Menulis adalah lentera di tengah badai kehidupan
Posted by Unknown 15.16.00 in

Pertengahan musim gugur tahun lalu, tepatnya bulan Oktober, saya berkesempatan untuk berkunjung ke kota Guang zhou, ibu kota provinsi Guangdong. Awalnya, saya berencana melakukan perjalanan ke sana hanya dengan seorang kawan yang hobi mbolang atau backpacking. 






Karena saya ingin merasakan sebuah penjelajahan yang penuh dengan tantangan. Saya ingin mengunjungi tempat-tempat yang tak dikunjungi turis, juga menelusuri jalur yang bukan jalur wisata. Namun, keinginan tersebut harus kandas di tengah jalan, dikarenakan masalah mendasar yang membentur, yaitu keterbatasan waktu dan dana. Sebagai pekerja di ranah domestik yang memiliki jadwal cuti tidak sebebas pekerja di sektor formal, saya harus rela untuk mengikuti paket hemat agen travel. Meskipun saya sadar sepenuhnya, bahwa melakukan perjalanan dengan cara ini hanya cocok untuk para pensiunan. Karena perjalanannya tak dapat disebut sebagai penjelajahan yang memiliki esensi petualangan. Jujur, saya tak berselera bepergian dengan agen travel yang umumnya dilakukan oleh rekan pribumi lainnya. Alasan yang utama adalah, karena mereka selalunya berkerumun, pelesiran duduk rapat-rapat sesama spesiesnya sendiri. Kelihatan betul mentalitas kolektivis dan komunalnya. Tak suka membaur dan indifferent, tak acuh dengan komunitas lainnya.



Namun, sebesar apapun keinginan mbolang dalam hati, semuanya tetap muskil tanpa sejumlah uang dan waktu yang cukup untuk bepergian. Sehingga dengan separuh hati, saya dan seorang kawan memutuskan untuk mengikuti paket hemat dari salah satu agen travel yang memberikan pelayanan cukup baik. Meski pada awal perjalanan sudah membuat ubun-ubun mendidih karena jadwal berkumpul di stasiun kereta Lo Wu, dilanjutkan berangkat dari Shenzhen sekira pukul delapan pagi harus mundur alias molor sampai hampir pukul Sembilan, disebabkan ada beberapa peserta yang datang terlambat. Tetapi syukur Alhamdulillah, keterlambatan mereka tidak begitu mempengaruhi jadwal tur pada saat itu. Sehingga sekira pukul sembilan pagi kami mulai menapaki daratan Cina. 




Setelah menempuh perjalanan panjang, lebih dari dua jam menggunakan bis travel, sampailah kami di makam Saad bin Abi Waqqas, salah satu sahabat dan paman Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah penyebar agama Islam pertama di negeri asal Mao Zedong tersebut. 




Area pemakaman yang dibangun mirip dengan kebun raya atau hutan lindung, terasa sangat menyejukkan. Dari gerbang pintu masuk kita akan disambut oleh rindangnya berbagai macam pohon perdu, bunga dan tanaman lain yang membuat suasana sangat nyaman. 








Jalan  berpaving yang dapat dilalui oleh dua atau tiga orang, membujur sepanjang pintu masuk sampai ke area pemakaman. Memasuki areal pemakaman, terdapat sebuah gazebo atau bangunan mirip dengan pendopo kalau di Jawa. Di sekeliling bangunan itu terdapat musholla khusus wanita, juga sebuah rumah yang diyakini sebagai tempat pertemuan majelis pada masa hidup Sayidina Saad bin Abi Waqqas dan para sahabat-sahabat beliau. 








Terdapat pula sebuah sumur, Shabbi Well yang digali sejak 1300 tahun lalu semasa Saad bin Abi Waqqas hidup, dan masih mengalirkan airnya yang sangat jernih hingga saat ini. Banyak dari para penziarah yang mengambil air dari sumur itu, baik langsung diminum di tempat maupun mengisi beberapa botol air untuk dibawa pulang. Karena kemurnian dan khasiat dari air sumur dipercaya mampu mengobati berbagai macam penyakit. Namun, semua tak lepas dari izin Allah, Tuhan yang Maha menyembuhkan.






Setelah mengunjungi beberapa bangunan bersejarah, para pengunjung bisa langsung masuk ke area pusara sahabat nabi, Saad bin Abi Waqqas. Aroma wewangian bunga dan dupa menyeruak seolah menyambut kedatangan para penziarah. Di tempat peristirahatan terakhir sahabat nabi itu, ritual yang sering dilakukan adalah bersama-sama mendoakan arwah beliau sekaligus ‘ngalap berkah’. Setiap para penziarah berharap, semoga keberkahan yang dimiliki oleh almarhum Sayidina Saad bin Abi Waqqas, juga menular kepada mereka.  















