Menulis adalah lentera di tengah badai kehidupan
Posted by Unknown 00.00.00 in

Part III :
Acara penganugerahan Bilik Sastra Award 2015, Wawancara di studio VOI RRI, Jalan-jalan ke Kota Tua, Kunjungan ke Masjid Istiqlal dan Kantor Redaksi Republika


Rasa bahagia, bangga dan haru bercampur aduk menjadi satu. Tatkala kami memasuki auditorium Abdulrahman Sholeh, RRI Jakarta. Nampak panggung yang megah dengan penataan artistik mewah berada di tengah auditorium.
 Para tamu undangan dan jajaran dewan direksi RRI juga staf, hadir memadati kursi berwarna merah marun. Di sebelah saya, my partner in narsis hahaha, brow Agus nampak sedikit gugup. Doi sempat berkata lirih, “waduh, aku udah ngrasa grogi nih!” Saya hanya meliriknya sekilas. Lalu tersenyum penuh kemenangan karena menang satu langkah darinya, tsaahh..! Setelah beramah tamah dengan beberapa tamu undangan, kami dipersilahkan untuk mengambil tempat duduk di bagian depan. VIP ceritanya, cie…cie..so spesial banget!


Tak berapa lama, acara penganugerahan Bilik Sastra Award 2015 pun di mulai. Dari peluncuran buku kumpulan cerpen terbaik bilik sastra 2014 oleh Kepala Stasiun Siaran Luar Negeri LPP RRI Voice Of Indonesia, bapak Drs. Eddy Sukmana S.H., M.M., M.H., dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, pembacaan cerpen Setangkai Tulip Putih oleh ibu Eni Budiono diiringi petikan gitar mas Yuby, menambah syahdu suasana hati yang mencoba menghayati setiap kata yang dieja sepenuh jiwa oleh suara sang maestro, ibu Eni. Kemudian pembacaan cerpen milik brow Agus, yang berjudul Mimpi Sang Pemuda Kecil. Setelah itu penerimaan Bilik Sastra Award, Talk Show yang dipandu oleh penyiar kondang, mbak Diba Casym dengan pembicara Pipiet Senja, Irwan Kelana dan Nadia Silvarani Lubis.






Selesai acara penghargaan dan foto bersama, kami di ajak ke studio VOI RRI untuk sesi wawancara. Nah, sebelum wawancara dimulai, kami dipersilahkan untuk menunggu dan duduk manis di sofa berwarna putih tulang yang berada di kantor bagian depan. Di situ nampak standing banner ucapan selamat datang kepada pemenang bilik sastra award 2015. Demi melihatnya, spontan reaksi kami adalah mengambil hengpon dan bergantian mengambil foto. Kami hanya meringis setiap kali ada staf yang lewat, menyapa dan menyalami serta tersenyum melihat kami cekrak cekrek hahahha, ampuuunn dah, mungkin banyak yang berpikir jika pemenang tahun 2015 seharusnya mendapatkan narcissist award of the year wkkkkk!


Setelah proses narsis dan selfi, mbak Wati muncul dan mengajak kami ke bagian ruang siaran bahasa Indonesia atau Desk Indonesia. Kemudian ke Desk Inggris. Selain wawancara, dilanjutkan dengan ritual rutin, yaitu berfoto lagi, tsaahh! 




Selesai wawancara dan lain-lain, kami di ajak jalan-jalan menuju ke Kota Tua.








Selepas itu dinner bersama dan pukul sepuluh malam kami diantar kembali ke Fave hotel.



Keesokan harinya, kami berkunjung ke Masjid Istiqlal Jakarta. Sebuah kunjungan yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Karena kami diizinkan masuk melalui pintu khusus, yang hanya diperuntukkan bagi tamu-tamu negara. Bahkan ada sambutan resmi juga pengambilan foto yang dilakukan oleh staf VOI RRI dan dari Masjid Istiqlal sendiri. Pemandu kami adalah bapak Andi, selaku humas masjid pada saat itu. Berikut momen-momen berharga dan membanggakan itu :



















Kunjungan berikutnya adalah ke kantor Redaksi Harian Republika. Di sini, kami juga disambut secara resmi. Benar-benar hanya bisa mengucap syukur Alhamdulillah dengan semua anugerah dan keistimewaan yang kami dapatkan.











Nah, buat teman-teman yang saat ini berada di perantauan, segera saja kirimkan karya cerpen kamu semua ke alamat e-mail : voi.biliksastra@gmail.com. Siapa tahu, kamu yang akan menjadi pemenang Bilik Sastra Award tahun ini! Hwaiting everyone…!
Posted by Unknown 05.34.00 in



Part II : Minggu, 1 November 2015,
Berkunjung ke Monumen Nasional dan Kawasan Ring 1 Ibukota

Sepulang dari acara makan malam bersama beberapa kru dan staf dari VOI RRI, saya dan brow Agus di antar kembali ke hotel tempat kami menginap. Mbak Wati yang turut mengantar sampai lobi hotel berpesan, bahwa besok pagi pukul 9 tepat, kami harus sudah siap dan menunggunya di lobi hotel. Setelah bergud bye ria dan dha…dha…dha…dha, tanpa cipika cipiki untuk brow Agus hahaha…! 

