Menulis adalah lentera di tengah badai kehidupan
Posted by Unknown 21.47.00 in

Sudah menjadi rahasia umum kalau para pembokat kelas kakap di negeri ‘Oem Andy Lau’ ini, selalu beronline ria selama 24 jam, full non stop (sambil nunjuk jidat sendiri, hahaha). Fasilitas internet yang lancar jaya dan kebutuhan informasi yang up to date, membuat para kungyan bergelar pahlawan devisa di Hong Kong selalu lengket dengan Hp mereka. Dari bangun tidur yang pertama kali di cari ya cell phone. Sampai jelang waktu istirahat di malam hari, si telpon genggam selalu ada di dekat mereka. Apalagi yang memiliki kekasih di dunia maya, waduh, cece jenis ini yang pastinya tak bisa berpisah meski hanya sedetik dengan sau da tinwa  mereka. Padahal jika mau sedikit saja berpikir secara jernih, cie…jernih? Air kali yah hehehe, sebenarnya yang diajak pacaran itu ya telpon genggam. Dengan beberapa aplikasi seperti wosep, line dan be be em, kata-kata mesra, flying kiss dan apalah lainnya, hanya sebatas tulisan dan imoji di layar HP. So, yang sejatinya diajak berkencan tiap hari selama bertahun-tahun, lagi-lagi ya si cell phone. Sebuah fenomena menyedihkan. Dan wabah seperti ini, sebenarnya adalah sebuah penyakit kronis yang menjangkiti setiap manusia di era membludaknya gajet-gajet canggih saat ini. Termasuk penulis dan kroni-kroninya hahaha.
Cerita kali ini berhubungan erat dengan hubungan simbiosis un-mutualisme antara seorang anak manusia yang merantau ke negeri seberang demi meraih mimpi dan harapannya dengan sebuah benda yang disebut sau da tinwa. Siapakah tokoh utama dalam cerita kali ini? Eng ing eng….tak lain dan tak bukan adalah salah satu sobit saya yang tahun depan memutuskan akan ber-good bye dan dha dha Hong kong selamanya. Sebut saja namanya Rani. Doski sudah mbalelo dan mbahureksa di Negeri Beton lebih dari satu dasawarsa. Selama rentang waktu tersebut, ia pun masih setia dengan sang arjuna yang selalu memberikan kehangatan dan semangat meski hanya lewat benda berwujud telpon genggam. Dari pagi, siang , sore, malam bahkan pagi lagi, Rani selalu memelototi telponnya. Jadilah kerja utamanya adalah bergingkai dan beronline ria. Untuk tugas negara seperti bersih-bersih rumah de el el, itu mah kerja sambilan hahaha.
Hari itu, 5 November 2015 pukul 9 pagi (yeileh kayak nulis diari saja ya pembaca hehehe), doski yang memiliki lopan super sibuk, sudah ongkang-ongkang kaki di dapur menikmati sarapan sembari wosep-an dengan arjuna wiwaha di jawa dwipa sana. Tuan, nyonyah dan momongannya telah berangkat menuju tempat tugas mereka. Jadilah Rani seorang diri di rumah majikannya. Tidak ada kamera pengawas atau cctv. Sehingga doski bebas untuk ber-apa saja semaunya. Lupakan dulu cucian yang menggunung. Piring, gelas dan peralatan makan yang  masih teronggok manis di meja makan. Baginya, hal utama adalah menyapa sang kekasih tercinta sambil sarapan. Rani nampak berhahaha hihihi sesekali bermuah-muah dengan wajah sumringah bersemu merah. Haduh alay banget yak? Padahal yang dimuahin juga telpon genggamnya buwahaha. Nah, disaat doski sedang asyik itulah, tanpa sadar tangan kirinya meraih sebuah gelas terlarang. Lalu tanpa melihat kearah gelas itu (ya iyalah.. kan matanya melototi Hp hihihi), ia segera saja meneguk minuman yang ada di dalamnya. Seteguk dua teguk, kok beda rasa dari kopi yang telah ia seduh digelasnya. Penasaran, ia pun mengalihkan pandangannya dari layar Hp ke gelas di tangan kirinya. Demi melihat apa yang ada di dalam gelas itu, Rani segera berhoek-hoek menuju wastafel dan membasuh mulutnya berkali kali. Ternyata oh ternyata saudara sekalian, gelas yang ia raih adalah milik Ndoro Putri dan masih ada sisa susu cair di dalamnya. Kalau sudah begini, namanya kuwalat atau karma ya? hahaha!

Susana Nisa
Artikel saya ini termuat di rubrik DKDC Koran Suara
Posted by Unknown 20.25.00 in

Setahun aku mengenalmu. Tepatnya di musim gugur tahun lalu. Seperti perkenalanku dengan kawan yang lain, begitupun denganmu. Tak ada yang beda. Semua mengalir apa adanya. Kita adalah sepasang hati retak yang dipertemukan keadaan untuk menjadi sebuah pelukan yang menguatkan. Mencipta tempat paling nyaman, ketika gejolak kehidupan bergelombang mengirim cobaan. Aku hanya seorang wanita dengan hati yang tertoreh luka. Mencoba mewujudkan harapan-harapan yang selama ini hanya bisa terangkum dalam doa-doa. Usiaku belum genap 23 tahun. Namun, di pasporku tertulis 26 tahun. Entah bagaimana para makelar tenaga kerja itu menyulapnya. Yang kutahu, pasti uang berbicara.

Kau juga seorang wanita biasa. Namun, keadaan yang merubahmu menjadi wanita setengah pria. Tomboy, itulah sebutan keren untuk kaummu. Ciri khasmu, jeans belel yang berlubang di sana-sini. Rantai panjang tergantung dari saku depan ke saku belakang. Dengan atasan kemeja putih lengan panjang khusus cowok, tak lupa rambut cepak klimis berbau minyak gatsby. Belum lagi sepatu merk nike warna merah dengan tali berbeda warna. Benar-benar menambah sempurna penampilanmu. Sekilas tak seorang pun mengira kau adalah wanita. Karena gerak dan langkahmu sepenuhnya nampak seperti lelaki tulen. Sejak pertama mengenalmu, ada sedikit rasa kagum dalam hatiku. Meski harus kuakui, hampir semua temanku kebanyakan anak tomboy, tapi belum pernah sekalipun aku jatuh cinta pada sesama jenis, seperti yang banyak terjadi dengan mereka. Sampai detik itu aku masih normal dalam makna harfiah. Aku masih tertarik pada  laki-laki tulen dan bukan lelaki jadian semacam dirimu.

Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Karena sebulan setelah perkenalan kita, kurasakan damai saat libur bersamamu. Satu perasaan yang hanya kurasakan saat aku bersama mantan kekasihku dulu. Sekuat tenaga kucoba melawan perasaan yang semakin lama menarikku untuk selalu melakukan komunikasi intens denganmu. Namun, aku tak kuasa. Kini, hari libur selalu aku lewatkan bersamamu. Hingga saat itu tiba. Kita sedang berdua di tepi pantai Stanley, kau ungkapkan rasamu.
“Kie, aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat. Aku ingin melewati setiap hariku dengan mu,” ucapmu bersungguh-sungguh.
Aku terkesiap dan merasa rikuh.
“Tapi Regha, aku belum yakin dengan perasaaanku padamu,” jawabku berterus terang.
“Aku tahu. Kau tak perlu menjawabnya sekarang.” Katamu lagi.
Lalu kau terdiam. Kulayangkan pandangan jauh ke tengah samudera. Hatiku bimbang.
“Haruskah aku menerimamu dan mengingkari kodratku sebagai seorang wanita yang harus menjadi pendamping pria?”
Usapan hangat dan lembut membuyarkan lamunanku, tatkala kusadari jemari Regha membelai punggung tanganku.
“Aku janji akan selalu ada saat kau membutuhkanku. Aku takkan pernah menyakitimu,” bisiknya mesra di telingaku.
“Beri aku waktu. Kau pasti mengerti ini tak mudah bagiku,” ucapku penuh keraguan.
Regha tidak menjawab. Hanya genggaman tangannya kurasakan semakin erat menggenggam jemariku. Desiran halus dan hangat perlahan menjalari kisi-kisi hati, yang hampir tiga tahun ini kubiarkan tertutup dan membeku. Temaram senja menemani kebersamaan kami, sebelum akhirnya  beranjak pergi ditelan gelap yang mulai merambat.

Selepas kejadian di pantai itu, kami menjadi sepasang kekasih. Panggilan kesayangan kami pun berubah. Bukan lagi Kie dan Gha, melainkan papa dan mama. Kami bagai remaja yang dimabuk cinta. Dunia seakan milik berdua. Tak lagi kupedulikan tatapan sinis teman-teman sesama pekerja migran, yang melihat kami mengumbar kemesraan di tempat umum. Dandananku berubah total. Aku yang tidak pernah mewarnai rambut, sekarang demi menyenangkan hati Regha, sengaja  memotong dan mewarnai rambut seperti para artis Hong Kong. Semua kulakukan untuk menyenangkan hati Regha.

Jatah bulanan untuk keluarga di kampung semakin berkurang. Karena hampir semua gaji, aku hambur-hamburkan untuk membeli baju, tas, dan sepatu. Parahnya, kini aku mulai keranjingan untuk selalu ke diskotik. Dengan Regha aku mulai mengenal dunianya. Tak ada sedih di sana. Hanya tawa dan hura-hura. Seperti minggu ini, kami nongkrong di sebuah diskotik di distrik Wan Chai. Di sinilah aku mengenal barang-barang haram yang perlahan mulai menggerogoti kekebalan tubuhku.
Cinta memang buta, bahkan terkadang gila. Tapi aku selalu menikmati saat bersama Regha. Bagiku, ia adalah pusat gravitasi gerak dan segala aktivitasku. Namun, layaknya sebuah kapal, ombak pun seringkali datang menghantam bahtera kami. Pertengkaran-pertengkaran kecil kerap kali mewarnai hubungan yang memang seharusnya tidak terjalin. Tetapi, kedewasaan Regha dan sifatku yang selalu mengalah, menjadi jembatan tanpa putus untuk melanjutkan hubungan ini. Hingga di satu Minggu pertengahan Juli, satu kejadian merubah arah hidupku.
***
“Kie, ini aku Okta. Kamu cepat ke sini. Regha...,” kata-kata Okta terputus.
“Regha kenapa?” Tanyaku gugup.
“Ia pingsan.” Dan telpon terputus.
Aku yang saat itu sedang mengantri untuk pengambilan paspor, tanpa pikir panjang dan menghiraukan petugas konsulat yang memanggil namaku, berlari menuruni tangga gedung. Tak kupedulikan umpatan mbak-mbak yang tanpa sengaja tertabrak olehku. Hanya Regha dalam pikiranku.

Kulambaikan tangan untuk menghentikan taksi yang lewat di depan gedung konsulat. Sebuah taksi berhenti. Dengan tergesa aku memasukinya. Lalu kutunjukan alamat yang tertera pada kartu undangan ulang tahun Okta. Tiba di tempat pesta ulang tahun Okta, segera kuangsurkan uang 50 dolar ke sopir taksi seraya membuka pintu. Setengah berlari aku menghambur masuk gedung. Dadaku sesak tak kuasa menahan air mata. Aku takut terjadi sesuatu pada Regha. Aku takut kehilangannya. Segera kutepis pikiran-pikiran itu. Kuyakinkan hati, bahwa Regha akan baik-baik saja.
Namun, apa yang  kulihat saat masuk ke tempat pesta Okta, telah meluluh lantakkan harapanku. Di depanku, Regha terkapar bersimbah darah di pangkuan Okta. Aku menjerit histeris dan menghambur ke arahnya.
“Pa, bangun, ini mama!” kata-kataku berhamburan disela isak tangis.
“Tenang Kie. Ambulan sedang menuju ke sini.” Okta mencoba menenangkanku.
“Apa sebenarnya yang terjadi, Ta?”
“Tadi setelah makan kue ultah, ia mengeluh pusing dan ingin muntah. Lalu tiba-tiba ia pingsan.” Okta menjelaskan.
“Tak berapa lama kemudian ia siuman dan beberapa kali muntah darah,” imbuhnya.
Selang beberapa saat terdengar suara sirine mendekat. Dalam waktu singkat, tiga petugas paramedis masuk ke ruangan dan segera bertindak untuk menolong Regha. Tubuh Regha direbahkan di atas tandu lalu dibawa masuk ke ambulan.
“We need 2 people to come with us!” salah satu petugas berkata kepada kami.
“We'll  come with you,” aku menjawab seraya menoleh ke arah Okta. Ia pun mengangguk.

Di dalam mobil bala penyelamat, beberapa kali Regha siuman. Ia kembali memuntahkan darah segar. Aku hanya terisak sambil menggenggam erat tangannya. Setiba di rumah sakit, mereka membawa Regha ke ruang gawat darurat. Kami dilarang masuk. Okta membimbingku menuju bangku di ruang tunggu. Dengan harap-harap cemas, kami menunggu hasil pemeriksaan dokter. Dua  puluh menit berlalu, seorang dokter keluar ruangan dan menghampiri kami. Ia mengabarkan, nyawa Regha tak dapat diselamatkan. Hatiku terasa kebas mendengarnya. Tubuhku luruh terkulai di lantai. Okta segera membopongku masuk ke ruangan tempat Regha menghembuskan nafas terakhirnya. Aku menjerit histeris seraya memeluk jasad Regha yang kini terbujur kaku. Okta berdiri mematung di sampingku. Terdengar samar-samar isak tangisnya.
“Kie, kamu harus tabah. Ikhlaskan Regha. Mungkin ini jalan yang terbaik baginya.” Suara Okta lirih di sela isak tangisku.
Aku tetap meratap. Air mataku tumpah tak  terbendung. Kurasakan dunia seolah runtuh. Apa arti hidupku tanpa Regha? Ia segalanya bagiku. Aku tak sanggup hidup tanpanya.
“Kie, kita pulang. Biarkan mereka yang mengurus jenazah Regha,” kembali Okta berbicara.
Di saat yang sama, kulihat beberapa petugas rumah sakit dan polisi masuk ke ruangan. Kami meninggalkan rumah sakit, setelah sebelumnya dimintai keterangan tentang identitas Regha dan apa yang telah terjadi. Setelah keterangan kami dianggap cukup, polisi membolehkan kami pulang serta mengembalikan semua barang-barang milik Regha, termasuk baju yang masih berlumuran darah.

