Menulis adalah lentera di tengah badai kehidupan
Posted by Unknown 19.05.00 in

Bulan april 2015, buruh migran kembali berduka. Dua buruh migran Indonesia (BMI), yaitu Siti Zainab dan karni binti Medi Tarsim di hukum mati di Arab Saudi, tepat di bulan yang seharusnya menjadi lambang pembebasan kaum perempuan Indonesia dari ketertindasan. R.A Kartini yang berhasil mengangkat harkat dan martabat kaumnya melalui perjuangan panjang, pasti tidak pernah mengharapkan jika sepeninggalnya, para perempuan Indonesia mengalami penindasan dan ketidakadilan. Namun, kenyataan dan fakta yang ada saat ini, sungguh memprihatinkan. Kedua BMI tersebut di atas, adalah bukti nyata betapa perempuan Indonesia, khususnya buruh migran, sering kali bahkan selalu berada di posisi yang lemah. Terlebih dengan sikap pemerintah saat ini yang begitu lambat merespon setiap permasalahan yang berkaitan dengan buruh migran. Ruwetnya sistem birokrasi, kurang terjaminnya keselamatan para pahlawan devisa dan lemahnya advokasi di negara-negara penempatan, seolah menjadikan nasib buruh migran bagai segumpal kapas yang melayang tanpa arah.

Siti Zainab dan Karni binti Medi Tarsim, yang diesksekusi oleh pemerintah Arab Saudi dengan selang waktu hanya dua hari, bahkan tanpa pemberitahuan kepada pihak perwakilan pemerintah Indonesia di negara tersebut, sudah seharusnya menjadi tamparan yang menyadarkan para punggawa negeri. Terlepas dari apapun asas hukum yang berlaku dan dianut oleh negara bersangkutan, jika berbicara tentang nyawa seseorang, tentunya hal itu akan membuat siapapun yang memiliki nurani, tergugah untuk melakukan segala daya upaya dalam menyelamatkan dan melindungi warganya, yang saat ini sedang menunggu hukuman mati di berbagai negara penempatan. Sebagaimana kita ketahui bersama, Siti Zainab dari Bangkalan, Madura, divonis mati atas tuduhan membunuh istri majikan pada tahun 1999. Keputusan bebas atau hukuman mati terhadapnya, harus menunggu akil baligh anak majikan, yang di tahun 2015 ini, menolak untuk memaafkan Siti Zainab. Sehingga pada 14 April 2015, pukul 10 waktu setempat, pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan di Madinah. Sedangkan Karni binti Medi Tarsim, asal Brebes, jawa Tengah, harus meregang nyawa di ujung pedang sang algojo di penjara Yambu, pada 16 April 2015. Karni divonis membunuh anak majikan.

Jika ditilik dari kacamata awam, kasus yang menimpa kedua BMI tersebut tergolong kriminalitas tingkat tinggi. Karenanya, ada sebagian masyarakat beropini, jika hukuman mati adalah hal wajar, mengingat Arab Saudi menerapkan hukum Islam. Yang mana hutang darah harus dibayar dengan darah. Membunuh hukumannya juga dibunuh, dengan beberapa ketentuan untuk meringankan hukuman bahkan bisa terlepas dari vonis mati, seperti membayar uang diyat kepada keluarga korban dan pemberian maaf dari ahli warisnya. Namun, hendaknya kita, siapapun yang merasa manusia berbudi, menilai hal ini dari bilik hati dan pikiran jernih. Kenapa kedua BMI tersebut melakukan tindakan menghilangkan nyawa orang lain? Apakah hal yang mendasari, memicu dan membuat mereka berbuat nekad? Dari sini kita bisa menarik benang merah, yang saya yakin disebabkan oleh tindakan tidak manusiawi dari pengguna jasa mereka sebagai pembantu rumah tangga. 