Kami bergegas menuju ke lantai 4, dimana kamar kami berada. Eits…jangan negative thinking pembaca! Kamar kami satu lantai, iya, bersebelahan hu um, tapi kami masih berpegang teguh pada sumpah dasa darma pramuka,tsaahh! So there’s nothing going on. Saya kan udah diikat ama Prince Harry, wkwkwkkw…diikat, sayur apa?Omo!

Masuk kamar, saya segera menelpon keluarga di Malang. Mengabarkan jika sudah tiba di Jakarta. Mendapat sambutan yang mengesankan dan bersahabat dari kru dan staf VOI RRI. Juga diberi fasilitas yang nyaman untuk penginapan dan akomodasi lainnya. Mungkin pembaca menganggap saya lebay. Ah…cuman nginap di hotel aja belagu buwahahaha! Guys, mbak yu, or whoever, kalo masalah nginap menginap di hotel mah, saya sudah terbiasa. 

Karena 2005-2009 saat saya mengabdi pada keluarga lopan  di distrik Kowloon Tong, setiap liburan musim panas, Imlek dan Natal, mereka selalu membawa saya jelang-jelong ke luar Hong Kong. Tak terhitung sudah tempat tujuan wisata yang pernah saya kunjungi saat menjadi nanny dari kedua putra majikan pertama. Dari Beijing, Shang Hai, Zuhai, Nan Sha, Dongguan, Guang Zhou juga beberapa kota besar di Tiongkok. Dan hotel tempat menginap pun bertaraf Internasional, a 5-star hotel. Semacam Mission Hill Golf Club di Guanlan, Shenzhen, yang terletak diantara kota Shenzhen dan Dongguan. Pernah merasakan berendam di jakushi hotel tersebut. 

Juga pada 2008 saat The Venetian Macao resort pertama kali dibuka, saya pun pernah menginap di suite atau kamar yang berbandrol 1500 dolar per malam (lupa dolar HK atau Pataca). Meski saya harus berbagi ranjang dengan kedua momongan, hahaha! 
Jadi bagi saya, menginap di hotel bintang 5 atau 3 sudah hal biasa. 

Yang membuat saya merasa istimewa saat berada di Fave hotel adalah status saya sebagai orang merdeka. Dalam arti tidak terikat pekerjaan, tidak perlu ngurusi momongan karena bukan ikut majikan berlibur also yang terpenting bisa berfoto sepuas hati hahaha. Sensasi dan rasanya 100 persen beda donk! Berasa seperti tamu negara sajah, eehhmm! 




Finally, setelah tidur pulas semalaman, pagi itu saya bisa bangun dengan wajah sumringah. Setelah bebersih diri, segera turun ke lantai 2 untuk sarapan bersama teman seperjalanan yang gokil habis. Gimana ga gokil, lagak dia yang seolah udah kenal akrab, meski baru sehari ketemu, lalu waktu sampai di depan pintu restoran tempat buffet untuk sarapan, bergaya sok gentleman menyilakan saya untuk masuk terlebih dahulu. Kemudian saat mengambil makanan juga bersama, layaknya orang honeymoon bae, aaihh…so sweet wkkwkwk. Beberapa pelayan dan tamu yang ada di situ nampak memperhatikan kami. Sedikit sungkan dan salting sih, tapi yah…what ever! Tsaahhh…saja lah!. 

Kami sengaja memilih meja di luar ruangan yang menghadap langsung ke jalan raya. Karena hari itu minggu, maka arus lalu lintas tak begitu padat. Dan tidak afdol rasanya jika sarapan tanpa berfoto terlebih dahulu. So, berikut adalah beberapa foto yang dijepret ketika itu.







Selepas sarapan kami bergegas bersiap diri untuk menemui mbak Wati yang ternyata sudah datang dan menunggu kami di lobi. Hari itu kami di ajak untuk berkunjung ke Monumen Nasional (monas), berselfie ria di sana juga di seberang jalan Istana Negara hahaha, tidak bisa masuk tanpa izin mbak brow! Kemudian berfoto di depan gedung megah Mahkamah konstitusi dan berakhir di depan kantor Radio Republik Indonesia (RRI) pusat Jakarta.






Setelah itu kami dibawa ke Auditorium Abdulrahman Sholeh, RRI, untuk menghadiri acara penganugerahan Bilik Sastra Award 2015.