Masjid Tertua, Huaisheng



Warga Tiongkok mayoritas tidak beragama karena negara menganut paham komunis yang tentunya tidak ber-Tuhan atau atheis. Namun, fakta yang menakjubkan adalah bahwa agama Islam berkembang di negeri Cina sejak abad ke-7. Salah satu saksi penyebaran Islam di negeri Tirai Bambu, khususnya Guang Zhou adalah masjid Huaisheng yang bangunan fisiknya mirip kuil dan berasitektur khas Cina. 


 g


Huaisheng adalah salah satu masjid tertua di Cina. Dibangun pada tahun 627, saat itu negara diperintah oleh Dinasti Tang (618-907). Masjid ini dibangun oleh paman Nabi Muhammad, Abi Waqqas pada masa pertamanya penyebaran agama Islam. Huaisheng sendiri bermakna ‘mengingat orang bijak’ yang mengacu kepada pribadi dan sosok nabi Muhammad SAW. 
Disalah satu gerbangnya terdapat sebuah tulisan Cina yang berbunyi ‘agama yang menjunjung tinggi ajaran yang dibawa dari wilayah barat’. 



t





 


Masjid dengan luas 2.966 meter persegi ini memiliki sebuah menara yang mirip mercusuar setinggi 36 meter. Pada masanya, menara ini digunakan untuk menyinari lalu lintas kapal di sungai Zhujiang. Kendati masjidnya menganut arsitektur khas Dinasti Tang, desain menaranya banyak dipengaruhi oleh arsitektur Arab.



 





 Ruang shalatnya dibangun kembali pada tahun 1935 dengan mihrab berbentuk setengah lingkaran, berada menjorok ke luar daripada shaf shalat. 









Masjid ini juga dikenal dengan beberapa nama, diantaranya masjid Hwai Sun Su, Huai-Sheng, Huai-Shang dan Huai-Shang Si. Juga ada yang menyebutnya dengan masjid Agung Canton dan masjid Ying Tong. Para sopir taksi di sana menyebut masjid ini dengan sebutan Muslim Temple. Masjid yang berada di kawasan Guanta-Lu (Guangta Road) No. 56, Yuexiu District, Guang Zhou, disekitarnya terdapat banyak pertokoan yang menjual berbagai macam makanan halal dan oleh-oleh khas hasil kerajinan tangan dari warga muslim di daerah tersebut. 









Karena waktu berkunjung ke makam Saad bin Abi Waqqas saya menggunakan jasa travel, dimana setelah naik KCR (light railway) dan turun di stasiun Lowu, saya segera bergabung dengan rombongan. Jadi setelah melewati imigrasi, kami semua naik bis travel yang telah menunggu kami di terminal area dekat dengan stasiun kereta di Shen Zen. Dan dengan bis itulah kami menuju Guang Zhou dengan tujuan pertama makam sahabat nabi, Saad Abi Waqqas kemudian ke masjid Huai-Sheng selanjutnya makan siang dan membeli oleh-oleh, lalu kembali ke Hong Kong. Jadi untuk jalur transportasi umum, sila tanya mbah gugel, hehehe!

Susana Nisa
Artikel ini termuat di Koran Suara
Rubrik Feature, 2015
Posted by Unknown 18.56.00 in

Cuaca cerah. Langit biru lazuardi tanpa segumpal awan. Disepanjang jalan desa menuju Masjid Tiban, nampak rumah-rumah warga dengan kesibukannya masing-masing. Sepeda motor yang saya kendarai, berpapasan dengan sebuah mobil pick up bak terbuka yang berjalan pelan. Diatasnya, terdengar riuh rendah suara sekelompok ibu-ibu berbusana muslim senada. Tak jelas apa yang mereka bicarakan. Roda dua milik saya melaju pelan diantara pengendara yang lain. 




Jalan desa itu sudah tertata dengan sangat baik. Terdapat toko-toko yang menjual berbagai makanan, minuman, buah juga souvenir berupa sajadah, jilbab, tasbih dan kerajinan dari kayu. Suasananya pun sangat jauh berbeda dengan desa pada umumnya. Hal itu dikarenakan keberadaan sebuah masjid yang dikenal dengan nama Masjid Tiban atau Masjid Ajaib.