Pekerja di ranah domestik sangat rentan mengalami penindasan, pelecehan seksual dan penyiksaan dari majikan mereka. Kewajiban tinggal, melayani dan harus bekerja tanpa mengenal batas waktu di rumah majikan, tentu sangat mempengaruhi kejiwaan dan psikis mereka. Tidak adanya hak libur dan tak memiliki akses keluar, apalagi jika majikan tidak baik bahkan memperlakukan pembantu seenak hatinya, tentunya hal itu akan menjadi tekanan batin bagi pembantu itu sendiri. Jika kondisi tersebut berulang-ulang terjadi, dapat dipastikan, rasa kesal, takut, kecewa, teraniaya dan tersiksa akan meledak saat yang bersangkutan tak mampu lagi menahan emosi mereka.

 Sesabar dan sependiam apapun, mereka pada satu waktu akan lepas kendali dan melakukan kesalahan, seperti kasus yang dialami oleh almarhumah Siti Zainab dan Karni. Apa yang mereka lakukan adalah dorongan emosi karena perlakuan majikan yang semena-mena. Karena pada dasarnya, niat mereka merantau ke negeri orang adalah untuk memperbaiki taraf hidup diri dan keluarga di kampung halaman. Jadi, situasi dan suasana tempat kerja serta perlakuan tidak baik dari majikan, yang memicu mereka untuk melakukan perbuatan nekad. 

Dan semoga pemerintah Indonesia, mulai bersikap tegas, kemudian mengambil langkah aktif untuk menyelamatkan lebih dari 200 buruh migran, yang saat ini terancam hukuman mati di beberapa negara penempatan. Karena buruh migran juga manusia. Mereka bukan hanya komoditas sebagai penghasil devisa selain migas. BMI memerlukan perlindungan dan pengayoman dari pemerintahnya. Tak hanya janji manis tanpa realisasi. Bukan hanya melobi negara pemberi hukuman mati, tetapi juga memberikan bantuan advokasi yang mumpuni. Semoga kedua almarhumah tenang di sisi-Nya, dan buruh migran yang saat ini sedang menunggu vonis mati, dapat diselamatkan. Aamiin.

Susana Nisa
Artikel ini termuat di Apakabar Plus
2015
Posted by Unknown 22.41.00 in
Februari 2016, saya berkesempatan untuk pulang kampung (cuti) ke tanah air selama 17 hari. Setelah hampir sewindu saya menahan kerinduan dan cinta untuk keluarga di rumah. Pasti pembaca bingung kan? Sewindu? Lama amir…eh lama amat San? Bukannya tiap 2 tahun kontrak berakhir, setiap TKI berhak mendapatkan cuti pulang kampung? Nah kamu, sewindu itu 8 tahun cyiinnn…ngapain tidak cuti heh? Well, katakanlah saya yang seorang jomblo berhati mulia hahay, kerasan numpang hidup, nginep, kerja, makan de el el di negeri mas Bosco wong ini. Gimana ga kerasan, coba? Alhamdulillah lopan super baik, pekerjaan simple dan internet 24 jam lancar juaya, meski saya terkadang harus bertengger di jendela kamar untuk mendapatkan sinyal, hahaha, gitu kok lancar San! Ya, iyalah lancar, cuman untuk loading video dan sebangsanya yang lemot. Sedangkan wosep, fesbuk mah lancar puol. Jadi sewindu terasa seminggu hehehe. 

Yah, inilah salah satu keuntungan kaum jomblo berhati mulia. Kagak ada yang angen-angen alias arep-arep. Nah ibu kamu? Oh ya, paling yang merindukan saya hanya emak tercinta. Yang semenjak saya merantau untuk kedua kalinya ke Negeri Beton 2009 lalu, selalu menanyakan kapan saya cuti pulang kampung? Dan berkali-kali pula saya memupuskan harapannya. Oh, insya Allah rioyo tahun ngarep mak e, begitu jawab saya. Sepurane ya mak (. Hingga 7 kali hari raya terlewati, saya belum juga mengambil cuti. 