Bersambung ke part III…

Posted by Unknown 22.54.00 in

Part I : Sabtu 31 Oktober 2015, Kedatangan dan Penyambutan di Bandara Soetta, Cengkareng

Awal Oktober 2015, sebuah email yang mengabarkan jika saya terpilih sebagai pemenang I VOI Bilik Sastra Award 2015 dan diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan tersebut, menjadi kado terindah untuk ultah saya yang ke…17++ ^_^. Setelah seminggu sebelumnya si bungsu wisuda dari politeknik kota Malang, tempat ia menimba ilmu. Meski sedih usia berkurang setahun dan harus menerima kenyataan bahwa saya semakin tunyu (tua unyu) wkkwkkw, ojo ferotez! Email dari VOI-RRI Jakarta dan wisuda si bungsu, bisa menghibur hati saya yang gundah gulana. Dikarenakan Prince Harry masih belum menunjukkan niat untuk meminang saya, hohoho. Ah…sutralah, lupakan doi untuk sementara waktu dan fokus ke persiapan berkunjung ke ibukota saja. Antara bahagia, bingung dan bahagia lagi, ihh, kok diulang terus sih, San? Hahaha. 

Oke deh, setelah email saya terima dan baca, jujur waktu itu tidak percaya kalau cerpen ‘Setangkai Tulip Putih’ yang saya kirimkan dan sudah dibacakan secara on air pada April 2015, keluar sebagi pemenang I. Karena cerpen-cerpen dari cerpenis lain yang dikirimkan ke redaksi juga aduhai dan mbois. Tapi, mungkin tahun 2015 is my lucky year. Jadi setelah episode ‘nggumun’ baca email, setelahnya adalah sujud syukur. Karena sejak jaman bahuela doloe, saya ingin sekali berkunjung ke ibukota Jakarta. Sehingga undangan VOI RRI untuk ke Jakarta, ibarat pepatah ‘bagai pucuk dicinta ulampun tiba’.




Setelah mengantongi ijin dari nona untuk cuti tidak resmi selama lima hari, saya pun mempersiapkan perbekalan yang akan saya bawa. Tidak banyak sih, hanya beberapa pasang baju dan sepatu. Waktu itu pinjam koper kecilnya si Nyiet2 (NH Lulu) karena koper saya besar banget. Oh ya, saya juga ingin mengucapkan terima kasih pada NH Lulu, bukan hanya karena pinjaman koper, melainkan karena dia yang memberitahu saya tentang info dan pengiriman cerpen ke program bilik sastra VOI-RRI Jakarta. Yang kemudian di follow up dengan  mendetail oleh Yesi Armand Sha yang memberi alamat email serta dukungan semangat agar saya turut mengirim cerpen ke program bilik sastra. Sambil berucap ‘hwaiting, kayao…budhe#eh!!! Thanks untuk kalian berdua yeo-dongsaeng, sarangheyo…mumumu:*


Singkat cerita, hari-H keberangkatan saya tiba. Setelah malamnya saya meneror my very good friend widyawati (avikha saha) dan Antoen (Jumiasih), senior saya mantan bini khayalan dari oem Ikal, te Epha thea, Risna, Yesi juga Erna bahkan Yuli pun tak luput dari sasaran saya. Mereka menjadi konselor mode dadakan. Tentang baju dan jilbab mana yang harus saya kenakan saat menerima penghargaan, kunjungan ke Masjid Istiqlal lalu ke Kantor Redaksi Republika, de el el. Yang bikin saya puyeng, saran dan advice dari mereka berbeda, hahaha. Kapok deh!!. Finally, saya putuskan untuk mengikuti kata hati. Dan konseling mode selama hampir 2 jam, ganti baju dan jilbab beberapa pasang, mou yung atau useless, aaiisshh, maafkan saya, ladies!. Yeileh, namanya juga pertama kali diundang ke acara resmi seperti ini. Ke jekardeh lagee…, nervous, excited, happy, nano-nano deh rasanya.


Hari itu, Sabtu pagi, 31 oktober 2015 saya bertolak ke Jakarta dari bandara internasional Chek Lap Kok, Hong Kong. Keberangkatan saya menandai kepulangan yang pertama kalinya, setelah 7 tahun saya tidak pernah menghirup udara di tanah air tercinta. Saat di pesawat, terbayang di benak saya, jika saat mendarat nanti akan ada panitia penyambutan yang membawa sebuah kertas berukuran besar bertuliskan nama Susana Nisa, pemenang VOI Bilik Sastra 2015. Bayangan itu membuat saya mesam-mesem sendiri. Setelah kurang lebih 5 jam, pesawat yang saya tumpangi terkatung-katung diantara gumpalan awan berwarna putih bak kapas, alhamdulilah mendarat dengan selamat sekira pukul 1 siang waktu setempat. 


Setelah keluar dari imigrasi dan mengambil koper, saya bergegas menuju arrival hall. Mata saya mengamati satu persatu deretan orang-orang yang berada di luar pagar pembatas aula kedatangan (Arrival hall). Tak ada satu orang pun yang membawa kertas besar bertuliskan nama saya, aigoo…melas.com, hahaha! Antara khawatir dan bingung, karena pertama kalinya saya turun di bandara Soetta, Cengkareng dan tidak ada satu keluarga pun di Jakarta. Teringat berita, jika banyak tindak kejahatan kepada TKI yang pulang dari luar negeri, saya berusaha untuk relaks, pasang muka jutek, seolah-olah sudah paham dengan kondisi di bandara. 
Hal pertama yang saya lakukan adalah membeli sim card simpati, untuk menghubungi mbak Wati, salah satu staf VOI yang saya kenal akrab dari facebook. Namun, sim card yang barusan saya beli, tidak berfungsi di hp jadul milik saya. Untung bapak penjual sim card tersebut berkenan meminjamkan teleponnya. Karena kebaikannya, saya bisa menelpon mbak Wati yang saat itu juga ada di bandara untuk menjemput saya dan brow Agus Purwanto, pemenang dari Malaysia.


