannya menangis. Namun, hanya sebentar. Karena wanita itu dengan lembut menepuk-nepuk pantat bayinya. Dan makhluk mungil berwajah manis bak malaikat itu tidur kembali.
"Anda mau minum apa?" kucoba berbasa-basi.
"Tidak usah repot-repot, saya datang kemari hanya ingin membicarakan tentang mas Akbar," jawabnya pelan.
"Saya tidak mengerti apa maksud anda?" tanyaku berpura-pura.
"Kartika, kita sama-sama perempuan. Saya sudah tahu tentang hubungan anda dengan suami saya," ia berhenti berkata dan menghela nafas.
"Saya hanya ingin kebahagiaan untuknya dan juga kedua anak kami," lanjutnya sambil memandang kedua buah hatinya. Hening beberapa saat, hingga suara bocah kecil di sebelahnya memecah kebisuan.
"Mama, Andi haus ma, katanya tadi mau dibelikan es krim, mana sekarang es krimnya?" ia merajuk.
"Andi sayang, es krimnya nanti mama belikan, sabar ya!" ucap wanita itu lembut sambil mengelus kepala putranya. Tanpa menunggu lama, aku segera berdiri dan melangkah ke dapur mengambil dua gelas air putih dan sebungkus es krim rasa coklat. Lalu kuberikan kepada bocah laki-laki itu. Mata kecilnya berbinar dan senyumnya, ya Tuhan, senyumnya benar-benar mirip Akbar.
"Terima kasih tante, Andi suka sekali es krim rasa coklat, papa juga suka kan ma?" tanyanya seraya menoleh ke wanita berjilbab biru di hadapanku. Wanita itu hanya tersenyum. Sebuah senyum yang dipaksakan.
"Kartika, apa anda benar-benar mencintai mas Akbar?" tanyanya memecah kebisuan diantara kami.
"Kalau iya, maka saya rela mas Akbar menikah dengan anda. Saya ikhlas berbagi suami, asal mas Akbar tidak menceraikan saya." Kata-katanya meluncur tanpa jeda. Meski seulas senyum tersungging di bibir merah mudanya yang alami tanpa sapuan lipstik, tapi dapat kulihat ada genangan di bening matanya yang teduh.
Dadaku bergemuruh. Bukan emosi yang kini bergejolak. Namun, serbuan rasa bersalah mengguncang kisi-kisi hatiku. Kupandangi bayi dalam gendongannya. Lalu beralih pada bocah lelaki di sebelahnya yang kini sibuk menikmati es krim, tanpa sadar akan apa yang terjadi. Aku mencoba menguatkan hati untuk tersenyum dan berkata, "Aisyah, maafkan saya karena telah masuk dan mengganggu ketentraman rumah tangga kalian. Tapi percayalah, mulai hari ini saya berjanji tidak akan menemui Akbar lagi. Dan saya akan pergi dari kehidupannya. Semoga rumah tangga kalian kembali tentram seperti semula." Kuulurkan tangan untuk menjabatnya. Aisyah menyambut dan menggenggam erat tanganku. Genangan di telaga beningnya, kini jatuh menjelma menjadi buliran kristal jernih di kedua pipinya.
"Terima kasih Kartika, semoga Yang Kuasa memberikan anda pendamping seorang lelaki yang terbaik dari sisiNya," ucapnya seraya tersenyum. Genggaman tangannya semakin erat. Aku membalas senyumannya dan sekali lagi kuyakinkan ia, bahwa aku akan pergi dari kehidupan Akbar untuk selamanya. Setelah itu ia pamit. Sebuah ucapan terima kasih kembali terucap dari bibirnya. Aku mengantarnya sampai pintu lift. Kemudian kembali ke dalam rumah setelah pintu lift yang membawa Aisyah beserta kedua buah hatinya tertutup.