Tiba di rumah majikan, mataku masih merah dan sembab. Kucoba menghapus sisa air mata yang terus meleleh dengan tisu. Kukeluarkan kunci rumah. Perlahan kubuka pintu. Tak ada orang didalam. Untung mereka tidak di rumah, gumamku pada diri sendiri. Sesaat setelah masuk rumah, aku bergegas menuju kamar mandi. Setelahnya, aku kembali masuk kamar. Aku berniat merebahkan diri, ketika pandanganku tertuju ke arah tas plastik warna merah yang teronggok di bawah meja. Hatiku terkesiap. Air mataku kembali menetes. Perlahan kuambil celana jeans dan kemeja putih yang kini berwarna merah terkena muntahan Regha tadi siang. Aku berniat mencucinya, saat tanpa sengaja tanganku menyentuh sesuatu di saku celana belakang milik Regha. Sebuah amplop berwarna biru muda, warna favoritku. Segera kuambil dan kubuka. Ada selembar kertas putih terlipat rapi. Sebuah surat. Dengan perasaan tak menentu, aku membukanya.

Sudut Rindu, 14 juli 2011
Teruntuk belahan jiwaku di wisma kedamaian,
Kie, entah kenapa, beberapa hari ini perasaanku tak enak sama sekali. Berulang kali aku bermimpi didatangi oleh almarhum bapak. Beliau seperti marah dan ingin mengajakku pulang dengannya. Sengaja aku tak memberitahumu, karena tak ingin membuatmu khawatir.
Kie, ada satu hal yang ingin kukatakan padamu tentang jati diriku. Aku terlahir dengan nama Sulastri. Statusku janda dengan seorang anak laki-laki berusia 9 tahun. Sengaja  aku mengubah jati diriku dan sepenuhnya berlagak menjadi seorang pria, karena aku ingin melupakan sakit hati pada mantan suami yang minggat dengan tetanggaku. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa laki-laki. Bertahun-tahun aku terperosok ke dalam dunia ini.

Sudah beberapa kali aku berganti pasangan sejenis. Namun, tak pernah bertahan lama. Karena hampir semua mantanku, hanya mengambil keuntungan dariku. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Saat itu, entahlah, ada satu perasaan yang membuatku yakin bahwa kau adalah belahan jiwaku. Dan ternyata itu benar. Karena denganmu, kurasakan kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Tetapi, beberapa hari terakhir, hatiku bimbang akan masa depan hubungan ini. Apalagi setelah berulang kali aku bermimpi didatangi almarhum bapak. Perasaan bersalah itu semakin dalam. Bayang anakku selalu hadir seolah memintaku untuk pulang. Dan malam ini, kubulatkan tekad untuk memutuskan hubungan kita. Aku harap, kau sudi memaafkan semua kesalahanku. Aku benar-benar rindu menjadi sosok Sulastri.

Kembalilah menjadi Kienan yang dulu, sebelum kau mengenalku. Ingat Kie, tak ada masa depan bagi cinta sesama wanita seperti kita. Masa depanmu masih terbentang panjang. Lupakan Regha. Aku ingin kau mengingatku sebagai mbak Lastri. Semoga Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk pulang dan mengampuni kita, aamiin.
Salam sayang selalu...
Sulastri

Air mataku kembali menetes. Ada perasaan kehilangan yang sangat menyusup dalam hatiku. Kulipat kembali surat Regha. Hampa, kosong, tanpa harapan itulah aku kini. Kata-kata Regha membayang dalam benakku. “Kembalilah menjadi Kienan yang dulu, sebelum kau mengenalku.” Aku gamang dengan hatiku. Tapi satu yang pasti, malam ini aku hanya ingin menangis.
***
Dua minggu berlalu. Jenazah Regha telah dipulangkan ke tanah air. Aku masih dengan duniaku. Dugem dan selalu teler. Aku ingin melupakan semuanya. Namun, semakin jauh masuk ke dunia itu, bukan ketenangan yang kudapat. Malah sebaliknya, aku bagaikan kapal tanpa kemudi yang berlayar diterpa ombak. Oleng dan hampir karam. Hari itu Minggu. Seperti biasa aku libur dan jadwalku tetap sama. Nongkrong bersama teman-teman lalu dugem di Wan Chai. Di sana kutenggak minuman keras bersama beberapa butir pil setan. Pikiranku melayang. Aku sejenak lupa dengan kesedihan yang melanda.

Pukul tiga, aku pamit keluar pada Okta dan lainnya. Okta melarang aku pergi sendirian. Ia memintaku untuk menunggu setengah jam lagi. Tapi aku menolak dan segera ke luar dari tempat itu. Langkahku terseok-seok. Kepalaku pening dan ingin muntah. Tapi aku berusaha tetap berjalan. Ketika tiba di depan jalan menuju masjid Amar di Wan Chai, kakiku secara reflek berbelok arah seperti tertarik medan magnet yang sangat kuat. Aku terus melangkah.
Dan saat tiba di depan masjid, sayup terdengar suara adzan Ashar yang membuatku disergap perasaan sepi nan indah. Sebuah rasa yang menyelusup ke dalam kalbu, membuatku terpaku dan melelehkan air mata. Panggilan sholat itu menghembuskan rasa hampa, seolah menyuruhku merenung. Aku cemas. Serasa akan mati esok pagi. Aku terpaku. Dan, ketika muadzin mendengungkan lafadz Hayya la shalaaah...
Aku berputar bagai kincir angin. Perutku naik memuntahkan seluruh makanan dan minuman haram dari lipatan-lipatan ususku. Aku terjerembab, limbung tak berdaya. Seakan tulang dan persendianku hancur dihantam palu godam. Air mataku berlinang tak terbendung. Aku merangkak-rangkak memohon ampun. Lalu gelap menyelimuti. Kucoba bergerak, namun tak mampu. Aku pasrah apabila ini adalah akhir hidupku. Tapi jauh di lubuk hati, aku memohon pada Tuhan, kiranya memberiku kesempatan untuk bertobat. Beberapa detik berlalu. Kurasakan angin sepoi membelai wajahku. Kucoba membuka kedua kelopak mataku. Semua tampak putih.

