Menulis adalah lentera di tengah badai kehidupan
Posted by Unknown 21.27.00 in


Bunga flamboyan berguguran di sepanjang jalan menuju taman kecil di belakang kampus. Sebuah taman tua yang tak terawat. Terkesan sedikit angker dengan pagar pembatas setinggi dua meter mengelilinginya. Wajar jika taman ini selalu sepi. Terkadang, hanya satu dua orang mahasiswa yang terlihat duduk di bangku-bangku taman berwarna coklat tua. 

Salah satunya adalah aku. Bagiku, menikmati warna merah dengan degradasi oranye yang indah menjuntai dari dahan-dahannya, adalah obat paling mujarab untuk melepas lelah. Apalagi saat minggu pertama kemunculan bunganya di bulan Oktober. Ketika cuaca cerah dan langit berwarna biru tanpa awan, bunga flamboyan yang berwarna merah jingga seolah menyala. Bak lukisan yang sempurna dengan latar belakang langit biru lazuardi. Namun, keindahan itu tak bertahan lama. Karena minggu berikutnya, warna bunga flamboyan mulai memudar. Dari merah jingga perlahan ke merah tua yang redup. Kemudian layu dan gugur menutupi tanah di sekitarnya. 

Langkahku berhenti tepat di bangku kayu, di bawah pohon flamboyan yang terletak di ujung taman. Tempat duduk kesukaan kami. Dulu, sebelum kepergiannya. Setiap sore, kami selalu bertemu di taman ini. Menghabiskan waktu berdua, sambil memandangi kelopak-kelopak merah yang perlahan luruh diterpa kesiur angin. Kami bercakap tentang apa saja. Tentang kuliah, keluarga dan impian kami. Suatu saat nanti, ketika musim telah berganti, kala kami sudah mampu untuk membalas budi kedua orang tua masing-masing, kami akan berikrar untuk mengikat janji sehidup semati. 
Di sini, di bawah ranting-ranting pohon flamboyan dengan kelopak merahnya yang berguguran menutupi tanah. Terbayang di pelupuk mata, aku mengenakan gaun pengantin putih. Dan ia dengan stelan jas hitam. Sekilas senyum tersungging di bibirku.

Hanya sesaat. Lalu hampa dan keheningan seolah merengkuhku. Disaat seperti ini, aku akan kesulitan bernafas lalu jatuh terduduk di bangku kayu itu. Tangan ringkihku memegang lengan coklatnya yang semakin rapuh. Aku megap-megap, berusaha menghirup oksigen untuk mengisi rongga dadaku. Beberapa saat berlalu, aku hanya terdiam. Membiarkan setiap inci hatiku membuka lembaran kenangan bersamanya. Perih menyayat kalbu. Tapi aku bergeming. Menikmati rintihan jiwaku yang berdarah mengenang setiap jengkal kisah kami. Aku tak punya pilihan lain. Hanya dengan ini aku mampu bertahan. Mungkin aku sakit. Tapi biarlah. Asalkan kepingan kenanganku tentangnya tetap utuh, tak berubah. 

Petang itu aku terlambat datang ke taman. Tugas kuliah yang menumpuk membuatku harus berada di kampus hingga sore. Hatiku cemas, khawatir kalau ia telah pulang. Namun, ia di sana. Duduk di bangku di ujung taman. Tak ada seorang pun bersamanya. Perhatiannya seolah terpusat pada buku di tangannya. Ia menoleh saat mendengar kecipak langkah kakiku. Seperti biasa, senyumnya terkembang menyambut kehadiranku.

“Kukira kau takkan datang, Dew,” ujarnya pelan.
“Maafkan aku karena membuatmu menunggu. Kau tidak marah, kan?” kataku sambil duduk disebelahnya.
Ia menggeleng. Meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Kutatap kedua mata elangnya. Ada mendung menggelayut di sana. Ia Mendesah. Kemudian bibirnya bergetar menceritakan beban yang ada di dalam hatinya. Genggamannya semakin erat. Seakan ingin menyatukan jemari kami. 

Ia berbicara dengan tatapan kosong. Aku pun hanya mampu termangu mendengar setiap kata yang meluncur dari bibirnya. Ia mengatakan, setelah prosesi wisuda kelulusan kami, ia harus segera kembali ke kampung halamannya di Sumatera. Kembali untuk menunaikan janji dan amanah mendiang sang ayah. Menikah dengan perempuan yang telah dijodohkan oleh keluarganya. Ia adalah satu-satunya anak lelaki yang akan meneruskan nama besar dan marga keluarga. Karena itu, untuk pemilihan pendamping hidup, mendiang ayahnya telah memilihkan seorang perempuan dari keluarga terpandang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Penolakan tak pernah ada dalam tradisi perjodohan semacam ini, meski ia seorang lelaki. Tanggung jawab moral kepada kedua orang tua dan keluarga besar, harus ia junjung tinggi. Walaupun kebahagiaannya yang menjadi taruhan.

“Maafkan aku Dew. Seharusnya aku berterus terang padamu sejak dulu tentang hal ini,” ucapnya dengan nada berat. 
Aku ingin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Kenapa? Mengapa? Tapi tak satupun kata terucap. Lidahku kelu. Bulir-bulir airmata luruh menggelincir dari kedua mataku. 
“Kau tidak akan membenciku, kan?” Nadanya semakin berat. 

Jemarinya perlahan mengusap pipiku yang basah oleh air mata. Aku menggeleng. Kucoba melawan desakan amarah, kesedihan dan sakit yang teramat sangat. Tiga tahun hubungan kami harus berakhir seperti ini. Hampir setengah windu, dan baru sekarang aku mengetahui jika lelaki yang kucintai, lelaki yang selalu mengisi hari-hariku, lelaki yang berbagi mimpi dan harapan tentang masa depan denganku, telah terikat janji dengan seorang perempuan di tanah kelahirannya. Seharusnya aku mengumpat, memaki atau bahkan menampar dan menendangnya. Namun, aku tak mampu. 

Pandang mata kami beradu. Kurasakan hawa hangat mengalir bersama desiran darahku. Entah siapa yang memulai. Yang kutahu, bibir kami bertemu. Saling memagut. Setelahnya kurasakan sensasi luar biasa. Nafas kami memburu. Ia semakin erat memelukku. Tubuh kami menyatu di keremangan senja di bawah naungan pohon flamboyan. Ia masih mendekapku, sesaat setelah momen berbagi kasih yang barusan terlewati. 