Ternyata oh ternyata, mbak Wati dan beberapa rekannya menunggu saya di terminal kedatangan 1, sedangkan saya keluar di terminal 2. Makanya, kok tidak ada yang nyambut saya, hahaha, mesakno rek Susan! Setelah menunggu beberapa saat, mbak Wati dan rekannya, bu Volda, mbak Endar dan pak Tisna tiba di terminal 2. Senyum mereka terkembang seraya minta maaf karena salah tempat menjemput. Saya balas tersenyum dan tertawa lebar saat rekan mbak Wati yaitu bu Volda membuka gulungan kertas yang didalamnya tertulis nama saya. “Nah, selamat datang di ibukota mbak Nisa, ini nih, dari tadi saya mbentangin kertas di dekat pagar arrival hall terminal 1, eh yang dijemput turun di sini,” ujarnya seraya tertawa. Suasana begitu hangat dan akrab meski baru pertama kali bertemu. Setengah jam kemudian, tamu agung (ojo ge-er lo brow agus, hhhh) dari negeri Jiran datang. 
Setelah foto bersama, kami meninggalkan area bandara Soetta, Cengkareng menuju Jakarta. 



Karena saat datang adalah waktu makan siang, kami diajak ke sebuah warung makan yang menyajikan menu makanan Sunda. Ramai dan full pengunjung. 


Setelahnya mereka mengantarkan kami ke Fave hotel. Sebuah hotel bintang 3 yang akan menjadi tempat menginap kami selama 4 hari di ibukota, Jakarta. Setelah check in, mbak Wati menginfokan akan mengajak saya dan brow Agus untuk dinner bersama sekaligus melihat wajah Jakarta di malam hari. Yay, I feel so excited. 


Ga sabar nunggu waktu dinner tiba. Sekira pukul 8.30 malam, kami dijemput dan dibawa keliling Jakarta. Melewati Monas, bundaran hotel Indonesia (HI) dan sekitarnya. 









Kemudian diajak ke Sarinah, yang merupakan mall pertama di Indonesia. Then having dinner di bakmi Gajah Mada, atau apa ya? Maaf, sudah lupa, hehehe








 After dinner, diantar kembali ke hotel untuk istirahat dan mempersiapkan diri for the big day (award presentation ceremony), Minggu pagi, 1 November 2015. Oh…just can’t wait for it…!




#Bersambung ke part II
Posted by Unknown 21.27.00 in


Bunga flamboyan berguguran di sepanjang jalan menuju taman kecil di belakang kampus. Sebuah taman tua yang tak terawat. Terkesan sedikit angker dengan pagar pembatas setinggi dua meter mengelilinginya. Wajar jika taman ini selalu sepi. Terkadang, hanya satu dua orang mahasiswa yang terlihat duduk di bangku-bangku taman berwarna coklat tua. 

Salah satunya adalah aku. Bagiku, menikmati warna merah dengan degradasi oranye yang indah menjuntai dari dahan-dahannya, adalah obat paling mujarab untuk melepas lelah. Apalagi saat minggu pertama kemunculan bunganya di bulan Oktober. Ketika cuaca cerah dan langit berwarna biru tanpa awan, bunga flamboyan yang berwarna merah jingga seolah menyala. Bak lukisan yang sempurna dengan latar belakang langit biru lazuardi. Namun, keindahan itu tak bertahan lama. Karena minggu berikutnya, warna bunga flamboyan mulai memudar. Dari merah jingga perlahan ke merah tua yang redup. Kemudian layu dan gugur menutupi tanah di sekitarnya. 

Langkahku berhenti tepat di bangku kayu, di bawah pohon flamboyan yang terletak di ujung taman. Tempat duduk kesukaan kami. Dulu, sebelum kepergiannya. Setiap sore, kami selalu bertemu di taman ini. Menghabiskan waktu berdua, sambil memandangi kelopak-kelopak merah yang perlahan luruh diterpa kesiur angin. Kami bercakap tentang apa saja. Tentang kuliah, keluarga dan impian kami. Suatu saat nanti, ketika musim telah berganti, kala kami sudah mampu untuk membalas budi kedua orang tua masing-masing, kami akan berikrar untuk mengikat janji sehidup semati. 
Di sini, di bawah ranting-ranting pohon flamboyan dengan kelopak merahnya yang berguguran menutupi tanah. Terbayang di pelupuk mata, aku mengenakan gaun pengantin putih. Dan ia dengan stelan jas hitam. Sekilas senyum tersungging di bibirku.