Masjid yang berdiri megah di tengah-tengah perkampungan penduduk itu, ternyata bukan hanya sebuah masjid, melainkan Pondok Pesantren yang bernama Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah yang bermakna laut madu atau Fadilah Rahmat. Dengan arsitektur menawan perpaduan dari gaya India, Cina, Arab dan Eropa, membuat setiap pengunjung berdecak kagum akan keindahannya. Berhias ornamen kaligrafi dengan lapisan emas yang bentuk, warna dan coraknya berbeda antara satu ruangan dengan ruangan lainnya, menambah daya tariknya. Bahkan, kemegahannya pantas disandingkan dengan Blue Mosque atau Masjid Biru yang ada di Turki.

Sang arsitek dibalik kemegahan Masjid Tiban adalah Romo Kiai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Al Mahbub Rahmat Alam atau yang akrab disapa Romo Kiai Ahmad. Beliau mengaku mendapat ilham untuk membangun sebuah masjid saat beliau shalat Istikharah. Pembangunan masjid dimulai sejak tahun 1978 dan selesai pada tahun 2008. Masjid itu dinamakan Masjid Ajaib atau Masjid Tiban, karena masyarakat di sekitarnya tidak mengetahui kalau dalam kurun waktu tiga dekade itu, tengah dibangun sebuah masjid dalam area pondok pesantren. 

Proses pembangunannya yang terkesan senyap dan tertutup, membuat banyak orang beranggapan bahwa masjid itu dibangun dengan bantuan jin. Namun, pihak pengelola pondok pesantren menepis anggapan-anggapan aneh itu dengan memberikan keterangan tertulis yang terpampang di depan meja penerima tamu yang berbunyi, “Apabila ada orang yang mengatakan bahwa ini adalah pondok tiban (pondok muncul dengan sendirinya), dibangun oleh Jin dsb, itu tidak benar. Karena bangunan ini adalah Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah yang murni dibangun oleh para santri dan jamaah.”
Meskipun pihak pengelola pesantren (orang dalam) menegaskan bahwa Masjid Tiban bukan hasil kerja para lelembut atau makhluk halus, namun, dengan ruangan-ruangan besar yang terpisah, bertingkat dan pencahayaan temaram, membuat suasana terasa sunyi dan dingin. 


“Kesannya itu kayak masuk ke dalam gua. Karena terasa sunyi dan lampunya temaram. Dan saya sedikit heran, karena tidak melihat ada santri yang melakukan kegiatan di area masjid. Kan, katanya ini pondok pesantren, tapi kok, tidak tampak santri yang berlalu lalang,” tutur Suci, salah seorang pengunjung. Pada siang hari, memang sama sekali tak terlihat ada kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh para santri. Yang ada hanya santri yang bertugas di pintu masuk dan menjadi pemandu para pengunjung. Hal senada diungkapkan oleh Rita, turis lokal dari Madiun yang berkunjung ke masjid itu bersama keluarganya, “Kalau angker sih, tidak. Cuman saat di tempat sholat untuk perempuan, saya merasa gimana gitu, sedikit merinding. Jadi saya memutuskan untuk sholat di teras.” Tempat sholat untuk perempuan yang berada di depan kantin masjid, memang terletak agak di bawah permukaan tanah, semacam lantai dasar. Dan jarang terlihat jamaah perempuan yang masuk ke dalamnya.



Terlepas dari suasana sunyi dan terkesan eerie yang dirasakan oleh beberapa pengunjung, Masjid Tiban memiliki sejuta pesona untuk dikunjungi. Masjid tersebut memiliki 10 lantai. Terdapat lift dan tangga yang menghubungkan setiap lantai. Di lantai 1, pengunjung akan disambut oleh akuarium yang berukuran besar dengan berbagai macam ikan hias di dalamnya. Tingkat 1 sampai tingkat 4 digunakan sebagai tempat kegiatan para Santri Pondokan, menurut keterangan pemandu. Lantai 6 berfungsi seperti ruang keluarga, sedangkan lantai 5, 7, dan 8 terdapat toko-toko kecil semacam minimarket yang di kelola oleh para Santriwati (santri wanita). Berbagai macam makanan ringan dijual dengan harga murah. Selain itu tersedia juga sarung, sajadah, jilbab, tasbih dan sebagainya. Para pengunjung akan berdecak kagum manakala mereka sampai di lantai teratas masjid. Di situ akan dijumpai kubah dan menara-menara yang berhiaskan motif cantik menawan. Juga ada kolam renang dan perahu kecil sebagai pajangan. Bahkan ada monyet, kelinci dan berbagai macam burung di sana. Ruangan teratas masjid itu sebenarnya adalah kamar pribadi Kyai. Di situ juga terdapat ruang tamu dan kamar tidur.