“Terima kasih Dew. Akan aku bawa kenangan ini sampai kapanpun.” Ia tersenyum. Sekilas, nampak ada kilatan merah di kedua matanya. Ia melempar pandangan ke depan, sehingga aku tak bisa menatap matanya. Ah, mungkin hanya refleksi dari bunga flamboyan, batinku. Aku membalas senyumnya. Menggamit lengannya yang menggandengku keluar dari taman. Kami menyusuri jalan kecil menuju halaman kampus. Ia tak banyak bercakap. Aku pun hanya diam. Mendekatkan kepalaku ke sisi lengannya. Gelisir angin menerbangkan daun-daun kering yang luruh di tanah.

Ia mengantarkanku sampai ke tempat kos yang terletak tak jauh dari kampus. Ia tersenyum, mengecup keningku dan membisikkan sesuatu di telingaku. Lalu ia berbalik arah, berjalan menyusuri jalan yang barusan kami lewati. Aku masih berdiri di depan pagar rumah kos. Berat rasanya kakiku melangkah. Entahlah, rasa sepi itu kian menjadi, manakala kulihat ia berjalan semakin menjauh. Seolah perpisahan ini untuk selamanya.

Dua hari setelah pertemuan kami di taman itu, ia sama sekali tak bisa dihubungi. Ponselnya tidak aktif. Ia juga tidak ke kampus. Saat kutanyakan kepada teman-temannya, tak seorang pun yang mengetahui. Salah seorang teman kosnya mengatakan, sejak dua hari yang lalu ia tidak kembali ke tempat kos. Otakku berputar mencerna informasi itu. Aku bertemu dengannya tepat di sore hari, dua hari yang lalu. Setelah kejadian di taman dan mengantar aku ke tempat kos, ia berjalan kembali menyusuri jalan kecil menuju ke taman. Tapi apa mungkin ia berada di taman selama dua hari ini? Untuk apa? Kenapa ia tak menjawab telpon dan membalas pesanku? Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalaku. 

Dengan seribu rasa penasaran dan harap cemas, aku bergegas menuju taman di belakang kampus. Sunyi. Tak ada siapapun di sana. Kakiku terus melangkah di atas luruhan bunga flamboyan yang semakin memerah. Semburat matahari senja menyusup diantara rimbun daun dan bunganya. Langkahku terhenti saat mataku menangkap pendar sinar berwarna jingga, di bawah pohon flamboyan terbesar yang ada di ujung taman. Ada rasa takut menyusup. Tapi rasa penasaran membuat kakiku bergerak maju. Mataku terbelalak saat aku berada dua meter dari pohon kokoh berkulit hitam mengkilat itu.

Di depanku, nampak seorang perempuan duduk bersimpuh di tanah. Rambut panjang jingganya terurai menutupi wajah seorang lelaki di pangkuannya. Ia menunduk. Jari jemari berkuku panjang dengan warna senada rambutnya, mengusap dada telanjang lelaki itu. Lalu, dengan satu hentakan kuat, kuku perempuan itu menembus dada lelaki di pangkuannya. Dan saat ia mengeluarkan tangan dari dada lelaki itu, terlihat segumpal daging berwarna merah pekat dalam genggamannya. Ia mendekatkan gumpalan daging itu ke mulutnya. Kemudian dengan rakus ia melahap gumpalan daging itu. Aku terbelalak melihat pemandangan mengerikan di hadapanku. Ketakutan melandaku. 

Rupanya perempuan itu mengetahui kehadiranku. Wajahnya terangkat dan melihat lurus kearahku. Rambut jingganya tersibak. Di saat yang sama aku bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu. Aku terkesiap. Mataku membelalak tak percaya dengan apa yang kulihat. Lelaki itu adalah Prasetyo, kekasihku. Tubuhku luruh, jatuh terduduk. Aku syok. Kakiku seolah menancap ke tanah. Sementara perempuan itu nyalang menatapku. Perlahan ia bangkit dan berjalan menghampiriku. Aku ingin berteriak, namun suaraku tercekat di tenggorokan. 

Ia semakin mendekat. Aku menggigil ketakutan melihat seringai liarnya. Tiba-tiba ia berhenti, tangannya terangkat dan menunjuk kearah perutku. Aku seolah membeku. Tak mampu bergerak sedikitpun. Dapat kurasakan angin berhembus di sekelilingku. Nampak perempuan itu mengibaskan rambutnya. Dan bunga-bunga yang berguguran di tanah berputar mengelilinginya. Lalu ia lenyap. Di kejauhan, samar terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Aku sempoyongan mencoba melangkah kearah tubuh Prasetyo yang tergeletak bersimbah darah. Kedua kakiku seolah tak bertulang. Tubuhku limbung jatuh terduduk di dekat jasadnya. Kurasakan pandanganku berkunang-kunang. Lalu gelap pekat menyelimuti.

Yang kutahu saat membuka mata, aku telah berada di bangsal rumah sakit. Sekujur tubuhku terasa ngilu. Ayesa, sahabatku, nampak tertidur di kursi sebelah ranjang tempatku terbaring. 
“Sa,” kucoba membangunkannya. Ia tergeragap dan membuka mata.
“Masya Allah, Alhamdulillah Dew, kamu sudah sadar.” Senyum yang menyiratkan rasa lega  terpancar di wajahnya. Tanpa aku minta, ia menceritakan kenapa aku sampai dirawat di rumah sakit. Karena hampir tengah malam aku belum kembali ke tempat kos, Ayesa meminta bantuan beberapa kawan untuk mencariku. Mereka menemukanku tergeletak tak sadarkan diri di bawah pohon flamboyan, di taman belakang kampus. Pakaianku dipenuhi bercak darah yang telah mengental. Panik dan khawatir dengan keadaanku, mereka segera membawaku ke rumah sakit. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Perlahan kesadaranku kembali utuh. 

“Lalu, bagaimana dengan Pras? Apa ia masih hidup? Ia tertolong? Di mana ia sekarang?” berondongku pada Ayesa. Sahabatku itu menatapku. Ia menghela nafas. 
“Kami tidak menemukan Pras di taman itu Dew. Di sana hanya ada kau yang terkapar pingsan. Sendirian, tak ada seorangpun. Dan sampai detik ini, tak ada kabar di mana ia berada.” Aku termangu. Sketsa kejadian di taman tergambar nyata. Wanita berambut jingga yang merobek dada Prasetyo. Lalu mengambil gumpalan hitam dari dalam dadanya kemudian memakan gumpalan itu. Tatapan liar dan seringai wanita itu, sebelum ia lenyap bersama luruhan bunga-bunga flamboyan. Aku ingat semuanya. Tapi kemana tubuh Pras? Apa ia masih hidup? Kepalaku serasa pecah mencoba menerka apa yang terjadi dengannya.