Susana Nisa
Cerpen ini termuat di Apakabar Plus
Februari 2016
Posted by Unknown 21.16.00 in

Jakarta-Sydney masih tiga jam lagi. Tapi lebih baik aku menunggu di bandara dan menulis sebuah notes atau sekedar puisi tanpa judul, daripada menenggelamkan lambungku dengan kafein. Jariku lincah menari di atas tuts-tuts tombol ipad hadiah ulang tahun darinya. Saat tiba-tiba sebuah pesan masuk di BBM ku.
"Kartika, kumohon balas smsku ini secepatnya. Aku membutuhkanmu sayang. Kumohon jangan pergi, aku sangat mencintaimu." Sedetik kemudian sebuah telpon masuk. Nomor yang baru saja mengirimkan pesan singkat tersebut, terpampang di layar BBM ku. Untuk beberapa saat aku hanya memandanginya. Ingin menjawab. Namun, segera kuurungkan niatku. Aku harus belajar mengekang diri dan melupakannya. Meskipun sebagian hatiku tak rela melepaskan dan berat untuk melangkah. Keadilan harus ditegakkan. Aku yang harus pergi dari kehidupannya. Telpon masih berdering. Aku bergeming. Membiarkannya lelah dan berharap ia benar-benar sadar bahwa kami tak mungkin bersama lagi.
***
Beberapa bulan yang lalu kami bertemu di sebuah gala dinner di Bandung. Aku hadir di sana mewakili perusahaan tempatku bekerja. Di tempat itulah untuk pertama kalinya, setelah lima tahun berpisah kami dipertemukan oleh tangan takdir. Ia tampak gagah dan tampan. Dan senyum khas itu, masih setia tersungging di bibirnya. Aku terkesima, tatkala ia dengan hangat menjabat tanganku. Pertemuan sesaat tanpa di sengaja, membuat kami kembali merajut jalinan benang kasih yang telah lama terpisah. Meski ia kini tak lagi sendiri. Telah ada seorang wanita dan dua jagoan kecil yang senantiasa menunggu kepulangannya. Namun, cinta dan nafsu telah membutakan nurani kami. Dari sekedar bertukar nomer pin BBM, berlanjut dengan kencan di hotel kemudian memuaskan diri untuk menikmati dunia malam.

Lima tahun yang lalu, aku bisa menerima ciumannya secara gratis setiap kali bertemu di malam minggu. Menikmati setiap detik-detik bersamanya tanpa dibayar. Hanya berbekal kata cinta atau isyarat suka sama suka. Karena saat itu kami masih sama-sama mahasiswa yang sedang kasmaran. Namun kini, semuanya berbeda. Akbar telah menikah dan ia telah menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan bonafit di ibukota. Aku sendiri, seorang sekretaris sekaligus asisten pribadi dari seorang direktur utama perusahaan yang bergerak di bidang properti. Pergaulanku dengan kalangan atas, membuat sikap dan gaya hidupku sangat borjouis. Uang di pertuhankan. Sikut kanan sikut kiri untuk mendapatkan kenaikan jabatan adalah hal biasa. Terkesan mewah, glamor dan fashionable adalah gaya hidupku saat ini. Baju, sepatu dan tas harus bermerk. Tempat tinggal pun harus di apartemen mewah. Semua itu sangat mudah aku dapatkan, karena kelihaianku memuaskan keinginan sang Big Bos.
Nuraniku sebagai seorang wanita mungkin telah mati. Karena aku tak peduli, meski harus merangkap tugas sebagai sekretaris juga sebagai wanita simpanan. Apa salahnya menikmati kemewahan, dari hasil jerih payahku memanfaatkan kecantikan dan kemolekan tubuh. Toh, aku tidak meminta status sah dari pak direktur. Karena aku sudah bahagia dengan segala kemewahan yang kumiliki. Namun, saat bertemu dengan Akbar, cinta pertamaku ketika masih kuliah dulu, rasa aneh menyusup ke dalam labirin hati. Tak dapat kupungkiri, rasa sayang itu masih ada. Meskipun pagar pembatas di antara kami nyata terlihat, tapi hasrat yang membuncah telah mengalahkan akal sehat kami berdua. Akbar pun tak ambil pusing, saat ia mengetahui bahwa aku adalah wanita simpanan direktur perusahaan di mana aku bekerja. Baginya, aku tetaplah Kartika yang dulu. Sang primadona kampus yang telah membuatnya bertekuk lutut dan menyerah tanpa syarat.