Cara berkunjung ke Masjid Tiban sangatlah mudah. Jarak Turen dengan kota Malang sekitar 27 km, bisa ditempuh dalam waktu setengah hingga satu jam, jika jalan sedang tidak macet. Lahan parkir pun tersedia di area depan masjid dengan tarif 2000 rupiah. Kalau ingin berkunjung naik kendaraan umum juga bisa. Dari kota asal Anda, naik bis tujuan Kota Malang. Lalu turun di Terminal Arjosari, Malang. Setelah itu naik angkot lagi yang menuju ke Terminal Gadang. Bisa jurusan AG, AMG, LDG dan GDL. Namun, untuk lebih cepatnya, naik saja jurusan AG, yang mengambil jalur kawasan kota. Sampai di Terminal Gadang, Anda bisa naik bis jurusan Malang-Dampit. Lalu turun di Pasar Turen. Kemudian cari ojek yang bisa  mengantar Anda ke Masjid Tiban, di Jl. K.H. Wahid Hasyim Gg. Anggur Rt 27 Rw 06 desa Sananrejo, Turen.
Pengunjung tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun untuk masuk ke dalam masjid. Hanya diharuskan untuk izin pada saat masuk dan keluar kepada petugas yang ada di depan pintu masuk. Tapi perlu diingat, Masjid Tiban bukanlah sebuah tempat wisata, melainkan sebuah pondok pesantren. Jadi penting untuk menjaga sopan santun dan berpakaian rapi. Sedangkan untuk pengunjung muslim diharuskan untuk berbusana muslim. 