Ada rasa bersalah sebenarnya, tapi Alhamdulillah, emak paham dengan sifat putrinya yang beda dengan gadis lainnya. Cie…special in every single thing...that’s me hahaha, kecap mah dimana-mana nomer 1, ya gak? Terus, brader brader kamoh? Mereka kagak miss you apa? Yei leh, mereka mah, ngomong kangen di telpon doang. Mereka paling risih kalo ayas di rumah. Kenapa? Karena saya adalah tipe seorang mbak yang cerewet puol! Dijamin mereka kagak bisa tidur pulas saat saya cuti. Hari-hari mereka bagaikan dalam penjara, karena saya menerapkan sistem militer di rumah. Rumah harus bersih, wangi dan tertata rapi. Tidak boleh ada handuk, gombal, baju atau apalah cemlentang sana sini. Everything must be tidy. Karena sikap saya itu, ketiga brader saya menyematkan nick name, Cino Hong Kong muleh, kalau saya ada di rumah, hahaha. Tapi saya tahu, mereka begitu menyayangi saya dengan cara mereka masing-masing. Kakak dan kedua adik saya, adalah oase yg tdk pernah kering. Mereka seperti air yg selalu menyejukkan setiap kali sifat ngambek, marah dan arogan saya kumat. For me, they are the best gift in my life. I feel fortunate to have them as my siblings.
 Mungkin mereka yg merasa nelongso memiliki saudara perempuan seperti saya. Wes cuueerewet, ngueyelan, nguamukan, buawel hhhh...bersabarlah brods, 'coz I love you all :-)

Sebagai anak perempuan satu-satunya, seharusnya saya memiliki hak mutlak untuk di sayang, dimanja dan dilindungi. Tetapi, seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa saya beda and nyleneh dari kebanyakan gadis lain. Karena itu, saya lebih senang merantau untuk merangkai, merajut dan mewujudkan semua impian yang ada di batok kepala saya. Jika gadis lain memakai high heels, maka saya lebih suka memakai sandal jepit. Jika cewek lain suka memoles wajah dengan make up dan bibir bergincu, saya sebaliknya. Wajah selalunya kumut-kumut, berminyak. Namun satu yang patut saya syukuri, bibir sensual dan sexy buwahhahaa, sensor! Sejak kecil tumbuh dengan ketiga saudara laki-laki, empat orang keponakan laki-laki, membuat saya berjiwa maskulin, eits…ojo suudzon ker, ayas mah normal, masih suka dengan lawan jenis atawa lelaki, buktinya? Sila cekidot akun fesbuk Susana Nisa dah, noh sana klik n cek, betapa aike tergila-gila dengan Hyun Bin (Binnie) oppa, Sarang hae, saranganta oppa mumumu:*


Jadi berjiwa maskulin dalam artian, memiliki semangat juang, tegar laksana karang, karena saya merasa terlahir sebagai seorang fighter and not a player. Hal itulah yang membuat saya betah berlama-lama hidup jauh dari sanak keluarga. Bukan tidak merindukan mereka, cuman ada beberapa hal yang cukuplah saya dan Maha Pemilik Cinta yang mengetahuinya, top secret!


Sekarang kembali ke topik awal sesuai judul yang saya tulis. Pengalaman transit pertama di Bandara Soetta, Cengkareng. Meski sejak 2003 saya sudah merantau ke negeri antah berantah, kemudian 2004 akhir saya pulang kampung. Lalu Mei 2005, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Negeri Bauhinia ini, dan 2009 awal saya pulang. September 2009 saya kembali mengepakkan sayap terbang ke langit Hong Kong hingga saat ini. Selama itu pula, saya tidak pernah melewati bandara Soekarno Hatta. Saya terbang ke negara tujuan dari bandara Juanda Surabaya dan hanya transit di Bandar Seri Begawan, Brunei. 