“Istirahatlah Dew. Dokter menyarankan agar selama dua sampai tiga hari ke depan, kau tinggal di rumah sakit. Tak usah kau pikirkan Prasetyo lagi. Pihak keluarga dan teman-temannya sudah melaporkan ke polisi jika ia menghilang sejak dua hari yang lalu. Kau istirahat saja untuk memulihkan kondisi tubuhmu,” kata Ayesa menenangkanku. 
Aku hanya mengangguk. Ingin kuceritakan tentang apa yang aku lihat di taman, namun, kuurungkan. Tak akan ada yang mempercayai ceritaku, batinku.  

Setelah kejadian di taman itu, tak ada lagi kabar tentang bagaimana dan di mana Prasetyo berada. Ia menghilang bagai di telan bumi. Sedangkan aku harus berjuang sendiri menghadapi kenyataan, jika kini aku mengandung benih dari lelaki yang kucintai. Tujuh bulan sudah usia janin dalam rahimku. Aku tetap mempertahankannya, meski pihak keluarga menentang dan menyuruhku untuk menggugurkannya. Beruntung pihak universitas tetap mengijinkanku untuk melanjutkan kuliah. Aku bergeming dan tidak peduli dengan anggapan teman ataupun beberapa dosen yang sering kali menyindirku. Menganggapku wanita murahan karena hamil di luar nikah. Walau terkadang, begitu lelah jiwa dan raga ini menjalani hari-hari tanpa kepastian. 

Hanya taman di belakang kampus inilah tempatku menenangkan diri. Mengenang setiap jumput kenangan tentangnya. Tentang mimpi kami. Kuusap perlahan perutku yang semakin membuncit. Kurasakan kehangatan di sana. Kucoba menutup mata, menghirup aroma bunga flamboyan yang diterbangkan angin senja. Tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan mengusap lembut pipiku. Dingin. Refleks mataku terbuka. 

Nampak seorang lelaki yang selama tujuh bulan ini menghilang, berdiri tepat di depanku. Wajahnya pucat. Matanya semerah darah. Tajam menatapku. Aku mengerjap. Tak percaya dengan apa yang kulihat. “Pras,” bibirku bergetar menyebut namanya. Ia mengalihkan pandangannya kearah perutku. Perlahan tangannya bergerak turun dan berhenti di sana. Kembali ia menatapku. Aku mengangguk, seolah menjawabnya. Ujung bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian. Seringai yang kukenal. Sebelum aku sempat mengumpulkan ceceran ingatanku tentang kejadian tujuh bulan lalu di taman ini, kurasakan tangannya yang sedingin balok es mencengkeram perutku. Aku terkesiap. Karena wajah Prasetyo perlahan berubah menjadi wajah perempuan berambut jingga.   

Choi Hung, 7 Februari 2017

Susana Nisa
Cerrpen ini termuat di Tabloid Apakabar plus
4 Maret 2017

Posted by Unknown 21.54.00 in


Oleh : Susana Nisa

Anak adalah amanah terbesar bagi kedua orang tua. Ia merupakan investasi abadi untuk kebahagiaan dunia dan akherat bagi bapak ibunya. Yang dimaksud investasi disini berkenaan dengan watak dan kepribadian anak yang bersangkutan, apakah ia termasuk anak yang baik, taat dan bakti kepada orang tua, atau malah sebaliknya. Seorang anak yang berbakti kepada orang tua, ia akan mengerti akan tanggung jawab dan kewajibannya terhadap keluarga dan ibu bapaknya, baik semasa mereka masih hidup maupun setelah meninggal.

 Karena tak ada lagi yang mampu menolong seseorang yang telah meninggal dunia, kecuali tiga perkara yaitu, ilmu yang bermanfaat, harta yang disedekahkan dan doa dari anak yang sholeh. Oleh karena itu, memiliki putra-putri yang berbakti adalah harapan setiap orang tua. Tentunya, hal itu dapat dicapai jikalau kedua orang tua mampu mendidik buah hati mereka dengan penuh kasih sayang dan mengajarkan kebaikan kepada mereka.

 Hal itulah yang membuat seorang ibu bernama Musyarofah, salah satu buruh migran Indonesia (BMI) Hong Kong, lebih mengutamakan pendidikan akhlak dan pribadi yang tangguh serta mandiri kepada kedua putra kembarnya, Muhammad Nikmal Anas Alhadi dan Muhammad Nikmal Anis Alhuda.



Perempuan lembut nan bersahaja yang akrab disapa ibu Afa ini mengatakan, bahwa kualitas waktu dan nasehat serta dukungan moralitas memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk watak dan kepribadian seorang anak. Apalagi dengan situasi seperti saat ini, dimana ibu yang merupakan madrasah utama untuk mendidik karakter sang buah hati, berada jauh di negeri seberang.

“Saya ini single parent, orang tua tunggal bagi kedua putra saya. Meski demikian, saya tidak pernah berkecil hati lalu menyerahkan pendidikan mereka kepada keluarga di rumah, dalam hal ini nenek mereka. Saya paham betul kapasitas ibu yang sudah berumur dan pastinya sangat menyayangi dan memanjakan mereka. Karenanya, sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk intens berkomunikasi dengan kedua anak kembar saya.
Memberikan nasehat, saran, pujian bahkan hukuman yang bersifat mendidik jika mereka melakukan kesalahan. Selalu saya tekankan kepada mereka untuk terus bersemangat mempelajari ilmu agama dan membaca Al Qur’an. Itu sebabnya, saya memasukkan mereka ke pondok pesantren di daerah Probolinggo. Hal itu saya lakukan, karena tidak ingin mereka terpengaruh oleh pergaulan yang tidak baik di daerah tempat tinggalnya.
Alhamdulillah, keduanya mengerti dan bisa menerima keinginan saya,” paparnya sumringah.

 Saat ini, ibu Afa dapat berbangga hati karena kedua putra kembarnya telah berhasil menjadi sosok yang ia harapkan. Si sulung, yang akrab dipanggil Hadi adalah mahasiswa di STAIN Jember, jurusan Tafsir Qur’an, sedangkan Huda si bungsu sedang menimba ilmu di Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an (PTIQ) Jakarta, jurusan Tarbiyah. Tidak hanya berhasil di bidang akademik umum, kedua putra bu Afa juga seorang santri di pondok pesantren Darul Qur’an, Kraksaan, Probolinggo. Bahkan keduanya adalah penghafal (hafidz) Al Qur’an. Suatu kombinasi prestasi yang membuat sang ibu begitu bersyukur dan bangga pada keduanya.

 “Sungguh karunia tak terhingga memiliki putra-putra seperti mereka. Saya sangat bersyukur diberi kelancaran untuk selalu mendidik mereka meski terpisah jarak, tapi kemudahan itu selalu ada. Inilah nikmat dari Allah swt, karena jika saat merantau di negeri beton ini saya hanya fokus mencari harta dengan mengabaikan pendidikan moral dan spiritual kedua putra saya, maka saat kembali menghadap-Nya, tak ada yang saya bawa selain kain kafan di badan. Namun, dengan apa yang telah dicapai oleh Hadi dan Huda, in syaa Allah mereka yang akan selalu mendoakan, ketika maut telah menjemput saya. Segala usaha untuk mendidik mereka, insya Allah termasuk ke dalam amal jariyah yang tidak putus pahalanya, meskipun saya sudah tiada,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.