Susana Nisa
Artikel ini termuat di Koran Suara

Posted by Unknown 16.57.00 in

Entah bagaimana aku menarasikan kenangan tentang Rieka, sahabatku saat kami sama-sama menuntut ilmu disebuah sekolah kejuruan di kota kelahiran kami, Malang, Jawa Timur. Apa yang kami alami membawaku pada satu kenyataan, bahwa inilah misteri  kehidupan. Setiap langkah mengantar kita pada tikungan yang tak terduga. Mei 2002, satu bulan sebelum kelulusan kami, Rieka telah menuntaskan takdirnya pada sebuah tikungan yang aku sendiri tak pernah menduganya. Setelah hampir tiga tahun ia berjuang melawan penyakit yang merongrong tubuh ringkihnya. Inilah hidup, dengan misteri yang berlapis-lapis yang acapkali tak terprediksi. Aku tak seberapa ingat bagaimana awal perkenalan kami. Sebagai sesama siswa baru yang harus melewati masa MOS (masa orientasi siswa), di mana setiap siswa baru akan di kerjai oleh para kakak kelasnya, saat itulah aku mengenalnya. Ia sosok yang unik diantara teman-teman wanita yang lain. Dengan tubuh kurus tinggi dan kulit berwarna coklat, ia selalu tersenyum saat pandang kami bertemu. Perkenalan tersamar, yang pada akhirnya mengikat kami menjadi sahabat.
Persahabatan yang kami jalani dengan ringan, tidak selalu kami terlibat obrolan panjang atau pun intensif. Tapi setiap kali perbincangan terjadi, akan menjadi sesuatu yang seolah memacu adrenalin kami untuk selalu tertawa melihat dunia. Hal yang paling menarik untuk kami perbincangkan adalah tentang sepak bola. Rieka tergila-gila dengan As Roma, salah satu klub liga serie A Italia. Aku juga menyukai klub itu. Rieka fans berat dari Montella, sedangkan aku penggemar fanatik Franscesco Totti. Saat tim kesayangan kami berlaga, maka pagi hari saat di sekolah, bukan mata pelajaran atau pekerjaan rumah yang kami perbincangkan. Namun, bagaimana hasil pertandingan, siapa pencetak gol dan aksi bintang-bintang idola kami. Juga tentang mimpi-mimpi kami untuk bisa menjejakkan kaki di Roma, Italia. Rieka menatap masa depan dengan optimis. Masa yang indah dan menantang. Meskipun ia tahu bahwa penyakit yang dideritanya, perlahan namun pasti semakin menggerogoti kekebalan tubuhnya.
Menjelang hari kelulusan, Rieka jatuh sakit. Ia yang setiap pagi aku temui tersenyum manis di deretan bangku paling ujung di kelas, tak nampak. Aku resah, bimbang, karena tahu pasti ada sesuatu yang terjadi padanya. Benar perkiraanku, siang hari, ibu Titik wali kelas kami memberitahukan, bahwa semalam kondisi Rieka ngedrop dan harus dirawat di rumah sakit. Sepulang sekolah, aku dan beberapa teman sekelas bergegas ke rumah sakit untuk menjenguknya. Siang itu terik mentari tak begitu menyengat, waktu menunjukkan pukul setengah tiga, jam besuk untuk para pengunjung di rumah sakit islam Gondanglegi, Malang. Aku, Titin dan Wiwiet bergegas masuk ke ruang perawatan dimana Rieka terbaring. Di depan pintu, kami berhenti sejenak, mencoba melongok ke dalam kamar. Lalu mengetuk pintu. Seorang perempuan paruh baya, menyambut kami dengan senyum yang sangat dipaksakan.
"Eh nak, mari masuk," beliau menyilahkan .
Bergegas kami masuk dan mendekat ke ranjang tempat Rieka dirawat. Ia nampak tak berdaya dengan jarum infus dan beberapa selang yang menggelayut disekujur tubuhnya. Aku raih tangannya dan kugenggam erat. Gurat wajahnya sayu. Matanya kuning. Namun ia tetap tersenyum menyambut kami.
"Sakit San. Sakit sekali. Aku tak mau pergi. Aku belum ke Roma. Aku masih ingin mengikuti wisuda kelulusan kita,” ucapnya sambil terisak menahan sakit.
Aku, Titin juga Wiwiet menunduk demi menahan airmata. Aku ingin terlihat kuat demi menjaga semangatnya. Tapi ternyata aku tak mampu. Tapi siapa gerangan yang sanggup menjaga ketegaran hati, demi melihat ketakberdayaan seorang sahabat yang didera kesakitan luar biasa. Perlahan air mata pun luruh, tak kuasa hatiku melihat keadaannya.
"Apa yang terjadi pada diriku? Aku lelah. Penyakit ini tak juga menyerah. Ia semakin mengganas. Kenapa aku yang harus menderita penyakit ini, kenapa?" tanyanya sambil terisak.
Aku tercekat. Tak berdaya pada saat yang sama. Aku paham betul kegalauan hatinya.
"Kau pasti dapat melalui semua ini. Kau harus melawannya. Semangat dan berpikirlah positif. Kau pasti akan baik-baik saja," aku berusaha menenangkannya.
Trenyuh hatiku melihat keadaan Rieka. Namun aku tidak ingin semangatnya runtuh. Ketegaran hati itu harus tetap dijaga. Selalu aku katakan, "Jangan takut. Sudah kau hadapi yang lebih dari ini. Kau pasti sanggup bertahan. Percayalah." Kembali mata kami beradu. Kutemukan setitik harap di sana. Dan ia pun tersenyum.
Satu jam lebih kami menjenguknya. Kami pamit undur diri saat Rieka tertidur sementara tanganku masih dalam genggamannya. Aku berdoa dengan hati yang patah. Bukan lagi airmata yang aku sembunyikan, melainkan isak tangis demi tak mengganggu tidurnya. Esoknya hari Sabtu sore, aku datang seorang diri dengan membawa kue terang bulan isi coklat, kesukaannya. Hari itu Rieka nampak tak terlalu kesakitan lagi. Ia terlihat tenang dalam penjagaan ibunya. Tapi aku tahu, ketenangan itu hanyalah sesuatu yang semu. Rasa tenang itu karena pengaruh obat pereda sakit dosis tinggi yang setiap 2 jam sekali disuntikkan ke tubuh ringkihnya. Di sisi lain, kesadarannya semakin menurun. Walaupun demikian, Rieka tetap selalu berusaha menunjukkan semangat hidup untuk berjuang melawan sakit yang dideritanya. Hari itu kami berbicara tentang banyak hal. Sekolah, hasil ujian akhir juga hasil pertandingan sepak bola antara AS Roma melawan AC Milan semalam. Ia tampak menyesal karena tak dapat menyaksikan keseluruhan pertandingan, dikarenakan obat tidur yang diberikan dokter. Dan seperti kemarin, aku menunggu hingga ia tertidur untuk pamit. Seolah aku berusaha mengingkari sebuah perpisahan. Karena sesungguhnya aku tak sanggup mengucapkan kata pamit kepadanya. Kesedihan dan kepedihan hatiku tak terjelaskan.
Senin 20 Mei 2002
Sore mendung ketika itu dengan gumpalan awan berwarna abu pekat. Aku sedang termenung di teras tatkala berita itu datang. Rieka telah pergi meninggalkan semua cita dan harapannya. Hatiku terasa kosong. Seumpama lorong gelap tanpa setitik cahaya. Perasaan hati seolah mengambang, melayang entah kemana. Ada sebuah labirin yang semakin menjauh. Aku tahu, itu adalah labirin kehidupannya.
***
Salam untukmu sahabatku. Bawalah doa kami bersamamu. Semoga cahaya surgawi menerangi dan menjadi pandu menuju ke haribaan-Nya. Akan kubawa mimpimu. Akan kuwujudkan harapanmu. Suatu saat, akan kuinjakkan kakiku di tanah yang telah dijanjikan mimpi-mimpi, Roma, Italia. Aku akan ke sana sahabatku. Akan kuukir nama kita di bawah langit De Fontana De trofi. Selamat jalan Rieka. Semoga Tuhan memelukmu dalam damai dan kasih-Nya.