Hanya sesaat. Lalu hampa dan keheningan seolah merengkuhku. Disaat seperti ini, aku akan kesulitan bernafas lalu jatuh terduduk di bangku kayu itu. Tangan ringkihku memegang lengan coklatnya yang semakin rapuh. Aku megap-megap, berusaha menghirup oksigen untuk mengisi rongga dadaku. Beberapa saat berlalu, aku hanya terdiam. Membiarkan setiap inci hatiku membuka lembaran kenangan bersamanya. Perih menyayat kalbu. Tapi aku bergeming. Menikmati rintihan jiwaku yang berdarah mengenang setiap jengkal kisah kami. Aku tak punya pilihan lain. Hanya dengan ini aku mampu bertahan. Mungkin aku sakit. Tapi biarlah. Asalkan kepingan kenanganku tentangnya tetap utuh, tak berubah. 

Petang itu aku terlambat datang ke taman. Tugas kuliah yang menumpuk membuatku harus berada di kampus hingga sore. Hatiku cemas, khawatir kalau ia telah pulang. Namun, ia di sana. Duduk di bangku di ujung taman. Tak ada seorang pun bersamanya. Perhatiannya seolah terpusat pada buku di tangannya. Ia menoleh saat mendengar kecipak langkah kakiku. Seperti biasa, senyumnya terkembang menyambut kehadiranku.

“Kukira kau takkan datang, Dew,” ujarnya pelan.
“Maafkan aku karena membuatmu menunggu. Kau tidak marah, kan?” kataku sambil duduk disebelahnya.
Ia menggeleng. Meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Kutatap kedua mata elangnya. Ada mendung menggelayut di sana. Ia Mendesah. Kemudian bibirnya bergetar menceritakan beban yang ada di dalam hatinya. Genggamannya semakin erat. Seakan ingin menyatukan jemari kami. 

Ia berbicara dengan tatapan kosong. Aku pun hanya mampu termangu mendengar setiap kata yang meluncur dari bibirnya. Ia mengatakan, setelah prosesi wisuda kelulusan kami, ia harus segera kembali ke kampung halamannya di Sumatera. Kembali untuk menunaikan janji dan amanah mendiang sang ayah. Menikah dengan perempuan yang telah dijodohkan oleh keluarganya. Ia adalah satu-satunya anak lelaki yang akan meneruskan nama besar dan marga keluarga. Karena itu, untuk pemilihan pendamping hidup, mendiang ayahnya telah memilihkan seorang perempuan dari keluarga terpandang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Penolakan tak pernah ada dalam tradisi perjodohan semacam ini, meski ia seorang lelaki. Tanggung jawab moral kepada kedua orang tua dan keluarga besar, harus ia junjung tinggi. Walaupun kebahagiaannya yang menjadi taruhan.

“Maafkan aku Dew. Seharusnya aku berterus terang padamu sejak dulu tentang hal ini,” ucapnya dengan nada berat. 
Aku ingin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Kenapa? Mengapa? Tapi tak satupun kata terucap. Lidahku kelu. Bulir-bulir airmata luruh menggelincir dari kedua mataku. 
“Kau tidak akan membenciku, kan?” Nadanya semakin berat. 

Jemarinya perlahan mengusap pipiku yang basah oleh air mata. Aku menggeleng. Kucoba melawan desakan amarah, kesedihan dan sakit yang teramat sangat. Tiga tahun hubungan kami harus berakhir seperti ini. Hampir setengah windu, dan baru sekarang aku mengetahui jika lelaki yang kucintai, lelaki yang selalu mengisi hari-hariku, lelaki yang berbagi mimpi dan harapan tentang masa depan denganku, telah terikat janji dengan seorang perempuan di tanah kelahirannya. Seharusnya aku mengumpat, memaki atau bahkan menampar dan menendangnya. Namun, aku tak mampu. 

Pandang mata kami beradu. Kurasakan hawa hangat mengalir bersama desiran darahku. Entah siapa yang memulai. Yang kutahu, bibir kami bertemu. Saling memagut. Setelahnya kurasakan sensasi luar biasa. Nafas kami memburu. Ia semakin erat memelukku. Tubuh kami menyatu di keremangan senja di bawah naungan pohon flamboyan. Ia masih mendekapku, sesaat setelah momen berbagi kasih yang barusan terlewati. 

“Terima kasih Dew. Akan aku bawa kenangan ini sampai kapanpun.” Ia tersenyum. Sekilas, nampak ada kilatan merah di kedua matanya. Ia melempar pandangan ke depan, sehingga aku tak bisa menatap matanya. Ah, mungkin hanya refleksi dari bunga flamboyan, batinku. Aku membalas senyumnya. Menggamit lengannya yang menggandengku keluar dari taman. Kami menyusuri jalan kecil menuju halaman kampus. Ia tak banyak bercakap. Aku pun hanya diam. Mendekatkan kepalaku ke sisi lengannya. Gelisir angin menerbangkan daun-daun kering yang luruh di tanah.