Malamnya, saat Akbar datang ke apartemen, kami bertengkar hebat. Sengaja aku tidak mengatakan tentang kedatangan istri dan kedua putranya. Aku hanya mengatakan ingin mengakhiri hubungan kami dan memutuskan menerima tawaran dari bosku, untuk menghandle cabang perusahaannya yang ada di Batam. Sebuah kebohongan yang aku rencanakan untuk meninggalkannya. Akbar memintaku untuk tetap tinggal Jakarta. Ia berjanji akan memenuhi segala keinginanku, juga menikahiku. Kutolak semua tawarannya dengan mengatakan, bahwa selama ini aku hanya menjadikannya sebagai pelampiasan rasa kesepianku. Bahwa aku berpura-pura mencintainya.
Mata Akbar nanar menatapku. Sejurus kemudian tangannya dengan keras menampar pipiku. Tak siap dengan reaksi spontan Akbar, aku terhuyung dan jatuh terjerembab. Darah segar mengalir dari bibir dan hidungku. Tak ingin sesuatu lebih buruk terjadi, aku berlari dan masuk kamar lalu menguncinya. Di ruang tengah Akbar berteriak-teriak dan segala sumpah serapah keluar dari mulutnya. Terdengar suara pecahan kaca dan entah barang apalagi yang menjadi sasaran kemarahannya. Lalu, senyap menyeruak. Sedetik kemudian terdengar suara pintu tertutup. Aku masih terduduk di belakang pintu kamar. Tak kuhiraukan bercak darah yang masih terlihat basah di kemeja putih yang kupakai. Aku duduk terpekur. Untuk beberapa saat hanya diam, mencoba mengatur nafas dan kesadaran diri. Hingga tanpa sadar aku tertidur di lantai.

Keesokan paginya, setelah membersihkan diri dan mengepak beberapa helai baju yang kubutuhkan, segera kutelpon bagian lobi untuk memanggilkan taksi. Sepuluh menit berselang, taksi yang kuminta tiba. Setelah menitipkan kunci apartemen ke petugas di lobi dan mengatakan bahwa nanti akan ada temanku yang mengambil kunci tersebut, aku bergegas keluar dari gedung dan memasuki taksi yang telah menungguku. Selang beberapa saat, taksi telah melaju dan membelah keramaian kota.
***
Jariku masih sibuk menari di atas tuts-tuts ipad. Tak kuhiraukan BBM ku yang terus bergetar. Kulirik sekali lagi nomer yang masuk. Masih nomer yang sama, milik Akbar. Kuhela nafas perlahan. Lalu berjalan menuju gerbang pemberangkatan saat terdengar panggilan untuk para penumpang penerbangan Jakarta-Sydney. Telah kumantapkan hati untuk mengubur semua kisahku dengan Akbar. Karena sejatinya cinta adalah melepaskan, bukan mengekang dan merampas kebahagiaan wanita lain.