In memoriam
Sahabat kami, RIEKA PUSPITASARI
Siswi SMKN 1 Turen Malang,
Klas AK 2 Angkatan 2002

Susana Nisa
Cerpen ini termuat di Majalah Iqro

















Posted by Unknown 02.08.00 in

Ranti duduk terpekur di ujung ranjang. Ada genangan dibening matanya yang perlahan jatuh bergulir di kedua pipi putihnya. Suara isakan pelan terdengar, membuat sosok yang terbaring di depannya membuka mata. Seorang lelaki berbadan tegap, berkulit coklat muda dan bemata sipit. Rambutnya hitam lurus, di potong rapi. Lelaki itu bertelanjang dada. Hanya selimut yang menutupi tubuh bagian bawah. Mata sipitnya merah. Dengusan kesal terdengar dari helaan nafas yang mirip seekor kerbau. Sementara Ranti masih duduk di tempat yang sama. Kristal bening tak henti meleleh. Isak tangisnya tertahan. Lelaki itu bangun dan duduk di dekat Ranti, lalu merangkul pundaknya. Gadis itu mencoba menepis tangan sang lelaki lalu menggeser posisi duduknya.
“Mo pan ye keh lei!” Kata lelaki itu sambil berdiri. Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai kamar dan mengenakannya. Lalu berjalan ke arah pintu, menoleh ke arah Ranti yang masih terisak. Ia mengeluarkan selembar uang seratus dolar Hong Kong lalu mengangsurkan kepada gadis itu. Ranti bergeming. Ia tidak sudi menerima uang itu.
“Keijui a, mo wa pei thai-thai theng, liti jin ngo pei lei, haji ngo wui pe lei to tik keh, tanhai lei yiu keijui hah, mo wapei ngo keh lobo ci!” Lelaki itu menaruh uang yang dipegangnya di atas meja, di sebelah ranjang. Lalu bergegas keluar kamar. Ia tak mempedulikan Ranti yang masih terisak. Beberapa saat kemudian terdengar pintu utama tertutup, pertanda lelaki itu telah pergi.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Ranti mencoba berdiri dan membenahi pakaiannya yang carut marut. Kemudian melepas sprei, sarung bantal juga selimut. Secepat kilat menggantinya dengan yang bersih. Air matanya tak henti menetes. Hatinya hancur. Harga dirinya terinjak-injak. Kehormatannya telah direnggut oleh lelaki yang tak lain adalah majikannya sendiri. Ini adalah kali kedua lelaki bejat itu menggagahinya. Saat kejadian pertama kali, ia berniat melaporkannya ke polisi. Namun ia urungkan karena tak punya cukup bukti. Dan ia baru dua bulan bekerja. Ranti ingat hutang yang masih ditanggungnya. Lima bulan masa potongan gaji, mengharuskannya menguatkan diri untuk bertahan bekerja dengan majikan laknat itu. Ia hanya ingin kebahagiaan untuk keluarganya di kampung. Kedua telaga bening itu kembali mengalir deras. Ingin rasanya ia bunuh diri untuk melepaskan semua beban yang menghimpit. Tetapi tiap kali rasa putus asa itu menyergap, wajah orang-orang terkasih yang saat ini menunggu hasil keringat dan jerih payahnya, terbayang di pelupuk mata. Senyum dan harapan mereka akan kepulangan Ranti adalah semangat dan kekuatan yang membuatnya tetap bertahan. Dengan tergesa dan menahan gemuruh di dada, gadis berkulit sawo matang itu bergegas merapikan kamar majikannya. Lalu membersihkan diri agar nyonya tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Setelahnya, Ranti  melakukan tugas dan aktivitas seperti biasa.
Satu jam berlalu. Lelaki tadi kembali ke rumah sudah dalam keadaan bersih. Ia pasti ke rumah ibunya di blok sebelah, pikir Ranti. Keduanya diam tak bertegur sapa. Ranti tak mempedulikannya dan pura-pura menyetrika. Ia tak ingin melihat wajah laki-laki itu. Di saat Ranti sedang bergumul dengan pikirannya, terdengar dering telpon di ruang keluarga. Tak lama berselang, lelaki itu terlihat menghampirinya. Jantung Ranti berdetak. Was-was mengantisipasi apa yang akan ia lakukan. “Istriku pulang awal hari ini. Ia memintamu untuk memasak bubur kesukaannya,” katanya retorikal. “Dan ingat, bersikaplah