Pertemuan kami terencana dengan sangat rapi dan rahasia. Aku harus pandai mengatur waktu untuk melayani pak direktur. Karena dialah sumber kemewahanku. Sedangkan kepada Akbar, aku tak pernah meminta apapun yang memberatkannya. Karena apa yang kulakukan dengannya, adalah murni karena rasa cinta. Hingga pada suatu minggu sore, saat hanya sendirian di apartemen, seorang tamu tak di undang datang dan merubah pendirianku. Seorang wanita berjilbab dengan menggendong bayi dan menuntun seorang anak laki-laki, mengetuk pintu apartemen. Ucapan salam menyapa saat perlahan kubukakan pintu untuknya. Dengan ragu kujawab salamnya, karena dalam keseharianku, ucapan 'hai', 'halo' dan sejenisnya yang lebih akrab dan selalu aku gunakan untuk menyapa siapa saja.
"Anda Kartika?" tanyanya dengan sopan.
"Iya benar, ada yang bisa saya bantu?" jawabku seramah mungkin.
"Perkenalkan, saya Aisyah, istrinya mas Akbar!" wanita itu tersenyum sambil mengulurkan tangan.
Aku tertegun. Kedua mataku menatap lekat wanita di depanku. Anggun dan cantik dengan jilbab panjang warna biru muda, senada dengan gamis yang dia kenakan. Sekilas aku menatap ke arah bayi dalam gendongannya. Kemudian memperhatikan anak lelaki yang berusia sekitar enam tahun, menggenggam erat tangan wanita itu.
"Boleh kami masuk?" pertanyaannya mengagetkanku. Tak ada kata terucap dari bibirku. Hanya anggukan kepala dan gestur tubuh yang mempersilahkannya untuk masuk. Ia duduk di sofa panjang bersama putranya. Aku sendiri memilih untuk duduk di kursi yang menghadap ke pintu. Entah mengapa, aku merasa membutuhkan asupan oksigen lebih banyak. Hening beberapa saat, hingga bayi dalam gendongannya menangis. Namun, hanya sebentar. Karena wanita itu dengan lembut menepuk-nepuk pantat bayinya. Dan makhluk mungil berwajah manis bak malaikat itu tidur kembali.
"Anda mau minum apa?" kucoba berbasa-basi.
"Tidak usah repot-repot, saya datang kemari hanya ingin membicarakan tentang mas Akbar," jawabnya pelan.
"Saya tidak mengerti apa maksud anda?" tanyaku berpura-pura.
"Kartika, kita sama-sama perempuan. Saya sudah tahu tentang hubungan anda dengan suami saya," ia berhenti berkata dan menghela nafas.
"Saya hanya ingin kebahagiaan untuknya dan juga kedua anak kami," lanjutnya sambil memandang kedua buah hatinya. Hening beberapa saat, hingga suara bocah kecil di sebelahnya memecah kebisuan.
"Mama, Andi haus ma, katanya tadi mau dibelikan es krim, mana sekarang es krimnya?" ia merajuk.
"Andi sayang, es krimnya nanti mama belikan, sabar ya!" ucap wanita itu lembut sambil mengelus kepala putranya. Tanpa menunggu lama, aku segera berdiri dan melangkah ke dapur mengambil dua gelas air putih dan sebungkus es krim rasa coklat. Lalu kuberikan kepada bocah laki-laki itu. Mata kecilnya berbinar dan senyumnya, ya Tuhan, senyumnya benar-benar mirip Akbar.
"Terima kasih tante, Andi suka sekali es krim rasa coklat, papa juga suka kan ma?" tanyanya seraya menoleh ke wanita berjilbab biru di hadapanku. Wanita itu hanya tersenyum. Sebuah senyum yang dipaksakan.
"Kartika, apa anda benar-benar mencintai mas Akbar?" tanyanya memecah kebisuan diantara kami.
"Kalau iya, maka saya rela mas Akbar menikah dengan anda. Saya ikhlas berbagi suami, asal mas Akbar tidak menceraikan saya." Kata-katanya meluncur tanpa jeda. Meski seulas senyum tersungging di bibir merah mudanya yang alami tanpa sapuan lipstik, tapi dapat kulihat ada genangan di bening matanya yang teduh.
Dadaku bergemuruh. Bukan emosi yang kini bergejolak. Namun, serbuan rasa bersalah mengguncang kisi-kisi hatiku. Kupandangi bayi dalam gendongannya. Lalu beralih pada bocah lelaki di sebelahnya yang kini sibuk menikmati es krim, tanpa sadar akan apa yang terjadi. Aku mencoba menguatkan hati untuk tersenyum dan berkata, "Aisyah, maafkan saya karena telah masuk dan mengganggu ketentraman rumah tangga kalian. Tapi percayalah, mulai hari ini saya berjanji tidak akan menemui Akbar lagi. Dan saya akan pergi dari kehidupannya. Semoga rumah tangga kalian kembali tentram seperti semula." Kuulurkan tangan untuk menjabatnya. Aisyah menyambut dan menggenggam erat tanganku. Genangan di telaga beningnya, kini jatuh menjelma menjadi buliran kristal jernih di kedua pipinya.
"Terima kasih Kartika, semoga Yang Kuasa memberikan anda pendamping seorang lelaki yang terbaik dari sisiNya," ucapnya seraya tersenyum. Genggaman tangannya semakin erat. Aku membalas senyumannya dan sekali lagi kuyakinkan ia, bahwa aku akan pergi dari kehidupan Akbar untuk selamanya. Setelah itu ia pamit. Sebuah ucapan terima kasih kembali terucap dari bibirnya. Aku mengantarnya sampai pintu lift. Kemudian kembali ke dalam rumah setelah pintu lift yang membawa Aisyah beserta kedua buah hatinya tertutup.

Malamnya, saat Akbar datang ke apartemen, kami bertengkar hebat. Sengaja aku tidak mengatakan tentang kedatangan istri dan kedua putranya. Aku hanya mengatakan ingin mengakhiri hubungan kami dan memutuskan menerima tawaran dari bosku, untuk menghandle cabang perusahaannya yang ada di Batam. Sebuah kebohongan yang aku rencanakan untuk meninggalkannya. Akbar memintaku untuk tetap tinggal Jakarta. Ia berjanji akan memenuhi segala keinginanku, juga menikahiku. Kutolak semua tawarannya dengan mengatakan, bahwa selama ini aku hanya menjadikannya sebagai pelampiasan rasa kesepianku. Bahwa aku berpura-pura mencintainya.
Mata Akbar nanar menatapku. Sejurus kemudian tangannya dengan keras menampar pipiku. Tak siap dengan reaksi spontan Akbar, aku terhuyung dan jatuh terjerembab. Darah segar mengalir dari bibir dan hidungku. Tak ingin sesuatu lebih buruk terjadi, aku berlari dan masuk kamar lalu menguncinya. Di ruang tengah Akbar berteriak-teriak dan segala sumpah serapah keluar dari mulutnya. Terdengar suara pecahan kaca dan entah barang apalagi yang menjadi sasaran kemarahannya. Lalu, senyap menyeruak. Sedetik kemudian terdengar suara pintu tertutup. Aku masih terduduk di belakang pintu kamar. Tak kuhiraukan bercak darah yang masih terlihat basah di kemeja putih yang kupakai. Aku duduk terpekur. Untuk beberapa saat hanya diam, mencoba mengatur nafas dan kesadaran diri. Hingga tanpa sadar aku tertidur di lantai.

Keesokan paginya, setelah membersihkan diri dan mengepak beberapa helai baju yang kubutuhkan, segera kutelpon bagian lobi untuk memanggilkan taksi. Sepuluh menit berselang, taksi yang kuminta tiba. Setelah menitipkan kunci apartemen ke petugas di lobi dan mengatakan bahwa nanti akan ada temanku yang mengambil kunci tersebut, aku bergegas keluar dari gedung dan memasuki taksi yang telah menungguku. Selang beberapa saat, taksi telah melaju dan membelah keramaian kota.
***
Jariku masih sibuk menari di atas tuts-tuts ipad. Tak kuhiraukan BBM ku yang terus bergetar. Kulirik sekali lagi nomer yang masuk. Masih nomer yang sama, milik Akbar. Kuhela nafas perlahan. Lalu berjalan menuju gerbang pemberangkatan saat terdengar panggilan untuk para penumpang penerbangan Jakarta-Sydney. Telah kumantapkan hati untuk mengubur semua kisahku dengan Akbar. Karena sejatinya cinta adalah melepaskan, bukan mengekang dan merampas kebahagiaan wanita lain.