Jadi baru ngeh, paham tentang kondisi, rupa, wajah, dan paras bandara Soetta ya, saat cuti Februari lalu. Oh, bukan ding, November awal 2015, saya juga ke Jakarta dari Hong Kong, cuman ga transit lama di bandara. Karena saya dapat undangan spesial dari VOI-RRI, Jakarta. Pada Februari lalu, saya harus menginap selama hampir 9 jam di bandara Soetta. Penerbangan dari Bandara internasional Chek Lap Kok, Hong Kong pukul 5 sore. Sampai di Soetta, Cengkareng sekira pukul 10 malam. Setelah melewati imigrasi dan sebagainya, saya harus stranded atau terdampar di bandara semalaman. Sembilan jam di bandara itu nano-nano deh rasanya. Karena penerbangan domestik ke berbagai wilayah baru ada pagi harinya. 


Pada mulanya, saya sempat ketar-ketir. Worry tingkat dewa. Karena bayak yang udah berbagi pengalaman, jika TKI yang pulkam terus transit di bandara Soetta, ada yang mengalami penipuan, penjambretan, penculikan bahkan yang super syuuerem dibunuh. Nah loh! Setegar, seberani apapun seorang Susana Nisa, pastinya keder juga, bo! Halah, gitu katanya seorang fighter, hahaha, ternyata saya kalah sama kang Kadoor dalam pembuatan video di fesbuk, wooii...fokus San, ini nulis tentang transit bukan vlog lageeh! Oh haiwo, kembali ke laptop deh. Di sela rasa cemas, khawatir, tamsam or worry itu, saya meyakinkan pada diri sendiri, bahwa Yang Kuasa akan melindungi dan menjaga saya.

 Baca alfatehah, ayat qursy dan doa lainnya saya melangkah sambil menenteng tas bawaan (dua koper saya langsung masuk bagasi sejak dari Hong Kong, menuju Malang, jadi ga usah ribet ngurusinnya) menuju eskalator untuk naik ke lantai atas, tempat para penumpang yang akan melanjutkan perjalanan ke daerah masing-masing keesokan paginya. Bersama saya ada beberapa mbak-mbak BMI Hong Kong yang sebelumnya satu pesawat dengan saya. Alhamdulillah, mereka baik semuanya. Sesampai di lantai 2, telah menanti deretan bangku-bangku panjang yang bisa digunakan untuk tempat tidur sementara sampai esok pagi. Bangku-bangku yang beralih fungsi menjadi ranjang sementara para transiter, dipenuhi oleh TKI dari berbagai negara. Korea, Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Arab Saudi dan negara penempatan lainnya. 



Saya sarankan, saat di sini untuk mulai berhati-hati. Jangan terlalu akrab dengan teman yang baru kita kenal. Bukan suudzon atau berprasangka buruk, hanya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bawa dan dekap selalu tas yang berisi barang –barang berharga, seperti paspor, uang dll. Jangan pernah menitipkan barang kita atau menerima titipan dari teman sesama transiter. Sekali lagi demi keselamatan kita sendiri. Berbincang iya, saling menyapa boleh, tapi itu tadi, seperlunya dan secukupya saja. Toh, besok pagi kita sudah menuju kota masing-masing. Tapi kan, bisa nambah teman, jalin silaturahmi, San! Lah, tambah teman, silaturahmi gundulmu kuwi! Safety first girls. Keselamatan dulu yang diutamakan. Supaya transit aman, selamat dan lancar. 


Jadi, di satu malam di bulan Februari lalu, saya tidur di bangku ruang tunggu untuk penerbangan domestik, bandara Soetta. Keesokan paginya, sekira pukul 8.30, terdengar panggilan untuk para penumpang yang akan menuju Malang, Jatim dengan maskapai penerbangan Garuda. Saya hanya sempat menyapu ujung mata dengan tisu without gosok gigi, lalu bergud-bye ria dengan teman-teman sesama transiter. Lanjut menuju counter Garuda untuk check in. Alhamdulillah, tidur semalaman di bandara aman dan selamat. Mungkin saya terlalu paranoid dan terpengaruhi dengan cerita-cerita buruk tentang TKI yang transit di Soetta. Well, namanya juga baru pertama transit. Pake nunggu 9 jam mbak brow, opo ga jamuren rasane nok Bandara!