Ia mengantarkanku sampai ke tempat kos yang terletak tak jauh dari kampus. Ia tersenyum, mengecup keningku dan membisikkan sesuatu di telingaku. Lalu ia berbalik arah, berjalan menyusuri jalan yang barusan kami lewati. Aku masih berdiri di depan pagar rumah kos. Berat rasanya kakiku melangkah. Entahlah, rasa sepi itu kian menjadi, manakala kulihat ia berjalan semakin menjauh. Seolah perpisahan ini untuk selamanya.

Dua hari setelah pertemuan kami di taman itu, ia sama sekali tak bisa dihubungi. Ponselnya tidak aktif. Ia juga tidak ke kampus. Saat kutanyakan kepada teman-temannya, tak seorang pun yang mengetahui. Salah seorang teman kosnya mengatakan, sejak dua hari yang lalu ia tidak kembali ke tempat kos. Otakku berputar mencerna informasi itu. Aku bertemu dengannya tepat di sore hari, dua hari yang lalu. Setelah kejadian di taman dan mengantar aku ke tempat kos, ia berjalan kembali menyusuri jalan kecil menuju ke taman. Tapi apa mungkin ia berada di taman selama dua hari ini? Untuk apa? Kenapa ia tak menjawab telpon dan membalas pesanku? Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalaku. 

Dengan seribu rasa penasaran dan harap cemas, aku bergegas menuju taman di belakang kampus. Sunyi. Tak ada siapapun di sana. Kakiku terus melangkah di atas luruhan bunga flamboyan yang semakin memerah. Semburat matahari senja menyusup diantara rimbun daun dan bunganya. Langkahku terhenti saat mataku menangkap pendar sinar berwarna jingga, di bawah pohon flamboyan terbesar yang ada di ujung taman. Ada rasa takut menyusup. Tapi rasa penasaran membuat kakiku bergerak maju. Mataku terbelalak saat aku berada dua meter dari pohon kokoh berkulit hitam mengkilat itu.

Di depanku, nampak seorang perempuan duduk bersimpuh di tanah. Rambut panjang jingganya terurai menutupi wajah seorang lelaki di pangkuannya. Ia menunduk. Jari jemari berkuku panjang dengan warna senada rambutnya, mengusap dada telanjang lelaki itu. Lalu, dengan satu hentakan kuat, kuku perempuan itu menembus dada lelaki di pangkuannya. Dan saat ia mengeluarkan tangan dari dada lelaki itu, terlihat segumpal daging berwarna merah pekat dalam genggamannya. Ia mendekatkan gumpalan daging itu ke mulutnya. Kemudian dengan rakus ia melahap gumpalan daging itu. Aku terbelalak melihat pemandangan mengerikan di hadapanku. Ketakutan melandaku. 

Rupanya perempuan itu mengetahui kehadiranku. Wajahnya terangkat dan melihat lurus kearahku. Rambut jingganya tersibak. Di saat yang sama aku bisa melihat dengan jelas wajah lelaki itu. Aku terkesiap. Mataku membelalak tak percaya dengan apa yang kulihat. Lelaki itu adalah Prasetyo, kekasihku. Tubuhku luruh, jatuh terduduk. Aku syok. Kakiku seolah menancap ke tanah. Sementara perempuan itu nyalang menatapku. Perlahan ia bangkit dan berjalan menghampiriku. Aku ingin berteriak, namun suaraku tercekat di tenggorokan. 

Ia semakin mendekat. Aku menggigil ketakutan melihat seringai liarnya. Tiba-tiba ia berhenti, tangannya terangkat dan menunjuk kearah perutku. Aku seolah membeku. Tak mampu bergerak sedikitpun. Dapat kurasakan angin berhembus di sekelilingku. Nampak perempuan itu mengibaskan rambutnya. Dan bunga-bunga yang berguguran di tanah berputar mengelilinginya. Lalu ia lenyap. Di kejauhan, samar terdengar suara adzan maghrib berkumandang. Aku sempoyongan mencoba melangkah kearah tubuh Prasetyo yang tergeletak bersimbah darah. Kedua kakiku seolah tak bertulang. Tubuhku limbung jatuh terduduk di dekat jasadnya. Kurasakan pandanganku berkunang-kunang. Lalu gelap pekat menyelimuti.

Yang kutahu saat membuka mata, aku telah berada di bangsal rumah sakit. Sekujur tubuhku terasa ngilu. Ayesa, sahabatku, nampak tertidur di kursi sebelah ranjang tempatku terbaring. 
“Sa,” kucoba membangunkannya. Ia tergeragap dan membuka mata.
“Masya Allah, Alhamdulillah Dew, kamu sudah sadar.” Senyum yang menyiratkan rasa lega  terpancar di wajahnya. Tanpa aku minta, ia menceritakan kenapa aku sampai dirawat di rumah sakit. Karena hampir tengah malam aku belum kembali ke tempat kos, Ayesa meminta bantuan beberapa kawan untuk mencariku. Mereka menemukanku tergeletak tak sadarkan diri di bawah pohon flamboyan, di taman belakang kampus. Pakaianku dipenuhi bercak darah yang telah mengental. Panik dan khawatir dengan keadaanku, mereka segera membawaku ke rumah sakit. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Perlahan kesadaranku kembali utuh. 