Susana Nisa
Termuat di Majalah Iqro
Posted by Unknown 19.58.00 in


Akhir musim semi tahun lalu, saya dan beberapa kawan berkesempatan untuk mengikuti sebuah workshop gratis di daerah Quarry Bay. Dalam ‘woro-woro’ yang disampaikan oleh tim pengkoordinasi di grup wosep, semua peserta tanpa terkecuali diharapkan datang sebelum pukul sebelas pagi. Sebuah ultimatum halus dan tersamar bagi saya yang memang terkenal dengan jam karet alias selalu telat bin molor. Entahlah, kenapa saya tidak bisa belajar dari kedisiplinan warga Hong Kong, yang selalu tepat waktu. Meski sudah satu abad lamanya saya bermukim di negeri ini (buwahaha, seabad jarene, lebay puuooll iki susan pancene), ciri khas sebagai ‘wong indo’ berjam karet, masih lekat menempel. Hal itu sering membuat saya di pleroki bala kurawa juga sobit sobat tercinta. Pasalnya, setiap janjian dengan mereka, saya selalu always tidak pernah never tepat waktu. Bahkan molor-nya bisa satu jam lebih hihihi.
Sekedar inpoh pembaca, saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan kebiasaan telat tersebut. Tetapi, masih juga saya sering terlambat. Semisal, jika saya ada janji ketemu dg si anu, di situ, sekira pukul itu, maka hari minggu pagi saya bangun awal lalu ngrumati si mbah de el el. Saat si anu wosep, “San, dimana?” Saya membalas dengan mengirim emoticon  orang mandi. Padahal masih menjalankan tugas negara, memberi sarapan si nenek. Jika ia kirim wosep lagi, maka saya bilang, “nih, lagi OTW.” Sebenarnya barusan selesai mandi dan berbagai alasan lainnya, hahaha, cari alasan aja ini ceritanya. Saya kira bukan hanya aike yang sering kasih alasan begitu saat ada janji. Yah, kalo mau diadakan survei secara massal, yakin deh, dua pertiga dari penghuni jagat raya, sering menggunakan strategi tersebut. Masih di rumah, bilangnya ‘on the way nih, sepuluh menit lagi nyampai.’ Tapi sepuluh menitnya berubah jadi sejam hahaha.
Back to my story, kawans. Minggu pagi itu, saya sudah janjian dengan mbak Shepiah, salah satu sobit saya. Sejak pagi ia sudah wosep. Ndridil sisan (kirim pesan berulang kali). “San, jangan telat! San awas kalo kamu molor kali ini! Dan pesan senada sampai bosen saya membacanya. Namun, seperti biasa pula, saya tidak datang tepat waktu. Karena saat sampai di Quarry Bay, jarum jam sudah menunjuk angka sebelas lewat. Shepiah yang sudah menunggu hampir setengah jam di  MTR exit C tersebut, tampak memonyongkan bibir dan siap menyemprotkan segala uneg-unegnya. Kepada siapa? Ya, ofcourse tentu saja kepada saya donk. Karena satu dan lain hal saya benar-benar terlambat hari itu. Tak ingin mendengar ceramah doski yang selalunya bili bala bla bla bla, saya segera menyumpalkan headset ke telinga. Suara tante Celine Dion merdu mendayu, bersahutan dengan suara Shepiah yang riuh rendah. Singkat cerita, sampailah kami berdua di tempat yang dituju.
 Gedung tempat  galeri itu, berada tepat di samping tempat penyemayanan jenasah. Bau harum berbagai macam bunga menusuk hidung. Dengan ragu kami melangkahkan kaki  memasuki gedung tersebut. Bulu kuduk terasa merinding, saat kami membuka pintu gedung dan tidak menemui seorang penjaga pun di lantai dasar. Yang kami temui hanya meja jaga kosong. Tampak kotak merah tempat ‘paisan’ tepat di sebelah kanan lift. Shepiah mencengkeram lengan baju saya. Terlihat mulut doski komat-kamit membaca mantra buwahahaha….! Ojo tegang ker, santai saja hahaha! Meski ada sedikit rasa takut menyelinap dalam hati, saya merangsek menuju lift. Di belakang saya, Shepiah semakin cepat membaca doa-doa pengusir setan dan sebangsanya. Lift membawa kami menuju ke lantai 22. Tempat galeri seni berada.
Suasana teramat sepi. Tak ada orang sama sekali. Kami memberanikan diri untuk membuka pintu galeri. Tidak terkunci. Pandangan mata kami bersiborok saat melihat tata ruang yang terkesan spooky bin medeni. “San, yakin ini tempat workshopnya? Kok nggak ada orang di sini? Ih, serem deh suasananya. Kita turun, yuk!” rajuk Shepiah. Saya tak menghiraukannya. Langkah kaki saya beranjak ke sebuah pintu putih bertuliskan staff only. Asumsi saya, ruangan itu adalah kantor para staf atau pekerja di galeri tersebut. Tangan saya bergetar saat memutar gagang pintu. Dan, Masya Allah pembaca, apa yang ada di balik pintu tersebut membuat saya seketika ngakak. Karena ruangan bertuliskan staff only itu, ternyata adalah sebuah toilet. Shepiah yang sedari tadi njepiping (ketakutan-red) dan masih mencengkeram baju saya, ikut tertawa sampai lupa kalau kami masih berada di sebuah galeri seni yang medeni, hihihi.

Susana Nisa
Termuat di rubrik Ada2 Saja Apakabar plus
Februari 2016
Posted by Unknown 19.48.00 in

Jika anda penggemar aktor Bruce Lee, pastinya anda sangat hapal dengan senjata andalan bintang legendaris itu. Dua tongkat pendek yang dihubungkan dengan rantai atau tali, disebut 'Nunchaku'. Senjata yang berbahaya dan bisa membuat kepala benjol bahkan berdarah apabila digunakan secara serampangan. Bukan perkara mudah untuk bisa menggunakannya. Seorang pemilik nunchaku membutuhkan latihan yang intens dan cukup lama agar mampu memainkannya. Pastinya semua orang berpikir hanya kaum laki-laki yang mampu untuk melakukannya. Namun, pendapat itu segera terbantahkan oleh penampilan memukau seorang wanita yang bernama Anik Maslikah. Dia adalah seorang buruh migran Indonesia (BMI) asal Malang. Dia tidak hanya mampu menggerakkan dan memainkannya, tetapi Anik sangat lihai dan mahir untuk menggunakan senjata itu. Tentu saja hal itu bukan hasil latihan semalam. Kelincahan dan kecekatannya memainkan senjata mematikan itu, adalah hasil dari proses panjangnya mempelajari seni beladiri nunchaku. "Dengan selalu giat berlatih, fokus dan percaya pada kemampuan diri sendiri, pasti akan memudahkan kita untuk mempelajari suatu ilmu," ujar anik berbagi tipsnya.
Sosoknya yang kalem dan terkesan pendiam, bisa berubah garang saat berada di arena latihan. Baginya, keseriusan dan kesungguhan dalam berlatih yang akan membentuk karakter seorang seniman beladiri sejati. Tak hanya seni beladiri nunchaku, Anik pun menguasai beberapa seni beladiri lainnya. Tidak main-main, 3 jenis seni beladiri yang memiliki reputasi tinggi di mata dunia, hampir semuanya dia kuasai. Ketiganya adalah kung fu, taekwondo dan wushu. Bahkan berkat ketekunannya, BMI asal Malang itu berhasil mendapatkan medali emas pada pertandingan wushu bertaraf internasional. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan, karena lawan dalam pertandingan itu berasal dari berbagai negara.