Sebenarnya saya bisa saja naik Chatay Pacific meski harga tiket mahal, toh si mbok juragan yang membelikan, dari Hong Kong langsung Juanda, Surabaya, no transit Jakarta. Cuman saya kasihan dengan big Brader yang harus menjemput saya ke Juanda malam hari lagi, dengan jarak tempuh malang-Surabaya 3-4 jam PP lagi, sepeda motoran pisan. Terus lagi pas masa cuti habis, big bro harus berangkat subuh dari malang ke surabaya utk ngantar saya, n pp lagi. Lak sakno ta! Lah ora nggowo mobil, San? Mobile nok dealer sek-an hahaha. Kan bisa nyewa jasa travel? Atau nyewa mobil, lalu sekeluarga menjemput di bandara? Haiisst…no way! Sejak dari Brunei dulu, sudah menjadi tradisi jika big bro yang pick me up dengan sepeda motor. Karena selalunya saya tidak mengabarkan kapan saya pulang. Hanya big bro yang tahu. Surprise geetooh! Sehingga Februari lalu saya memutuskan untuk menggunakan jasa penerbangan Garuda Airlines. Transit Jakarta dan baru esok paginya terbang ke Malang. 
Jarak rumah saya dengan bandara Abdulrahman Saleh hanya 30 menit, dengan mobil atau sepeda motor. Jadi, keputusan saya untuk transit Jakarta dilanjut terbang ke Malang, saya rasa keputusan yang wise dan memudahkan kakak dalam menjemput saya. Sekira 2 jam penerbangan dari Jakarta ke Malang, Alhamdulillah mendarat dengan selamat di bandara Abdurahman Saleh. 




Sebagai seorang aremanita, saya tersenyum bangga melihat sekeliling bandara tersebut. Suasananya bersih, sejuk, dan jauh dari kebisingan. Serasa berada di pegunungan, bukan di bandara. Dengan prosedur yang simple dan tidak terlalu rumit, saya mengambil 2 koper milik saya. Di depan pintu keluar, di tengah kerumunan para penumpang dan mereka yang menjemput sanak keluarga, teman ataupun handai taulan, di sana, big bro tidak sendirian. Ada putri sulungnya yang sudah setinggi saya, padahal waktu saya berangkat ke Hong Kong, gadis kecil itu masih berumur 7 tahun. Sekarang ia menjelma menjadi remaja cantik tinggi semampai. Big bro membantu membawa koper dan tas bawaan milik saya. Bertiga kami berjalan menuju pelataran parkir bandara. Kali ini, bukan sepeda motor yang menunggu, melainkan sebuah mobil bercat biru. Saya sedikit terkesima dan nyengir lebar, kenapa? Karena di badan mobil itu tertulis tiga huruf kapital dengan ukuran besar. LDG (landungsari-dinoyo-gadang), yup, si biru adalah mikrolet milik tetangga saya, buwahaha. Tapi bersyukur, karena penjemputan kali ini sudah ada peningkatan sarana transportasi dari sepeda motor ke mikrolet, hehehe. Saat langkah kami semakin dekat dengan si biru, nampak perempuan itu. Perempuan yang selalu mengharapkan kepulangan saya. Emak. Wajah itu, senyum itu, mata itu, semua masih sama. Hanya keriput mulai nampak nyata di dahi dan  matanya. “Na, muleh tenan awakmu nduk!” Tangannya merengkuh tubuh saya. Hampir delapan tahun, dekapan itulah yang selalu saya rindukan. Belaian tangan itu yang selalu saya impikan. Pandang kami beradu, senyumnya terkembang. Tak ada kata yang terucap. Jemari kami bertautan. Kristal bening perlahan jatuh menyusuri pipi keriputnya. Dekapannya semakin erat saat kami berada di dalam si biru yang bergerak perlahan meninggalkan bandara Abdurahman Saleh. “Wellcome Home, San!” Samar saya berbisik lirih pada diri sendiri. Emak masih menggenggam jemari saya. Senyum tipis terlukis di bibirnya. Dan si biru mulai melaju membelah keramaian kota Malang. 