sewajarnya.” Nada suaranya mengancam. Kemudian berbalik, melangkah masuk ke kamar. Ranti tak bereaksi. Ia kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Sore, sekira pukul enam, majikan perempuan pulang. Ranti yang masih berkutat dengan masakan di dapur, berlari kecil membukakan pintu untuknya. Perempuan yang masih nampak muda di usia paruh baya itu tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. Ranti membalasnya dengan anggukan kecil, lalu kembali ke dapur. Di ruang keluarga, terdengar kedua majikannya berbincang ringan. Tak berapa lama, Ranti telah selesai memasak. Lalu dengan sigap menyiapkan hidangan makan malam untuk tuan dan nyonya yang masih asik masyuk bercengkerama sembari menonton berita di televisi. Ranti melirik kepada majikan laki-laki dengan ekor matanya. Lelaki itu bersikap wajar. Ia nampak sangat baik di depan istrinya. Berusaha menepis rasa geram, Ranti menghampiri keduanya dan menyilahkan mereka untuk menikmati hidangan makan malam. “Emkoi,” jawab nyonya seraya beranjak menuju meja makan yang diikuti oleh suaminya. Ranti tersenyum. Sebuah senyum yang dipaksakan. Ia kembali ke dapur untuk menyantap jatah makan malamnya. Namun hanya beberapa sendok nasi dan sedikit lauk yang masuk ke mulutnya. Dan tiba-tiba rasa mual tak terkira menyergap. Secepat kilat Ranti berlari menuju kamar mandi. Beruntung ia memiliki kamar mandi sendiri yang berada didekat kamarnya. Rumah majikannya memang berbeda dari rumah warga Hong kong pada umumnya. Di mana biasanya dapur terletak di depan, dekat dengan pintu masuk. Desain rumah majikan Ranti lebih mirip dengan rumah di Indonesia. Dari depan, berurutan ruang tamu dan ruang keluarga yang dipisahkan oleh sekat pembatas. Kemudian terdapat lorong kecil menjorok kedalam yang di kedua sisinya terletak dua kamar dan satu kamar mandi. Lalu di sebelah kiri kamar mandi terdapat lorong menuju dapur. Di belakang dapur itulah kamar tidur dan kamar mandi Ranti.
Wajah Ranti pias. Tangannya erat mencengkeram kedua sisi toilet. Perutnya seolah naik memuntahkan seluruh isinya. Sekuat tenaga ia menahan agar tak mengeluarkan suara. Tetapi, kiranya sang nyonya yang masuk ke dapur untuk mengambil sup, mendengar suara Ranti.
“Ranti, lei hamai em sifuk a?” tanya nyonya, dari luar kamar mandi.
Ranti yang masih merasa mual dan pusing, segera bangkit, membasuh tangan dan wajahnya.
“Ngo mo si, thai-thai. Siu-siu thau wan. Mo si keh, emsai tamsam,” jawabnya tatkala keluar dari kamar mandi. Nyonya yang baik itu menyuruh Ranti untuk segera beristirahat. Ia bergegas ke ruang tamu, hanya untuk kembali ke dapur dan memberikan sebotol minyak kayu putih kepada Ranti.
“Kau mandilah dulu. Lalu balurkan minyak kayu putih di perut, dada, punggung dan lehermu. Jangan lupa, usapkan juga di bawah lubang hidung dan pelipis kanan kiri. Lalu minum air putih hangat dan beristirahatlah. Malam ini, biar tuan yang mencuci piring dan perabot lainnya,” kata perempuan itu seraya memberikan minyak kayu putih. Ranti tak membantah. Diterimanya botol minyak kayu putih itu, lalu mengucap terima kasih. Meski merasa tidak enak hati, tetapi ia tak punya pilihan lain. Kepalanya seolah ditekan oleh batu berukuran raksasa. Rasa mual kembali menyerang. Ia bergegas membasuh tubuh, ganti baju dan melakukan apa yang disarankan majikan perempuannya.