“Lalu, bagaimana dengan Pras? Apa ia masih hidup? Ia tertolong? Di mana ia sekarang?” berondongku pada Ayesa. Sahabatku itu menatapku. Ia menghela nafas. 
“Kami tidak menemukan Pras di taman itu Dew. Di sana hanya ada kau yang terkapar pingsan. Sendirian, tak ada seorangpun. Dan sampai detik ini, tak ada kabar di mana ia berada.” Aku termangu. Sketsa kejadian di taman tergambar nyata. Wanita berambut jingga yang merobek dada Prasetyo. Lalu mengambil gumpalan hitam dari dalam dadanya kemudian memakan gumpalan itu. Tatapan liar dan seringai wanita itu, sebelum ia lenyap bersama luruhan bunga-bunga flamboyan. Aku ingat semuanya. Tapi kemana tubuh Pras? Apa ia masih hidup? Kepalaku serasa pecah mencoba menerka apa yang terjadi dengannya.

“Istirahatlah Dew. Dokter menyarankan agar selama dua sampai tiga hari ke depan, kau tinggal di rumah sakit. Tak usah kau pikirkan Prasetyo lagi. Pihak keluarga dan teman-temannya sudah melaporkan ke polisi jika ia menghilang sejak dua hari yang lalu. Kau istirahat saja untuk memulihkan kondisi tubuhmu,” kata Ayesa menenangkanku. 
Aku hanya mengangguk. Ingin kuceritakan tentang apa yang aku lihat di taman, namun, kuurungkan. Tak akan ada yang mempercayai ceritaku, batinku.  

Setelah kejadian di taman itu, tak ada lagi kabar tentang bagaimana dan di mana Prasetyo berada. Ia menghilang bagai di telan bumi. Sedangkan aku harus berjuang sendiri menghadapi kenyataan, jika kini aku mengandung benih dari lelaki yang kucintai. Tujuh bulan sudah usia janin dalam rahimku. Aku tetap mempertahankannya, meski pihak keluarga menentang dan menyuruhku untuk menggugurkannya. Beruntung pihak universitas tetap mengijinkanku untuk melanjutkan kuliah. Aku bergeming dan tidak peduli dengan anggapan teman ataupun beberapa dosen yang sering kali menyindirku. Menganggapku wanita murahan karena hamil di luar nikah. Walau terkadang, begitu lelah jiwa dan raga ini menjalani hari-hari tanpa kepastian. 

Hanya taman di belakang kampus inilah tempatku menenangkan diri. Mengenang setiap jumput kenangan tentangnya. Tentang mimpi kami. Kuusap perlahan perutku yang semakin membuncit. Kurasakan kehangatan di sana. Kucoba menutup mata, menghirup aroma bunga flamboyan yang diterbangkan angin senja. Tiba-tiba kurasakan sebuah telapak tangan mengusap lembut pipiku. Dingin. Refleks mataku terbuka. 

Nampak seorang lelaki yang selama tujuh bulan ini menghilang, berdiri tepat di depanku. Wajahnya pucat. Matanya semerah darah. Tajam menatapku. Aku mengerjap. Tak percaya dengan apa yang kulihat. “Pras,” bibirku bergetar menyebut namanya. Ia mengalihkan pandangannya kearah perutku. Perlahan tangannya bergerak turun dan berhenti di sana. Kembali ia menatapku. Aku mengangguk, seolah menjawabnya. Ujung bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian. Seringai yang kukenal. Sebelum aku sempat mengumpulkan ceceran ingatanku tentang kejadian tujuh bulan lalu di taman ini, kurasakan tangannya yang sedingin balok es mencengkeram perutku. Aku terkesiap. Karena wajah Prasetyo perlahan berubah menjadi wajah perempuan berambut jingga.   

Choi Hung, 7 Februari 2017

Susana Nisa
Cerrpen ini termuat di Tabloid Apakabar plus
4 Maret 2017

Posted by Unknown 21.54.00 in


Oleh : Susana Nisa

Anak adalah amanah terbesar bagi kedua orang tua. Ia merupakan investasi abadi untuk kebahagiaan dunia dan akherat bagi bapak ibunya. Yang dimaksud investasi disini berkenaan dengan watak dan kepribadian anak yang bersangkutan, apakah ia termasuk anak yang baik, taat dan bakti kepada orang tua, atau malah sebaliknya. Seorang anak yang berbakti kepada orang tua, ia akan mengerti akan tanggung jawab dan kewajibannya terhadap keluarga dan ibu bapaknya, baik semasa mereka masih hidup maupun setelah meninggal.