Susana Nisa
Termuat di Majalah Iqro
Posted by Unknown 19.58.00 in


Akhir musim semi tahun lalu, saya dan beberapa kawan berkesempatan untuk mengikuti sebuah workshop gratis di daerah Quarry Bay. Dalam ‘woro-woro’ yang disampaikan oleh tim pengkoordinasi di grup wosep, semua peserta tanpa terkecuali diharapkan datang sebelum pukul sebelas pagi. Sebuah ultimatum halus dan tersamar bagi saya yang memang terkenal dengan jam karet alias selalu telat bin molor. Entahlah, kenapa saya tidak bisa belajar dari kedisiplinan warga Hong Kong, yang selalu tepat waktu. Meski sudah satu abad lamanya saya bermukim di negeri ini (buwahaha, seabad jarene, lebay puuooll iki susan pancene), ciri khas sebagai ‘wong indo’ berjam karet, masih lekat menempel. Hal itu sering membuat saya di pleroki bala kurawa juga sobit sobat tercinta. Pasalnya, setiap janjian dengan mereka, saya selalu always tidak pernah never tepat waktu. Bahkan molor-nya bisa satu jam lebih hihihi.
Sekedar inpoh pembaca, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan kebiasaan telat tersebut. Tetapi, masih juga saya sering terlambat. Semisal, jika saya ada janji ketemu dg si anu, di situ, sekira pukul itu, maka hari minggu pagi saya bangun awal lalu ngrumati si mbah de el el. Saat si anu wosep, “San, dimana?” Saya membalas dengan mengirim emoticon  orang mandi. Padahal masih menjalankan tugas negara, memberi sarapan si nenek. Jika ia kirim wosep lagi, maka saya bilang, “nih, lagi OTW.” Sebenarnya barusan selesai mandi dan berbagai alasan lainnya, hahaha, cari alasan aja ini ceritanya. Saya kira bukan hanya aike yang sering kasih alasan begitu saat ada janji. Yah, kalo mau diadakan survei secara massal, yakin deh, dua pertiga dari penghuni jagat raya, sering menggunakan strategi tersebut. Masih di rumah, bilangnya ‘on the way nih, sepuluh menit lagi nyampai.’ Tapi sepuluh menitnya berubah jadi sejam hahaha.
Back to my story, kawans. Minggu pagi itu, saya sudah janjian dengan mbak Shepiah, salah satu sobit saya. Sejak pagi ia sudah wosep. Ndridil sisan (kirim pesan berulang kali). “San, jangan telat! San awas kalo kamu molor kali ini! Dan pesan senada sampai bosen saya membacanya. Namun, seperti biasa pula, saya tidak datang tepat waktu. Karena saat sampai di Quarry Bay, jarum jam sudah menunjuk angka sebelas lewat. Shepiah yang sudah menunggu hampir setengah jam di  MTR exit C tersebut, tampak memonyongkan bibir dan siap menyemprotkan segala uneg-unegnya. Kepada siapa? Ya, ofcourse tentu saja kepada saya donk. Karena satu dan lain hal saya benar-benar terlambat hari itu. Tak ingin mendengar ceramah doski yang selalunya bili bala bla bla bla, saya segera menyumpalkan headset ke telinga. Suara tante Celine Dion merdu mendayu, bersahutan dengan suara Shepiah yang riuh rendah. Singkat cerita, sampailah kami berdua di tempat yang dituju.
 Gedung tempat  galeri itu, berada tepat di samping tempat penyemayanan jenasah. Bau harum berbagai macam bunga menusuk hidung. Dengan ragu kami melangkahkan kaki  memasuki gedung tersebut. Bulu kuduk terasa merinding, saat kami membuka pintu gedung dan tidak menemui seorang penjaga pun di lantai dasar. Yang kami temui hanya meja jaga kosong. Tampak kotak merah tempat ‘paisan’ tepat di sebelah kanan lift. Shepiah mencengkeram lengan baju saya. Terlihat mulut doski komat-kamit membaca mantra buwahahaha….! Ojo tegang ker, santai saja hahaha! Meski ada sedikit rasa takut menyelinap dalam hati, saya merangsek menuju lift. Di belakang saya, Shepiah semakin cepat membaca doa-doa pengusir setan dan sebangsanya. Lift membawa kami menuju ke lantai 22. Tempat galeri seni berada.
Suasana teramat sepi. Tak ada orang sama sekali. Kami memberanikan diri untuk membuka pintu galeri. Tidak terkunci. Pandangan mata kami bersiborok saat melihat tata ruang yang terkesan spooky bin medeni. “San, yakin ini tempat workshopnya? Kok nggak ada orang di sini? Ih, serem deh suasananya. Kita turun, yuk!” rajuk Shepiah. Saya tak menghiraukannya. Langkah kaki saya beranjak ke sebuah pintu putih bertuliskan staff only. Asumsi saya, ruangan itu adalah kantor para staf atau pekerja di galeri tersebut. Tangan saya bergetar saat memutar gagang pintu. Dan, Masya Allah pembaca, apa yang ada di balik pintu tersebut membuat saya seketika ngakak. Karena ruangan bertuliskan staff only itu, ternyata adalah sebuah toilet. Shepiah yang sedari tadi njepiping (ketakutan-red) dan masih mencengkeram baju saya, ikut tertawa sampai lupa kalau kami masih berada di sebuah galeri seni yang medeni, hihihi.

Susana Nisa
Termuat di rubrik Ada2 Saja Apakabar plus
Februari 2016
Posted by Unknown 19.48.00 in