Dulu Murid Sekarang Guru
Prestasi yang gemilang membuatnya semakin yakin bahwa seni beladiri adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupannya. Karenanya, Anik memberanikan diri  membuka kelas beladiri nunchaku, untuk siapa saja yang berminat mempelajarinya. Saat ditanya kenapa memilih membuka kelas nunchaku dan bukan seni beladiri lainnya, dengan diplomatis dia menjawab bahwa semua seni beladiri bagus untuk dipelajari. Jika saat ini dia memilih untuk membuka kelas dan mengajar nunchaku, hal itu dikarenakan dia merasa sudah mendalam dalam mempelajari ilmu beladiri itu. Mengajar dan menjadi seorang guru atau pelatih, membuatnya bisa mengenal banyak sifat dan karakter orang. Kegiatan itu, juga mampu membuatnya menjadi sosok yang telaten dan tanggap dengan batas kemampuan setiap individu. "Ada murid yang cepat bisa menyerap semua materi dan sangat tangkas, ada juga yang begitu lambat, sehingga saya harus benar-benar bersabar untuk mengajarinya," paparnya lagi. Dari kegiatan mengajar nunchaku itu pula, yang membuatnya terpilih menjadi duta nunchaku untuk wilayah Hong Kong. Dia mendapatkan kehormatan tersebut, langsung dari presiden direktur Indonesia Nunchaku Club (INC) yang berada di Jakarta. "Alhamdulillah saya diberi amanah yang semoga saja bermanfaat untuk bisa mengenalkan dan mengajarkan nunchaku pada siapapun yang ingin mempelajarinya," katanya sumringah.
Anik pantas bersyukur karena majikan mendukung semua kegiatan yang dilakukannya. Bahkan, sang majikan termasuk salah satu murid di kelas nunchaku tempat dia mengajar. Acungan jempol juga layak diberikan kepada perempuan bersemangat baja itu. Karena selain menguasai berbagai macam seni beladiri, dia juga mahir berbahasa inggris dan pandai menjahit. Dari ketrampilan menjahit, dia sering mendapat orderan baju dan gamis dari kawan sesama BMI lainnya. Sedangkan dengan kecakapannya berbahasa asing, membuatnya dipercaya oleh beberapa kawan dari majikannya untuk memberikan les privat kepada putra putri mereka. Sehingga dia mendapatkan tambahan penghasilan yang lumayan untuk menambah pundi-pundi dolarnya.
Selalu berpikir positif dan bersyukur dengan segala anugerah dari Tuhan adalah prinsip hidupnya. Dan menjadikan kritikan juga pujian sebagai cambuk untuk berusaha lebih baik dalam setiap apa yang dilakukannya. Dia pun berpesan pada semua kawan BMI untuk fokus pada apa yang telah dicita-citakan. "Jangan pedulikan pandangan negatif dari orang lain. Ini adalah hidup kita dan kita sendiri yang menjalaninya. Apapun kegiatan dan profesi yang saat ini sedang kita tekuni, pasti akan membuahkan hasil yang sempurna jika kita fokus dan benar-benar berusaha untuk mencapainya," ujarnya bersemangat.