Posted by Unknown 15.16.00 in

Pertengahan musim gugur tahun lalu, tepatnya bulan Oktober, saya berkesempatan untuk berkunjung ke kota Guang zhou, ibu kota provinsi Guangdong. Awalnya, saya berencana melakukan perjalanan ke sana hanya dengan seorang kawan yang hobi mbolang atau backpacking. 






Karena saya ingin merasakan sebuah penjelajahan yang penuh dengan tantangan. Saya ingin mengunjungi tempat-tempat yang tak dikunjungi turis, juga menelusuri jalur yang bukan jalur wisata. Namun, keinginan tersebut harus kandas di tengah jalan, dikarenakan masalah mendasar yang membentur, yaitu keterbatasan waktu dan dana. Sebagai pekerja di ranah domestik yang memiliki jadwal cuti tidak sebebas pekerja di sektor formal, saya harus rela untuk mengikuti paket hemat agen travel. Meskipun saya sadar sepenuhnya, bahwa melakukan perjalanan dengan cara ini hanya cocok untuk para pensiunan. Karena perjalanannya tak dapat disebut sebagai penjelajahan yang memiliki esensi petualangan. Jujur, saya tak berselera bepergian dengan agen travel yang umumnya dilakukan oleh rekan pribumi lainnya. Alasan yang utama adalah, karena mereka selalunya berkerumun, pelesiran duduk rapat-rapat sesama spesiesnya sendiri. Kelihatan betul mentalitas kolektivis dan komunalnya. Tak suka membaur dan indifferent, tak acuh dengan komunitas lainnya.



Namun, sebesar apapun keinginan mbolang dalam hati, semuanya tetap muskil tanpa sejumlah uang dan waktu yang cukup untuk bepergian. Sehingga dengan separuh hati, saya dan seorang kawan memutuskan untuk mengikuti paket hemat dari salah satu agen travel yang memberikan pelayanan cukup baik. Meski pada awal perjalanan sudah membuat ubun-ubun mendidih karena jadwal berkumpul di stasiun kereta Lo Wu, dilanjutkan berangkat dari Shenzhen sekira pukul delapan pagi harus mundur alias molor sampai hampir pukul Sembilan, disebabkan ada beberapa peserta yang datang terlambat. Tetapi syukur Alhamdulillah, keterlambatan mereka tidak begitu mempengaruhi jadwal tur pada saat itu. Sehingga sekira pukul sembilan pagi kami mulai menapaki daratan Cina. 




Setelah menempuh perjalanan panjang, lebih dari dua jam menggunakan bis travel, sampailah kami di makam Saad bin Abi Waqqas, salah satu sahabat dan paman Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah penyebar agama Islam pertama di negeri asal Mao Zedong tersebut. 




Area pemakaman yang dibangun mirip dengan kebun raya atau hutan lindung, terasa sangat menyejukkan. Dari gerbang pintu masuk kita akan disambut oleh rindangnya berbagai macam pohon perdu, bunga dan tanaman lain yang membuat suasana sangat nyaman. 








Jalan  berpaving yang dapat dilalui oleh dua atau tiga orang, membujur sepanjang pintu masuk sampai ke area pemakaman. Memasuki areal pemakaman, terdapat sebuah gazebo atau bangunan mirip dengan pendopo kalau di Jawa. Di sekeliling bangunan itu terdapat musholla khusus wanita, juga sebuah rumah yang diyakini sebagai tempat pertemuan majelis pada masa hidup Sayidina Saad bin Abi Waqqas dan para sahabat-sahabat beliau. 








Terdapat pula sebuah sumur, Shabbi Well yang digali sejak 1300 tahun lalu semasa Saad bin Abi Waqqas hidup, dan masih mengalirkan airnya yang sangat jernih hingga saat ini. Banyak dari para penziarah yang mengambil air dari sumur itu, baik langsung diminum di tempat maupun mengisi beberapa botol air untuk dibawa pulang. Karena kemurnian dan khasiat dari air sumur dipercaya mampu mengobati berbagai macam penyakit. Namun, semua tak lepas dari izin Allah, Tuhan yang Maha menyembuhkan.