 Ibu Afa juga berpesan, agar jangan terlalu memburu dunia dan harta sampai melalaikan keadaan psikis, akhlak dan batin anak-anak yang ditinggalkan di kampung halaman. Karena keberhasilan secara materi tiada guna sama sekali, jika buah hati tak memiliki tata karma, bahkan memiliki mental dan perilaku yang tidak terpuji. “Sekali lagi, anak kita adalah harta dan investasi berharga bagi orang tuanya. Maka berikan mereka dasar pendidikan agama yang sempurna, sehingga saat mereka dewasa tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan di sekitar yang kurang baik. Karena jiwa dan pribadi yang santun dan berbudi pekerti luhur, tentunya mampu menyaring setiap hal buruk yang ada di sekelilingnya,” pesannya pada sesama buruh migran di Hong Kong.


NB :
# Artikel ini adalah tulisan mentah saya, sebelum termuat di Koran Suara.

#Sedangkan Artikel yg sama milik saya dan tentunya sudah mengalami pengeditan oleh editor Koran Suara, telah termuat di rubrik Feature, Koran Suara pada Juli 2015

#Silahkan share dg mencantumkan nama penulis


Posted by Unknown 17.38.00 in

Di penghujung bulan Maret tahun ini, nampaknya musim enggan untuk beralih. Suhu udara masih dingin menggigit ditingkahi angin yang semriwing. Apakah hal itu dikarenakan oleh pemanasan global? Ataukah musim semi ditunda sampai tahun depan? Entahlah pembaca, Saya tak tahu jawabnya.

Yang pasti hari Minggu, 27 Maret lalu saya mendapat mandat dari bu Manager Ungu untuk menjadi salah satu tour guide dalam acara Indonesia Tour yang difasilitasi oleh sebuah LSM lokal. Tugas kami memandu tujuh mahasiswa dan seorang dosen dari the School of Contemporary Chinese Studies, University of Nottingham, UK, untuk berkeliling kawasan Viktoria Park dan sekitarnya. Bule-bule dari negeri pangeran Harry itu ingin mengetahui lebih dalam tentang kegiatan dan kondisi para pekerja migran dari Indonesia. 


Saya yang memang ngepan dengan para mahkluk bermata biru, tentunya bersuka cita, berbunga-bunga dan bahagia bagaikan menerima berkah dari santa hahaha. Hari Minggu tibalah, saya dan beberapa kawan yang telah mendapat mandat, berkumpul di café di belakang perpustakaan. Hati dag dig dug ser. Saya sama sekali tidak bisa fokus saat staf dari LSM menjelaskan tentang detail rencana touring nantinya. Yang ada dalam benak saya, sebentar lagi bisa mendengarkan secara langsung British Accent dari penduduk asli negeri yang memiliki bentuk pulau seperti tatakan kue sempret itu.

 Dan, waktu yang ditunggu tiba juga. Sang dosen bersama ketujuh mahasiswanya datang. Ternyata tidak semua Britons (sebutan untuk orang Inggris). Dua mahasiswa dari Cina, dua lagi dari Hong Kong, satu dari Bulgaria dan  dua yang menurut saya nampak seperti saudara kembar adalah Britons. Sedangkan sang dosen bernative Jerman. 

Sesi pertama adalah perkenalan. Saya yang semula relaks, menjadi  ndredeg, nervous bin grogi. Bahkan saya tidak mampu mendengar dengan jelas saat si mas-mas bule dan Hong Kongers menyebut nama mereka. Hanya dua mahasiswa cewek dari Cina yang saya dengar. Itupun setelah mereka mengulang untuk ketiga kalinya. Budeg kah saya? Ah, tidak juga. Ini kemungkinan hanya sebuah reaksi normal dari wabah ge-er. Demi mendengar suara mereka dengan bahasa Inggris yang empuk, lembut bagai beledu, ditingkahi tatapan cool dari si mas Bulgaria, aduh biyung…klepek deh rasa hati inyong hohoho. 

Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Sebagai seorang pembokat internasional dengan jadwal manggung lebih dari satu dekade buwahaha, saya segera bisa menguasai diri. Berlagak seolah tour guide profesional hehehe. Mungkin kalau bu manager Ungu membaca tulisan ini, ia pasti jingkrak-jingkrak pengin segera njitak saya hahaha. Biarlah, lewati saja dia wkwkwkwk.


Setelah semua siap, touring pun dimulai. Tujuan pertama adalah gedung konsulat. Disana kami menjelaskan tentang kondisi BMI keseluruhan mulai dari pemberangkatan hingga kondisi kerja di Hong Kong. Singkatnya ini itu bla bla bili bala. Dilanjut ke Sugar street lalu ke Indo Market untuk memperkenalkan makanan tradisional Indonesia. Disini kami berpasangan. Saya in pair dengan si Bulgari. Dan bu Ungu dengan bintang K-Pop Hong Kong. 

Mulailah kami menjelaskan tentang berbagai makanan yang ada di mini market itu. Di tengah percakapan, saya yang penasaran dengan nama si mas Bulgari, nyeletuk. “Sorry, what was your name again?” Oh, My name’s Vasio bla bla bla. Terlalu panjang dan sulit ngucapinnya pembaca. Yang jelas terdengar hanya Vasio. Karena saya terbiasa dengan bahasa Kantonis, maka Vasio di telinga saya berubah menjadi fatsiu. Ketika salah satu si mas Hong Kong mendengarnya, ia reflek menjawab jika nama Vasio sering kali diplesetkan fatsiu oleh mereka. Sedangkan Vasio, si cool bermata coklat dengan rambut segelap madu murni itu, hanya tersenyum saat saya bergumam, ganteng-ganteng ternyata fatsiu. hehehe.
Termuat di Tabloid Apakabar plus

Posted by Unknown 19.05.00 in

Bulan april 2015, buruh migran kembali berduka. Dua buruh migran Indonesia (BMI), yaitu Siti Zainab dan karni binti Medi Tarsim di hukum mati di Arab Saudi, tepat di bulan yang seharusnya menjadi lambang pembebasan kaum perempuan Indonesia dari ketertindasan. R.A Kartini yang berhasil mengangkat harkat dan martabat kaumnya melalui perjuangan panjang, pasti tidak pernah mengharapkan jika sepeninggalnya, para perempuan Indonesia mengalami penindasan dan ketidakadilan. Namun, kenyataan dan fakta yang ada saat ini, sungguh memprihatinkan. Kedua BMI tersebut di atas, adalah bukti nyata betapa perempuan Indonesia, khususnya buruh migran, sering kali bahkan selalu berada di posisi yang lemah. Terlebih dengan sikap pemerintah saat ini yang begitu lambat merespon setiap permasalahan yang berkaitan dengan buruh migran. Ruwetnya sistem birokrasi, kurang terjaminnya keselamatan para pahlawan devisa dan lemahnya advokasi di negara-negara penempatan, seolah menjadikan nasib buruh migran bagai segumpal kapas yang melayang tanpa arah.