Jika anda penggemar aktor Bruce Lee, pastinya anda sangat hapal dengan senjata andalan bintang legendaris itu. Dua tongkat pendek yang dihubungkan dengan rantai atau tali, disebut 'Nunchaku'. Senjata yang berbahaya dan bisa membuat kepala benjol bahkan berdarah apabila digunakan secara serampangan. Bukan perkara mudah untuk bisa menggunakannya. Seorang pemilik nunchaku membutuhkan latihan yang intens dan cukup lama agar mampu memainkannya. Pastinya semua orang berpikir hanya kaum laki-laki yang mampu untuk melakukannya. Namun, pendapat itu segera terbantahkan oleh penampilan memukau seorang wanita yang bernama Anik Maslikah. Dia adalah seorang buruh migran Indonesia (BMI) asal Malang. Dia tidak hanya mampu menggerakkan dan memainkannya, tetapi Anik sangat lihai dan mahir untuk menggunakan senjata itu. Tentu saja hal itu bukan hasil latihan semalam. Kelincahan dan kecekatannya memainkan senjata mematikan itu, adalah hasil dari proses panjangnya mempelajari seni beladiri nunchaku. "Dengan selalu giat berlatih, fokus dan percaya pada kemampuan diri sendiri, pasti akan memudahkan kita untuk mempelajari suatu ilmu," ujar anik berbagi tipsnya.
Sosoknya yang kalem dan terkesan pendiam, bisa berubah garang saat berada di arena latihan. Baginya, keseriusan dan kesungguhan dalam berlatih yang akan membentuk karakter seorang seniman beladiri sejati. Tak hanya seni beladiri nunchaku, Anik pun menguasai beberapa seni beladiri lainnya. Tidak main-main, 3 jenis seni beladiri yang memiliki reputasi tinggi di mata dunia, hampir semuanya dia kuasai. Ketiganya adalah kung fu, taekwondo dan wushu. Bahkan berkat ketekunannya, BMI asal Malang itu berhasil mendapatkan medali emas pada pertandingan wushu bertaraf internasional. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan, karena lawan dalam pertandingan itu berasal dari berbagai negara.

Dulu Murid Sekarang Guru
Prestasi yang gemilang membuatnya semakin yakin bahwa seni beladiri adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupannya. Karenanya, Anik memberanikan diri  membuka kelas beladiri nunchaku, untuk siapa saja yang berminat mempelajarinya. Saat ditanya kenapa memilih membuka kelas nunchaku dan bukan seni beladiri lainnya, dengan diplomatis dia menjawab bahwa semua seni beladiri bagus untuk dipelajari. Jika saat ini dia memilih untuk membuka kelas dan mengajar nunchaku, hal itu dikarenakan dia merasa sudah mendalam dalam mempelajari ilmu beladiri itu. Mengajar dan menjadi seorang guru atau pelatih, membuatnya bisa mengenal banyak sifat dan karakter orang. Kegiatan itu, juga mampu membuatnya menjadi sosok yang telaten dan tanggap dengan batas kemampuan setiap individu. "Ada murid yang cepat bisa menyerap semua materi dan sangat tangkas, ada juga yang begitu lambat, sehingga saya harus benar-benar bersabar untuk mengajarinya," paparnya lagi. Dari kegiatan mengajar nunchaku itu pula, yang membuatnya terpilih menjadi duta nunchaku untuk wilayah Hong Kong. Dia mendapatkan kehormatan tersebut, langsung dari presiden direktur Indonesia Nunchaku Club (INC) yang berada di Jakarta. "Alhamdulillah saya diberi amanah yang semoga saja bermanfaat untuk bisa mengenalkan dan mengajarkan nunchaku pada siapapun yang ingin mempelajarinya," katanya sumringah.
Anik pantas bersyukur karena majikan mendukung semua kegiatan yang dilakukannya. Bahkan, sang majikan termasuk salah satu murid di kelas nunchaku tempat dia mengajar. Acungan jempol juga layak diberikan kepada perempuan bersemangat baja itu. Karena selain menguasai berbagai macam seni beladiri, dia juga mahir berbahasa inggris dan pandai menjahit. Dari ketrampilan menjahit, dia sering mendapat orderan baju dan gamis dari kawan sesama BMI lainnya. Sedangkan dengan kecakapannya berbahasa asing, membuatnya dipercaya oleh beberapa kawan dari majikannya untuk memberikan les privat kepada putra putri mereka. Sehingga dia mendapatkan tambahan penghasilan yang lumayan untuk menambah pundi-pundi dolarnya.
Selalu berpikir positif dan bersyukur dengan segala anugerah dari Tuhan adalah prinsip hidupnya. Dan menjadikan kritikan juga pujian sebagai cambuk untuk berusaha lebih baik dalam setiap apa yang dilakukannya. Dia pun berpesan pada semua kawan BMI untuk fokus pada apa yang telah dicita-citakan. "Jangan pedulikan pandangan negatif dari orang lain. Ini adalah hidup kita dan kita sendiri yang menjalaninya. Apapun kegiatan dan profesi yang saat ini sedang kita tekuni, pasti akan membuahkan hasil yang sempurna jika kita fokus dan benar-benar berusaha untuk mencapainya," ujarnya bersemangat.

Susana Nisa
Termuat di rubrik Feature Koran Suara
2 Juli 2014






Popular Posts

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Translate

Cari Blog ini

Search