Tiga minggu berlalu. Rasa mual masih sering dirasakan Ranti. Ia hanya meminum ramuan herbal penolak masuk angin yang dibelinya di pasar. Ranti mengira, ia hanya kelelahan dan masuk angin. Tetapi rasa mual bahkan pusing seringkali muncul tanpa mengenal waktu. Dengan berbekal uang pemberian nyonya, ia pergi ke klinik. Di sana ia diminta melakukan tes urine oleh dokter. Setelah menunggu beberapa saat, seorang perawat memanggilnya untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Betapa terkejutnya Ranti, saat dokter yang tadi memeriksanya menyatakan kalau dirinya hamil. Ia kembali ke rumah majikan dengan pikiran kalut. Masih terngiang jelas kata-kata dokter di klinik. “Hasil tes menunjukkan jika Anda positif hamil.” Ranti menumpahkan tangisnya sesaat setelah masuk ke kamarnya. Hari itu, seperti biasa hanya ada majikan laki-laki di rumah. Ranti tak menghiraukannya. Hatinya gundah. Nestapa merajai bilik hati. Apa yang akan ia lakukan? Bagaimana jika nyonya mengetahui tentang kehamilannya? Apakah ia akan mengadukan tentang kebejatan laki-laki itu kepada istrinya? Akankah perempuan itu mempercayai Ranti? Ataukah ia akan diputus kontrak lalu dikembalikan ke agen? Bagaimana dengan hutang-hutangnya? Lalu siapa yang akan mengirimkan uang untuk biaya hidup keluarganya di kampung? Berbagai pertanyaan berseliweran dalam otaknya.
Ranti masih tergugu, tatkala terdengar langkah kaki mendekat. Dan sebuah suara yang begitu ia benci memanggil namanya. “Ranti, keluarlah dari kamarmu. Jangan berpura-pura sakit lagi. Kami membayarmu untuk bekerja. Bukan untuk berada di dalam kamar dan tidak melakukan apapun.” Ranti diam. Ia tidak menjawab. Dengan wajah sembab dan langkah gontai, ia keluar kamar. Lelaki itu memandang kearahnya dengan tatapan dingin. “Badanku pegal-pegal. Aku butuh dipijat. Kau ikut ke kamarku sekarang,” perintahnya. Ranti berjalan mengikutinya. Sesampai di kamar, lelaki itu seperti biasa menanggalkan semua pakaiannya. Ia selalu meminta Ranti memijatnya, sebelum melakukan hal tak senonoh kepada pembantunya. Saat lelaki itu telah menelungkupkan badan, Ranti meminta ijin untuk ke belakang. Sebentar katanya. Ketika melewati dapur, mata gadis itu menatap sebilah pisau yang sering ia gunakan untuk memotong daging babi. Pisau lebar dan besar itu mengkilat di sisinya yang memipih. Sehari sebelumnya, ia telah mengasah pisau tersebut. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Secepat kilat Ranti mengambil pisau dan membawanya ke kamar, dimana majikan berada. Sedetik kemudian, terdengar teriakan menyayat. Sprei biru muda yang menutupi ranjang di kamar itu berubah warna. Menjadi merah marun. Bau anyir darah menyeruak memenuhi udara di dalam kamar. Ranti keluar dari kamar menenteng pisau yang berlumuran darah. Rambutnya kusut masai. Wajah, tangan bahkan kaki dan pakaiannya belepotan darah. Ia masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah syal berwarna biru. Ia menciuminya. Terbayang wajah sang ibu saat memberikan syal itu, waktu kunjungan terakhir di balai latihan kerja seminggu sebelum keberangkatannya ke Negeri Beton. Perlahan Ranti melilitkannya di leher. Menyelipkan salah satu ujungnya di pintu, kemudian menutupnya. Ia melangkah menjauh dari pintu sambil menarik ujung yang satunya sekuat tenaga. Nampak nafasnya megap-megap. Tubuhnya meregang. Lalu diam, tak bergerak.

Catatan kaki :

Mo pan ye keh lei = Kau jangan berpura-pura
Keijui a                     = Ingat ya
Mo wa pei thai-thai theng     = Jangan beritahu nyonya
Liti jin ngo pei lei = Aku beri kau uang ini
Haji ngo wui pe lei to tik keh = Lain kali aku akan memberimu lebih banyak
Tanhai lei yiu keijui          = Tapi kamu harus ingat
Mo wapei ngo keh lobo ci    = Jangan memberitahu istriku
Emkoi = Terima kasih
Lei hamai em sifuk a = Apa kamu tidak enak badan
Ngo mo si = Saya tidak apa-apa
Thai-thai = Nyonya
Siu-siu thau wan = Sedikit pusing
Mo si keh = Tidak apa-apa
Emsai tamsam = Jangan khawatir


Susana Nisa
Cerpen ini termuat di Tabloid Apakabar
OKtober 2016

Popular Posts

Blogroll

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Translate

Cari Blog ini

Search