Siti Zainab dan Karni binti Medi Tarsim, yang diesksekusi oleh pemerintah Arab Saudi dengan selang waktu hanya dua hari, bahkan tanpa pemberitahuan kepada pihak perwakilan pemerintah Indonesia di negara tersebut, sudah seharusnya menjadi tamparan yang menyadarkan para punggawa negeri. Terlepas dari apapun asas hukum yang berlaku dan dianut oleh negara bersangkutan, jika berbicara tentang nyawa seseorang, tentunya hal itu akan membuat siapapun yang memiliki nurani, tergugah untuk melakukan segala daya upaya dalam menyelamatkan dan melindungi warganya, yang saat ini sedang menunggu hukuman mati di berbagai negara penempatan. Sebagaimana kita ketahui bersama, Siti Zainab dari Bangkalan, Madura, divonis mati atas tuduhan membunuh istri majikan pada tahun 1999. Keputusan bebas atau hukuman mati terhadapnya, harus menunggu akil baligh anak majikan, yang di tahun 2015 ini, menolak untuk memaafkan Siti Zainab. Sehingga pada 14 April 2015, pukul 10 waktu setempat, pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan di Madinah. Sedangkan Karni binti Medi Tarsim, asal Brebes, jawa Tengah, harus meregang nyawa di ujung pedang sang algojo di penjara Yambu, pada 16 April 2015. Karni divonis membunuh anak majikan.

Jika ditilik dari kacamata awam, kasus yang menimpa kedua BMI tersebut tergolong kriminalitas tingkat tinggi. Karenanya, ada sebagian masyarakat beropini, jika hukuman mati adalah hal wajar, mengingat Arab Saudi menerapkan hukum Islam. Yang mana hutang darah harus dibayar dengan darah. Membunuh hukumannya juga dibunuh, dengan beberapa ketentuan untuk meringankan hukuman bahkan bisa terlepas dari vonis mati, seperti membayar uang diyat kepada keluarga korban dan pemberian maaf dari ahli warisnya. Namun, hendaknya kita, siapapun yang merasa manusia berbudi, menilai hal ini dari bilik hati dan pikiran jernih. Kenapa kedua BMI tersebut melakukan tindakan menghilangkan nyawa orang lain? Apakah hal yang mendasari, memicu dan membuat mereka berbuat nekad? Dari sini kita bisa menarik benang merah, yang saya yakin disebabkan oleh tindakan tidak manusiawi dari pengguna jasa mereka sebagai pembantu rumah tangga. 

Pekerja di ranah domestik sangat rentan mengalami penindasan, pelecehan seksual dan penyiksaan dari majikan mereka. Kewajiban tinggal, melayani dan harus bekerja tanpa mengenal batas waktu di rumah majikan, tentu sangat mempengaruhi kejiwaan dan psikis mereka. Tidak adanya hak libur dan tak memiliki akses keluar, apalagi jika majikan tidak baik bahkan memperlakukan pembantu seenak hatinya, tentunya hal itu akan menjadi tekanan batin bagi pembantu itu sendiri. Jika kondisi tersebut berulang-ulang terjadi, dapat dipastikan, rasa kesal, takut, kecewa, teraniaya dan tersiksa akan meledak saat yang bersangkutan tak mampu lagi menahan emosi mereka.

 Sesabar dan sependiam apapun, mereka pada satu waktu akan lepas kendali dan melakukan kesalahan, seperti kasus yang dialami oleh almarhumah Siti Zainab dan Karni. Apa yang mereka lakukan adalah dorongan emosi karena perlakuan majikan yang semena-mena. Karena pada dasarnya, niat mereka merantau ke negeri orang adalah untuk memperbaiki taraf hidup diri dan keluarga di kampung halaman. Jadi, situasi dan suasana tempat kerja serta perlakuan tidak baik dari majikan, yang memicu mereka untuk melakukan perbuatan nekad. 

Dan semoga pemerintah Indonesia, mulai bersikap tegas, kemudian mengambil langkah aktif untuk menyelamatkan lebih dari 200 buruh migran, yang saat ini terancam hukuman mati di beberapa negara penempatan. Karena buruh migran juga manusia. Mereka bukan hanya komoditas sebagai penghasil devisa selain migas. BMI memerlukan perlindungan dan pengayoman dari pemerintahnya. Tak hanya janji manis tanpa realisasi. Bukan hanya melobi negara pemberi hukuman mati, tetapi juga memberikan bantuan advokasi yang mumpuni. Semoga kedua almarhumah tenang di sisi-Nya, dan buruh migran yang saat ini sedang menunggu vonis mati, dapat diselamatkan. Aamiin.

Susana Nisa
Artikel ini termuat di Apakabar Plus
2015
Posted by Unknown 22.41.00 in
Februari 2016, saya berkesempatan untuk pulang kampung (cuti) ke tanah air selama 17 hari. Setelah hampir sewindu saya menahan kerinduan dan cinta untuk keluarga di rumah. Pasti pembaca bingung kan? Sewindu? Lama amir…eh lama amat San? Bukannya tiap 2 tahun kontrak berakhir, setiap TKI berhak mendapatkan cuti pulang kampung? Nah kamu, sewindu itu 8 tahun cyiinnn…ngapain tidak cuti heh? Well, katakanlah saya yang seorang jomblo berhati mulia hahay, kerasan numpang hidup, nginep, kerja, makan de el el di negeri mas Bosco wong ini. Gimana ga kerasan, coba? Alhamdulillah lopan super baik, pekerjaan simple dan internet 24 jam lancar juaya, meski saya terkadang harus bertengger di jendela kamar untuk mendapatkan sinyal, hahaha, gitu kok lancar San! Ya, iyalah lancar, cuman untuk loading video dan sebangsanya yang lemot. Sedangkan wosep, fesbuk mah lancar puol. Jadi sewindu terasa seminggu hehehe. 

Yah, inilah salah satu keuntungan kaum jomblo berhati mulia. Kagak ada yang angen-angen alias arep-arep. Nah ibu kamu? Oh ya, paling yang merindukan saya hanya emak tercinta. Yang semenjak saya merantau untuk kedua kalinya ke Negeri Beton 2009 lalu, selalu menanyakan kapan saya cuti pulang kampung? Dan berkali-kali pula saya memupuskan harapannya. Oh, insya Allah rioyo tahun ngarep mak e, begitu jawab saya. Sepurane ya mak (. Hingga 7 kali hari raya terlewati, saya belum juga mengambil cuti. 