Susana Nisa
Termuat di rubrik Feature Koran Suara
2 Juli 2014






Posted by Unknown 21.59.00 in

Rinai gerimis lentik menari diantara gedung-gedung pencakar langit. Gemulai gerakannya diterpa angin semilir dan jatuh dengan anggun di setiap helai daun yang memerah. Baginya, Desember selalu menggigit setiap hati yang sepi. Menoreh luka pada batin yang terikat janji. Janji pada seorang gadis kecil nun jauh di tanah seberang. “Ara,” bibirnya bergetar menyebut sebuah nama. Perempuan itu meringkuk dalam gelap, mendekap kedua lututnya ke dada dan menangis tersedu-sedu. Ia menangis dengan isakan tertahan. Tak ada tisu, hanya saputangan berwarna biru tua yang dapat ia gunakan untuk menyusut air mata. Seminggu sudah ia menghuni sel berjeruji itu. Untuk sebuah kesalahan yang tak pernah ia lakukan. Perempuan itu kembali tergugu, saat bayang wajah mungil melintas dalam keremangan.
***
Laras menyusuri jalan sempit di gang rumahnya. Tubuhnya lusuh. Mukanya kuyu menyiratkan keletihan yang teramat sangat. Seharian sudah ia mencoba mencari pekerjaan. Namun, hasilnya nihil. Dengan modal keterampilan dan ijazah yang sangat minim, mencari pekerjaan di kota bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Tetapi, sesulit apapun, ia harus tetap berusaha. Karena ia satu-satunya sandaran ibunya yang berusia senja. Juga Ara, gadis kecil berusia tujuh tahun yang sangat membutuhkan perannya sebagai ibu dan ayah. Laras mengusap  peluh di dahinya. Menegapkan langkah, saat memasuki rumah tak seberapa luas itu. Ia menapaki lantai berubin dengan perlahan. Matanya sayu menatap setiap bingkai kayu yang tergantung di dinding. Sketsa kebahagiaan sebuah keluarga utuh terpampang menyambutnya. Ada senyum tersamar, tatkala kenangan masa silam berkelebat.
“Ibu, sudah pulang? Kok tidak mengucap salam?” Suara kecil itu mengagetkannya.
“Oh… maafkan ibu, sayang. Ibu lupa,” jawabnya tersenyum. Laras meraih tubuh kecil Ara ke dalam dekapannya. Lebur sudah tanggul airmata yang sejak tadi ia pertahankan. Ia memeluk putrinya begitu erat. Hancur rasa hati mengingat beban yang harus ditanggungnya. Hampir empat bulan ia menyandang status baru, seorang janda beranak satu. Karena takdir langit memisahkannya dengan ayah Ara. Sebuah kecelakaan, telah meruntuhkan kebahagiaan mereka. Laras yang hanya ibu rumah tangga biasa dan sepenuhnya bergantung pada suami, terpaksa harus mencari pekerjaan demi menopang biaya hidup keluarga kecilnya. Walau di luar ia nampak tegar, namun jauh di dalam hatinya ia begitu rapuh. Rasa takut membayang akan ketidakpastian masa depan putrinya.
Duka masih bersemayam. Tangis pun belum kering. Tapi hidup harus berlanjut. Tegar bukan berarti tanpa tangis. Dengan kemantapan hati, Laras memutuskan untuk merantau mendulang dolar ke tanah harapan. Mencoba menata kepingan-kepingan asa yang terserak demi malaikat kecilnya. Berusaha menunaikan amanah yang dititipkan di pundaknya. Meski berat terasa, namun tak pantas jika hanya keluh yang terucap. Ia tak ingin berlama-lama terseok dalam kesedihan. Demi masa depan Ara. Ia pasrah dan tawakal, jika perpisahan adalah kebahagiaan yang tertunda. Bulir-bulir kristal bergulir membasahi pipi Laras, tatkala langkah kakinya memasuki burung besi yang akan membawanya pergi jauh dari orang-orang tercinta.
Minggu dan bulan-bulan pertama terasa begitu sulit. Rindu akan putri semata wayangnya begitu menyesakkan dada. Ia merasa bersalah karena telah meninggalkan anak sekecil itu, dalam pengasuhan neneknya yang renta. Seandainya boleh meminta, ia ingin berada di dekat buah hatinya. Berselimutkan kehangatan di rumah, tanpa harus pergi jauh darinya. “Tuhan…, kuatkan hamba-Mu ini,” lirihnya di senyap malam. Hati ibu mana yang tidak perih, manakala harus berpisah dengan permata hati. Seringkali Laras menahan isak ketika menelpon dan Ara merajuk, “Bu, Ara ingin tidur sambil dipeluk ibu.” Atau di lain waktu gadis itu mengirim sms yang berisi, “Ara ingin makan rawon buatan ibu. Mbah Uti masaknya selalu saja asin bu.” Yang sungguh membuat Laras merasa bersalah adalah saat Ara mengeluh tidak bisa mengerjakan tugas dari sekolah. Sebagai seorang ibu, ia yang seharusnya membimbing dan mengajari putrinya, terpaksa memberikan tanggung jawab itu kepada nenek Ara. Batinnya menjerit. Namun, kebulatan tekad untuk memberikan kehidupan yang layak pada putri dan ibunya, membuat Laras bersabar dalam setiap helaan nafas. Beruntung majikan baik dan pengertian. Mereka sudah menganggap laras bagian dari keluarga itu. Masa kontrak pertama berhasil ia lalui dengan lancar. Sengaja Laras tak mengambil cuti pulang ke tanah air. Ia pergunakan uang ganti tiket perjalanan dari majikan untuk menambah saldo tabungannya. Meski rindu pada putri semata wayangnya menggelayut di kalbu, ia bertahan. Nada protes sang buah hati setiap kali mereka berbincang di telepon, berhasil ia redam dengan kata-kata pamungkas. “Katanya Ara ingin umroh bersama ibu dan mbah uti? Ara juga ingin jadi dokter, kan? Nah, ibu tidak cuti untuk sementara waktu agar semua keinginan Ara bisa terwujud.” Sebisa mungkin Laras memberikan penjelasan pada putrinya, agar Ara bisa mengerti semua yang ia lakukan adalah demi masa depan mereka. Meski sejujurnya hati meronta ingin bertemu dan memeluk gadis kecilnya, namun Laras mencoba menguatkan diri.
Hari berganti, minggu berlalu, bulan berbilang dan tahun semakin melaju. Tanpa terasa tiga tahun Laras mengais rezeki di negeri Beton. Kini ia memasuki tahun ke empat masa kontrak dengan majikan yang sama. Ia telah berjanji pada Ara untuk mengambil cuti saat lebaran, beberapa bulan lagi. Gadis itu bersorak gembira. Tawa renyahnya terdengar nyata meski hanya di ujung telepon. “Sungguh bu? Lebaran kali ini ibu akan pulang?” Tanyanya bersemangat. Belum sempat Laras menjawab, telepon telah berpindah tangan. Berganti suara nenek Ara, ibunda Laras. “Ara jingkrak-jingkrak kegirangan, Ras. Anak itu senang sekali saat kau bilang akan cuti. Hampir empat tahun kau merantau. Ibu rasa sudah saatnya kamu pulang terus untuk mendampingi Ara. Ibu semakin tua. Putrimu sudah besar. Sebentar lagi kelas enam SD. Ibu khawatir, tidak bisa sepenuhnya membimbing Ara.” Laras belum bisa mengiyakan permintaan ibunya. Ia sadar, jika memutuskan untuk pulang kampung selamanya, maka ia harus punya cukup tabungan dan modal demi kelangsungan pendidikan Ara serta kehidupan mereka. Cuti, adalah alternatif terbaik untuk keadaannya saat ini. Harus ada yang dikorbankan. Dan Laras yakin, jika pengorbanannnya demi putri dan ibunya tidak akan sia-sia. Ia pun nampak sumringah saat mengakhiri perbincangan dengan ibunya di telepon. Setelah beberapa kali Ramadhan dan hari raya hanya ia rayakan sendiri, maka beberapa bulan lagi ia akan merayakannya dengan orang-orang terkasih.
Namun, kebahagiaan Laras hanya sementara. Dua minggu berselang, mendung kembali menggelayut. Proses renew paspor miliknya menghadapi masalah serius. Karena penerapan sistim SIMKIM atau pembuatan paspor secara biometrik, yaitu data pemohon paspor disinkronkan dengan data yang dimiliki oleh Imigrasi di Jakarta. Dari proses itu, Laras diketahui memiliki data ganda. Data yang tertera di paspor miliknya tidak sama dengan data yang ada di Imigrasi Jakarta. Sehingga petugas konsulat memintanya untuk melakukan koreksi data sesuai dengan data yang ada di Imigrasi Jakarta. Setelah berkonsultasi dan diberi penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan koreksi data diri di paspor, Laras diminta pihak konsulat untuk membuat KTP HK dan melakukan pembenahan data di kantor Imigrasi Hong Kong. Berbekal surat pengantar dari konsulat, Laras membuat kartu tanda penduduk sementara. Namun malang, pihak Imigrasi Hong Kong mempermasalahkan kasus Laras dan membawanya ke sidang pengadilan dengan tuduhan pemalsuan data. Kasusnya masih bergulir dan vonis belum dijatuhkan. Tetapi Laras harus menghuni hotel prodeo selama kasusnya diproses.
***
Langkah-langkah kaki terdengar nyaring mendekati sel, ruangan tempat Laras menangisi nasibnya selama seminggu ini. Seorang sipir wanita memanggil nama Laras. Ia memberitahukan ada yang datang berkunjung. Laras berjalan pelan diiringi tatapan sayu para penghuni sel lain. Dalam hati ia berharap, semoga ada titik terang atas kasus yang ia hadapi. Di ruang tunggu untuk berkunjung, dua orang, satu lelaki dan satu wanita telah menunggu. “Selamat siang bu Laras, saya perwakilan dari KJRI dan saudari ini perwakilan dari salah satu organisasi pekerja Indonesia yang ada di Hong Kong,” ujar si lelaki memperkenalkan diri mereka.
“Kami sedang mengusahakan segala upaya untuk bisa memenangkan kasus ibu. Karena itu kami harap bu Laras bersabar. Kami akan mendampingi dan mengawal kasus ibu sampai selesai,” katanya lagi. Laras hanya mengangguk. Hatinya dilanda bimbang. Akankah ia dibebaskan? Ataukah ia akan menjadi penghuni sel berjeruji itu untuk sementara waktu? Kemudian dipulangkan dan tidak dibolehkan masuk ke Hong Kong untuk bekerja? Bagaimana ia menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan Ara? Beribu pertanyaan berseliweran di benaknya. Suara riang putri semata wayangnya, kembali terngiang di telinga Laras. Kristal bening perlahan menetes di kedua pipinya. Berharap cemas akan ketidakpastian nasib dan takdir hidupnya.

Susana Nisa

Termuat di rubrik Pojok Viktori
Apakabar Plus
20 Agustus 2016

Popular Posts

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Translate

Cari Blog ini

Search