Setelah mengunjungi beberapa bangunan bersejarah, para pengunjung bisa langsung masuk ke area pusara sahabat nabi, Saad bin Abi Waqqas. Aroma wewangian bunga dan dupa menyeruak seolah menyambut kedatangan para penziarah. Di tempat peristirahatan terakhir sahabat nabi itu, ritual yang sering dilakukan adalah bersama-sama mendoakan arwah beliau sekaligus ‘ngalap berkah’. Setiap para penziarah berharap, semoga keberkahan yang dimiliki oleh almarhum Sayidina Saad bin Abi Waqqas, juga menular kepada mereka.  















Masjid Tertua, Huaisheng



Warga Tiongkok mayoritas tidak beragama karena negara menganut paham komunis yang tentunya tidak ber-Tuhan atau atheis. Namun, fakta yang menakjubkan adalah bahwa agama Islam berkembang di negeri Cina sejak abad ke-7. Salah satu saksi penyebaran Islam di negeri Tirai Bambu, khususnya Guang Zhou adalah masjid Huaisheng yang bangunan fisiknya mirip kuil dan berasitektur khas Cina. 


 g


Huaisheng adalah salah satu masjid tertua di Cina. Dibangun pada tahun 627, saat itu negara diperintah oleh Dinasti Tang (618-907). Masjid ini dibangun oleh paman Nabi Muhammad, Abi Waqqas pada masa pertamanya penyebaran agama Islam. Huaisheng sendiri bermakna ‘mengingat orang bijak’ yang mengacu kepada pribadi dan sosok nabi Muhammad SAW. 
Disalah satu gerbangnya terdapat sebuah tulisan Cina yang berbunyi ‘agama yang menjunjung tinggi ajaran yang dibawa dari wilayah barat’. 



t





 


Masjid dengan luas 2.966 meter persegi ini memiliki sebuah menara yang mirip mercusuar setinggi 36 meter. Pada masanya, menara ini digunakan untuk menyinari lalu lintas kapal di sungai Zhujiang. Kendati masjidnya menganut arsitektur khas Dinasti Tang, desain menaranya banyak dipengaruhi oleh arsitektur Arab.



 





 Ruang shalatnya dibangun kembali pada tahun 1935 dengan mihrab berbentuk setengah lingkaran, berada menjorok ke luar daripada shaf shalat. 









Masjid ini juga dikenal dengan beberapa nama, diantaranya masjid Hwai Sun Su, Huai-Sheng, Huai-Shang dan Huai-Shang Si. Juga ada yang menyebutnya dengan masjid Agung Canton dan masjid Ying Tong. Para sopir taksi di sana menyebut masjid ini dengan sebutan Muslim Temple. Masjid yang berada di kawasan Guanta-Lu (Guangta Road) No. 56, Yuexiu District, Guang Zhou, disekitarnya terdapat banyak pertokoan yang menjual berbagai macam makanan halal dan oleh-oleh khas hasil kerajinan tangan dari warga muslim di daerah tersebut. 









Karena waktu berkunjung ke makam Saad bin Abi Waqqas saya menggunakan jasa travel, dimana setelah naik KCR (light railway) dan turun di stasiun Lowu, saya segera bergabung dengan rombongan. Jadi setelah melewati imigrasi, kami semua naik bis travel yang telah menunggu kami di terminal area dekat dengan stasiun kereta di Shen Zen. Dan dengan bis itulah kami menuju Guang Zhou dengan tujuan pertama makam sahabat nabi, Saad Abi Waqqas kemudian ke masjid Huai-Sheng selanjutnya makan siang dan membeli oleh-oleh, lalu kembali ke Hong Kong. Jadi untuk jalur transportasi umum, sila tanya mbah gugel, hehehe!

Susana Nisa
Artikel ini termuat di Koran Suara
Rubrik Feature, 2015

Popular Posts

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Translate

Cari Blog ini

Search