Ada rasa bersalah sebenarnya, tapi Alhamdulillah, emak paham dengan sifat putrinya yang beda dengan gadis lainnya. Cie…special in every single thing...that’s me hahaha, kecap mah dimana-mana nomer 1, ya gak? Terus, brader brader kamoh? Mereka kagak miss you apa? Yei leh, mereka mah, ngomong kangen di telpon doang. Mereka paling risih kalo ayas di rumah. Kenapa? Karena saya adalah tipe seorang mbak yang cerewet puol! Dijamin mereka kagak bisa tidur pulas saat saya cuti. Hari-hari mereka bagaikan dalam penjara, karena saya menerapkan sistem militer di rumah. Rumah harus bersih, wangi dan tertata rapi. Tidak boleh ada handuk, gombal, baju atau apalah cemlentang sana sini. Everything must be tidy. Karena sikap saya itu, ketiga brader saya menyematkan nick name, Cino Hong Kong muleh, kalau saya ada di rumah, hahaha. Tapi saya tahu, mereka begitu menyayangi saya dengan cara mereka masing-masing. Kakak dan kedua adik saya, adalah oase yg tdk pernah kering. Mereka seperti air yg selalu menyejukkan setiap kali sifat ngambek, marah dan arogan saya kumat. For me, they are the best gift in my life. I feel fortunate to have them as my siblings.
 Mungkin mereka yg merasa nelongso memiliki saudara perempuan seperti saya. Wes cuueerewet, ngueyelan, nguamukan, buawel hhhh...bersabarlah brods, 'coz I love you all :-)

Sebagai anak perempuan satu-satunya, seharusnya saya memiliki hak mutlak untuk di sayang, dimanja dan dilindungi. Tetapi, seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa saya beda and nyleneh dari kebanyakan gadis lain. Karena itu, saya lebih senang merantau untuk merangkai, merajut dan mewujudkan semua impian yang ada di batok kepala saya. Jika gadis lain memakai high heels, maka saya lebih suka memakai sandal jepit. Jika cewek lain suka memoles wajah dengan make up dan bibir bergincu, saya sebaliknya. Wajah selalunya kumut-kumut, berminyak. Namun satu yang patut saya syukuri, bibir sensual dan sexy buwahhahaa, sensor! Sejak kecil tumbuh dengan ketiga saudara laki-laki, empat orang keponakan laki-laki, membuat saya berjiwa maskulin, eits…ojo suudzon ker, ayas mah normal, masih suka dengan lawan jenis atawa lelaki, buktinya? Sila cekidot akun fesbuk Susana Nisa dah, noh sana klik n cek, betapa aike tergila-gila dengan Hyun Bin (Binnie) oppa, Sarang hae, saranganta oppa mumumu:*


Jadi berjiwa maskulin dalam artian, memiliki semangat juang, tegar laksana karang, karena saya merasa terlahir sebagai seorang fighter and not a player. Hal itulah yang membuat saya betah berlama-lama hidup jauh dari sanak keluarga. Bukan tidak merindukan mereka, cuman ada beberapa hal yang cukuplah saya dan Maha Pemilik Cinta yang mengetahuinya, top secret!


Sekarang kembali ke topik awal sesuai judul yang saya tulis. Pengalaman transit pertama di Bandara Soetta, Cengkareng. Meski sejak 2003 saya sudah merantau ke negeri antah berantah, kemudian 2004 akhir saya pulang kampung. Lalu Mei 2005, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Negeri Bauhinia ini, dan 2009 awal saya pulang. September 2009 saya kembali mengepakkan sayap terbang ke langit Hong Kong hingga saat ini. Selama itu pula, saya tidak pernah melewati bandara Soekarno Hatta. Saya terbang ke negara tujuan dari bandara Juanda Surabaya dan hanya transit di Bandar Seri Begawan, Brunei. 

Jadi baru ngeh, paham tentang kondisi, rupa, wajah, dan paras bandara Soetta ya, saat cuti Februari lalu. Oh, bukan ding, November awal 2015, saya juga ke Jakarta dari Hong Kong, cuman ga transit lama di bandara. Karena saya dapat undangan spesial dari VOI-RRI, Jakarta. Pada Februari lalu, saya harus menginap selama hampir 9 jam di bandara Soetta. Penerbangan dari Bandara internasional Chek Lap Kok, Hong Kong pukul 5 sore. Sampai di Soetta, Cengkareng sekira pukul 10 malam. Setelah melewati imigrasi dan sebagainya, saya harus stranded atau terdampar di bandara semalaman. Sembilan jam di bandara itu nano-nano deh rasanya. Karena penerbangan domestik ke berbagai wilayah baru ada pagi harinya. 


Pada mulanya, saya sempat ketar-ketir. Worry tingkat dewa. Karena bayak yang udah berbagi pengalaman, jika TKI yang pulkam terus transit di bandara Soetta, ada yang mengalami penipuan, penjambretan, penculikan bahkan yang super syuuerem dibunuh. Nah loh! Setegar, seberani apapun seorang Susana Nisa, pastinya keder juga, bo! Halah, gitu katanya seorang fighter, hahaha, ternyata saya kalah sama kang Kadoor dalam pembuatan video di fesbuk, wooii...fokus San, ini nulis tentang transit bukan vlog lageeh! Oh haiwo, kembali ke laptop deh. Di sela rasa cemas, khawatir, tamsam or worry itu, saya meyakinkan pada diri sendiri, bahwa Yang Kuasa akan melindungi dan menjaga saya.

 Baca alfatehah, ayat qursy dan doa lainnya saya melangkah sambil menenteng tas bawaan (dua koper saya langsung masuk bagasi sejak dari Hong Kong, menuju Malang, jadi ga usah ribet ngurusinnya) menuju eskalator untuk naik ke lantai atas, tempat para penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke daerah masing-masing keesokan paginya. Bersama saya ada beberapa mbak-mbak BMI Hong Kong yang sebelumnya satu pesawat dengan saya. Alhamdulillah, mereka baik semuanya. Sesampai di lantai 2, telah menanti deretan bangku-bangku panjang yang bisa digunakan untuk tempat tidur sementara sampai esok pagi. Bangku-bangku yang beralih fungsi menjadi ranjang sementara para transiter, dipenuhi oleh TKI dari berbagai negara. Korea, Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Arab Saudi dan negara penempatan lainnya. 