 Karena tak ada lagi yang mampu menolong seseorang yang telah meninggal dunia, kecuali tiga perkara yaitu, ilmu yang bermanfaat, harta yang disedekahkan dan doa dari anak yang sholeh. Oleh karena itu, memiliki putra-putri yang berbakti adalah harapan setiap orang tua. Tentunya, hal itu dapat dicapai jikalau kedua orang tua mampu mendidik buah hati mereka dengan penuh kasih sayang dan mengajarkan kebaikan kepada mereka.

 Hal itulah yang membuat seorang ibu bernama Musyarofah, salah satu buruh migran Indonesia (BMI) Hong Kong, lebih mengutamakan pendidikan akhlak dan pribadi yang tangguh serta mandiri kepada kedua putra kembarnya, Muhammad Nikmal Anas Alhadi dan Muhammad Nikmal Anis Alhuda.



Perempuan lembut nan bersahaja yang akrab disapa ibu Afa ini mengatakan, bahwa kualitas waktu dan nasehat serta dukungan moralitas memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk watak dan kepribadian seorang anak. Apalagi dengan situasi seperti saat ini, dimana ibu yang merupakan madrasah utama untuk mendidik karakter sang buah hati, berada jauh di negeri seberang.

“Saya ini single parent, orang tua tunggal bagi kedua putra saya. Meski demikian, saya tidak pernah berkecil hati lalu menyerahkan pendidikan mereka kepada keluarga di rumah, dalam hal ini nenek mereka. Saya paham betul kapasitas ibu yang sudah berumur dan pastinya sangat menyayangi dan memanjakan mereka. Karenanya, sebisa mungkin saya meluangkan waktu untuk intens berkomunikasi dengan kedua anak kembar saya.
Memberikan nasehat, saran, pujian bahkan hukuman yang bersifat mendidik jika mereka melakukan kesalahan. Selalu saya tekankan kepada mereka untuk terus bersemangat mempelajari ilmu agama dan membaca Al Qur’an. Itu sebabnya, saya memasukkan mereka ke pondok pesantren di daerah Probolinggo. Hal itu saya lakukan, karena tidak ingin mereka terpengaruh oleh pergaulan yang tidak baik di daerah tempat tinggalnya.
Alhamdulillah, keduanya mengerti dan bisa menerima keinginan saya,” paparnya sumringah.

 Saat ini, ibu Afa dapat berbangga hati karena kedua putra kembarnya telah berhasil menjadi sosok yang ia harapkan. Si sulung, yang akrab dipanggil Hadi adalah mahasiswa di STAIN Jember, jurusan Tafsir Qur’an, sedangkan Huda si bungsu sedang menimba ilmu di Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an (PTIQ) Jakarta, jurusan Tarbiyah. Tidak hanya berhasil di bidang akademik umum, kedua putra bu Afa juga seorang santri di pondok pesantren Darul Qur’an, Kraksaan, Probolinggo. Bahkan keduanya adalah penghafal (hafidz) Al Qur’an. Suatu kombinasi prestasi yang membuat sang ibu begitu bersyukur dan bangga pada keduanya.

 “Sungguh karunia tak terhingga memiliki putra-putra seperti mereka. Saya sangat bersyukur diberi kelancaran untuk selalu mendidik mereka meski terpisah jarak, tapi kemudahan itu selalu ada. Inilah nikmat dari Allah swt, karena jika saat merantau di negeri beton ini saya hanya fokus mencari harta dengan mengabaikan pendidikan moral dan spiritual kedua putra saya, maka saat kembali menghadap-Nya, tak ada yang saya bawa selain kain kafan di badan. Namun, dengan apa yang telah dicapai oleh Hadi dan Huda, in syaa Allah mereka yang akan selalu mendoakan, ketika maut telah menjemput saya. Segala usaha untuk mendidik mereka, insya Allah termasuk ke dalam amal jariyah yang tidak putus pahalanya, meskipun saya sudah tiada,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.

 Ibu Afa juga berpesan, agar jangan terlalu memburu dunia dan harta sampai melalaikan keadaan psikis, akhlak dan batin anak-anak yang ditinggalkan di kampung halaman. Karena keberhasilan secara materi tiada guna sama sekali, jika buah hati tak memiliki tata karma, bahkan memiliki mental dan perilaku yang tidak terpuji. “Sekali lagi, anak kita adalah harta dan investasi berharga bagi orang tuanya. Maka berikan mereka dasar pendidikan agama yang sempurna, sehingga saat mereka dewasa tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan di sekitar yang kurang baik. Karena jiwa dan pribadi yang santun dan berbudi pekerti luhur, tentunya mampu menyaring setiap hal buruk yang ada di sekelilingnya,” pesannya pada sesama buruh migran di Hong Kong.


NB :
# Artikel ini adalah tulisan mentah saya, sebelum termuat di Koran Suara.

#Sedangkan Artikel yg sama milik saya dan tentunya sudah mengalami pengeditan oleh editor Koran Suara, telah termuat di rubrik Feature, Koran Suara pada Juli 2015

#Silahkan share dg mencantumkan nama penulis


Popular Posts

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Translate

Cari Blog ini

Search