Saya sarankan, saat di sini untuk mulai berhati-hati. Jangan terlalu akrab dengan teman yang baru kita kenal. Bukan suudzon atau berprasangka buruk, hanya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bawa dan dekap selalu tas yang berisi barang –barang berharga, seperti paspor, uang dll. Jangan pernah menitipkan barang kita atau menerima titipan dari teman sesama transiter. Sekali lagi demi keselamatan kita sendiri. Berbincang iya, saling menyapa boleh, tapi itu tadi, seperlunya dan secukupya saja. Toh, besok pagi kita sudah menuju kota masing-masing. Tapi kan, bisa nambah teman, jalin silaturahmi, San! Lah, tambah teman, silaturahmi gundulmu kuwi! Safety first girls. Keselamatan dulu yang diutamakan. Supaya transit aman, selamat dan lancar. 


Jadi, di satu malam di bulan Februari lalu, saya tidur di bangku ruang tunggu untuk penerbangan domestik, bandara Soetta. Keesokan paginya, sekira pukul 8.30, terdengar panggilan untuk para penumpang yang akan menuju Malang, Jatim dengan maskapai penerbangan Garuda. Saya hanya sempat menyapu ujung mata dengan tisu without gosok gigi, lalu bergud-bye ria dengan teman-teman sesama transiter. Lanjut menuju counter Garuda untuk check in. Alhamdulillah, tidur semalaman di bandara aman dan selamat. Mungkin saya terlalu paranoid dan terpengaruhi dengan cerita-cerita buruk tentang TKI yang transit di Soetta. Well, namanya juga baru pertama transit. Pake nunggu 9 jam mbak brow, opo ga jamuren rasane nok Bandara!

Sebenarnya saya bisa saja naik Chatay Pacific meski harga tiket mahal, toh si mbok juragan yang membelikan, dari Hong Kong langsung Juanda, Surabaya, no transit Jakarta. Cuman saya kasihan dengan big Brader yang harus menjemput saya ke Juanda malam hari lagi, dengan jarak tempuh malang-Surabaya 3-4 jam PP lagi, sepeda motoran pisan. Terus lagi pas masa cuti habis, big bro harus berangkat subuh dari malang ke surabaya utk ngantar saya, n pp lagi. Lak sakno ta! Lah ora nggowo mobil, San? Mobile nok dealer sek-an hahaha. Kan bisa nyewa jasa travel? Atau nyewa mobil, lalu sekeluarga menjemput di bandara? Haiisst…no way! Sejak dari Brunei dulu, sudah menjadi tradisi jika big bro yang pick me up dengan sepeda motor. Karena selalunya saya tidak mengabarkan kapan saya pulang. Hanya big bro yang tahu. Surprise geetooh! Sehingga Februari lalu saya memutuskan untuk menggunakan jasa penerbangan Garuda Airlines. Transit Jakarta dan baru esok paginya terbang ke Malang. 
Jarak rumah saya dengan bandara Abdulrahman Saleh hanya 30 menit, dengan mobil atau sepeda motor. Jadi, keputusan saya untuk transit Jakarta dilanjut terbang ke Malang, saya rasa keputusan yang wise dan memudahkan kakak dalam menjemput saya. Sekira 2 jam penerbangan dari Jakarta ke Malang, Alhamdulillah mendarat dengan selamat di bandara Abdurahman Saleh. 




Sebagai seorang aremanita, saya tersenyum bangga melihat sekeliling bandara tersebut. Suasananya bersih, sejuk, dan jauh dari kebisingan. Serasa berada di pegunungan, bukan di bandara. Dengan prosedur yang simple dan tidak terlalu rumit, saya mengambil 2 koper milik saya. Di depan pintu keluar, di tengah kerumunan para penumpang dan mereka yang menjemput sanak keluarga, teman ataupun handai taulan, di sana, big bro tidak sendirian. Ada putri sulungnya yang sudah setinggi saya, padahal waktu saya berangkat ke Hong Kong, gadis kecil itu masih berumur 7 tahun. Sekarang ia menjelma menjadi remaja cantik tinggi semampai. Big bro membantu membawa koper dan tas bawaan milik saya. Bertiga kami berjalan menuju pelataran parkir bandara. Kali ini, bukan sepeda motor yang menunggu, melainkan sebuah mobil bercat biru. Saya sedikit terkesima dan nyengir lebar, kenapa? Karena di badan mobil itu tertulis tiga huruf kapital dengan ukuran besar. LDG (landungsari-dinoyo-gadang), yup, si biru adalah mikrolet milik tetangga saya, buwahaha. Tapi bersyukur, karena penjemputan kali ini sudah ada peningkatan sarana transportasi dari sepeda motor ke mikrolet, hehehe. Saat langkah kami semakin dekat dengan si biru, nampak perempuan itu. Perempuan yang selalu mengharapkan kepulangan saya. Emak. Wajah itu, senyum itu, mata itu, semua masih sama. Hanya keriput mulai nampak nyata di dahi dan  matanya. “Na, muleh tenan awakmu nduk!” Tangannya merengkuh tubuh saya. Hampir delapan tahun, dekapan itulah yang selalu saya rindukan. Belaian tangan itu yang selalu saya impikan. Pandang kami beradu, senyumnya terkembang. Tak ada kata yang terucap. Jemari kami bertautan. Kristal bening perlahan jatuh menyusuri pipi keriputnya. Dekapannya semakin erat saat kami berada di dalam si biru yang bergerak perlahan meninggalkan bandara Abdurahman Saleh. “Wellcome Home, San!” Samar saya berbisik lirih pada diri sendiri. Emak masih menggenggam jemari saya. Senyum tipis terlukis di bibirnya. Dan si biru mulai melaju membelah keramaian kota Malang. 


Posted by Unknown 15.16.00 in

Pertengahan musim gugur tahun lalu, tepatnya bulan Oktober, saya berkesempatan untuk berkunjung ke kota Guang zhou, ibu kota provinsi Guangdong. Awalnya, saya berencana melakukan perjalanan ke sana hanya dengan seorang kawan yang hobi mbolang atau backpacking. 






Karena saya ingin merasakan sebuah penjelajahan yang penuh dengan tantangan. Saya ingin mengunjungi tempat-tempat yang tak dikunjungi turis, juga menelusuri jalur yang bukan jalur wisata. Namun, keinginan tersebut harus kandas di tengah jalan, dikarenakan masalah mendasar yang membentur, yaitu keterbatasan waktu dan dana. Sebagai pekerja di ranah domestik yang memiliki jadwal cuti tidak sebebas pekerja di sektor formal, saya harus rela untuk mengikuti paket hemat agen travel. Meskipun saya sadar sepenuhnya, bahwa melakukan perjalanan dengan cara ini hanya cocok untuk para pensiunan. Karena perjalanannya tak dapat disebut sebagai penjelajahan yang memiliki esensi petualangan. Jujur, saya tak berselera bepergian dengan agen travel yang umumnya dilakukan oleh rekan pribumi lainnya. Alasan yang utama adalah, karena mereka selalunya berkerumun, pelesiran duduk rapat-rapat sesama spesiesnya sendiri. Kelihatan betul mentalitas kolektivis dan komunalnya. Tak suka membaur dan indifferent, tak acuh dengan komunitas lainnya.



Namun, sebesar apapun keinginan mbolang dalam hati, semuanya tetap muskil tanpa sejumlah uang dan waktu yang cukup untuk bepergian. Sehingga dengan separuh hati, saya dan seorang kawan memutuskan untuk mengikuti paket hemat dari salah satu agen travel yang memberikan pelayanan cukup baik. Meski pada awal perjalanan sudah membuat ubun-ubun mendidih karena jadwal berkumpul di stasiun kereta Lo Wu, dilanjutkan berangkat dari Shenzhen sekira pukul delapan pagi harus mundur alias molor sampai hampir pukul Sembilan, disebabkan ada beberapa peserta yang datang terlambat. Tetapi syukur Alhamdulillah, keterlambatan mereka tidak begitu mempengaruhi jadwal tur pada saat itu. Sehingga sekira pukul sembilan pagi kami mulai menapaki daratan Cina. 




Setelah menempuh perjalanan panjang, lebih dari dua jam menggunakan bis travel, sampailah kami di makam Saad bin Abi Waqqas, salah satu sahabat dan paman Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah penyebar agama Islam pertama di negeri asal Mao Zedong tersebut. 




Area pemakaman yang dibangun mirip dengan kebun raya atau hutan lindung, terasa sangat menyejukkan. Dari gerbang pintu masuk kita akan disambut oleh rindangnya berbagai macam pohon perdu, bunga dan tanaman lain yang membuat suasana sangat nyaman. 








Jalan  berpaving yang dapat dilalui oleh dua atau tiga orang, membujur sepanjang pintu masuk sampai ke area pemakaman. Memasuki areal pemakaman, terdapat sebuah gazebo atau bangunan mirip dengan pendopo kalau di Jawa. Di sekeliling bangunan itu terdapat musholla khusus wanita, juga sebuah rumah yang diyakini sebagai tempat pertemuan majelis pada masa hidup Sayidina Saad bin Abi Waqqas dan para sahabat-sahabat beliau. 








Terdapat pula sebuah sumur, Shabbi Well yang digali sejak 1300 tahun lalu semasa Saad bin Abi Waqqas hidup, dan masih mengalirkan airnya yang sangat jernih hingga saat ini. Banyak dari para penziarah yang mengambil air dari sumur itu, baik langsung diminum di tempat maupun mengisi beberapa botol air untuk dibawa pulang. Karena kemurnian dan khasiat dari air sumur dipercaya mampu mengobati berbagai macam penyakit. Namun, semua tak lepas dari izin Allah, Tuhan yang Maha menyembuhkan.






Setelah mengunjungi beberapa bangunan bersejarah, para pengunjung bisa langsung masuk ke area pusara sahabat nabi, Saad bin Abi Waqqas. Aroma wewangian bunga dan dupa menyeruak seolah menyambut kedatangan para penziarah. Di tempat peristirahatan terakhir sahabat nabi itu, ritual yang sering dilakukan adalah bersama-sama mendoakan arwah beliau sekaligus ‘ngalap berkah’. Setiap para penziarah berharap, semoga keberkahan yang dimiliki oleh almarhum Sayidina Saad bin Abi Waqqas, juga menular kepada mereka.  















Masjid Tertua, Huaisheng



Warga Tiongkok mayoritas tidak beragama karena negara menganut paham komunis yang tentunya tidak ber-Tuhan atau atheis. Namun, fakta yang menakjubkan adalah bahwa agama Islam berkembang di negeri Cina sejak abad ke-7. Salah satu saksi penyebaran Islam di negeri Tirai Bambu, khususnya Guang Zhou adalah masjid Huaisheng yang bangunan fisiknya mirip kuil dan berasitektur khas Cina. 


 g


Huaisheng adalah salah satu masjid tertua di Cina. Dibangun pada tahun 627, saat itu negara diperintah oleh Dinasti Tang (618-907). Masjid ini dibangun oleh paman Nabi Muhammad, Abi Waqqas pada masa pertamanya penyebaran agama Islam. Huaisheng sendiri bermakna ‘mengingat orang bijak’ yang mengacu kepada pribadi dan sosok nabi Muhammad SAW. 
Disalah satu gerbangnya terdapat sebuah tulisan Cina yang berbunyi ‘agama yang menjunjung tinggi ajaran yang dibawa dari wilayah barat’. 



t





 


Masjid dengan luas 2.966 meter persegi ini memiliki sebuah menara yang mirip mercusuar setinggi 36 meter. Pada masanya, menara ini digunakan untuk menyinari lalu lintas kapal di sungai Zhujiang. Kendati masjidnya menganut arsitektur khas Dinasti Tang, desain menaranya banyak dipengaruhi oleh arsitektur Arab.



 





 Ruang shalatnya dibangun kembali pada tahun 1935 dengan mihrab berbentuk setengah lingkaran, berada menjorok ke luar daripada shaf shalat. 









Masjid ini juga dikenal dengan beberapa nama, diantaranya masjid Hwai Sun Su, Huai-Sheng, Huai-Shang dan Huai-Shang Si. Juga ada yang menyebutnya dengan masjid Agung Canton dan masjid Ying Tong. Para sopir taksi di sana menyebut masjid ini dengan sebutan Muslim Temple. Masjid yang berada di kawasan Guanta-Lu (Guangta Road) No. 56, Yuexiu District, Guang Zhou, disekitarnya terdapat banyak pertokoan yang menjual berbagai macam makanan halal dan oleh-oleh khas hasil kerajinan tangan dari warga muslim di daerah tersebut. 









Karena waktu berkunjung ke makam Saad bin Abi Waqqas saya menggunakan jasa travel, dimana setelah naik KCR (light railway) dan turun di stasiun Lowu, saya segera bergabung dengan rombongan. Jadi setelah melewati imigrasi, kami semua naik bis travel yang telah menunggu kami di terminal area dekat dengan stasiun kereta di Shen Zen. Dan dengan bis itulah kami menuju Guang Zhou dengan tujuan pertama makam sahabat nabi, Saad Abi Waqqas kemudian ke masjid Huai-Sheng selanjutnya makan siang dan membeli oleh-oleh, lalu kembali ke Hong Kong. Jadi untuk jalur transportasi umum, sila tanya mbah gugel, hehehe!

Susana Nisa
Artikel ini termuat di Koran Suara
Rubrik Feature, 2015

Popular Posts

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Translate

Cari Blog ini

Search